LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » Pidato dan de Facto

Pidato dan de Facto

Assalamualaikum

Salam Sehat !

Unhas atau Universitas Hasanuddin merupakan sebuah perguruan tinggi negeri yang bertugas untuk menyediakan pendidikan yang berkarakter dan berkualitas ‘tinggi’. Unhas terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di kotamadya Makassar, lebih tepatnya lagi di Jalan Perintis Kemerdekaan km.10.

Hari ini (26 April 2013) beberapa hari setelah peringatan AMARAH di kampus hijau UMI Makassar, ada sebuah kejadian yang sedikit memilukan di kampus merah Unhas. Ditinjau dari segi substansi kejadian AMARAH beberapa tahun silam, seperti terjadi lagi di kampus merah, namun tentu saja dengan level dan skala yang jauh lebih rendah. Namun substansi masalah-lah yang menjadi benang merah dua kejadian ini. Substansinya adalah reprisifitas aparat keamanan dalam menanggulangi aksi mahasiswa. Sedangkan levelnya sangat jauh berbeda, jika pada AMARAH yang merepresi mahasiswa adalah polisi, maka kali ini yang merepresi mahasiswa adalah satpam kampus sendiri. Untuk skalanya sendiri tentu saja sudah dapat diprediksi, bagaimana jika mahasiswa melawan satpam kampus sendiri, yaa 1 mahasiswa : 3 satpam.

Agak ngeri juga dengan kejadian di kampus merah hari ini, tetapi kemudian yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa bisa Satuan Pengamanan Kampus Unhas dibantu dengan Staf Rektorat melakukan pemukulan terhadap mahasiswa., apakah mereka ini bergerak berdasarkan naluri ataukah perintah, bagaimana bisa mereka ini memukul mahasiswa yang dalam istilah hukumnya baru “diduga” akan memasuki rektorat.

Ketiga poin pertanyaan di atas sangat membingungkan bukan. Tapi bagi teman-teman yang sudah bisa ‘membaca’ Unhas pasti tidak bingung lagi, karena ini bukan pertama kalinya Satpam Kampus melakukan tindakan represif. Tetapi ini baru pertama kali –selama pengamatan saya di kampus- Satpam dibantu Staf Rektorat melakukan pemukulan dan memprovokasi massa aksi agar saling serang.

Entahlah, sebenarnya keberadaan para Satpam dan Staf Rektorat tersebut di kampus untuk apa. Apakah memang Staf Rektorat dalam beberapa kondisi bisa menjelma menjadi ‘Satpam’ yang secara tidak langsung dia menjadi seorang freemen yang dalam diindonesiakan menjadi Preman  atau bagaimana. Apakah Satpam memang dalam menjalankan tugasnya menghalau massa aksi harus melakukan dorongan dan pemukulan. Tapi jauh daripada itu, saya yakin mereka juga hanyalah ‘bawahan’ yang entah dengan doktrin apa mereka selalu menganggap diri mereka adalah penjaga para ‘atasan’. Lihat saja dalam beberapa kasus, ketika ‘atasan’ tidak sempat/mau menemui massa aksi yang melakukan kritik, maka tunggu saja aksi yang seharusnya damaipun akan berujung ricuh.

Yah kritik, berbagai kritik yang berkali-kali diaspirasikan ke birokrasi kampus selalu ditanggapi dingin, mereka sepertinya melihat mahasiswa hari ini hanyalah sekelompok orang yang belajar, kemudian diolah dengan beberapa skil yang dibutuhkan di dunia kerja, dan menunggu waktu untuk diwisuda. Sehingga apapun kritikan mereka selalu dianggap angin lalu, meskipun sudah berdasarkan riset dan beberapa kali kajian serta pendalaman. Atau dalam bahasa jalanannya, dianggap remeh.

Saya teringat akan pidato Rektor Universitas Hasanuddin, Bapak Prof. Idrus Patturusi dalam sebuah acara wisuda beliau berkata yang kurang lebih sebagai berikut,”Para lulusan Unhas diharapkan menjadi orang-orang yang skeptic scientific, yaitu tidak mudah menerima segala sesuatunya, harus selalu skeptis namun harus tetap ilmiah…”. Luar biasa sekali saya mendengar pidato tersebut, baru kali ini saya mendengar istilah Skeptic Scientific , yang dari pemaparan Bapak Rektor adalah skeptis namun tetap ilmiah, yang juga berarti para lulusan Unhas nantinya tidak langsung menerima saja segala sesuatunya contohnya kebijakan dari pemerintah, para lulusan Unhas tetap harus mencurigai kemudian mengkaji lalu mengkritik kebijakan tersebut  agar ke depan pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih bermanfaat.

Untungnya saya cepat tersadar dari pidato tersebut, dan hari ini saya diperlihatkan faktanya. Bahwa apa yang diucapkan oleh Bapak Rektor ternyata hanyalah pidato. Bagaimana mungkin menciptakan lulusan yang Skeptic Scientific , tetapi selama proses belajarnya di kampus –belajar di dalam dan di luar kelas- setiap kritikan yang dilayangkan selalu diremehkan meskipun telah melalui proses ilmiah. Contohnya saja peraturan yang ada di kampus ini, tahukah teman-teman bahwa hari ini ada yang dibilang Kode Etik Mahasiswa? Ada juga Kode Etik Dosen? Lalu Uang Kuliah Tunggal Unhas? Kemudian tahukah teman-teman bahwa jika teman-teman mencabut tanaman di sekitar Unhas atau parkir sembarangan maka bisa dijatuhi Sanksi Teguran maupun Skorsing? Untuk pertanyaan terakhir silahkan teman-teman buka Buku Pedoman Universitas Hasanuddin mengenai Ketentuan Ketertiban Dalam Kampus Universitas Hasanuddin. Bahkan menurut beberapa informasi, pembuatan peraturan di Unhas sangat minim melibatkan para ahli dari Hukum, sehingga wajar saja ketika ada mahasiswa yang disanksi karena dianggap menghina Atribut Kampus, padahal yang merasa dihina tersebut adalah Makhluk Hidup.

Alhasil jika kemudian banyak suara-suara sumbang dari mahasiswa mengenai peraturan internal kampus sangatlah wajar, karena pembuatan peraturannya selalu tertutup, hanya ‘mereka-mereka’ saja yang tahu tanpa melibatkan mahasiswa. Peraturan-peraturan yang dibuat selalu berat sebelah dan senantiasa menargetkan mahasiswa-mahasiswa yang kritis agar kekritisannya tumbang oleh ancaman-ancaman D.O dan Skorsing. Padahal dalam setiap kelas mata kuliah, mahasiswa selalu disuruh bertanya atau mengkritisi mengenai teori-teori yang dikemukakan oleh si ahli A atau si ahli B, tetapi anehnya ketika mahasiswa mempertanyakan mengenai peraturan yang dibuat oleh birokrasi maka jawabannya adalah D.O dan Skorsing.

Yah, Skeptic Scientific hanyalah retorika indah yang diselingi dengan beberapa kisah tragis orang-orang yang berusaha mewujudkannya. Katanya The Panas Dalam, di atas tanah ada beda di atas langit sama saja…

-Al.Fayet-

Iklan

1 Komentar

  1. -_-' berkata:

    namnya juga pendidikan berkarakter (berkarakter pragmatis). hahaha

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: