LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » Petisi untuk Pak Rektor

Petisi untuk Pak Rektor

Sumber: unhas.ac.id

Sumber: unhas.ac.id

Oleh: Rahmad M. Arsyad

Senang sekali mendengar banyak kabar gembira tentang Pak Rektor Universitas Hasanuddin. Kiprahnya seperti lagu bengawan solo,  mengalir sampai jauh. Terpilih menjadi Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTN), Prof.Dr.dr.Idrus A.Paturusi pada tahun ini juga di daulat menjadi President Association of Southeast Asia and Pasific of Higher Learning (ASAIHL) dengan masa tugas  2013-2016.
Pencapaian yang  luar biasa, karena setahu saya ASAIHL merupakan sebuah organisasi bertaraf internasional yang menghimpun perguruan tinggi ternama se-Asia Tenggara dan Pasific. Dalam hati saya berbisik, bangga menjadi seorang alumni universitas Hasanuddin dan menyaksikan pencapaian Rektor kami.
Bukan itu saja, ketika  kembali ke Makassar dan berjalan-jalan ke kampus unhas sungguh saya semakin tercengang. Tepat di pintu masuk unhas saya melihat baligho yang bertuliskan ‘selamat atas pencapaian akerditasi A universitas Hasanuddin’. Batin saya berkata, Unhas mungkin sedang berada di era Golden Age seperti tema dies natalis beberapa tahun lalu.
 Ternyata masih seperti yang dulu
Namun kebanggaan tersebut tak bertahan lama.  Ketika berada di dalam kampus, saya menemukan fakta berbeda tentang Unhas. Tak se hebat tampilan dan berita yang saya baca di berbagai media massa ataupun rasa optimisme tentang akreditasi A. Apalagi ketika memasuki sebuah fakultas dimana saya bisa berjumpa dengan beberapa adik yang masih kuliah.  Betapa terkejutnya saya, membaca spanduk hitam  besar yang bertuliskan , ‘Cabut Putusan Sanksi Akademik Kawan Kami’!
Karena penasaran, saya bertanya kepada beberapa orang yang masih saya kenali untuk mencari tahu ada apa di fakultas tersebut ? Sejumlah cerita kemudian mengalir dari bibir mereka. Ternyata  lebih dari 41 hari sudah sejumlah mahasiswa menggelar aksi protes atas keputusan kontroversial pejabat akademik sebuah fakultas.
IMG00123-20130325-1454
Persoalan mereka sederhana, menolak sangsi skorsing yang diberikan pihak Fakultas. .Karena itulah mereka bersatu membentuk Aliansi Mahasiswa Untuk Keadilan (AMUK) sebagai wadah berhimpun dan menyatukan kekuatan atas tindakan birokrasi yang mereka pandang telah merugikan para mahasiswa.
Targisnya, masih dari cerita para mahasiswa ini bahkan aksi protes mereka disinyalir berujung penikaman atas seorang mahasiswa oleh sosok bertopeng. Aksi demonstrasi mereka dalam menolak tindakan tersebut juga berujung bentrok dengan para satpam. Saya terpekur, mendengar kisah para mahasiswa-mahasiswa di hadapan saya, ternyata kekerasan masih lestari di kampus unhas.
Petisi untuk Pak Rektor
 
Memang menjadi pendidik tidaklah mudah. Menghadapi sejumlah mahasiswa dengan berbagai latar belakang sosial, ekonomi dan mungkin saja ‘keganjenan ideology’adalah persoalan yang butuh kesabaran.  Tapi apakah jalan kekerasan seperti membubarkan aksi mahasiswa dengan satpam, memberikan skorsing akademik, sampai kemunculan sosok bertopeng dengan badik bukanlah hal yang  bisa diterima sebagai tradisi akademik?
Mahasiswa-mahasiswa itu, seperti juga kami dahulu sedang berada dalam euforia gagasan. Mereka sedang berada dalam gairah pencarian, dan sudah menjadi kewajiban universitas termasuk juga bapak rektor dan para dosen menjadi kompas, menuntun cara berpikir mereka.  Kekerasan langsung maupun kekerasan simbolik seperti sangsi skorsing bukanlah jalan terbaik.
Tentu saja bapak Rektor yang juga Presiden Rektor Asia Tenggara mahfum hal ini. Coba bapak rektor bayangkan betapa sedihnya orang tua mereka di kampung atas apa yang menimpa anak mereka. Kekecewaan dan sudah pasti kemarahan dari keluarga, cap sebagai mahasiswa gagal, akan melekat dalam diri mereka yang terkena skorsing, ujung-ujungnya rasa frustasi akan semakin membesar.
Jika sudah seperti ini, apa yang akan terjadi ? Dendam atas kampus akan semakin tebal, Universitas tak lagi menjadi ibu yang baik tapi menjadi sosok ibu yang jahat. Saya masih ingat betul ketika berada di akhir semester dan dipercaya menjadi ketua salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa, ketika itu seorang anggota kami terkena skorsing hanya karena persoalan melakukan demonstrasi melawan pihak jurusan yang dianggap mempolitisasi kuliah praktek mahasiswa dengan menghadirkan seorang Gubernur yang akan maju lagi. Beberapa mahasiswa tersebut kemudian juga dijatuhkan sangsi skorsing. Tapi dari aksi dan diaolog yang dilakukan akhirnya skorsing dibatalkan. Pada saat itu, saya melihat kebijksanaan bapak rektor bersama pembantu rektor dalam menyikapi persoalan tersebut.
Masihkah kebijaksanaan itu ada dalam diri para pimpinan universitas dan pak rektor yang kini sudah menjadi presiden rektor yang bukan hanya se-Indonesia namun asia tenggara?  Kalau masih ada, sebagai alumni saya hanya bisa menyarankan alangkah baiknya bukan skorsing yang dijadikan senjata untuk menata unhas menuju ‘world class university’ tapi cinta kasih dan  semangat tut wuri handayani.
Pandanglah para mahasiswa tersebut sebagai anak-anak zaman. Anak kandung Universitas dimana bapak dan ibulah yang menjadi orang tua mereka. Karena saya yakin, untuk mewujudkan Universitas Dunia hanya bisa dibangun dengan dealektika gagasan, termasuk membangun jiwa kritis di tengah mahasiswa.
Walaupun saya juga sepakat mahasiswa juga pada satu sisi juga mesti mulai belajar untuk lebih mengedepankan pertimbangan rasio ketimbang amuk. Untuk itulah di butuhkan kesepahaman bersama. Tanpa kesepahaman bersama ini, sangat sulit rasanya unhas bisa menjadi sebuah universitas bertaraf internasional.
Dimana ciri menjadi bagian dari masyarakat dunia adalah keterbukaan, toleransi dan semangat kolektivitas. Jika itu belum dapat diwujudkan, bagaimana mungkin bapak Rektor bisa sukses menjadi Presiden Rektor Asia Pasific sementara wajah buruk pendidikan didalam diri unhas saja belum dapat diwujudkan dengan baik, mungkin dibutuhkan toleransi lebih untuk pendidikan kita. Pendidikan yang memanusiakan manusia dan membuat kita semakin tahu diri!**
Tulisan ini dikutip sepenuhnya dari sini dengan persetujuan penulis.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: