LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Menjelang Hari Tani, 24 September 2012

Menjelang Hari Tani, 24 September 2012

Kebijakan Pemerintah yang lebih mementingkan investasi modal besar sungguh tidak masuk akal. Dengan 230 juta penduduk dan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia saat ini hanyalah sebuah Negara berkembang, memiliki 1600 trilyun utang Luar Negeri, dan 40% penduduknya masih berada di garis kemiskinan. Ada sekitar 30 juta pengangguran, yang mayoritas berada di perkotaan untuk menjadi buruh dengan gaji rendah dan kehidupan yang tidak layak.
Dampaknya adalah benturan yang cukup keras antara kepentingan petani atas tanah dan pengusaha. Salah satunya adalah Konflik Cinta Manis, Sumsel yang telah merenggut nyawa Petani. Di Sulsel, kita masih ingat dengan kasus-kasus yang terjadi pada petani-petani  di Kabupaten Bulukumba yang tanahnya klaim sepihak oleh  PT London Sumatera (Londsum) dan masyarakat adat Kajang, di Kabupaten Sidrap dengan kasus petani berhadapan dengan PT Buli dan PT Margareksa. Di Kabupaten Takalar sengketa tak pernah selesai natara masyatakat dengan PT Perkebunan Nusantara XIV (PT PN XIV). Di Kabupaten Wajo ada kasus di Desa Paselloreng dan Keera antara masyarakat berhadapan dengan  PT XIV. Di  Luwu Utara PT PN XIV berhadapan dengan masyarakat di Uraso. Demikian juga di Gowa, lagi-lagi PT PN XIV bersengketa dengan masyarakat.

Ini terjadi karena pemerintah selalu menyelesaikan konflik dengan pendekatan keamanan. Karena itu, apa yang disampaikan SBY untuk membentuk tim penyelesaian konflik dan tim pencari fakta dalam pidato kenegaraan Agustus kemarin menjadi sia-sia.
Jika kita berkaca pada pembentukan TGPF atas kasus penembakan di Mesuji, Lampung, kita dapat melihat bahwa pembentuk tim tersebut sia-sia belaka. Apa yang direkomendasikan oleh tim tersebut tidak dijalankan sama sekali, padahal rekomendasi tim tersebut bisa dikatakan sangat moderat dan dikritik oleh kelompok masyarakat. Selama kepemimpinan SBY, catatan dari berbagai sumber, sekitar 183 Petani telah tewas, ratusan luka, dan puluhan rumah terbakar.
Menjelang hari tani 24 september 2012, seyogianya Presiden menunjukkan sikap yang lebih jelas dalam menyelesaikan konflik agraria yang ada, yaitu mengeluarkan kebijakan pelaksanaan reforma agrari, membentuk pengadilan agrarian, memberikan subsidi pertanian, dan pelarangan import pangan.
Jika Presiden tidak bersikap tegas, dapat dipastikan konflik agrarian akan terus bermunculan karena situasi ekonomi dunia tidak kunjung pulih. Bencana alam terus terjadi yang menyebabkan produksi pertanian menurun sehingga kebutuhan akan tanah semakin meningkat.

Disadur dari Aliansi Petani Indonesia dengan sedikit penambahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: