LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Prees Release » Tulisan dari Nelayan Buloa untuk Dunia

Tulisan dari Nelayan Buloa untuk Dunia

Oleh: NELAYAN BULOA

(disunting oleh : Maula-Aconk)

 

Pembangunan Kota Makassar sebagai salah satu kota dunia kembali memposisikan rakyat sebagai pihak yang tidak menikmati ‘kue’ pembangunan tersebut. Posisi kota Makassar yang terkenal sebagai kawasan maritim merupakan daya tarik sendiri,apalagi di Buloa-Tallo yang sejak jaman Kerajaan Tallo merupakan tempat sandarnya kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia. Namun pandangan pihak pemerintah selama ini yang menganggap bahwa pembangunan kota baru akan memberi dampak bagi perekonomian warga sekitar nampaknya tidak kami rasakan sedikit pun. Bahkan penimbunan laut yang terjadi di sekitar kawasan Buloa sangat mengancam kehidupan kami yang setiap harinya berprofesi sebagai nelayan di sekitar Buloa-Tallo. Penimbunan yang hampir menutupi kampung Buloa tersebut menghalangi jalur melaut kami, para nelayan Buloa-Tallo. Proyek penimbunan laut ini ditenggarai merupakan kegiatan illegal melihat tidak adanya papan pengumuman proyek serta Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Telah ada upaya-upaya untuk mengadukan hal ini kepada pihak pemerintah setempat, dalam hal ini kepala kelurahan Buloa. Namun kami tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Pemerintah seakan lepas tangan dan bersikap acuh tak acuh terhadap permasalahan ini. Kami hanya mendapatkan kabar kalau nantinya akan ada relokasi rumah-rumah warga. Bahkan pihak kelurahan melakukan aksi lempar-tangan dengan mengarahkan semua tuduhan kepada pihak Jentang. Jentang sendiri merupakan pengusaha yang selama ini disebut-sebut oleh kelurahan sebagai pengusaha yang melakukan penimbunan laut di pesisir Buloa-Tallo.

Selain itu ancaman penggusuran oleh beberapa pihak yang berdatangan ,entah dari mana, juga mengancam kami yang bertempat tinggal di Buloa. Padahal warga Buloa telah mendiami tanah Buloa sejak tahun 1980-an. Sampai saat ini nasib warga Buloa masih terkatung-katung di DPRD Kota Makassar dalam kasus sengketa tanah antara warga Buloa dengan pihak Rosnia. Namun, setelah tiga kali melakukan rapat bersama antara warga buloa, pihak rosnia dan anggota DPRD Kota Makassar, kami tidak merasakan perubahan yang signifikan terhadap keseharian kami. Sampai sekarang, pihak Rosnia masih melakukan pendekatan yang intimidatif (premanisme) dalam meminta warga Buloa untuk meninggalkan tanah tersebut. Premanisme memang telah menjadi isu yang mendesak di kalangan warga buloa. Bagaimana tidak, preman suruhan rosnia telah berani mengancam dengan tindakan fisik guna mengintimidasi salah satu pendamping warga buloa selama ini (KPRM).

Atas premanisme yang terjadi tersebut, pihak kepolisian sudah tidak bisa diandalkan sama sekali. Kami telah melaporkan tindak premanisme tersebut hingga ke tingkat Kepolisian Daerah (POLDA). Namun lagi-lagi, tidak ada langkah yang konkrit yang diambil untuk mengamankan warga dari intimidasi-intimidasi yang dilakukan oleh preman tersebut.

Selain itu pemagaran dengan beton telah menutupi beberapa pemukiman warga Buloa sehingga mengganggu akses keluar masuk warga dari rumahnya masing-masing. Telah ada iming-iming uang ganti rugi yang ditawarkan oleh pihak Rosnia. Namun Buloa telah menjadi penyokong kehidupan warga Buloa yang kesehariannya berprofesi sebagai nelayan dan tidak tergantikan oleh berapapun uang ganti rugi yang ditawarkan.

 

Maka dari itu, Kami, Persatuan Nelayan dan Warga Pesisir Buloa-Tallo akan menuntut:

  1. Hentikan Penimbunan Pesisir Laut Buloa-Tallo
  2. Tangkap Mafia Tanah dan Laut di Buloa-Tallo
  3. Pecat semua Aparat yang Terlibat Dalam Penimbunan Laut Ilegal
  4. Tolak Penggusuran Warga Buloa.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: