LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » World (Without) Class University

World (Without) Class University

Oleh: Hasrul Eka Putra

 

Baso masuk Unhas dengan optimisme yang menyala-nyala. Bapaknya yang seorang petani berpesan agar Baso bisa kuliah dengan tekun. Agar tidak lagi menjadi petani seperti orang tuanya. Hidup jadi petani sangat sulit. Baso pun mengambil jurusan Sastra Inggris. Ia berharap dapat menjadi seorang diplomat yang jago berbahasa asing atau, minimal, seorang dosen yang pintar bercuap bahasa orang. “Aku harus fokus kuliah!” tekadnya saat kepalanya botak dan baju hitam-putih.

 

Tak terasa 3,5 tahun sudah Baso kuliah. Kuliah-kos-kampung. Ia memegang teguh prinsip itu. Walaupun teman-teman mengejeknya “bureng” dan senior-senior tak henti-henti mengajaknya gabung di organisasi. Ia kukuh bagai Phinisi. Baso lulus dengan predikat summa cum laude. Wisudawan terbaik fakultasnya. Ia hanya kalah 0,3 untuk menjadi wisudawan terbaik universitas. Ia bangga. Terbayang masa depan yang cerah. Jauh dari lumpur dan harga pupuk  yang makin mencekik.

 

Namun 3 bulan setelah lulus, Baso masih terkatung-katung menyandang dua title sekaligus: sarjana dan pengangguran. Tidak ada lagi uang dari kampung. Lamaran-lamaran sudah ia kirim kemana-mana. Banyak yang ditolak. Banyak juga yang menerima, hanya saja posisi yang ditawarkan sangat jauh dari yang Baso bayangkan. 6 bulan. 8 bulan. Setahun akhirnya berlalu. Baso hanya bisa jadi “salesmen” sebuah bank pemerintah. Gaji kecil. Kerja Rodi. Tak tahan, Baso resign dan pulang kampung: membantu ayahnya sebagai petani.

 

Mungkin tidak hanya satu atau dua orang yang merasa seperti Baso. Liputan khusus Identitas soal sarjana yang masih menganggur mencerminkan bahwa ada yang salah dalam pendidikan kita. Namun pertanyaannya tidak boleh hanya berhenti pada “mengapa mereka belum bisa mendapatkan kerja?” atau “apa yang dilakukan oleh UPT Job Placement Center untuk mencarikan mereka kerja?”. Pertanyaan-pertanyaan itu hanya mereduksi fungsi universitas menjadi sekedar “agen tenaga kerja”, “pabrik sarjana”, atau “kaki tangan kaum industrial-kapitalis”. Universitas menjadi kehilangan rohnya sebagai “agen emansipasi dan produksi realitas”.

 

Kampus menjadi persis seperti tesis Samuel Bowles dan Herbert Gintis (1976) yang mengatakan bahwa nilai-nilai dan praktek sekolah hanya cerminan  dari organisasi ekonomi. Kampus hanya mencerminkan otoritas yang tidak demokratis dalam relasi antara guru/dosen dan mahasiswa; mahasiswa hanya termotivasi oleh motivasi eksternal seperti Indeks Prestasi (sebagaimana buruh yang termotifasi oleh upah); hingga bagaimana kampus hanya mereproduksi ketidakadilan sosial (semakin sulit bagi orang miskin masuk ke kampus-kampus ternama dan berkualitas).

 

Demokrasi dalam Kelas

Adakah demokrasi dalam kelas? Sulit mengatakan “ya”. Faktanya paradigma student-center learning yang selalu didengung-dengungkan di Unhas tak lebih dari sebuah proyek pengadaan LCD, pemasangan jaringan nir-kabel, dan digitalisasi pembelajaran. Pada prakteknya, relasi dosen dan mahasiswa masih seperti relasi antara manager dan buruh dalam kultur feodal-industrial. Partisipasi hanya mewujud dalam bentuk diskusi yang kaku atau presentasi kelompok yang “tidak berjiwa”. Mahasiswa jarang sekali diberi pilihan-pilihan untuk bersama melihat realitas, mengkritisi realitas, dan mengubah realitas. Mahasiswa jarang sekali diajarkan tentang “what should” dan “can be”. Seolah-olah, tatanan kehidupan hari ini sudah “baik” dan “adil”.

 

Kritisme dilihat sebagai ancaman bagi eksistensi pengetahuan dosen dan kuasa birokrasi. Kritisme dipandang sebagai bahaya yang mengancam stabilitas kampus dan citra universitas. Banyak yang mengatakan bahwa kelas hanya menjadi transfer pengetahuan dari subjek pemilik pengetahuan dan objek pembelajaran yang dianggap sebagai botol tak berisi. Padahal, jika Unhas ingin menjadi sebuah kampus yang berkarakter dan berbudaya, proses demokratisasi kelas adalah hal pokok yang harus diciptakan. Mahasiswa harus diajak untuk sama-sama menciptakan pilihan-pilihan pembelajaran, partisipatif, dan pedagogis. Proses ini dapat menciptakan luaran yang belajar menciptakan pilihan-pilihan hidupnya, bermental pemimpin, dam bertanggungjawab atas pilihan-pilihan yang ia buat.

 

Indeks Palsu Kumulatif

Untuk apa seseorang belajar? Untuk apa seseorang membaca buku? Untuk apa seseorang harus kuliah? Sangat naïf ketika jawabannya adalah hanya untuk punya nilai dan IPK yang bagus.

 

Program peningkatan nilai rata-rata IPK dan memperpendek masa studi mahasiswa sebenarnya adalah akibat dari pinjaman pembiayaan pendidikan oleh Pemerintah Indonesia kepada Bank Dunia, salah satunya melalui program Improvement of Management and Higher Education Relevance (IMHERE). Target ini adalah konsekuensi  dari dikuranginya subsidi untuk pendidikan tinggi. Sehingga beban operasional universitas harus dikurangi. Oleh karenannya, mahasiswa dituntut untuk cepat selesai. Sementara nilai IPK menjadi parameter semu akan kecerdasan dan kemampuan seseorang. Padahal, IPK ini dapat mereduksi kecerdasan dan kemampuan seseorang kedalam angka-angka dan konversi huruf-huruf. Nilai IP menjadi motivasi eksternal bagi mahasiswa penurut dan menjadi “teror akademik” bagi mahasiswa kritis. IPK menjadi persis seperti upah yang diberikan oleh pemilik pabrik kepada buruhnya. Ia adalah “penghargaan” sekaligus ancaman bagi si buruh dalam mengolah keringat dan pikirannya.

 

Padahal, faktanya, IPK sama sekali bukan jaminan untuk mendapatkan hidup yang bahagia. Bahkan dalam dunia kerja pun, IPK hanyalah persyaratan administratif. Yang menjadi pertimbangan tetaplah: kualitas individu, karakter, dan integritas. Jadi jangan sampai Unhas terus terjebak pada jurang logika teknokratik yang hanya terus memproduksi luaran ber-IPK tinggi dan ber-lama studi pendek tanpa kualitas mental, skill, dan karakter yang diperlukan bukan saja untuk bekerja—tapi untuk menjalani kehidupan.

 

Reproduksi Kesenjangan

Kelas yang tidak demokratis, penghambaan pada nilai-nilai semua, akhirnya diperparah dengan pengejaran embel-embel world class university. Parahnya, world class university ini ditafsirkan sebagai perlombaan proyek-proyek prestisius semata. Kampus berlomba-lomba membangun proyek-proyek yang bagi sebagian besar mahasiswa dan civitas akademika tidak tahu untuk apa semua itu dibangun. Misalnya, di Unhas dalam waktu kurang dari 4 tahun, sudah berdiri beberapa bangunan rumah sakit baru. Sementara, untuk kebutuhan-kebutuhan dasar seperti WC, ruang kelas, ruang dosen, alat-alat praktek pembelajaran butuh bertahun-tahun untuk direalisasikan.

 

Hasilnya, ongkos operasional kampus semakin mahal. Subsidi berkurang. Untuk menutupi itu, maka beban biaya bagi mahasiswa bertambah. Mau urus apa-apa harus di kampus harus pakai uang. Kuota jalur-jalur mandiri (non-subsidi) dinaikkan. Hal ini terjadi di Unhas. Jika masih kurang, maka masuklah industri dan label-label  koorporasi dalam kampus. Dari pintu 1 sampai pintu 2, Unhas tak ubahnya etalase produk perbankan.

 

Universitas benar-benar hanya mereproduksi kesenjangan yang terjadi di luar kampus. Padahal kita butuh universitas yang menciptakan relasi sosial yang setara. Without class. Equal. Dimana setiap mahasiswa yang miskin dan kaya tidak merasa berbeda dan dibedakan.  Mungkin ini terdengar terlalu “ideal” tapi itulah sejatinya fungsi universitas. Menjadi sebuah “productive force” dalam rangka proyek emansipasi kehidupan. Jika tidak, maka universitas hanya akan terus memproduksi Baso-Baso yang lain, yang putus asa, merasa hanya menyia-nyiakan waktu, tenaga, dan materinya untuk sebuah title tanpa arti.[]

 

**tulisan ini telah dimuat sebelumnya di Koran Kampus Identitas edisi akhir Desember 2012. Dimuat kembali untuk diskusi lebih lanjut.

Iklan

2 Komentar

  1. Baso berkata:

    Coy, petani dan sastra inggris itu ke’ relevan skali sm nasib kawanmu ini…

    Knapa bukan jurusan HI saja coy,, hahahhahaha

    Suka

  2. mekaylunikabezz berkata:

    Saya rasa, di sini kita kurang melihat seperti apa mental dan keaktifan mahasiswa di kelas. Kita juga butuh membangun kesadaran mahasiswa. Untuk apa sebenarnya mereka harus kuliah. Apakah hanya untuk datang, duduk dan diam sehingga pembelajaran menjadi kurang efektif?. Saya pikir, itu semua menjadi tanggungjawab kita bersama, bukan hanya universitas dan atau dosen. -_-

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: