LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Catatan Sederhana tentang Pertemuan Di Kampung Pisang

Catatan Sederhana tentang Pertemuan Di Kampung Pisang

Disebuah kampung yang terletak jauh di pinggiran kota Makassar. Sebuah kampung dengan banyak kepala keluarga. Sebuah kampung yang dihuni oleh pribumi-pribumi yang ramah. Sebuah kampung dengan berjuta harapan tentang kehidupan yang lebih tenteram, pendidikan yang layak dan kesehatan yang mudah di akses. Sebuah kampung yang telah mengalami buruknya dampak dari penggusuran oleh perusahaan dan pemerintah. Kampung Pisang namanya, pada hari rabu 05 Juni 2013 saat masa siang akan segera digantikan oleh sore, namun tetap saja terik matahari menyengat kulit. Sore kala itu tidak lagi menjadi pertanda bahwa matahari akan mengurangi sengatannya ke bumi. Hari itu dikampung pisang sedang ada kegiatan yang dilaksanakan oleh Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPRM).

Image

Kegiatan yang menghadirkan beberapa penduduk dari beberapa kampung di kota Makassar yang mengalami kasus penggusuran yang dipertemukan dengan delegasi PBB bidang Hak Azasi Manusia, Mrs Raquel Rolnik, pada bidang Hak atas perumahan yang layak (Adequate Housing Rights). Delegasi tersebut dikirim oleh PBB dengan maksud ingin mengetahui bagaimana kondisi perumahan di kampung-kampung bukan saja di kota Makassar tapi dibeberapa kota lainnya dan bukan hanya di Indonesia tapi disemua Negara yang telah meratifikasi kesepakatan internasional tentang hak atas perumahan yang layak ini untuk nantinya akan dilaporkan kembali ke PBB untuk diratifikasi di sidang umum PBB di Geneva, Switzerland pada tahun depan.

Pada kesempatan itu setiap kampung memiliki kesempatan untuk menceritakan secara detil mengenai kampung mereka kepada Raquel yang didampingi oleh seorang interpreter. Dari pendengaran, beberapa cerita menjelaskan bagaimana kondisi perumahan dikampung mereka, bagaimana pengelolaan ekonomi dikampung mereka, pengelolaan kesehatan dalam hal ini sanitasi yang menjadi permasalahan utama, serta kasus-kasus tanah yang mereka hadapi yang sampai hari ini mereka masih berjuang untuk tetap bertahan ditanah mereka sendiri. Selain mendengar cerita dari masing-masing kampung, Raquel juga mendengarkan pandangan dari seorang pengacara yang selama ini mendampingi para masyarakat dalam menangani konflik pertanahan dengan para pengusaha dikampung-kampung tersebut. Dalam kesempatan ini pula para warga masyarakat dari beberapa kampung mendengarkan penjelasan mengenai perumahan yang layak dari perwakilan Walikota Makassar dan perwakilan Walikota Kendari yang diwakili oleh Wakil Walikota Kendari.

Setelah kurang lebih dua puluh menit Raquel mendengarkan penjelasan dari berbagai kalangan tadi, maka ia sebagai yang didelegasikan oleh PBB memberikan pandangannya tentang hak atas perumahan yang layak serta pendapatnya tentang berbagai penjelasan dari perwakilan dari beberapa kampung. Sebelum menjelaskan bagaimana idealnya hak perumahan yang layak itu, ia terlebih dahulu memperkenalkan dirinya sebagai delegasi. Ia menjelaskan bahwa setiap manusia di dunia berhak atas perumahan yang layak tanpa memandang status ekonominya, usianya dan agamanya. Ia juga menjelaskan apa sebenarnya rumah atau perumahan yang layak itu?. Rumah yang layak menurut Raquel adalah bukanlah rumah yang tampakan fisiknya bagus atau bahan material yang digunakan untuk membangun rumah itu adalah bahan yang bagus tapi, bagaimana di dalam rumah atau perumahan tersebut terdapat pemenuhan hak-hak seperti hak atas pendidikan, hak atas kesehatan dan hak atas mata pencaharian. Ia berpendapat jika setiap orang telah memiliki rumah sudah sepatutnya orang tersebut memiliki hak-hak yang tercantum diatas. Artinya hak atas perumahan yang layak hanya sebagai pintu masuk warga untuk mendapatkan hak-hak yang lainnya. Ia juga mengemukakan bahwa ketika warga telah memiliki perumahan berarti pemerintah harus menjamin perbaikan kehidupan masyarakat secara bertahap dan ketika pemerintah membiarkan masyarakat mengalami penggusuran maka itu adalah hal yang salah karena, penggusuran terhadap rumah warga merupakan pelanggaran hak azasi manusia, mengapa? karena ketika perumahan digusur maka warga yang tergusur akan mengalami penurunan taraf kehidupan. Tidak adanya solusi dari pemerintah mengenai penggusuran dan terjadinya penurunan kondisi kehidupan warga menjadi masalah yang sangat serius terkait hak azasi manusia menurut Raquel. Ia juga menambahkan bahwa prioritas utama pemerintah dalam pemenuhan hak atas perumahan yang layak adalah rakyat miskin.

ImagePada akhir penjelasan ia mengucapkan banyak terima kasih kepada para warga masyarakat yang sempat hadir untuk menceritakan tentang kondisi perumahan dikampung mereka, karena ini merupakan hal yang sangat penting untuk dia, dan ia berharap suatu hari nanti, ketika ia memiliki kesempatan untuk datang kembali ke Makassar, ia dapat menyaksikan perbaikan terhadap kampung-kampung yang telah ia kunjungi. Diakhir acara Rachel mendapatkan kenang-kenangan berupa miniature rumah tradisional suku Bugis Makassar juga sarung adat Bugis Makassar dari warga Kampung Pisang yang diberikan oleh perwakilan dari kampung tersebut, terlihat dari raut wajahnya bahwa ia sangat senang akan hadiah itu.

Tak terasa senja telah mulai menyambut keramaian di kampung tersebut dan delegasi PBB itu pun telah berangkat menuju ke bandara untuk melanjutkan perjalanan monitoringnya ke Kota Kendari.

Image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: