LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Editorial » Peduli Buloa dan Solidaritas Anti Penggusuran

Peduli Buloa dan Solidaritas Anti Penggusuran

Mungkin kalian sudah bosan dengan kata ‘penggusuran’. Kata yang setiap hari muncul di televisi dan koran atau disetiap pengaderan maba sebagai gambaran patriotik senior ke maba. Kata yang selalu diiringi dengan perang, tangis histeris dan beberapa peristiwa tragis lainnya. Mungkin bagi kalian penggusuran itu sudah biasa. Malahan beberapa orang menganggap itu suatu hal yang wajar.

Tapi tunggu dulu!

Kalian yang menganggap penggusuran itu wajar pasti belum pernah merasakan bagaimana pahitnya kehilangan rumah. Bagaimana pahitnya kehilangan kenangan masa kanak-kanak. Bagaimana pahitnya kehilangan canda tawa dengan teman-teman sekitar rumah kalian. Bagaimana pahitnya setiap hari mendapat ancaman dari pria ‘berbadan tegap’ (kalian bisa memanggilnya dengan preman atau polisi). Intinya, penggusuran itu sama sekali tidak enak! Dan lebih ngerinya, penggusuran mulai tidak pandang bulu. Sekarang, setiap orang terancam. Pemerintah telah membuat Undang-undang tentang pengadaan tanah untuk pembangunan yang intinya setiap tanah yang berpotensi untuk pembangunan harus segera dibebaskan.
Penggusuran juga terjadi di Buloa. Pesisir pantai yang disesaki oleh penduduk miskin Makassar.

Buloa? Makanan macam apa pula itu???

Yang jelas Buloa bukan jenis bahan makanan! Kata yang disusun oleh lima huruf ini merupakan tempat bermukim puluhan kepala keluarga yang kental akan dialek Makassar. Mungkin kalian lebih akrab dengan kecamatan Tallo. Nah, Buloa merupakan salah satu kelurahan dalam kecamatan Tallo. Letak tepatnya berada di Jalan Galangan Kapal Kelurahan Buloa Kecamatan Tallo RT 08/RW 02. letak Buloa tepat berada di pesisir laut Tallo. Bahkan 20 tahun yang lalu, Buloa masih digenangi air laut setinggi dada orang dewasa ketika terjadi pasang. Namun karena terjadi pengerukan di sekitar pelabuhan Paotere, membuat endapan terjadi di Buloa dan membentuk apa yang biasa disebut dengan tanah timbul. Penduduknya kebanyakan bekerja sebagai nelayan atau pekerja bangunan.

Penggusurnya siapa??

Namanya Rosmia. orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Aji Ros. Wanita paruh baya berkulit putih mulus yang senantiasa berkilau dipenuhi oleh perhiasan emasnya. Pada bulan Mei, dengan berbekal Akta Jual Beli (AJB), Aji Ros mencoba mengusir warga dari tanah yang telah mereka tinggali selama 20 Tahun. Banyak cara yang telah dilakukan oleh Aji Ros. Mulai dari memagari lahan dengan tembok beton, mencoba membayar warga, hingga mengerahkan preman untuk menekan warga.

Mungkin menurut kalian yang selalu berfikir administratif, wajar kalau Aji Ros ingin mengambil lahan warga Buloa dengan berbekal AJB. Tapi, apakah wajar ketika laut bisa disertifikatkan? Seperti yang tergambar sebelumnya kalau Buloa dulunya adalah laut dan tidak ada aturan yang membolehkan laut bisa di sertifikatkan.

Membayar warga? Bagus dong kalau begitu..

Tunggu dulu. menurut kalian, bisa hidup apa dengan uang 25 juta? Coba kalian pikir. Sekarang, kalian tidak akan pernah menemui pemukiman dengan uang 25 juta. Belum lagi warga Buloa harus kehilangan mata pencahariannya sebagai nelayan. Aji Ros memang menawarkan tempat tinggal di salah satu Gudang miliknya. Namun, dari informasi yang kami dapat kalau ternyata gudang tersebut juga dalam proses sengketa.

Bagaimana nasib warga Buloa sekarang??

Sebagaimana biasanya, warga Buloa telah mengadu ke hampir setiap lini institusi pemerintahan yang ada di Makassar. Mulai dari DPRD Kota Makassar, DPRD Provinsi SULSEL, Kantor Gubernur, Kepolisian  Daerah (POLDA) dan Badan Pertanahan Makassar. Namun, seperti biasa pula, yang kami temui hanya janji. Bahkan parahnya, kasus ini dimanfaatkan oleh beberapa politisi untuk berkampanye menjelang pilkada nanti.

Akhirnya warga harus bersusah payah sendiri untuk menghalau penggusuran dan mengusir preman. Bahkan warga masih harus dikagetkan dengan upaya penimbunan pesisir oleh salah satu pengusaha besar di Makassar. Penimbunan laut tersebut jelas mengganggu kegiatan sehari-hari nelayan yang bekerja sebagai nelayan.

Dengan tidak adanya perhatian dari beragam institusi di atas, warga hanya berharap pada persatuan warga dan solidaritas dari mahasiswa dan LSM untuk tetap bertahan.

Bagaimana caranya bersolidaritas?

Hal paling kecil yang bisa kalian lakukan adalah terus meng-update kabar dari Buloa.  Kalian bisa membuka blog kami, lawunhas.wordpress.com. Mudah-mudahan dengan itu kalian bisa sadar dan ikut merasakan getirnya ancaman penggusuran. Atau kalian dapat langsung berkunjung ke Buloa. Warga akan menyambut solidaritasmu dengan ramah khas suasana kampung yang belum teracuni oleh kepentingan untung rugi. Kalian bisa menyebarluaskan informasi tentang penggusuran Buloa untuk memperkuat solidaritas yang tanpa batas.

Selamat Bersolidaritas..
Tetap Waspada dengan Penggusuran!

(Pamflet ini disebar dalam acara Pekan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya Unhas, 30 okt-2 Nov 2012) untuk laporan yang lebih lengkap tentang kasus sengketa pesisir Buloa-Tallo ini dapat dibaca di laporan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: