LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Feature News » Berkelahi dengan Hujan dan Rayap

Berkelahi dengan Hujan dan Rayap

buku-buku berayap

Buku-Buku di Kedai Kopi Sipakainga milik pak Anwar Amin..Butuh relawan yang mau membantu merawat buku-bukunya. Ingin bergabung?

Oleh: Firdaus AR

Bangunan kedai baca itu berdiri di atas got, dari samping berdinding bambu dan tampak depan dilindungi tripleks. Atapnya dari seng bekas yang sewaktu-waktu kepayahan menahan derasnya guyuran hujan.

Suatu ketika, Dg. Anwar Amin seorang diri berkelahi dengan air yang turun dari langit itu. Kalah, dan merelakan empat karung koleksi bukunya tersentuh air.

“Sedih rasanya Nak!” Ia membatin.

Kisah lain, suatu malam ketika hendak menutup kedainya. Ia mendapati beberapa koleksi bukunya rusak dimakan rayap. Tak berpikir panjang, segera ia ke Apotek membeli obat serangga. Menurunkan buku dan menyemprot rak, menjelang subuh baru kelar.

Kini, di usianya yang tak lagi mudah, Dg. Anwar Amin jelas kepayahan mengurus ribuan koleksi bukunya. Ia tak acuh lagi manakala rayap berpesta, begitupun dengan tikus yang menjadikannya sebagai kakus.

Anak-anaknya sudah berkeluarga dan membangun rumah di rantau, yang tinggal bersamanya memiliki rutinitas kerja. Dan ia tak mau memaksa membersihkan koleksi bukunya.

Jadinya, buku-buku itu berdesakan di rak, dibiarkan diselimuti debu, dan menunggu rayap menggarayanginya. Pengunjung yang datang sama sekali tak mau melirik. Mereka hanya mengeja lima harian yang selalu tersedia di atas meja.

Boleh jadi, itu merupakan strategi Dg. Anwar Amin, berlangganan Koran agar yang datang tak sekadar memesan kopi sambil mengepulkan asap kretek. Ia pun memasang fasilitas Wifi, berharap anak muda mau singgah menenteng komputer jinjingnya dan melihat pajangan buku di empat sisi kedainya. Kali saja mereka mau menyentuhnya.

Tapi, sejak fasilitas internet itu terpasang. Dg. Anwar Amin hanya membuat kopi untuk pelanggan setianya. Pembecak dan pedagang kaki lima. Ia tak menemukan nama baru di buku tamu yang selalu tergeletak di meja.

Tapi sekali lagi, ia tak jerih. Rak bukunya yang sudah kelebihan muatan, tetap disesaki buku-buku baru yang ia beli. Baik itu dari sesorang yang datang menawarkan buku bekas, maupun yang ia beli sendiri di toko buku. Tak peduli pada siapa yang mau membaca, ia hanya menyediakan bacaan.

Malam itu, Dg. Anwar Amin berujar lirih.

“Saya berharap Nak! Kelak, rayap-rayap itu bersedia membaca dan tak hanya memakannya.”

Ia tertawa lepas. Saya tersenyum kikuk.

 

Pangkep, 16 Desember 2012

 

CAT: tulisan ini merupakan catatan singkat dari seorang relawan yang membantu bapak Anwar Amin merawat buku-bukunya. Kini beberapa orang yang bersedia menjadi relawan sedang memulai proses peremajaan kedai baca ini. Untuk lebih jelas, sila lihat galeri foto facebook disini.

Iklan

1 Komentar

  1. fera berkata:

    waaahhhh,,,pesan yg ada didalmya i2 kayaknya menyinggung sy juga dech….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: