Picpraganda!

More Photos

Blog stats

  • 38,787 hits

MARXISME POSKOLONIAL; Sebuah Manifesto Perjuangan Negeri – Negeri (Bekas) Terjajah  

“Kaum Tertindas di Negeri – Negeri (Bekas) Terjajah, Bersatulah!”

Ingat, kita ini masih terjajah, daripada saling sikut lebih baik bersatu!

Marxisme Poskolonial merupakan manifestasi dari pendiskusian yang berkembang dari berbagai kajian yang menekankan bagaimana praksis dari teori – teori social kebudayaan masyarakat kontemporer. Sesuatu yang sebenarnya bisa dikatakan tidaklah baru, namun dapat dikatakan memiliki kebaruan dari segi cara pandang maupun praksis. Teori dan praktik. Kenyataan bahwa kapitalisme lanjut yang sampai pada monopoli capital keuangan global kepada segelintir korporasi global raksasa adalah benar. Bahwa Negara dan lembaga internasional turut mejadi kaki tangan kelompok korporasi kapitalisme global yang kita kenal dengan neoliberalisme  juga benar. Namun yang tidak dapat dilupakan pula adalah bahwa Negara – Negara bekas kolonial yang pernah dilanda revolusi nasional kemudian sebagian besar digulingkan dan mengarah kepada dictator militer juga benar. Dan otoritarianisme dibawah rezim militer bekingan kapitalisme global ini ikut memapankan penguasaan korporasi raksasa global milik kapitalis internasional juga benar. Bahkan lembaga internasional seperti PBB pun tidak mampu berbuat banyak jika tidak ingin mengatakan ikut menjadi alat pelegitimasi kekuasaan kapitalis global yang menindas warga dunia juga benar. Juga sulit memungkiri bahwa Negara – Negara maju seperti Amerika dan Uni Eropa serta Britania Raya dan negeri persemakmurannya pun juga berada di bawah ketiak kendalinya.

Lantas bagaimana dengan Negara – Negara yang sering dilabeli dunia ketiga di tengah – tengah kekuasaan kapitalisme global ini? Bahwa Marxisme dengan berbagai wujud praksisnya telah menghadang kapitalisme global ini secara praksis adalah benar juga. Meski tidak sepenuhnya dapat diklaim bahwa apa yang ada di Negara – Negara bekas jajahan kolonialisme Eropa dan Amerika yang terlambat menjadi colonial (neokolialis) yang melakukan perlawanan adalah buah dari Marxisme itu semata dalam ranah praksis. Dengan demikian, pengaruh dari teori marxisme itu sendiri juga tak dapat dipungkiri. Marxisme lah yang secara teori telah menghadang laju kapitalisme ini sebagai buah dari revolusi Industri Eropa yang diakselerasi oleh kolonialisme Eropa abad 17 sampai paruh kedua abad 20. Komunisme dan atau sosialisme adalah wujud ideology praksis dari Marxisme ini. Di Negara – Negara jajahan Eropa sekalipun panji – panji Marxisme menggema seiring dengan perjuangan nasionalisme yang menjadi bendera perjuangan melepaskan diri dari jajahan colonial.

Poskolonialisme sebenarnya secara praktik sudah ada sebelum menjadi sebuah paham atau cara pandang yang didengungkan secara akademis. Hasrat ingin lepas dari belenggu kolonialisme dan bekas colonial dari segi politik, budaya dan ekonomi spirit utamanya. Namun, lamanya colonialism Eropa menanamkan ajaran dan keuasaannya di Negara – Negara jajahan menjadikan poskolonialimse merupakan perjuangan panjang dan menguras pikiran tenaga bagi Negara – Negara bekas jajahan. Kedirian bekas jajahan adalah salah satu penguatnya. Nasionalisme yang juga merupakan produk barat telah diadopsi untuk melawan barat itu sendiri sebagai kolonialis. Nasionalisme dan Marxisme inilah yang dapat dikatakan sebuah pertautan mesra yang membuat beberapa Negara – Negara jajahan mampu memberikan pukulan jitu meski tidak sepenuhnya mematikan bagi para kolonialis atau penjajah di Negara – Negara yang dilabeli dunia ketiga oleh bangsa Eropa. Mayoritas berada di Asia Afrika dan Amerika Selatan. Spirit Islam dan Agama/kepercayaan lain juga tak dapat dipungkiri menjadi spirit dalam pembebasan nasional beberapa Negara jajahan untuk merdeka secara politik namun tidak sepenuhnya secara ekonomi dan budaya dari penjajahnya.

Marxisme harus diakui sebagai penghadang maupun lawan terbesar kapitalisme yang sama – sama datang dari Belahan dunia Eropa. Meski harus diakui bahwa Negara – Negara terjajah pun dari belahan Asia Afrika dan Amerika Latin ikut mengadopsinya karena kemampuan Marxisme secara teoritik dan tawaran praktik perjuangannya yang juga sudah teruji mampu melepaskan umat manusia dari penindasannya oleh kapitalisme itu sendiri. Sebut misalnya di Negara – Negara Amerika Selatan  sekarang ini. Identitas sebagai Orang Suku Maya (Indian) dan atau juga sebagai manusia Amerika Latin menjadi spirit persatuan. Dalam persatuan berdasarkan ras terjajah ini menggandeng ajaran Marxisme yang juga disokong oleh Teologi Pembebasan Gereja mejadikan gelombang revolusi di negeri – negeri selatan Benua Amerika ini melawan domonasi dan Hegemoni Korporasi – korporasi global milik  kelompok kapitalis ini di tanah – tanah leluhurnya.

Adanya politik identitas yang membonceng Marxisme dan Teologi pembebasan ini menjadi sebuah hubungan mesra nan membahagiakan dalam melawan dominasi dan hegemoni kapitalisme global dengan beberapa kekuatan penyokong dan pendukungnya ini. Isu tentang solidaritas identitas (ras dan agama) yang seringkali dinilai sebagai biang konflik social ternyata bisa juga menjadi pemersatu di Negara – Negara bekas jajahan. Ras/etnisitas yang sejak dulu menjadi alat pemecah belah ala colonial mampu disatukan dengan menggandeng Marxisme sebagai alat bedah dan alat pukul kepada kapitalisme di Negara – Negara bekas jajahan. Adalah naïf ketika hanya melekatkan Marxisme sebagai ajaran yang hanya anti agama (atheis) tanpa melihat potensi revolusionernya, dan juga sangat egois pula jika menegasikan kedirian ras/etnisitas serta agama/kepercayaan sebagai inspirasi persatuan dan perubahan social dalam melawan dominasi dan hegemoni kapitalisme global yang menindas selama berabad – abad umat manusia dewasa ini. Simponi dari harmoni yang indah yang bisa berujung kepada kebahagiaan umat manusia tertindas bukan tidak mungkin lahir dari kemampuan memadukan Marxisme dengan kedirian identitas bangsa – bangsa bekas jajahan yang secara ekonomi dan kebudayaan bahkan politik pun masih terbelenngu oleh dominasi dan hegemoni kapitalisme global. Daripada menjadi alat saling memukul sesama manusia menderita, alangkah baiknya jika saling merangkul dan membangun simpul kuat mengusir kapitalisme yang disadari bersama telah merusak kesejahteraan dan kebahagiaan yang selama ini diimpikan oleh semua umat manusia di semua belahan dunia ini. Perubahan yang lahir secara diskursus maupun secara struktur di ranah social. Semua berawal dari teori yang diikuti oleh praktik secara istiqomah (konsisten/setia), fidelity to the moment of the truth kata Alain Badiou.

Pada akhirnya di negeri – negeri bekas kolonialisme Eropa yang sebagian besar hari ini masih mengalami penderitaan akut akibat penjajahan kapitalisme global dapat menjadikan Marxisme Poskolonial sebagai Manifesto Perjuangan melawan penjajahan Ekonomi Politik dan Kebudayaan oleh Kapitalisme Global yang menjadikan Negara – Negara maju yang sebagian besar bekal kolonialis beserta Lembaga Internasional dan intelektual hasil didikannya sebagai penyokong dan kaki tangannya.

MAL, SEGREGASI, DAN AKUMULASI PERAYAAN WAKTU LUANG

“Hanya seseorang yang memiliki lebih banyak waktu luang-lah yang mampu menjadi seorang filsuf”.

Kalimat itu diucapkan oleh Plato, seorang filsuf idealis asal Yunani. Di masa itu, waktu luang lebih banyak dinikmati oleh kalangan aristokrat yang tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk bekerja. Olehnya itu, waktu luang banyak dihabiskan untuk berkontemplasi atau memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan manusia lazimnya. Bahkan, filsuf sebelum Plato masih sibuk memperdebatkan ihwal apa unsur terpenting di bumi: air, tanah, matahari ataukah udara. Sekolah di masa itu juga dianggap sebagai waktu luang.

Jauh ke depan, di era kolonialisasi Belanda di Indonesia tepatnya, makna waktu luang semakin digeser. Beredarnya Societ de Harmonie—yang biasa digunakan sebagai tempat berpesta orang Belanda—turut merubah habitus orang pribumi untuk ikut tenggelam ke dalam kolam gaya hidup a la Barat.

Dampak dari peniruan (mimicry) itu berlanjut hingga era sekarang. Waktu luang semakin beralih menjadi nilai-tukar yang semakin kehilangan gunanya. Karena waktu adalah uang, maka setiap detik, menit, dan jam dari hembusan nafas manusia harus bisa ditransformasikan menjadi uang.There is no such thing as free lunch.

Jika di negara besar seperti Amerika orang-orang telah jenuh dengan hiruk-pikuk, kerlap-kerlip kota dan memutuskan untuk menghabiskan waktunya ke wisata alam atau ke negara dunia ketiga, orang-orang di negara dunia ketiga seperti Indonesia justru sibuk berduyun-duyun berwisata ke kota.

Tak dapat dipungkiri, kota memiliki daya sihir dan ekstasi bagi para pemukimnya, khususnya para transmigran. Di kota kita bisa bertemu dengan berbagai macam hiburan seperti Bioskop, Ice Skating, dan lain-lain. Semua hiburan itu tersedia secara lengkap dan tidak gratis di pusat perbelanjaan bernama Mal. Hampir semua kebutuhan kita tersedia disana, dari yang primer sampai diatas tersier.

Mal ibarat regulasi yang harus ditaati oleh setiap kota. Baik kota besar maupun kecil. Tak ada mal, maka tak ada pajak pemasukan bagi negara. Tak ada pemasukan maka Gross Domestic Product(GDP) semakin rendah. Artinya, tingkat kesejahteraan negara itu rendah.

Di Makassar, Sulawesi Selatan misalnya, Mal benar-benar telah menjadi ekstasi. Menurut data yang dikeluarkan oleh PT.GMTD—yang dilansir dalam buku Sosiologi Waktu Senggang karya Muhammad Ridha—pengunjung Mal di Makassar mencapai tiga sampai empat kali lipat dari jumlah penduduk kota Makassar (sekitar 1,3 juta jiwa). Sebuah anomali agaknya.

Desain dan penempatan gerai perbelanjaan di Mal pada umumnya hampir seluruhnya sama. Bila ditinjau dari kaca mata semiotika sosial, ada pemisahan atau pengelompokan identitas suatu kelompok dalam satu ruang yang sama, dalam hal ini, tata letak gerai perbelanjaan di Mal, yang disebut oleh Theo Van Leeuwen sebagai ‘segregasi’.

Mari sedikit berimajinasi. Saya yakin hampir semua dari kita pernah berkunjung ke Mal yang ada di Makassar. Di sepanjang bagian pinggir lantai 1 Mal, umumnya diisi oleh gerai fast-food. Seperti, KFC, Mcdonald, J-co, Aw, Dunkin Donnuts, dan Starbucks. Lebih jauh lagi masuk ke dalam, kita akan menemukan penjual handphone, pakaian, sepatu, jam dan berbagai kebutuhan masyarakat modern lain.

Di lantai 2, ruang perbelanjaan hampir sepenuhnya dikuasai oleh gerai pakaian ternama. Semisal, Planet Surf, Point Break, Wrangler, dan masih banyak lagi. Naik lagi ke lantai 3, kita akan menemukan sekelompok anak muda, kadang juga orang tua, utamanya wanita, menghabiskan banyak waktunya untuk mempercantik diri di salon.

Selain itu, ada juga sekelompok anak muda yang mencibir dinginnya bongkahan es raksasa dalam permainan Ice Skating. Wahana bermain anak-anak atau Timezone juga terdapat disana. Tak jauh dari situ, bioskop turut hadir dengan tayangan film horror seksualnya. Terakhir, ada toko buku yang saban hari ramai dikunjungi remaja galau untuk mencari roman cinta, buku motivasi atau novel best-seller.

Setelah diperhatikan secara seksama dengan tempo yang sesingkat-singkatnya, semakin naik ke lantai atas Mal, menandai semakin banyak waktu luang yang dimiliki orang tersebut ketika berkunjung ke Mal. Menurut saya, penempatan ruang dalam Mal juga didasari oleh asas kebutuhan dan keinginan banyak orang umumnya.

Mengapa gerai perbelanjaan itu harus disegregasi sedemikian rupa? Apakah hanya untuk memisahkan identitas kelompok semata dalam satu ruang yang sama? Atau ada hal lainnya?

Coba bayangkan jika gerai fast-food diletakkan di tempat paling atas dan toko buku diletakkan di paling bawah. Seorang pekerja kantoran—pengunjung Mal pada umumnya yang telah memiliki gaji dan waktu luang sedikit—harus berjalan kaki lebih jauh naik turun eskalator demi memenuhi kebutuhan(?) dan memuaskan keinginannya. Sedangkan ABG jomblo galau tak perlu repot naik turun tangga demi memuaskan hasrat berbelanjanya. Olehnya itu, Timezone, toko buku dan salon harus diletakkan di lantai 3 karena ruang seperti itu diperuntukkan khusus bagi mereka yang memiliki banyak waktu luang.

Demikianlah ruang-ruang itu harus dirampatkan dan disegregasi. Dengan tujuan, mereduksi waktu berbelanja manusia untuk berbelanja ke titik lainnya. David Harvey menyebutnya sebagai penciptaan ekonomi ruang. Dimana setiap pertukaran barang, jasa maupun tenaga kerja, memiliki gerak spasialnya tersendiri danterkadang berinteraksi dalam satu ruang yang sama.

Dalil penciptaan ekonomi ruang yaitu waktu harus terus menerus dipadatkan (Turn-Over-Time). Jarak antara ruang satu dengan yang lain harus dipangkas. Semakin cepat waktu bergulir, semakin pendek friksi ruang maka semakin banyak pula keuntungan yang diraih. Maka dari itu, sebisa mungkin ruang harus dibuat lebih Flexibel, atau dalam bahasa Harvey disebut ‘Flexible Accumulation’.

Di ranah produksi(Mode Of Production), ‘Flexible Accumulation’ dapat dilihat dari pemanfaatan teknologi dengan mengurangi jumlah tenaga kerja. Sehingga sebuah perusahaan tak perlu lagi membayar mahal tenaga pekerja. Atau dengan konsep ‘pekerja tetap’ dan ‘pekerja marjinal’ yang memiliki keahlian tertentu dan bersifat ad-hoc.

Di ranah konsumsi(Mode Of Consumption), ‘Flexible Accumulation’ ditandai dengan hadirnya gerai-gerai eceran. Sebut saja seperti Drive-thru yang disediakan oleh makanan cepat saji. Juga tata letak ruang dalam Mal sebagaimana dijelaskan diatas. Lagi, semuanya demi kepentingan percepatan akumulasi kapital.

Pada akhirnya, manusia ditengah kerumanan sensasi, dan gengsi kehilangan kesadaran atas ruang, waktu dan materi. Kita tak lagi berkuasa atas ruang dan waktu yang kita miliki. Mengutip bahasa Alwy Rachman “Hadir secara fisik luput secara epistemologik”. Secara tidak sadar kita telah ter-segregasi dalam dunia yang kita jalani sehari-hari: ruang publik disediakan khusus sesuai dengan identitas kelompok dan siapa yang berkepentingan atasnya. Segregasi, memisahkan manusia yang satu dengan manusia lain.

“Hanya seseorang yang memiliki lebih banyak waktu luang-lah yang mampu menjadi seorang filsuf”. Plato was wrong.

Bacaan Pemerkaya

Baudrillard, Jean. 2013. Masyarakat Konsumsi. Kreasi Wacana. Jogjakarta.

Ridha, Muhammad. 2012. Sosiologi Waktu Senggang. Resist Book. Jogjakarta.

Van Leeuwen, Theo. 2005. Introducing Social Semiotics. Routledge Book. New York.

Ruang dan Waktu dalam pemikiran David Harvey. Oleh Virtuous Setyaka dalam www.Indoprogress.com

OLEH : HARRY ISRA M

*Tulisan ini merupakan tugas akhir mata kuliah Semiotika Sosial yang diampu oleh Alwy Rachman.

Infografis Hari HAM 2014; Refleksi HAM di dalam kampus

Infographic HAM

Download Formulir

Follow us on Twitter

Benang Merah #Maret ’14

PUTAW Edisi II

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.387 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: