Picpraganda!

Lebih Banyak Foto

Blog stats

  • 52,636 hits

Reklamasi, Korporasi Dan Kekasih

Akhir-akhir ini saya sering sekali mendengar berbagai proyek reklamasi di Indonesia. Mulai dari reklamasi teluk Benoa di Bali, Muara Angke di Jakarta, hingga yang paling dekat tentu di kota kelahiran saya, Makassar. Mega proyek perusakan reklamasi di pesisir kota Anging Mammiri ini menuai pro kontra yang cukup panjang. Masyarakat pesisir, aktivis lingkungan, mahasiswa, dan berbagai pihak lain masih menyatakan penolakannya terhadap proyek tersebut hingga kini.

Proyek Reklamasi di Makassar merupakan salah satu proyek reklamasi terbesar yang pernah ada di Indonesia. Dalam Rancangan Peraturan Daerah (RANPERDA) Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) kota Makassar, seluas 4000 hektar pesisir kota makassar akan ditimbun.

“Terus kenapa, bede? Apa salahnya kalau direklamasi? Bukannnya tanah di kota Makassar sudah sangat sempit dan tidak punya lagi ruang terbuka bagi masyarakat?” Kurang lebih itu pernyataan retorik yang dilontarkan oleh seorang pejabat di kota ini.

Pertanyaannya kemudian apakah hanya karena terbatasnya ruang terbuka hijau bagi masyarakat lantas perlu diadakan reklamasi? Apakah tidak ada lagi tempat di darat yang bisa digunakan hingga reklamasi dianggap perlu? Atau ada konspirasi yang melibatkan beberapa pejabat setempat untuk memperoleh

12705250_739664392800964_5548874526082297632_n

Gambar ini diambil dari halaman Facebook Makassar Tolak Reklamasi.

keuntungan pribadi?

 

Mengapa saya seringkali menyematkan “proyek” sebelum kata reklamasi? Karena tidak sedikit proyek reklamasi dijadikan sebagai ladang privatisasi yang hanya menguntungkan segelintir orang maupun kelompok tertentu. Coba kita ulik sedikit.

Di daerah pesisir kota Makassar yang akan direklamasi, 157 hektar diantaranya akan dibangun Center Point of Indonesia. Proyek ini digadang-gadang akan menjadi salah satu ikon baru Sulawesi Selatan. Tidak tanggung-tanggung sebesar Rp 400 Miliar Rupiah dikeluarkan oleh pemerintah melalui Cost Sharing APBN dan APBD.

Namun dari 157 hektar lahan yang ditimbun, pemerintah hanya mendapatkan 50 hektar tanah untuk dikelola menjadi wisma negara dan fasilitas publik lainnya. Selebihnya yakni 107 hektar menjadi hak swasta grup JO Ciputra Yasmin. Entah saya yang kehabisan amunisi hitungan matematis atau pemerintah yang sudah cukup gila. Kalau niatnya ingin membuka ruang terbuka bagi publik, kenapa justru lahan bagi perusahaan privat justru lebih besar?

Selain kongkalikong penguasa dan pengusaha yang bukan lagi absurd tapi sangat realis, reklamasi juga memiliki dampak negatif terhadap ekologi pesisir. Menurut hasil penelitian Marine Science Diving Club (MSDC) Universitas Hasanuddin, trend penurunan populasi pertumbuhan terumbu karang di tiga pulau (Barrang Ca’di, Barrang Lompo dan Samalona) di sekitar pesisir makassar rata-rata mencapai 30 persen.

Angka ini mengindikasikan kondisi kesehatan terumbu karang kini dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Seperti halnya kondisi utang luar negeri yang sedang bisulan dan sebentar lagi pecah. Penyebabnya terbesarnya ya, reklamasi mengakibatkan sedimentasi dan kekeruhan pada air disana.

Rusaknya terumbu karang, pada gilirannya, akan mempengaruhi ekosistem disekitarnya. Seperti yang dikatakan oleh Manahan, “tanah, air, kehidupan, dan teknologi memiliki interkoneksi satu sama lain”. Ketika terjadi perubahan kondisi tanah maka pasti akan terjadi perubahan yang seturut dengan dimensi lain.

Begitu pula dengan reklamasi, terumbu karang, ikan, nelayan. Rusaknya Terumbu karang akibat reklamasi akan menyebabkan hilangnya tempat nongkrong ikan. Punahnya tempat mangkal ikan di sana menyebabkan nelayan mesti mencari lokasi penangkapan dengan jarak tangkap yang lebih jauh. Hal ini menyebabkan ongkos penangkapan makin membesar sekaligus menambah beban hidup nelayan.

Bisa jadi para nelayan akan berhenti melaut dan menganggur seumur hidup karena lahan pencariannya hilang. Pengalihan profesi yang dijanjikan pun sepertinya hanya menjadi janji yang utopis. Bagaimana mungkin seorang nelayan yang sejak lahir sudah diperkenalkan dengan laut serta memiliki hubungan emosional yang kuat dengan kapal, jaring, dan laut dipaksa keluar dari habitusnya? Ini akan menyebabkan permasalahan baru di kota Makassar, yakni bertambahnya jumlah pengangguran. Lalu mau dikemanakan nelayan kita?

Setelah permasalahan ekologi, profesi nelayan yang akan terganggu, ABG Makassar atau sepasang kekasih juga akan terancam tidak dapat melihat sunset serta panorama lainnya, sebab pandangannya terhalang oleh gedung-gedung. Atau, mereka harus mengeluarkan sejumlah duit untuk menyaksikan indahnya matahari terbenam. Sunset sebentar lagi akan menjadi fenomena yang komersil. Jika tidak mampu membayar, lantas si kekasih kecewa, mengakumulasi seluruh kesalahan pasangannya lalu putus dan menjadi jomblo. Sungguh luar biasa kalau ini benar terjadi.

Penelitian yang dilakukan oleh Sahlgrenska Academy (SAHLSIS) menyebutkan bahwa resiko terkena penyakit stroke pria yang hidup sendirian lebih tinggi daripada yang sudah berpasangan. Jadi, janganlah heran ketika proyek reklamasi telah selesai, kita akan menemukan pria-pria yang terkapar di pinggir jalan semudah menemukan sampah di kota ini.

Oleh : Muhammad Amri Murad

Produksi Pengetahuan, Migrasi, dan Memori; Dari Kolonialisme, Perang Dingin, sampai Masa Neoliberal Hari Ini

Daily Notes
2016 Inter-Asia Cultural Studies Global Network Winter Camp
National Chiao Tung University, Hsinchu, Taiwan
11-15 Januari 2016

Oleh:
Nasrullah Mappatang

11 Januari 2016
Opening Rountable:
Cold War and Democracy: Specters and Unfinished Project
(Perang Dingin dan Demokrasi: Momok dan Agenda yang Belum Selesai)

Pendiskusian mengenai Perang dingin dan Demokrasi ini memulai kegiatan Winter Camp yang di helat pada bulan Januari di Taiwan ini. Poin utama dari topik pertama sekaligus pembuka kegiatan ini adalah mengenai bagaimana nasib demokrasi di suasana perang dingin – juga perang panas (hot war) – yang terjadi di kawasan Asia, khususnya di Asia Timur. Selain itu, dampak pada produksi pengetahuan di masa yang dinamakan neoliberal ini yang hadir pasca perang dingin berakhir juga menjadi agenda penting dalam pembicaraan ketiga penyaji pertama yakni Prof. Joyce C.H. Liu, Prof. Kuan-hsing Chen, dan juga Prof. Amie Parry.

Joyce C H Liu (NCTU)

Profesor Joyce C.H. Liu sebagai Direktur International Institute for Cultural Studies memulai presentasinya bagaimana Kolonialisme, Perang Dingin, dan Neoliberalisme mempengaruhi tatanan Asia Timur, khususnya Taiwan. Pengaruh yang dimaksud membentang dari pengaruh diranah ekonomi politik sampai pada produksi pengetahuan. Kolonialisme Jepang, perebutan antara komunisme Tiongkok dan Liberalisme Amerika menandai perebutan pengaruh terjadi di Taiwan. Setelah apa yang dikatakan perang dingin berakhir, yang bisa dikatakan dengan kemenangan Amerika, proses meningkatnya modal (raise of capital) di Taiwan, Hongkong, dan Korea sebagai negara – negara yang berporos AS ini semakin tak terbendung. Neoliberalisme menjadi term yang digunakan oleh Joyce dalam mendefenisikan dan membangun narasinya tentang apa yang terjadi setelah perang dingin. Industralialisasi berkembang dengan Multi National Corporation yang merajalela menjadi pemandangan yang hadir di era baru pasca kolonialisme dan perang dingin ini. Pada akhirnya, kelas pekerja semakin terkonsentrasi di perkotaan dan lingkungan menjadi tercemar. Tidak hanya di Taiwan, tapi di negara – negara Asia Timur lain yang membangun poros dengan Amerika Serikat, pemandangan ini adalah hal yang tak terhindarkan. Olehnya itu, menurut Joyce produksi pengetahuan dan gerakan sosial dalam menghadapi kondisi masyarakat kontemporer – masa neoliberal pasca kolonial dan pasca perang dingin – menjadi hal perlu didiskusikan dan diagendakan lebih jauh ke depan. Tak terkecuali di acara Winter Camp IACS 2016 ini.

Kuan-hsing Chen (NCTU)

Kuan-hsing Chen melalui paparannya pada kesempatan ini melakukan penekanan terhadap imajinasi kita tentang penyatuan Asia. Asia as Method yang merupakan buah pemikirannya dalam menekankan produksi pengetahuan yang dimana Asia menjadi subjek dari pengetahuan tentang Asia itu sendiri. Titik tekan yang dimaksudkan adalah bagaimana hubungan setelah kolonialisme dan perang dingin dapat melampaui sekat antar negara. Setelah perang dingin pula, Kuan-hsing mempertanyakan bahwa apakah ada kemungkinan lain dalam membayangkan demokrasi hari ini? Pertanyaan yang dijawabnya sendiri ini dengan memberi contoh bagaimana hubungan para intelektual Inter-Asia dalam menjalin kerjasama dan bekerja bersama memproduksi pengetahuan. Produksi pengetahuan yang dimaksud adalah memikirkan kembali dan memaknai ulang (rethinking and decoding) produksi pengetahuan yang berada dibawah pengaruh kolonialisme dan perang dingin yang sebenarnya berwujud panas pada akhirnya di Asia. Kuan-hsing melihat ada banyak peluang untuk melakukan itu, terkhusus bagi para intelektual yang ada di Asia.

Amie Parry (NCU)

Disaat kedua pembicara di atas berbicara mengenai sejarah dan implikasi dari kolonialisme, perang dingin, dan neoliberalisme, Amie Parry melalui paper yang disajikannya mencoba menelaah secara teoritik bagaimana perang dingin dan demokrasi berjalinan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Melalui papernya yang berjudul Democracy and the Cold War, pengajar Sastra Inggris di NCU Taiwan ini memaparkan anailisanya yang dikutip dari karya Chantal Mouffe The Democratic Paradox, Lisa Lowe, the critique of liberalism in The Intimacies of Four Continents, dan Jodi Melamed, on U.S. Cold War Global racial liberalism, Represent and Destroy.
Amie dalam mengutip argumen Mouffe mengenai paradoks demokrasi dimana demokrasi modern menekankan dua hal yang bersamaan yakni tradisi liberal dan tradisi demokratik. Tradisi liberal lebih menekankan pada penegakan hukum (state), HAM, dan juga kebebasan individu.

(lebih…)

Manusia Yang Memperkosa Ibunya

“Jika bumi adalah ibu, kita manusia memperkosa ibunya.” Begitulah Sisir Tanah menggambarkan perilaku manusia dalam lirik lagunya yang berjudul bebal. Keberadaan manusia di muka bumi digambarkan sebagai malapetaka bagi kelangsungan ekosistem yang ada. Padahal pohon, terumbu karang, dan lainnya harusnya bisa tetap tumbuh ada atau tanpa manusia.

Terkadang akan muncul pertanyaan di benak kita , apakah meningkatnya populasi mengharuskan eksploitasi alam dilakukan demi kebutuhan orang banyak? Ataukah memang pandangan kita yang melihat alam sebagai objek? Mengingat kembali perkataan salah satu guru bahwa ketika kita melihat sesuatu sebagai objek maka disitu pula eksploitasi akan terjadi. Hal tersebut tidak berbeda dengan apa yang kita lihat pada era pembangunan masa kini. Nyaris seluruh aspek kehidupan manusia diolah untuk menjadi sumber akumulasi modal. Ya, begitulah sistem kapitalisme berjalan, tidak hanya eksploitatif terhadap sesama manusia tetapi juga terhadap lingkungan.

Sangking tak terbatasnya hasrat untuk mengakumulasi modal, maka daratan yang sudah tidak cukup untuk dijadikan lahan pembangunan di geser ke pesisir. Lalu ditimbunlah laut. Akhirnya konflik yang sebelumnya terjadi dalam bentuk konflik agraria atau perebutan lahan juga bergeser ke pesisir.

Praktek penimbunan laut atau reklamasi beberapa tahun belakangan gencar dilakukan di beberapa titik di Indonesia. Sebut saja Teluk Benoa di Bali, Muara angke di Jakarta, Pantai Marina di Semarang, dan Pesisir Makassar yang akan menjadi mega proyek Centre Point of Indonesia (CPI). Berkaitan dengan reklamasi pesisir Makassar LPM Media Ekonomi Unhas menyelenggarakan diskusi dengan tema “Menuju Kota Dunia: Reklamasi?” Hadir dalam diskusi tersebut dua pembicara yaitu Yusran Nurdin dari Yayasan Konservasi Laut dan Rahmat Januar dari LAW Unhas.

Reklamasi pesisir Makassar merupakan lanjutan dari konsep Water Front City yang digadang-gadang. Dulu rumah penduduk yang berada di pesisir pintunya menghadap ke daratan dan dapurnya di belakang sebagai tempat pembuangan langsung ke laut. Nah, dalam konsep Water Front City posisi rumah tersebut di balik sehingga kawasan pinggir perairan diandaikan sebagai halaman depan rumah.

(lebih…)

Download Formulir Litsar

Arsip

Follow us on Twitter

Benang Merah #Maret ’14

PUTAW Edisi II

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.103 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: