LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » 2012 » September

Monthly Archives: September 2012

Hari Tani Nasional 2012: Laksanakan Reforma Agraria Sejati

Teatrikal Hari Tani Nasional 2012 di Makassar (sumber: Antara Foto)

Makassar–WALHI, FMN, LAW UNHAS, FE UH, Serikat Tani Blong Bangkeng (Takalar), FPR, Ampera, PERISAI UH, AMAN, BEM STIKES Megarezky dan BEM FE UNM yang tergabung dalam Sekretariat Bersama-Perjuangan Rakyat Sul-Sel menggelar aksi. Aksi ini dilakukan sebagai peringatan Hari Tani Nasional 2012 yang bertempat di fly over Pettarani, Senin (24/09). Aksi ini dimulai pada pkl. 11.35 dan berakhir pada pukul 13.00 WITA.

Lahirnya beberapa regulasi dan praktek-praktek monopoli serta perampasan tanah rakyat dalam skala besar semakin massif terjadi dalam rezim SBY-Boediono. Beberapa praktek monopoli yang terjadi antara lain pertambangan skala besar (minyak, emas, batu bara, dll), program ketahanan pangan yang merupakan bentuk program ketahanan pangan palsu, program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim palsu (REDD+) merupakan proyek-proyek besar yang semakin menyengsarakan rakyat Indonesia. Hal tersebutlah yang menjadi fokus perhatian dari aksi ini sehingga melahirkan beberapa tuntutan besar, yakni pemberhentian seluruh praktek monopoli dan perampasan tanah, pelaksanaaan reforma agraria sejati, dan pembangunan industrialisasi nasional dengan kedaulatan di tangan rakyat serta beberapa tuntutan turunannya.

Aksi ini dikemas dalam bentuk teatrikal yang bercerita mengenai penguasa yang menyengsarakan rakyatnya, orasi politik dari para pimpinan lembaga, pembacaan puisi serta pembakaran foto Obama sebagai simbolisasi perlawanan terhadap imperialis.**

(Apr)

Iklan

Menjelang Hari Tani, 24 September 2012

Kebijakan Pemerintah yang lebih mementingkan investasi modal besar sungguh tidak masuk akal. Dengan 230 juta penduduk dan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia saat ini hanyalah sebuah Negara berkembang, memiliki 1600 trilyun utang Luar Negeri, dan 40% penduduknya masih berada di garis kemiskinan. Ada sekitar 30 juta pengangguran, yang mayoritas berada di perkotaan untuk menjadi buruh dengan gaji rendah dan kehidupan yang tidak layak.
Dampaknya adalah benturan yang cukup keras antara kepentingan petani atas tanah dan pengusaha. Salah satunya adalah Konflik Cinta Manis, Sumsel yang telah merenggut nyawa Petani. Di Sulsel, kita masih ingat dengan kasus-kasus yang terjadi pada petani-petani  di Kabupaten Bulukumba yang tanahnya klaim sepihak oleh  PT London Sumatera (Londsum) dan masyarakat adat Kajang, di Kabupaten Sidrap dengan kasus petani berhadapan dengan PT Buli dan PT Margareksa. Di Kabupaten Takalar sengketa tak pernah selesai natara masyatakat dengan PT Perkebunan Nusantara XIV (PT PN XIV). Di Kabupaten Wajo ada kasus di Desa Paselloreng dan Keera antara masyarakat berhadapan dengan  PT XIV. Di  Luwu Utara PT PN XIV berhadapan dengan masyarakat di Uraso. Demikian juga di Gowa, lagi-lagi PT PN XIV bersengketa dengan masyarakat.

Ini terjadi karena pemerintah selalu menyelesaikan konflik dengan pendekatan keamanan. Karena itu, apa yang disampaikan SBY untuk membentuk tim penyelesaian konflik dan tim pencari fakta dalam pidato kenegaraan Agustus kemarin menjadi sia-sia.
Jika kita berkaca pada pembentukan TGPF atas kasus penembakan di Mesuji, Lampung, kita dapat melihat bahwa pembentuk tim tersebut sia-sia belaka. Apa yang direkomendasikan oleh tim tersebut tidak dijalankan sama sekali, padahal rekomendasi tim tersebut bisa dikatakan sangat moderat dan dikritik oleh kelompok masyarakat. Selama kepemimpinan SBY, catatan dari berbagai sumber, sekitar 183 Petani telah tewas, ratusan luka, dan puluhan rumah terbakar.
Menjelang hari tani 24 september 2012, seyogianya Presiden menunjukkan sikap yang lebih jelas dalam menyelesaikan konflik agraria yang ada, yaitu mengeluarkan kebijakan pelaksanaan reforma agrari, membentuk pengadilan agrarian, memberikan subsidi pertanian, dan pelarangan import pangan.
Jika Presiden tidak bersikap tegas, dapat dipastikan konflik agrarian akan terus bermunculan karena situasi ekonomi dunia tidak kunjung pulih. Bencana alam terus terjadi yang menyebabkan produksi pertanian menurun sehingga kebutuhan akan tanah semakin meningkat.

Disadur dari Aliansi Petani Indonesia dengan sedikit penambahan.

SOMASI:Tolak Kekerasan Akademik!

identitasonline.net – Solidaritas Mahasiswa Anti Kekerasan Akademik (Somasi) Unhas menggelar aksi. Aksi ini bertempat di Pelataran Gedung Rektorat Unhas, Senin (17/09).  Sekitar pukul 12.30 aksi ini berlangsung hingga dua jam lamanya.

Aksi ini merupakan bentuk reaksi Somasi terhadap kekerasan akademik yang menimpa sejumlah mahasiswa Ilmu Kelautan. Ini merupakan buntut dari masalah pengaderan yang masih menjadi polemik. Mereka menuntut tanggungjawab birokrasi kampus masalah kejadian mahasiswa Kelautan yang disidang di Kabupaten Barru. Selain itu, aksi yang tergabung dari berbagai lembaga mahasiswa di Unhas ini juga mempertanyakan landasan aturan yang jelas terhadap empat mahasiswa kelautan yang diberi sanksi dua semester. Dan 40 orang yang diberi sanksi percobaan. Mereka adalah pengurus lembaga dan panitia pengaderan ketika itu.
“Tak hanya itu, aksi ini juga menanyakan kejelasan kekerasan akademik yang dilakukan oknum dosen-dosen di Kelautan Unhas,” jelas Koordinator Somasi Muhammad Nasir. Menanggapi hal ini, pihak birokrasi pun mengajak mahasiswa untuk berdialog.
Dialog bertempat di ruangan Ketua Komdis Unhas, Lantai II Gedung Rektorat. Dihadiri oleh sekitar sepuluh mahasiswa perwakilan dari Somasi. Permasalahan yang dibahas mulai dari status mahasiswa yang diberi sanksi percobaan oleh Komdis FIKP. Dalam dialog tersebut dipaparkan bahwa mahasiswa yang diberi sanksi percobaan masih dapat mengikuti perkuliahan. Namun, mereka tidak boleh lagi melanggar aturan yang berlaku saat ini. “Oleh sebab sanksi skorsing percobaan ini bersifat teguran dan mereka pun masih berstatus mahasiswa,” jelas Prof Andi Iqbal Burhanuddin, Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas.
Senada dengan itu,  Ketua Komisi Disiplin (Komdis) Unhas,  Dr Ir Abdul Rasyid MSi  menyatakan bahwa  sanksi percobaan tidak membatasi orang untuk kuliah. Pihak Komdis Unhas melihat kasus ini dan langkah penyelesaian yang akan dilakukan dengan mempertemukan setiap komponen, seperti Ketua Jurusan, Dekan, dan Komdis Fakultas untuk dapat diselesaikan.

CABUT UNDANG UNDANG PENDIDIKAN TINGGI

CABUT UNDANG UNDANG PENDIDIKAN TINGGI

Hanya berorientasi industri dan pasar

CABUT UU PENDIDIKAN TINGGI !

CABUT UU PENDIDIKAN TINGGI !

UU PT menawarkan otonomi semu dan membuat mahasiswa hanya menjadi robot untuk memenuhi kebutuhan pasar

Munir

Goenawan Mohamad*

(Dikutip dari Majalah Tempo Edisi. 29/XXXIII/13 – 19 September 2004)

~ sepucuk surat untuk Sultan Alief Allende dan Diva Suki Larasati, yang ditinggalkan ayah mereka ~

Kelak, ketika umur kalian 17 tahun, kalian mungkin baru akan bisa membaca surat ini, yang ditulis oleh seorang yang tak kalian kenal, tiga hari setelah ayahmu meninggalkan kita semua secara tiba-tiba, ketika kalian belum mengerti kenapa begitu banyak orang berkabung dan hari jadi muram. Kelak kalian mungkin hanya akan melihat foto di sebuah majalah tua: ribuan lilin dinyalakan dari dekat dan jauh, dan mudah-mudahan akan tahu bahwa tiap lilin adalah semacam doa: “Biarkan kami melihat gelap dengan terang yang kecil ini, biarkan kami susun cahaya yang terbatas agar kami bisa menangkap gelap.”

Ayahmu, Alief, seperti kami semua, tak takut akan gelap. Tapi ia cemas akan kelam. Gelap adalah bagian dari hidup. Kelam adalah putus asa yang memandang hidup sebagai gelap yang mutlak. Kelam adalah jera, kelam adalah getir, kelam adalah menyerah.

Dengan tubuhnya yang ringkih, Diva, ayahmu tak hendak membiarkan kelam itu berkuasa. Seakan-akan tiap senjakala ia melihat di langit tanah airnya ada awan yang bergerak dan di dalamnya ada empat penunggang kuda yang menyeberangi ufuk. Ia tahu bagaimana mereka disebut. Yang pertama bernama Kekerasan, yang kedua Ketidakadilan, yang ketiga Keserakahan, dan yang keempat Kebencian.

Seperti kami semua, ia juga gentar melihat semua itu. Tapi ia melawan.

Di negeri yang sebenarnya tak hendak ditinggalkannya ini, Nak, tak semua orang melawan. Bahkan di masa kami tak sedikit yang menyambut Empat Penunggang Kuda itu, sambil berkata, “Kita tak bisa bertahan, kita tak usah menentang mereka, hidup toh hanya sebuah rumah gadai yang besar.” Dan seraya berujar demikian, mereka pun menggadaikan bagian dari diri mereka yang baik.

Orang-orang itu yakin, dari perolehan gadai itu mereka akan mencapai yang mereka hasratkan. Sepuluh tahun yang akan datang kalian mungkin masih akan menyaksikan hasrat itu. Terkadang tandanya adalah rumah besar, mobil menakjubkan, pangkat dan kemasyhuran yang menjulang tinggi. Terkadang hasrat kekuasaan itu bercirikan panji-panji kemenangan yang berkibar?yang ditancapkan di atas tubuh luka orang-orang yang lemah.

(lebih…)

%d blogger menyukai ini: