Picpraganda!

More Photos

Blog stats

  • 40,014 hits

REPORTASE: TOLAK UKT, MAHASISWA UNHAS MELAKUKAN AKSI DEMONSTRASI

Kamis (19/03), tidak kurang dari 150 orang massa yang tergabung dalam aliansi unhas bersatu kembali melakukan aksi demonstrasi di depan gedung rektorat Universitas Hasanuddin. Dalam aksi kali ini mereka menuntut pencabutan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan transparansi penggunaan anggaran Unhas. Pemberlakuan sistem UKT yang diberlakukan, dianggap sebagai suatu bentuk pengkastaan dalam dunia pendidikan karena setiap mahasiswa membayar uang kuliah berdasarkan golongan-golongan yang ditentukan oleh besarnya pendapatan orangtua. Selain itu, perbedaan jumlah pembayaran setiap golongan UKT yang berbentuk subsidi silang dianggap melepaskan peran negara dalam subsidi pendidikan dan menyerahkannya kepada orang-orang kaya untuk mensubsidi yang miskin.

Sejak diberlakukJpegan di unhas tahun 2013 lalu, UKT menuai banyak kejanggalan dalam prosesnya. Dalam pelaksaan sistem UKT, setiap mahasiswa harusnya hanya dipungut biaya SPP tanpa pembayaran biaya-biaya lainnya. Namun kenyataannya beberapa mahasiswa masih dipungut biaya lain. Contohnya mahasiswa Fakultas MIPA Unhas masih dibebankan biaya praktikum. Disamping itu, di beberapa fakultas juga masih diwajibkan membeli buku untuk beberapa mata kuliah.

Massa aksi mulai berkumpul di depan gedung PB UNHAS pada pukul 12.30 wita. setelah massa aksi terkumpul koordinator aksi mulai mengarahkan massa aksi menuju gedung rektorat sambil menyanyikan lagu darah juang. Sesampainya di depan gedung rektorat, massa aksi langsung membentangkan spanduk dan petaka kemudian bersama-sama menyanyikan lagu mars unhas. Setelah itu beberapa massa aksi mulai menyampaikan orasinya.

Kali ini massa aksi disambut oleh pimpinan universitas dalam hal ini wakil rektor I, II dan III. Massa aksi menuntut rektor unhas untuk menemui massa aksi dan berdialog mengenai tuntutan massa. Akan tetapi, massa aksi tidak berhasil menemui rektor unhas Jpegyang kabarnya sedang berada di Jakarta. Pada kesempatan itu, pihak rektorat memberi kesempatan kepada massa aksi untuk melakukan tanya-jawab terkait permasalahan UKT. Ihwal pembebanan biaya lain kepada mahasiswa dan penetapan kuota minimal 5% bagi golongan I dan II, dipertanyakan oleh beberapa massa aksi. Akan tetapi jawaban yang dipaparkan oleh wakil rektor II tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Seringkali berputar-putar dan kurang jelas.

Tidak puas dengan jawaban pihak rektorat, massa aksi pun menuntut agar pihak rektorat mau membuka ruang diskusi dengan para mahasiswa berkaitan dengan pelaksanaan UKT dan transaparansi penggunaan anggaran Unhas. Setelah bernegosiasi dengan massa, pihak rektorat pun sepakat untuk membuka ruang diskusi pada minggu depan. Selain itu, pihak rektorat yang diwakili oleh WR2 menghimbau kepada mahasiswa untuk membuat laporan tertulis yang ditujukan langsung kepada pimpinan universitas apabila terdapat kejanggalan dalam pelaksanaa sistem UKT. Aksi ini ditutup dengan penyerahan surat tuntutan kepada WR1.

LAPAK BACA : UPAYA KECIL MELAWAN KEMEROSOTAN INTELEKTUAL

Salah satu indikator kemajuan suatu bangsa ialah angka melek huruf. Melek huruf bukan hanya dalam artian menguasai huruf, dan arti kata. Melek huruf yang maksudnya seberapa banyak pengetahuan manusia yang diperolehnya melalui membaca. Selanjutnya bagaimana pengetahuan itu berguna sebagai kaca-mata dalam memandang fenomena yang saban hari kita jumpai. Ilmu pengetahuan seperti yang dijelaskan diatas sangat berguna bagi umat manusia.

Bagi sebagian orang, membaca boleh jadi merupakan aktivitas membosankan, bikin ngantuk, dan buang-buang waktu. Banyak pilihan yang lebih menyenangkan ketimbang membuka halaman demi halaman, dan memaknai kata demi kata yang terdapat di dalam buku. Pilihan itu pun banyak macamnya, fitur permainan yang mudah kita dapatkan hanya dengan mendownloadnya di play store handphone android, misalnya. Atau duduk dihadapan laptop berpuluh-puluh jam menyaksikan film yang hanya memiliki satu permasalahan dalam hidupnya, mengutip judul lagu Efek Rumah Kaca, ‘Cinta melulu’.

Ditengah situasi kampus dan mahasiswa yang semakin memprihatinkan: copy-paste skripsi dan tugas, buku-buku di perpustakaan tak berkualitas, dosen malas, membosankannya proses pembelajaran di kelas, dan sederet permasalahan yang disebutkan diatas. Beralaskan hal tersebutlah, sekelompok pemuda-pemudi menginisiasiIMG_20150304_123520kan diri untuk membuka lapak baca di fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, Rabu 4 Maret 2015.

Di sudut aula Prof. Matualada, mereka menjajakan berbagai jenis buku (Sosial, ekonomi, politik dan sastra). Ada yang untuk dibaca, ada pula yang hendak dijual. Harga jualannya pun terjangkau, mulai dari 15 ribu sampai 50 ribu. Menurut Mahatir, salah seorang inisiator lapak yang juga Koordinator divisi Aksi dan Propaganda Lingkar Advokasi Mahasiswa Unhas (LAW-Unhas), “Buku yang diperuntukkan dibaca ditempat oleh pengunjung adalah buku-buku yang tidak tersedia di perpustakaan universitas maupun fakultas, kami juga menyediakan jasa pemesanan buku yang dicetak langsung dari Jogjakarta. Selain itu, lapak ini juga bertujuan sebagai sarana menyebarkan ilmu pengetahuan”.

Pengunjung lapak baca ini pun bermacam-macam. Terdiri dari: Mahasiswa strata III, beberapa dosen yang senang membaca, dan mahasiswa dari berbagai angkatan. Tak sampai disitu, pengunjung yang datang juga melakukan diskusi bersama para penjaga lapak. “Selain tempat membaca, lapak buku ini diharapkan mampu membuka ruang-ruang diskusi yang selama ini sudah jarang ditemui di kampus, walhasil produksi pengetahuan pun dapat kembali berjalan” Ucap Stevany.

Membacalah. Sebab dengan membaca, kita dapat memaknai hidup kita lebih dalam lagi. Memperkaya diri dengan melihat cara pandang orang lain terhadap apa yang ia alami, lalu merefleksikannya kedalam hidup kita. Bukankah kita terlalu egois bila tak mau mencerap pengalaman dan hasil pikiran orang lain?(HIM)

MARXISME POSKOLONIAL; Sebuah Manifesto Perjuangan Negeri – Negeri (Bekas) Terjajah  

“Kaum Tertindas di Negeri – Negeri (Bekas) Terjajah, Bersatulah!”

Ingat, kita ini masih terjajah, daripada saling sikut lebih baik bersatu!

Marxisme Poskolonial merupakan manifestasi dari pendiskusian yang berkembang dari berbagai kajian yang menekankan bagaimana praksis dari teori – teori social kebudayaan masyarakat kontemporer. Sesuatu yang sebenarnya bisa dikatakan tidaklah baru, namun dapat dikatakan memiliki kebaruan dari segi cara pandang maupun praksis. Teori dan praktik. Kenyataan bahwa kapitalisme lanjut yang sampai pada monopoli capital keuangan global kepada segelintir korporasi global raksasa adalah benar. Bahwa Negara dan lembaga internasional turut mejadi kaki tangan kelompok korporasi kapitalisme global yang kita kenal dengan neoliberalisme  juga benar. Namun yang tidak dapat dilupakan pula adalah bahwa Negara – Negara bekas kolonial yang pernah dilanda revolusi nasional kemudian sebagian besar digulingkan dan mengarah kepada dictator militer juga benar. Dan otoritarianisme dibawah rezim militer bekingan kapitalisme global ini ikut memapankan penguasaan korporasi raksasa global milik kapitalis internasional juga benar. Bahkan lembaga internasional seperti PBB pun tidak mampu berbuat banyak jika tidak ingin mengatakan ikut menjadi alat pelegitimasi kekuasaan kapitalis global yang menindas warga dunia juga benar. Juga sulit memungkiri bahwa Negara – Negara maju seperti Amerika dan Uni Eropa serta Britania Raya dan negeri persemakmurannya pun juga berada di bawah ketiak kendalinya.

Lantas bagaimana dengan Negara – Negara yang sering dilabeli dunia ketiga di tengah – tengah kekuasaan kapitalisme global ini? Bahwa Marxisme dengan berbagai wujud praksisnya telah menghadang kapitalisme global ini secara praksis adalah benar juga. Meski tidak sepenuhnya dapat diklaim bahwa apa yang ada di Negara – Negara bekas jajahan kolonialisme Eropa dan Amerika yang terlambat menjadi colonial (neokolialis) yang melakukan perlawanan adalah buah dari Marxisme itu semata dalam ranah praksis. Dengan demikian, pengaruh dari teori marxisme itu sendiri juga tak dapat dipungkiri. Marxisme lah yang secara teori telah menghadang laju kapitalisme ini sebagai buah dari revolusi Industri Eropa yang diakselerasi oleh kolonialisme Eropa abad 17 sampai paruh kedua abad 20. Komunisme dan atau sosialisme adalah wujud ideology praksis dari Marxisme ini. Di Negara – Negara jajahan Eropa sekalipun panji – panji Marxisme menggema seiring dengan perjuangan nasionalisme yang menjadi bendera perjuangan melepaskan diri dari jajahan colonial.

Poskolonialisme sebenarnya secara praktik sudah ada sebelum menjadi sebuah paham atau cara pandang yang didengungkan secara akademis. Hasrat ingin lepas dari belenggu kolonialisme dan bekas colonial dari segi politik, budaya dan ekonomi spirit utamanya. Namun, lamanya colonialism Eropa menanamkan ajaran dan keuasaannya di Negara – Negara jajahan menjadikan poskolonialimse merupakan perjuangan panjang dan menguras pikiran tenaga bagi Negara – Negara bekas jajahan. Kedirian bekas jajahan adalah salah satu penguatnya. Nasionalisme yang juga merupakan produk barat telah diadopsi untuk melawan barat itu sendiri sebagai kolonialis. Nasionalisme dan Marxisme inilah yang dapat dikatakan sebuah pertautan mesra yang membuat beberapa Negara – Negara jajahan mampu memberikan pukulan jitu meski tidak sepenuhnya mematikan bagi para kolonialis atau penjajah di Negara – Negara yang dilabeli dunia ketiga oleh bangsa Eropa. Mayoritas berada di Asia Afrika dan Amerika Selatan. Spirit Islam dan Agama/kepercayaan lain juga tak dapat dipungkiri menjadi spirit dalam pembebasan nasional beberapa Negara jajahan untuk merdeka secara politik namun tidak sepenuhnya secara ekonomi dan budaya dari penjajahnya.

Marxisme harus diakui sebagai penghadang maupun lawan terbesar kapitalisme yang sama – sama datang dari Belahan dunia Eropa. Meski harus diakui bahwa Negara – Negara terjajah pun dari belahan Asia Afrika dan Amerika Latin ikut mengadopsinya karena kemampuan Marxisme secara teoritik dan tawaran praktik perjuangannya yang juga sudah teruji mampu melepaskan umat manusia dari penindasannya oleh kapitalisme itu sendiri. Sebut misalnya di Negara – Negara Amerika Selatan  sekarang ini. Identitas sebagai Orang Suku Maya (Indian) dan atau juga sebagai manusia Amerika Latin menjadi spirit persatuan. Dalam persatuan berdasarkan ras terjajah ini menggandeng ajaran Marxisme yang juga disokong oleh Teologi Pembebasan Gereja mejadikan gelombang revolusi di negeri – negeri selatan Benua Amerika ini melawan domonasi dan Hegemoni Korporasi – korporasi global milik  kelompok kapitalis ini di tanah – tanah leluhurnya.

Adanya politik identitas yang membonceng Marxisme dan Teologi pembebasan ini menjadi sebuah hubungan mesra nan membahagiakan dalam melawan dominasi dan hegemoni kapitalisme global dengan beberapa kekuatan penyokong dan pendukungnya ini. Isu tentang solidaritas identitas (ras dan agama) yang seringkali dinilai sebagai biang konflik social ternyata bisa juga menjadi pemersatu di Negara – Negara bekas jajahan. Ras/etnisitas yang sejak dulu menjadi alat pemecah belah ala colonial mampu disatukan dengan menggandeng Marxisme sebagai alat bedah dan alat pukul kepada kapitalisme di Negara – Negara bekas jajahan. Adalah naïf ketika hanya melekatkan Marxisme sebagai ajaran yang hanya anti agama (atheis) tanpa melihat potensi revolusionernya, dan juga sangat egois pula jika menegasikan kedirian ras/etnisitas serta agama/kepercayaan sebagai inspirasi persatuan dan perubahan social dalam melawan dominasi dan hegemoni kapitalisme global yang menindas selama berabad – abad umat manusia dewasa ini. Simponi dari harmoni yang indah yang bisa berujung kepada kebahagiaan umat manusia tertindas bukan tidak mungkin lahir dari kemampuan memadukan Marxisme dengan kedirian identitas bangsa – bangsa bekas jajahan yang secara ekonomi dan kebudayaan bahkan politik pun masih terbelenngu oleh dominasi dan hegemoni kapitalisme global. Daripada menjadi alat saling memukul sesama manusia menderita, alangkah baiknya jika saling merangkul dan membangun simpul kuat mengusir kapitalisme yang disadari bersama telah merusak kesejahteraan dan kebahagiaan yang selama ini diimpikan oleh semua umat manusia di semua belahan dunia ini. Perubahan yang lahir secara diskursus maupun secara struktur di ranah social. Semua berawal dari teori yang diikuti oleh praktik secara istiqomah (konsisten/setia), fidelity to the moment of the truth kata Alain Badiou.

Pada akhirnya di negeri – negeri bekas kolonialisme Eropa yang sebagian besar hari ini masih mengalami penderitaan akut akibat penjajahan kapitalisme global dapat menjadikan Marxisme Poskolonial sebagai Manifesto Perjuangan melawan penjajahan Ekonomi Politik dan Kebudayaan oleh Kapitalisme Global yang menjadikan Negara – Negara maju yang sebagian besar bekal kolonialis beserta Lembaga Internasional dan intelektual hasil didikannya sebagai penyokong dan kaki tangannya.

Download Formulir

Follow us on Twitter

Benang Merah #Maret ’14

PUTAW Edisi II

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.434 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: