Picpraganda!

More Photos

Blog stats

  • 40,955 hits

Mengobarkan Bara Api Sang Martir Revolusi: Sebuah Reportase

Kamis (7/5), sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Untuk revoLUSI (SOLUSI) melakukan aksi solidaritas di depan pintu satu Universitas Hasanuddin (Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 10). Aksi yang dihadiri oleh kurang lebih 50 mahasiswa dari berbagai elemen ini, merupakan aksi solidaritas untuk mengangkat kembali isu bunuh diri Sebastian Manufuti yang selama ini terkesan ditutup-tutupi oleh media.

Dalam memperingati aIMG20150507164412ksi hari buruh atau May Day 1 Mei 2015 lalu, Sebastian Manufuti membakar dirinya lalu melompat dari atap stadion utama Gelora Bung Karno (GBK). Sebastian yang merupakan seorang buruh PT Tirta Alam Segar ini, merayakan hari buruh bersama teman seperjuangannya yang tergabung dalam serikat buruh bernama KSPI. Sekitar pukul 16:50 WIB, tubuhnya ditemukan tergeletak di stadion GBK.

Pada status Facebook terakhirnya, Sebastian berpesan “Semampuku akan berbuat apapun agar anda, kita, dan mereka bisa terbuka matanya, telinganya, dan hatinya untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Pesan inilah yang harusnya dapat memantik bara api revolusi untuk menuntut keadilan seluruh rakyat Indonesia. Namun pada kenyatannya, adanya martir revolusi ini, belum menjadi tuas penggerak bagi kita, maupun pemerintah untuk menindaki ketidakadilan di negeri ini. Atas dasar itulah SOLUSI melakukan aksi demonstrasi, disamping media yang minim memberitakan atau terkesan menutup-nutupi hal tersebut.IMG20150507171748

Aksi yang dimulai sejak pukul 16:00 WITA dan berakhir hingga pukul 17:45 WITA ini, diliputi oleh kobaran api hitam, poster, dan spanduk yang berisi tuntutan agar pemerintah menindaklanjuti kasus tersebut, bahwa kasus Sebastian adalah bukti nyata dari ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Lalu, haruskah kita diam saja bilamana telah terdapat korban atas ketidakadilan yang menimpa negeri kita ini? Haruskah menungIMG20150507173224gu Sebastian-Sebastian selanjutnya hingga hati kita tergerak untuk menyuarakan ketidakadilan? Demikianlah sederet pertanyaan yang dilontarkan oleh para orator aksi demonstrasi kali ini. Aksi ini pun ditutup dengan mendoakan arwah Sebastian tenang di alam sana. Amin!

BANDIT SOSIAL DI MAKASSAR; JEJAK PERLAWANAN I TOLOK DAENG MAGASSING

terbitan-1

Judul buku  : Bandit Sosial di Makassar

Penulis         : M. Nafsar Palallo

Penerbit       : Rayhan Intermedia

Tahun Terbit : 2008

Halaman        : xi + 129 hlm

Gerakan sosial muncul akibat ketidakpuasan terhadap sistem politik,sosial, ekonomi, dan kultural yang terjadi. Setiap gerakan sosial akan muncul dengan bentuk gerakannya masing-masing dan tentunya akan memunculkan seorang tokoh dalam gerakan tersebut. Di Indonesia sendiri gerakan sosial pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 banyak bermunculan sebagai akibat kolonialisasi yang dilakukan oleh Belanda.

Pada masa kolonial kebijakan yang eksploitatif terhadap sektor pertanian dan perkebunan menyebabkan terjadinya protes yang dilakukan oleh para petani yang tidak hanya bersifat keagamaan tapi juga dalam bentuk kerusuhan. Di masa inilah muncul gerakan perbanditan sosial yang dalam prakteknya sering melakukan penyerangan dan perampokan dengan kekerasan.

Secara praktik mungkin saja gerakan perbanditan sosial mengundang antipati jika tidak menilik lebih jauh alasan munculnya gerakan tersebut. Di masa ini pula tidak ada lembaga yang menjadi saluran aspirasi untuk menunjukkan ketidakpuasan terhadap kebijakan yang diterapkan. Kondisi tersebut menyebabkan munculnya protes sosial yang dilakukan dalam bentuk apapun.

Tentang Bandit Sosial

Jikalau membahas mengenai bandit sosial maka kita akan teringat dengan tokoh dalam cerita rakyat inggris yaitu Robin Hood. Legenda yang telah diangkat ke layar lebar tersebut bercerita mengenai seorang pria yang sering melakukan perampokan terhadap orang-orang yang kaya dan tidak peka sosial. Namun, bentuk kepedulian sosial dari pria tersebut adalah membagikan hasil rampokannya kepada orang-orang miskin. Itulah yang kemudian membedakan bentuk gerakan sosial yang dilakukan oleh Robin Hood.

Secara umum bandit sosial dapat didefinisikan sebagai protes sosial yang dilakukan dalam bentuk perampokan yang terorganisir dengan menggunakan kekerasan. Gerakan tersebut semata-mata untuk menuntut keadilan dan persamaan sosial. Para bandit sosial dilihat sebagai penjahat oleh para pemerintah namun di sisi lain dilihat sebagai pahlawan oleh masyarakatnya karena dianggap sebagai pejuang keadilan dan penuntut balas atas tindakan semena-mena kepada mereka.

(lebih…)

Press Release Aksi Demonstrasi Aliansi Unhas Bersatu menyambut Hardiknas

Aliansi Universitas Unhas Bersatu menolak dengan tegas pemberlakukan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT). UKT adalah turunan dari Undang-Undang Perguruan Tinggi Negeri (UU-PT) yang menitikberatkan partisipasi masyarakat untuk menanggung biaya kuliah dalam rangka menutupi biaya operasional Pendidikan Tinggi. UKT merupakan bentuk pembayaran dengan model subsidi silang: Yang kaya mensubsidi yang miskin. Jadi, pembayaran uang kuliah mahasiswa ditentukan oleh kemampuan ekonomi orang tua atau wali mahasiswa yang membiayainya. Dari sini, pembayaran mahasiswa dibagi kedalam 5 golongan.

Golongan I membayar Rp.0 – Rp.500.000,-, golongan II Rp. 600.000,- untuk non eksakta dan Rp. 750.000,- untuk golongan eksakta. Golongan III Rp. 1.750.000,- untuk non eksakta dan Rp. 2.000.000 untuk golongan eksakta. Golongan IV untuk penerima Bidik Misi membayarkan Rp. 2.400.000,-. Sedangkan golongan V yang diisi oleh mahasiswa Jalur Non Subsidi (JNS) sangat bervariasi mulai dari Rp. 4.000.000,- sampai dengan Rp. 47.500.000, per semester.

Kalau diteliti lebih cermat, sistem UKT ini sesungguhnya membatasi akses dari kalangan yang kurang mampu. Pasalnya, jumlah golongan I dan II dibatasi hanya sekedar minimal 5% (Termaktub dalam Peraturan Kementrian Nomor 73 tahun 2013). Itu artinya, kesempatan golongan I dan II untuk menduduki bangku kuliah terbatas, walaupun nilai yang ia peroleh sama dengan nilai yang diperole_MG_9184h mahasiswa yang mampu secara ekonomi.

Sebagai contoh, di Universitas Hasanuddin (Unhas), hampir seluruh fakultas hanya menampung mahasiswa golongan I dan II sekitar 5-8 persen. Sementara dari golongan III jumlahnya berkisar 30-35 persen, selebihnya berada pada golongan IV dan V. Meskipun golongan I dan II disubsidi oleh golongan IV dan V, tetap saja jumlahnya jauh tidak berimbang. Maka dari itu, pemasukan Unhas untuk tahun setelah diberlakukannya UKT melejit pesat. Sementara mahasiswa semakin tercicik oleh mahalnya biaya kuliah.

Atas dasar itu, momentum Hari Pendidikan Nasional, kami jadikan sebagai langkah untuk kembali mengkampanyekan bahwa sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) beserta regulasi yang mengaturnya seperti Undang_MG_9193-Undang Pendidikan Tinggi (UU-PT) harus ditolak. Mengingat aturan tersebut telah melepaskan tanggung jawab negara terhadap pembiayaan uang kuliah perguruan tinggi. Kami berkesimpulan bahwa Uang Kuliah Tunggal (UKT) adalah upaya membatasi akses kalangan yang berpendapatan rendah dalam mengakses pendidikan tinggi. Apalagi, jumlah penduduk miskin, terkhusus di Sulawesi Selatan, bertambah sebanyak 78 ribu orang per akhir September 2014, dengan jumlah total masyarakat miskin 857 ribu orang. Ini menandakan bahwa pembatasan akses terhadap kalangan yang kurang mampu, dalam hal ini pemberlakuan UKT, mesti ditolak.

Download Formulir

Follow us on Twitter

Benang Merah #Maret ’14

PUTAW Edisi II

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.587 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: