LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » PRESS RELEASE AMUK (ALIANSI MAHASISWA UNTUK KEADILAN)

PRESS RELEASE AMUK (ALIANSI MAHASISWA UNTUK KEADILAN)

Pasca pemutusan sanksi terhadap lima orang warga KMFS, dimana dua diantaranya masih dalam proses persidangan, kami organ dan person bersolidaritas dalam Aliansi Mahasiswa Untuk Keadilan (AMUK) akan menggambarkan kronologis kejadian setiap person yang bersangkutan dengan tuntutan “CABUT SEGALA BENTUK PUTUSAN DAN KEPUTUSAN SANKSI TERHADAP KELIMA KAWAN KAMI”.

 

KRONOLOGIS KEJADIAN

Andre Pranata Duraw

Selasa, 26 Februari 2013, Pukul 10:00, Andre tiba di Fakultas Sastra untuk mengikuti kuliah yang bertempat di FIB lt 3.

Sekitar 10.30, Andre meninggalkan kelas lebih awal karena dosen tidak masuk

Pukul 10.30 – 12.10, Andre berada di kantin kolong sastra

12:10, Andre menuju ke Sekretariat kepanitiaan mahasiswa baru yang bertempat di Ex-Foresight untuk melihat situasi dan kondisi panitia mahasiswa baru terkait isu yang beredar mengenai isu tawuran. Lalu untuk berjaga-jaga panitia kegiatan maba bermaksud mengamankan inventaris-inventaris berharga. Saudara Andre mendapat bagian mengantarkan printer ke Ramsis.

12:40, Andre kembali sedari membawa printer. Andre bermaksud kembali ke Fakultas Sastra untuk memasuki kuliah pukul 12:50 di FIB lt 3, melewati Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) karena dirasa lebih dekat. Pada saat inilah Andre melintas di tengah kerumunan tawuran dan masuk di dalam rekaman video.

Muhammad Arsyad Irawan dan Muhammad Juzmail

Malam terakhir kegiatan pengkaderan Mahasiswa Baru. Agenda saat itu tudang sipulung dihadiri oleh ketua – ketua lembaga, mahasiswa baru, mahasiswa lama dan pejabat birokras di Benteng Somba Opu 01 Desember 2012. Sebelum agenda tudang sipulung berlangsung, suasana memang sudah memanas dikarenakan WDIII yang kami anggap berlebihan dalam mengambil gambar kegiatan.

Pukul 22.30, saat forum tudang sipulung berlangsung, salah seorang senior berbicara tentang hubungan lembaga mahasiswa dengan birokrasi fakultas khususnya WD III beberapa tahun terakhir, dimana lembaga mahasiswa menjalin keharmonisan dengan birokrasi fakutas karena kinerjanya yang sesuai dengan kebutuhan lembaga mahasiswa pada saat itu tetapi keharmonisan itu pun mulai pudar seiring berjalannya waktu dan sampai saat ini tidak dirasakan lagi oleh lembaga mahasiswa di fakultas Sastra. Pernyataan tersebut mendapat tanggapan berupa pertanyaan dari seorang Mahasiswa Baru, “apa yang menyebabkan keharmonisan itu tidak lagi dirasakan saat ini?”. Pertanyaan tersebut dijawab oleh narasumber yang mengatakan bahwa penyebab semua itu adalah tidak lagi terdapat transparansi oleh Birokrasi Fakultas dan kebijakan yang dikeluarkan selalu mempersulit kerja-kerja lembaga Mahasiswa. Iya mengatakan, salah satunya adalah tidak adanya transparansi dana kemahasiswaan dan sulitnya mengurus rekomendasi kegiatan kemahasiswaan. Secara refleks Muhammad Juzmail yang saat itu bertindak sebagai koordianator lapangan meneriakkan kata “anjing” diikuti terikan-teriakan dari banyak warga KMFS yang lain. Kejadian tersebut direspon WD III dengan berkali-kali mengambil gambar Muhammad Juzmail dari belakang.

Sekitar pukul 23.20 malam saudara Muhammad Arsyad Irawan sebagai ketua Maperwa diberikan kesempatan memberikan pendapat dan arahan serta berbagi pengalaman kepada Calon Warga Baru Keluarga Mahasiswa Fakultas Sastra, yang juga sekaligus menjadi penutup agenda tersebut.

Saudara Arsyad  menyampaikan “Saya tidak sepakat disebut sebagai pejabat lembaga, saya lebih sepakat disebut sebagai fungsionaris lembaga atau pengurus lembaga daripada pejabat lembaga karena saya ke sini dengan modal sendiri. Beda dengan yang di belakang sana, yang datang mendampingi kita. Mereka adalah pejabat Negara, karena dalam menghadiri undangan acara seperti ini mereka ada SPPD-nya atau Surat Perintah Perjalanan Dinas, jadi kalau panitia kekurangan dana bisa meminta sedikit lacci-laccinya untuk menutupi kekurangan dana kegiatan”.

Dr. Ambo Takko dalam hal ini sebagai salah satu dosen pendamping yang ada pada saat kejadian menyampaikan kepada Arsyad nota protes dengan meberitahukan “kalau mau mengkritikik, sedikit perbaikilah caranya, jangan sampai kami dianggap kesini karena persoalan uang, kami kesini karena tugas Negara, juga kami tidak pernah berharap dari hal tersebut, kami diperintahkan oleh Dekan untuk menjadi tim pemantau kegiatan, jadi kami disini merasa bagian dari kalian, karena saya juga mantan mahasiswa, mantan aktivis, jadi saya harap Adinda jangan sembarang menuduh.”

Saudara Arsyad mengatakan kepada Dr. Ambo Takko “saya tidak bermaksud menyudutkan Bapak dan lainnya, tapi saya hanya menyampaiakan kepada adik-adik mahasiswa baru bahwa ada sistem seperti itu di kampus dan Negara kita, supaya mereka sedikit mengerti tentang masalah tersebut”, saudara Arsyad menyampaikan hal tersebut berulangkali, bahwa ia hanya menyampaikan apa yang ia ketahui tentang masalah tersebut dan menyampaikan kepada Dr. Ambo Takko bahwa ia tidak  bermaksud menyinggung. Saudara Arsyad menyampaikan permohonan maaf kepada Dr. Ambo Takko pada saat itu juga. Setelah itu mereka mengakhiri pembicaraan tersebut dan kembali ke posisi masing – masing.

Apa yang menjadi tuduhan (tertera di Surat Panggilan Komdis) antara lain:

  1. Andre Pranata Duraw

–          Dituduh sebagai provokator tawuran yang terjadi pada tanggal 26 Februari 2013.

  1. Muhammad Juzmail

–          Dituduh melakukan tindakan penghinaan terhadap Wakil Dekan III Fakultas Sastra (Prof. Dr. Noer Jihad Saleh, MA) dalam melaksanakan tugas memantau kegiatan mahasiswa di Benteng Somba Opu, pada tanggal 30 November sampai 01 Desember 2012.

  1. Muhammad Arsyad Irawan

–          Dituduh melakukan tindakan penghinaan terhadap pimpinan Fakultas dan dosen pembimbing yang sedang melaksanakan tugas memantau kegiatan mahasiswa di Benteng Somba Opu, pada tanggal 30 November sampai 01 Desember 2012.

Sanggahan atas tuduhan dan point-point yang dianggap penting untuk diperhatikan

  1. Andre Pranata Duraw

–          Surat panggilan KOMDIS pertama cacat secara administratif karena di dalamnya tidak dicantumkan poin-poin pelanggaran yang dilakukan

–          Tim KOMDIS Universitas tidak memperlihatkan Berita Acara Persidangan (BAP) kepada saudara Andre

–          Tidak ada bukti yang cukup kuat diberatkannya Andre sebagai provokator, walaupun kawan kami mungkin terlibat dalam bentrokan tersebut, namun dalam pernyataannya dalam sidang KOMDIS, kawan kami terlibat dalam pandangan yang positif, dengan meneriakkan kata “mundur”, dimana kami tidak melihat adanya unsur provokasi apapun dalam lontaran kata yang diakui kawan kami dalam rekaman yang menjadi bahan bukti KOMDIS Universitas

–          Asumsi tuduhan dengan berdasar kepada gerak bibir dan gestur tidak diperkuat oleh pakar yang ahli dalam kedua hal tersebut

  1. Muhammad Juzmail

–          Tindakan tersebut memang diakui oleh kawan kami (Muhammad Juzmail). Namun, tindakan yang dilakukan oleh kawan kami yang saat itu bertindak sebagai korlap bukan tidak berdasar. Lontaran tersebut dikeluarkan lantaran kinerja Birokrasi yang kami anggap memang tidak maksimal, mempersulit ruang kerja organisasi dan sering melakukan tindakan – tindakan yang tidak perlu dalam menjalankan fungsinya sebagai Wakil Dekan dibidang kemahasiswaan. Lontaran tersebut adalah akumulasi dari banyak kekecewaan yang dialami oleh kawan – kawan kami sebagai pengurus lembaga kemahasiswaan dan juga tidak adanya ruang dialog yang dibuka antara birokrasi kampus dan lembaga mahasiswa.

–          Persoalan ini kami anggap sangat personal dan peristiwa tersebut terjadi saat berlangsungnya agenda organisasi sehingga tidak perlu melibatkan pihak KOMDIS dan dapat diselesaikan melalui mekanisme lembaga seperti yang seharusnya dapat ditempuh.

–          Seperti halnya Andre, Juzmail juga tidak diperlihatkan Berita Acara Persidangan (BAP)

–          Dalam proses persidangan, yang sempat direkam kawan Juzmail. Kami tidak melihat prosedural yang wajar terjadi, kami menilai kawan kami di intimidasi personal oleh pihak KOMDIS dan dosen yang terlibat dan hadir dalam sidang tersebut.

–          Aturan Universitas yang menjadi landasan dijatuhkannya sanksi skorsing dua semester terhadap kawan kami tidak memiliki dasar hukum yang kuat dalam kacamata aturan Universitas. Aturan yang diperlihatkan oleh Ketua KOMDIS saat aksi perdana kami merupakan aturan tahun 2013, sedangkan peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2012.

–          Tidak ada Konsistensi dari peserta sidang yang hadir

  1. Muhammad Arsyad Irawan

–          Dalam kasus Muhammad Arsyad Irawan, kawan kami hanya melontarkan fakta – fakta bukan kebohongan.

–          Kami tidak melihat adanya unsur – unsur menghina sebagaimana dituduhkan dalam SK sanksi skorsing selama satu semester yang ditujukan kepadanya.

–          Dari awal diundangnya Arsyad oleh pihak komdis, hingga dijatuhkannya keputusan skorsing terjadi banyak kecacatan prosedural seperti yang dialami oleh kedua kawan kami sebelumnya, juga ketidakjelasan penjatuhan sanksi serta tuduhan yang sangat tidak berdasar.

–          Tidak ada konsistensi dari peserta sidang yang hadir

–          Syarat utama dari elemen-elemen KOMDIS yang seharusnya hadir dalam sidang tidak terpenuhi

Melihat begitu mudahnya pihak Universitas maupun Fakultas menjatuhkan sanksi kepada kawan kami dimana proses penjatuhan sanksi tersebut melalui proses prosedural dan administrasi (pemanggilan, persidangan, penjatuhan sanksi dan keputusan) yang cacat, juga agar menjadi bahan pembelajaran dan pertimbangan dalam penjatuhan sanksi kepada setiap insan akademisi kedepannya maka kami dari AMUK (Aliansi Mahasiswa Untuk Keadilan), setelah mempelajari dan memahami posisi – posisi kasus yang disebutkan diatas, kami menuntut :

  1. Dicabutnya putusan ataupun keputusan sanksi skorsing yang sama sekali tidak berdasar kuat yang telah dijatuhkan kepada kawan kami.
  2. Mengeluarkan surat pembatalan penjatuhan sanksi,  baik dalam bentuk Surat Keputusan ataupun Rekomendasi,
  3. Memberikan jaminan terhadap mahasiswa yang bersangkutan agar tidak mendapatkan ancaman dari pihak Jurusan maupun Fakultas berupa intimidasi atau ancaman akademik pasca pemutusan pembatalan sanksi tersebut.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: