LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » 2013 » Mei

Monthly Archives: Mei 2013

Bersolidaritas dalam Aksi MARAK Cabut UU PT!

Marak

Sidang lanjutan Judicial Review akan dilanjutkan tanggal 30 mei 2013.
Aliansi Makassar Bergerak Cabut UU PT (MARAK Cabut UU PT) akan mengadakan aksi digedung DPRD SULSEL, pada hari tersebut, pukul 10.00..

Mari bergabung!

Sebab pendidikan berkualitas dan terjangkau harus kita perjuangkan! Stop industrialisasi dan komersialisasi pendidikan!

(BEM MIPA Unhas, BEM Sastra Unhas, LAW Unhas, FMN, Aliansi UNM, MAPAN STMIK, HIMAHI, BEM STIKES Mega Rezky, AMPERA, BEM FKIP UVRI, HIMASIPOL AKBA, BEM FE UVRI, BEM FSH UIN, KPMKT cabang Makassar, HMJ kebidanan Mega Rezky, GP)

Iklan

Petisi untuk Pak Rektor

Sumber: unhas.ac.id

Sumber: unhas.ac.id

Oleh: Rahmad M. Arsyad

Senang sekali mendengar banyak kabar gembira tentang Pak Rektor Universitas Hasanuddin. Kiprahnya seperti lagu bengawan solo,  mengalir sampai jauh. Terpilih menjadi Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTN), Prof.Dr.dr.Idrus A.Paturusi pada tahun ini juga di daulat menjadi President Association of Southeast Asia and Pasific of Higher Learning (ASAIHL) dengan masa tugas  2013-2016.
Pencapaian yang  luar biasa, karena setahu saya ASAIHL merupakan sebuah organisasi bertaraf internasional yang menghimpun perguruan tinggi ternama se-Asia Tenggara dan Pasific. Dalam hati saya berbisik, bangga menjadi seorang alumni universitas Hasanuddin dan menyaksikan pencapaian Rektor kami.
Bukan itu saja, ketika  kembali ke Makassar dan berjalan-jalan ke kampus unhas sungguh saya semakin tercengang. Tepat di pintu masuk unhas saya melihat baligho yang bertuliskan ‘selamat atas pencapaian akerditasi A universitas Hasanuddin’. Batin saya berkata, Unhas mungkin sedang berada di era Golden Age seperti tema dies natalis beberapa tahun lalu.
 Ternyata masih seperti yang dulu
Namun kebanggaan tersebut tak bertahan lama.  Ketika berada di dalam kampus, saya menemukan fakta berbeda tentang Unhas. Tak se hebat tampilan dan berita yang saya baca di berbagai media massa ataupun rasa optimisme tentang akreditasi A. Apalagi ketika memasuki sebuah fakultas dimana saya bisa berjumpa dengan beberapa adik yang masih kuliah.  Betapa terkejutnya saya, membaca spanduk hitam  besar yang bertuliskan , ‘Cabut Putusan Sanksi Akademik Kawan Kami’!
Karena penasaran, saya bertanya kepada beberapa orang yang masih saya kenali untuk mencari tahu ada apa di fakultas tersebut ? Sejumlah cerita kemudian mengalir dari bibir mereka. Ternyata  lebih dari 41 hari sudah sejumlah mahasiswa menggelar aksi protes atas keputusan kontroversial pejabat akademik sebuah fakultas.
IMG00123-20130325-1454
Persoalan mereka sederhana, menolak sangsi skorsing yang diberikan pihak Fakultas. .Karena itulah mereka bersatu membentuk Aliansi Mahasiswa Untuk Keadilan (AMUK) sebagai wadah berhimpun dan menyatukan kekuatan atas tindakan birokrasi yang mereka pandang telah merugikan para mahasiswa.
Targisnya, masih dari cerita para mahasiswa ini bahkan aksi protes mereka disinyalir berujung penikaman atas seorang mahasiswa oleh sosok bertopeng. Aksi demonstrasi mereka dalam menolak tindakan tersebut juga berujung bentrok dengan para satpam. Saya terpekur, mendengar kisah para mahasiswa-mahasiswa di hadapan saya, ternyata kekerasan masih lestari di kampus unhas.
Petisi untuk Pak Rektor
 
Memang menjadi pendidik tidaklah mudah. Menghadapi sejumlah mahasiswa dengan berbagai latar belakang sosial, ekonomi dan mungkin saja ‘keganjenan ideology’adalah persoalan yang butuh kesabaran.  Tapi apakah jalan kekerasan seperti membubarkan aksi mahasiswa dengan satpam, memberikan skorsing akademik, sampai kemunculan sosok bertopeng dengan badik bukanlah hal yang  bisa diterima sebagai tradisi akademik?
Mahasiswa-mahasiswa itu, seperti juga kami dahulu sedang berada dalam euforia gagasan. Mereka sedang berada dalam gairah pencarian, dan sudah menjadi kewajiban universitas termasuk juga bapak rektor dan para dosen menjadi kompas, menuntun cara berpikir mereka.  Kekerasan langsung maupun kekerasan simbolik seperti sangsi skorsing bukanlah jalan terbaik.
Tentu saja bapak Rektor yang juga Presiden Rektor Asia Tenggara mahfum hal ini. Coba bapak rektor bayangkan betapa sedihnya orang tua mereka di kampung atas apa yang menimpa anak mereka. Kekecewaan dan sudah pasti kemarahan dari keluarga, cap sebagai mahasiswa gagal, akan melekat dalam diri mereka yang terkena skorsing, ujung-ujungnya rasa frustasi akan semakin membesar.
Jika sudah seperti ini, apa yang akan terjadi ? Dendam atas kampus akan semakin tebal, Universitas tak lagi menjadi ibu yang baik tapi menjadi sosok ibu yang jahat. Saya masih ingat betul ketika berada di akhir semester dan dipercaya menjadi ketua salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa, ketika itu seorang anggota kami terkena skorsing hanya karena persoalan melakukan demonstrasi melawan pihak jurusan yang dianggap mempolitisasi kuliah praktek mahasiswa dengan menghadirkan seorang Gubernur yang akan maju lagi. Beberapa mahasiswa tersebut kemudian juga dijatuhkan sangsi skorsing. Tapi dari aksi dan diaolog yang dilakukan akhirnya skorsing dibatalkan. Pada saat itu, saya melihat kebijksanaan bapak rektor bersama pembantu rektor dalam menyikapi persoalan tersebut.
Masihkah kebijaksanaan itu ada dalam diri para pimpinan universitas dan pak rektor yang kini sudah menjadi presiden rektor yang bukan hanya se-Indonesia namun asia tenggara?  Kalau masih ada, sebagai alumni saya hanya bisa menyarankan alangkah baiknya bukan skorsing yang dijadikan senjata untuk menata unhas menuju ‘world class university’ tapi cinta kasih dan  semangat tut wuri handayani.
Pandanglah para mahasiswa tersebut sebagai anak-anak zaman. Anak kandung Universitas dimana bapak dan ibulah yang menjadi orang tua mereka. Karena saya yakin, untuk mewujudkan Universitas Dunia hanya bisa dibangun dengan dealektika gagasan, termasuk membangun jiwa kritis di tengah mahasiswa.
Walaupun saya juga sepakat mahasiswa juga pada satu sisi juga mesti mulai belajar untuk lebih mengedepankan pertimbangan rasio ketimbang amuk. Untuk itulah di butuhkan kesepahaman bersama. Tanpa kesepahaman bersama ini, sangat sulit rasanya unhas bisa menjadi sebuah universitas bertaraf internasional.
Dimana ciri menjadi bagian dari masyarakat dunia adalah keterbukaan, toleransi dan semangat kolektivitas. Jika itu belum dapat diwujudkan, bagaimana mungkin bapak Rektor bisa sukses menjadi Presiden Rektor Asia Pasific sementara wajah buruk pendidikan didalam diri unhas saja belum dapat diwujudkan dengan baik, mungkin dibutuhkan toleransi lebih untuk pendidikan kita. Pendidikan yang memanusiakan manusia dan membuat kita semakin tahu diri!**
Tulisan ini dikutip sepenuhnya dari sini dengan persetujuan penulis.

Catatan sederhana: Kehangatan es buah bersama Cleaning Service UNHAS

 

IMG_3257Selasa 14 Mei 2013, mungkin merupakan hari yang berkesan untuk sebagian orang terkhusus untuk kami dan para pekerja cleaning service kampus. Sebenarnya saya tidak tahu persisnya kegiatan ini namanya apa, namun intinya kami ingin membagi sedikit keceriaan dan membangun semangat para pekerja cleaning service. Saya masih ingat, sore itu sehabis wawancara untuk pengambilan data pekerja dengan salah seorang teman yang memiliki jiwa motivator  tinggi berinisiatif untuk mengadakan kegiatan dimana kegiatan tersebut membawa keceriaan dan kebersamaan untuk pekerja karena setelah mendengar beberapa cerita dari mereka yang sangat miris dan penuh haru sehingga kami berinisiatif untuk mengadakan kegiatan ini.

Persoalan berbagi adalah persoalan sehari-hari yang sudah merupakan keharusan. Frase sederhana “bayangkan dan lakukan” telah menjadi narasi di benak kami, dan kini coba kami wujudkan. Menu sederhana yang kami rencanakanpun terlaksana. Sederhana memang, namun penuh kehangatan. Es buah dan kue kecil yang merupakan pilihan, awalnya memunculkan banyak kekhawatiran. Bagaimana  tidak, Makassar yang sudah tiga hari diguyur hujan sangat tidak cocok untuk menu ini, es buah yang identik dengan manis dan dingin kemudian disajikan pada saat hujan, ibarat kita menyalakan lampu ditengah teriknya matahari, sangat tidak pas. Namun, seperti yang orang bijak katakan, dimana ada niat yang tulus disitu ada jalan, dan pada hari itu cuacapun ikut tersenyum cerah.

(lebih…)

Mahasiswa Sastra Unhas Laporkan Rektor ke LBH

Sejumlah mahasiswa Fakultas Sastra Unhas melaporkan pimpinan universitas kampus tersebut ke lembaga bantuan hukum (LBH) Makassar, Selasa (30/4/2013).

Laporan ini terkait dugaan penganiyaan yang dilakukan oknum satuan pengamanan (Satpam) kampus saat sejumlah mahasiswa fakultas sastra ini melakukan unjuk rasa di gedung rektorat Unhas, (26/4) lalu.

Ada empat mahasiswa yang mengaku mendapatkan kekerasan yakni Imran Jafar, Muhammad Taufik, Rijal Muammar, dan Aman Wijaya. Keempatnya mengaku mendapatkan tindakan represif saat berunjuk rasa mengeritik kebijakan kampus yang melakukan hukuman skorsing terhadap perungurus lembaga di fakultas sastra.

Direktur LBH Makassar, Abdul Aziz mengatakan pihaknya mendesak pihak kepolisian untuk melakukan proses hukum terhadap pelaku dan pimpinan universitas.

“Kekerasan yang dilakukan birokrasi kampus terhadapa mahasiswa dengan menggunakan Satpam meruoakan upaya sistematis dan terstruktur. Tindakan ini melanggar HAM dan hak pendidikan, hak sipil, politik dan ekosob,” katanya.

 

Sumber: http://makassar.tribunnews.com/2013/04/30/mahasiswa-sastra-unhas-laporkan-rektor-ke-lbh

Kronologis Kejadian PENYERANGAN FAKULTAS SASTRA

Jum’at 3 Mei 2013 Pukul 23:32 Makassar terjadi penyerangan oleh 5-6 orang tak di kenal di halaman fakultas sastra, kejadian tersebut terjadi pada pukul 23:30. Menurut saksi mata, salah seorang dari mereka teriak dalam bahasa makassar “assulu’ku kabulamma’ nai rewana sastra”.

Aksi penyerangan ini disinyalir ingin membongkar posko solidaritas anti kekerasan akademik (AMUK), yang di lakukan oleh sejumlah mahasiswa unhas, dalam rangka mengadvokasi 6 mahasiswa sastra yang sedang terkena kekerasan akademik yang dua diantaranya telah mendapat SK skorsing.

Dalam aksi penyerangan tersebut, seorang mahasiswa bernama Fahriansyah Iskandar, mahasiswa Sastra Inggris 2010 menjadi korban tusukan benda tajam tepat di pundak hingga menembus tulangnya.

Menurut keterangan Salah satu dari teman korban yang berada tidak jauh dari korban, melihat korban di giring kearah yang tak dapat di jangkau dari teman korban kemudian Pelaku mendorong,menggertak korban kearah bawah tangga, secara bersaman, pelaku lainnya masuk ke koridor mencari mahasiswa.

Merasa gelisah, besse’ teman korban pun keluar dari sekertariat perisai bersamaan dengan sekumpulan mahasiswa (Pencinta Alam) PA EDELWEIS yang sedang Mubes, tuk memastikan korban baik-baik saja. Setelah keluar, teman korban melihat pelaku yang berbeda memegang senjata rakitan dan teman dari pelaku memegang senjata tajam serta bersiap menyalakan senjata rakitan tersebut yang diarahkan ke koridor sastra, dua pelaku lain dengan senjata tumpul(balok-balok) memecahkan kaca sekertariat salah satu himpunan mahasiswa jurusan (HMJ PERISAI).

Sekumpulan mahasiswa PA EDELWEIS pun melihat kearah senjata rakitan dan sedikit panic dan berlarian, merekapun mencari bantuan teman-teman mahasiswa yang berada di kampus saat kejadian. Pelaku mundur membakar senjata rakitan tersebut dan siap meledakkannya, mengarah ke HMJ PERISAI sebelum meledakkannya kearah langit-langit pelataran HMJ PERISAI.

Setelah meledakkan senjata pelaku pun kabur,dan menendang salah satu motor mahasiswa yang terparkir di depan TKP serta lari kearah parkiran sastra dan kembali menjatuhkan motor-motor yang mereka lalui.

Di tempat berbeda tidak jauh dari kejadian Mahasiswa yang merasa panik mendengar ledakan senjata rakitan, lari kesumber suara ledakan senjata tersebut yang masih meninggalkan bau ledakan senjata pelaku.

Setelah kejadian tersebut sedikitnya 5 motor di rusak, kaca himpunan HMJ PERISAI di pecahkan, serta kaca dekanan FIB-UH turut menjadi sasaran amukan preman tak di kenal.

Beberapa kejanggalan yang terjadi terkait perisitiwa penyerangan oleh orang tidak di kenal:

  1. Pada malam itu lampu jalan di sepanjang unhas mati.
  2. Pos SATPAM UNHAS tidak terdapat petugas yang berjaga (kosong)
  3. Sebelum kejadian dua orang satpam berboncengan mengecek keadaan di fakultas sastra
  4. Setelah kejadian menurut keterangan mahasiswa sastra yang melintas di sekitar rektorat, terdapat konsentrasi SATPAM.
  5. Pelaku penyerangan bergerak dari arah parkiran sastra kemudian berjalan ke posko AMUK lalu kemudian menuju kea rah himpunan sastra (seolah sangat menguasai medan)
  6. Indikasi kuat peristiwa ini di dalangi oleh rektorat.

Beberapa senjata yang di pakai oleh pelaku penyerangan:

  1. orang menggunakan Badik yang kemudian di tikamkan ke korban
  2. Seseorang menggunakan senjata rakitan (Papporo) di tembakkan ke arah korban
  3. Enam pucuk Parang (di pakai untuk mengancam korban)
  4. Beberapa batang balok balok (di pakai untuk memecahkan kaca)

Berdasarkan perisitiwa tersebut kami mahasisiwa fakultas sastra beserta Aliansi Mahasiswa untuk Keadilan (AMUK) mengecam:

  1. Tindakan beringas yang dilakukan oleh sekelompok orang tak di kenal
  2. Tindak pengamanan kampus (SATPAM) yang tidak sigap
  3. Mendesak pihak berwajib untuk mengusut tuntas aksi kekerasa tersebut
  4. Mengecam tindak kejahatan terstruktur dari pihak rektorat
  5. Mendesak untuk menindak secara tegas aksi aksi premanisme yang banyak meresahkan warga terkhusus di UNHAS.

 

Sumber: Pernyataan Sikap Aliansi Mahasiswa untuk Keadilan (AMUK)

Reportase AKSI MAY DAY

Hentikan Perampasan Upah, Tanah, Kerja

 Sekretariat Bersama (SekBer) Perjuangan Rakyat Sulawesi Selatan menggelar aksi untuk menuntut keadilan melalui momentum May Day , Rabu, 1 Mei 2013. Aksi dimulai pada pukul 11.00 WITA di gedung DPRD SulSel. Massa aksi yang berjumlah 100-an lebih dari Organisasi Kemahasiswaan, LSM, hingga Rakyat Pulong Bangkeng Takalar menduduki gedung DPRD dengan targetan kampanye dan meyampaikan tuntutan aksi. Orasi oleh beberapa pimpinan organ, teatrikal, puisi, dan nyanyian mengisi aksi. Aksi di DPRD berlangsug damai, namun wakil rakyat tidak keluar dari gedung untuk menyambut aksi SekBer Perjuangan Rakyat Sul-Sel.

Sekitar pukul 12.30 WITA massa aksi bergerak menuju Badan Pertanahan Negara (BPN) Sulawesi Selatan untuk menyampaikan tuntutan dengan harapan mendapatkan jawaban atas tuntutannya. Ketika tiba sekitar pukul 13.00 massa aksi tidak diperkenankan masuk oleh aparat yang menajaga. Massa aksi tetap melakukan orasi menyampaikan tuntutan sembari meminta agar dapat masuk ke gedung dan berbicara langsung dengan ‘stakeholder’. Setelah bernegosiasi dengan aparat akhirnya perwakilan organ dapat masuk untuk menyampaikan tuntutannya.

BPN menjadi titik aksi karena hal yang diangkat ’May Day’ tahun ini mengenai tanah rakyat yang dirampas, khususnya rakyat Tani Pulong Bangkeng Takalar. Hasil dari pertemuan dengan Dinas BPN yakni akan diadakan pertemuan pada Jumat 3 Mei 2013 dan akan membahas bagaimana pengembalian tanah rakyat Tani Pulong Bangkeng Takalar.

Aksi kemudian bergerak di depan kampus UNM Makassar dan setelah itu massa aksi kembali ke tempat masing-masing. Adapun poin-poin yang dituntut SEKBER Perjuangan Rakyat Sul-Sel yakni;

  1. Naikkan  upah buruh sesuai standar kebutuhan hidup layak (KHL), termasuk buruh tani dan pekerja pertanian di pedesaan, buruh informal, serta golongan pekerja rendahan lainnya.
  2. Menolak dan menuntut penghapusan sistem kerja kontrak dan outsourcing serta menuntut penghentian pemutusan hubungan kerja (PHK).
  3. Jaminan kesehatan dan keselamatan kerja bagi buruh termasuk buruh informal.
  4. Menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak.
  5. Menuntut penyediaan lapangan pekerjaan serta pendidikan gratis bagi anak-anak buruh, buruh tani dan petani miskin serta pendidikan murah bagi seluruh rakyat
  6. Menuntut penghentian penggusuran terhadap para pedagang dan memberikan kebebasan kepada para pedagang dalam menjalankan aktivitas ekonominya.
  7. Menuntut dicabutnya UU No. 17 tahun 2011, UU No. 7 tahun 2012.
  8. Tolak RUU Kamnas dan RUU Ormas.
  9. Menuntut dan menolak campurtangan IMF, WB, ADB, WTO dan lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya terhadap kebijakan ekonomi dan politik indonesia, termasuk menolak utang luar negeri yang telah menjadi beban rakyat.
  10. Penerapan sistem 8 jam kerja.
  11. Hentikan tindakan represif dalam kampus; stop DO-Skorsing terhadap mahasiswa
  12. Cabut UU Pendidikan Tinggi, Revisi UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003
  13. Hentikan monopoli dan perampasan tanah; Tanah untuk rakyat
  14. Laksanakan Reforma agraria Sejati.

Perjuangan petani Pulong Bangkeng Takalar, Mahasiswa, Kaum Miskin Kota, dan Buruh merupakan solidaritas atas keadaan yang tidak baik-baik saja dan tentunya tidak adil!.

 

%d blogger menyukai ini: