LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » Ilmu Pengetahuan, Pendidikan, dan Nasib Umat Manusia

Ilmu Pengetahuan, Pendidikan, dan Nasib Umat Manusia

Goresan kecil untuk sekedar merefleksi jejak zaman yang terus bergerak…..

 

Benang Merah yang masih dan terus membekas

Seperti tak akan ada habisnya dalam perbincangan ataupun dalam perdebatan untuk sekarang ini bahwa dunia ilmu pengetahuan menjadi ajang rebutan untuk setiap individu ataupun kelompok yang melangsungkan kehidupan di Bumi yang sama kita huni ini. Mengulas soal itu kita tidak melepaskan berbagai pemikiran yang ikut meramaikan tema tentang ilmu pengetahuan dan pendidikan tersebut sampai akhirnya terlembagakan dan dikelola oleh Lembaga ataupun institusi. Baik yang dikelola oleh Publik (swasta) ataupun oleh Negara. Pengelolaan pendidikan dan produksi pengetahuan yang dikanalisasi oleh institusi ataupun lembaga tersebut ikut berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat dewasa ini.

Masyarakatpun ikut tergiring dalam isu, wacana sampai pada keyakinan bahwa rezim kebenaran dan pengetahuan banyak ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang diproduksi ataupun direproduksi oleh institusi pendidikan (baca; sekolah dan kampus). Olehnya itu rezim kebenaran pun bergeser ke intitusi pendidikan tersebut dimana pemegang rezim tersebut dipegang, dikendalikan bahkan diserahkan kepada orang – orang yang berkecimpun didalamnya. Termasuk dosen dan mahasiswa yang belajar didalamnya. Terlepas dari bagaimana struktur hierarkis yang berlaku dlam relasi kuasa pengajar-peserta ajar dalam sekolah dan kampus yang melembagakannya.

Apa yang salah dari itu semua? Tetntunya penulis hanya ingin sekedar merefleksi wajah keberpihakan dan keberadaan dunia pendidikan sekarang ini. Sangat massif terjadi di tengah – tengah masyarakat bagaimana berita dan fakta tentang pendidikan yang mahal, pendidikan yang tidak memberi solusi akan masalah yang dihadapi rakyat hari ini. Belum lagi jika kita menghubungkan dengan keberadaan ilmu pengetahuan yang bisa jadi disalah gunakan oleh pihak yang “ter-beri” otoritas kebenaran untuk tujuan mulia mengabdi untuk kemanusiaan dan kemaslahatan umat manusia. Ditambah lagi dengan keluhan akan Pendidikan yang tidak merata, membedakan para peserta didik ataupun calon peserta didik berdasarkan kelas ekonomi, sosial dan relasi kuasa kelas dominan yang yang berkuaa. Dimana kekuasaan yang didudukinya pun tidak lepas dari amanah yang mereka janjikan tidak disalahgunakan. Tapi kenyataannya tetaplah tidak melayani kepentingan pihak yang memberinya amanah (baca;rakyat). Dan jauh lebih mengecewakan bagaimana intelektual ataupun kaum terpelajar yang dihasilkan tidak sedikit yang menjadi agen keberlangsungan penindasan dan malapetaka yang ada.

 

Dari Jejak Pemikiran ke Jejak Pandangan

Berbagai analisa dan kritikan telah diberikan oleh berbagai pihak terutama para pemikir dan pejuang kemanusiaan yang menyempatkan fokusnya untuk melihat bagaimana ketimpangan dan kekejaman terselubung yang mengitari dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan di berbagai belahan dunia yang sedang ada untuk saat ini. Terutama soal bagaimana ilmu pengetahuan dan pendidikan di negeri tercinta, Indonesia hari ini. Sorotan yang paling tajam persoalan bagaimana diskriminasi persoalan akses ilmu pengetahuan di institusi pendidikan, komodifikasi dan komersialisasi ilmu pengetahuan di bidang pendidikan, dan bagaimana kepentingan bermain dalam proses  produksi pengetahuan dan implementasi ilmu pengetahuan  dewasa ini.  Selain itu para pemikir dan pejuang di bidang pendidikan tersebut juga turut serta memberikan contoh praksis bagaimana pendidikan yang manusiawi dan membebaskan tersebut. Sebut misalnya sosok Paulo Freire di Amerika Latin, Tan Malaka dengan Sekolah Serikat Islamnya, Ki Hajar Dewantara dalam Taman Siswanya, Gayatri Spivak dengan pendidikan Untuk kaum Subalternnya di India, Ivan Illich dan Myles Horton yang menyediakan pendidikan Anti-rasisme untuk kaum Kulit Hitam Amerika. Selain itu untuk saat ini ada seorang Darmaningtiyas yang dengan getol menolak Komersialisasi Pendidikan di Indonesia dengan beberapa teman – temannya yang aktif di Perkumpulan Taman Siswa. Begitu juga banyak pihak yang turut memberikan kontribusinya kepada pihak pemegang otoritas yang dengan seenaknya menyalahgunakan otoritasnya dalam mengelola pendidikan dan mengimplementasikan ilmu pengetahuan di negeri ini ataupun di dunia yang kita huni ini secara luas.

 

Arena Mulia yang Terus Terkoyak

Semakin dianggap pentingnya ilmu pengetahuan dan pendidikan akan peranannya dalam perkembangan peradaban umat manusia sekarang ini, maka keduanya selalu berusaha untuk diperebutkan. Di era kapitalisme global sekarang ini dengan berbagai kepentingan kelompok pemilik modal internasional hari ini melalui berbagai lembaganya seperti Bank Dunia, IMF, ADB, WTO dan apparatus media massanya turut mengusahakan aktivitas monopoli dalam rangka mengontrol tindakan penghisapannya di berbagai belahan dunia. Tidak terkecuali di Negara – Negara tempat lembaga dan apparatus Media Massa Kelompok Kapitalis Internasional ini berkumpul. Ditambah lagi system ekonomi Politik Kapitalisme – Neoliberal yang senantiasa mengakumulasi kekayaan dengan menghisap Tenaga Kerja, Sumber Daya Alam dan terus memaksakan umat manusia terus mengkonsumsi Komoditas yang dihasilkan oleh Industri Manufaktur dan Industri Budaya yang terus mereka produksi secara barbar. Dimana bidang ilmu pengetahuan dan Pendidikan pun tidak luput dari fokus utama mereka untuk dikuasai, dikontrol dan diperuntukkan untuk kepentingannya yang bertolak belakan dengan nilai kemanusiaan dan Keadilan Sosial.

Berbagai sector pun dijarah melalui mekanisme sistem Politik Demokrasi Liberal yang mengkampanyekan Pemilihan langsung di berbagai sector Pemerintahan, termasuk dan mungkin terutama sektor pendidikan dan ilmu pengetahuan sebai produknya. Sistem yang memungkinkan uang bisa bermain untuk memanipulasi pemilihan Kepala Negara, kepala Daerah dan Anggota Legislatif di berbagai Negara. Baik di Negara maju, apalagi Negara yang dianggap baru berkembang dan  Bekas Kolonial. Semua sector dieksploitasi demi akumulasi keserakahan yang merupakan watak utama Borjuasi Kapitalis Internasional dengan memanfaatkan kelompok – kelompok reaksioner di setiap negeri jajahan modal mereka. Kelas Borjuasi kapitalis Internasional dengan kelincahannya memanfaatkan kelompok militer reaksioner, intelektual yang telah mereka didik, Kelas Borjuis Nasional oportunis, kelompok feodal, dan kapitalis birokrat di setiap negeri untuk menjadi kaki tangan mereka dalam melanggengkan pengurasan Sumber daya Alam, Pemerasan keringat Buruh, Petani miskin, perempuan dan rakyat secara umum. Mereka menggunakan Negara sebagai alat pemerasannya. Negara dan aparatusnya menjadi alat penghisap sekaligus pengaman agenda – agenda penghisapan Alam dan Umat manusia di muka Bumi ini, terkhusus negeri Indonesia tercinta ini.

Seperti kelas kapitalis Borjuasi Internasional yang tidak jauh beda dengan watak Kolonial Belanda dulu lewat VOC nya yang tidak mengharapkan rakyat setiap negeri menjadi cerdas dan mampu membangun kekuatan untuk rakyat dan negeri tercintanya. Ilmu pengetahuan dan pendidikan selalu dijauhkan dari sentuhan rakyat terhisap dengan berbagai cara. Mulai dari akses yang dipersulit, biaya yang dijadikan mahal, serta usaha menghegemoni (baca; mempengaruhi secara tak sadar) gaya dan orientasi dari ilmu pengetahuan tersebut untuk selalu mengabdi untuk kepentingan penjajah, kaum Pemodal Internasional dan kepentingan VOC-Kolonial Belanda di masa Kolonial.

Selain itu dalam rangka menumbuhkan rekayasa seolah olah membutuhkan hasil produksi mereka beberapa produk Otomotif, makanan, pakaian (fashion), kosmetik, film, dan berbagai produk dari sector industry manufaktur, jasa, dan sector industry budaya lainnya yang dihasilkan, Media Massa, iklan dan perangkat industry Budaya lain menjadi alat utama dalam mempengaruhi dan merekayasa kesadaran palsu khalayak untuk menjadi tergiring dan mengaminkan semua agenda Kaum Pemodal kapitalis internasional tersebut. Termasuk kategori pendidikan yang berkualitas itu dimana dan bagaimana. Tentunya yang bisa memberikan keuntungan besar untuk mereka dan kaki tangannya di setiap negeri jajahan. Kelompok Pemodal-Borjuasi Internasional bersama kaki tangannya ini sampai sekarang tidak pernah berhenti untuk memperalat dan berusaha memonopoli ilmu pengetahuan bersama institusi pendidikan yang menaunginya. Berbagai produk baik dari sector manufaktur, maupun industry Budaya dan Media diproduksi lewat Ilmu Pengetahuan dan teknologi yang telah mereka kuasai, dan telah mereka kembangkan. Namun orientasi pemanfaatannya adalah untuk mengobyetifikasi dan mengeksploitasi alam dan umat manusia di luar dari kelas dan kelompoknya. Sebuah tindakan yang sangat tidak manusiawi dan tidak ber-keadilan sosial dalam memanfaatkan tujuan mulia ilmu pengetahuan yang tentunya tidak bisa dibiarkan terus terjadi di muka bumi terkhusus di negeri kita tercinta ini.

 

Raksasa yang terus Ber-serakah

Upaya WTO lewat berbagai perjanjian Internasionalnya dengan Pemerintah Indonesia yang tidak lain adalah rezim kaki tangan Kaum Kapitalis – Borjuasi Internasional ini telah melahirkan perjanjian GATTS dimana salah satu implikasinya adalah Pendidikan bersama 11 sector jasa lain harus di “privatisasi” dan pengelolaannya harus diserahkan kepadamekanisme pasar (baca; liberalisasi). Sebuah system dan mekanisme yang dirancang oleh WTO sebagai representasi Organisasi Perdagangan konon-milik Dunia yang ternyata alat Kaum kapitalis Borjuasi Internasional yang juga turut menjadi pemilik modal dan Saham di berbagai Perusahaan Multi National Corporation (MNC) dan Trans National Corporation (TNC).

Di sektor Pendidikan Negeri Ibu Pertiwi tercinta (baca:Indonesia) ini, proses menyelubungkan tangan WTO dan Aliansi Penjarahnya seperti IMF, World Bank, dan ADB sudah berlangsung sejak berkuasanya rezim Suharto yang dia namakan sebagai Orde Baru-nya. Konsesus untuk Liberalisasi Sektor Pendidikan sudah dilakukan dan selanjutnya proses rstifikasi melalui aturan di dalam negeri kemudian selanjutnya mutakhirnya adalah ketika UU Sisdiknas tahun 2003 disahkan. Kemudian menyusul UU BHP yang disahkan tahun 2008 kemudian dibatalkan oleh MK tahun 2009 dan selanjutnya selang tiga tahun kemudian produk baru berupa UU Pendidikan Tinggi No.12 Tahun 2012 untuk agenda Liberalisasi, Komersialisasi dan Industrialisasi Pendidikan diwujudkan dalam wajah baru melalui produk Undang – Undang ini. Dan UU PT ini masih menunngu sentuhan para pejuang pendidikan Indonesia untuk meruntuhkannya jika memang masih dianggap sebagai agenda jahat yang terus menyelubung di negeri ini. Tanpa legitimasi Undang – Undang ini pun sebenarnya, proses Komersialisasi dan diskriminasi di bidang pendidikan melalui biaya yang sangat mahal, praktik jalur masuk yang dibedakan oleh pengelola institusi pendidikan baik di tingkat dasar, menengah, maupun di Perguruan Tinggi, serta peng-kelas-an institusi Pendidikan lewat label Standard Internasional, nasional, dan dibawah Standard.

 

Dari Teologi, Filsafat, Komitmen Etis-Politis ke Praksis Pendidikan Membebaskan

Tanpa bermaksud melakukan pengkultusan terhadap beberapa tokoh yang menaruh perhatian serius dan telah melakukan upaya penyelamatan umat manusia dari penghisapan system Kapitalisme global, terutama mereka yang berfokus pada komitmen etis kemanusiaan dan komitmen politis pembebabasan umat manusia dari ketertindasan. Terkhusus lagi penggunaan instrumen pentingnya ilmu pengetahuan dan  perjuangan melalui pendidikan untuk menjalankan komitmen etis terhadap nilai kemanusiaan dan komitmen politis dalam pembebasan umat manusia dari jeratan system yang menghisap dan menindas sepanjang zaman. Dibawah ini terdapat beberapa tema dan pemikiran serta upaya perjuangan yang dilakukan dalam ranah praksis oleh beberapa tokoh. Juga sedikit pemaparan tentang buah pemikiran dan bentuk – bentuk perjuangan yang dilakukannya 

Perjuangan Kelas Tertindas (baca: Kelas Proletar) Karl Marx dengan senjata Filsafat Materialisme Dialektika Historisnya untuk menjadi Senjata Filsafat kaum Proletar tertindas dalam menghadapi kaum Filsafat Idealis-reaksioner kaum Borjuis-kapitalis yag terus menghisap buruh dan mengeksploitasi alam secara barbar. Selain itu untuk mengeksplorasi bagaimana kelas dominan terus berkuasa, dan buruh serta kelas pekerja terhisap ternyata turut mengamini secara tak sadar ideology dan budaya kelas borjuis, Gramsci menelurkan konsep hegemoninya. Konsep yang mengeksplorasi bagaimana Aparatus kekuasaan kelas Borjuis ternyata mampu membuat para kelas pekerja terhisap (baca:proletar) tergiring dengan gaya hidup dan ideology serta kebudayaan kelas borjuis. Dan itu yang disebut Marx sebagai ‘kesadaran palsu’ yang membuat kesadaran akan kelasnya semakin kabur. Dengan demikian dibutuhkan Peran Intelektual Organik Sosialis yang dipaparkan Gramsci disini yang bertujuan untuk melakukan counter hegemoni kelas Borjuis dominan. Selain itu agar Para intelektual yang memiliki berbagai kompetensi, kapabilitas dan kapasitas berbeda ini mampu melawan dominasi dan hegemoni Sistem penindasan yang bekerja sudah sangat rapi dan kuat tersebut, Bourdieu meng-konsepkan adanya Peran Intelektual Kolektif  dalam melawan dominasi dan Hegemoni system Neoliberalisme yang mengglobal sekarang ini. Kolektivitas dalam bentuk Aliansi Kaum Intelektual Progresif tersebut dijalankan melalui metode riset terhadap isu dan agenda perjuangan, seminar dan pemaparan hasil ilmiah yang berpihak pada nasib kaum tertindas, serta melancarkan aksi protes terhadap rezim yang keras kepala bersama kekuatan massa aksi dilapangan demonstrasi dan pendudukan. Narasi tentang konsep Intelektuan Kolektif ini digambarkan Bourdieu dalam bukunya The role of Intelectuals Today.

Selain itu, di Ranah pendidikan formal, konsep Pendidikan Kritis dan Teologi Pembebasan-Freire di Amerika Latin untuk melawan system Pendidikan “gaya bank” dan merajalelanya ‘budaya bisu’ akibat produksi pengetahuan dari system pendidikan yang tidak membebaskan tersebut. Metode Pendidikan hadap-masalah oleh Freire sebagai antithesis dari pendidikan gaya bank yang mengobjetifikasi terus menerus peserta didik. Freire yang merupakan seorang Profesor dari Brasil dengan Disertasi tentang Filsafat Pendidikan yang menbebaskan ini pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Brasil sebelum akhirnya beliau dibuang dan ditahan oleh rezim Militer yang berkuasa setelah Freire menerapka Program nasional Pemberantasan Buta Huruf yang melibatkan lima Juta penduduk Buta Huruf Brasi waktu itu, sekitar tahun 1960-an. Freire berangkat dari spirit nilai- nilai kemanusiaan dan cinta kasih sesama manusia dalam menjalankan proyek pendidikan kritis untuk kaum tertindas di Amerika Latin terutama di Brasil tersebut. Freire akhirnya dipenjara oleh Rezim militer Berkuasa setelah dia menjalankan program Pendidikannya ini. Setelah itu Freire dibuang ke Amerika dan menjadi Guru Besar di Harvard dan setelah itu kembali ke Brasil untuk melanjutkan perjuangannya setelah rezim ini runtuh. Dan disitu pulalah Freire menemui ajalnya setelah berbagai pemikiran dan konsep pengabdiannya di bidang pendidikan telah tersebar luas melalui karya dan metode pendidikan yang telah diajarkannya.

Di Masa Kolonialisasi Belanda di Indonesia, Lewat prakarsa Semaun yang memberikan ruang kepada Tan malakan untuk mendirikan Pendidikan Kerakyatan- Sekolah SI Semarang Tan Malaka untuk Melawan (baca: counter hegemony) terhadap Pendidikan ala-Kolonial Belanda di masa Kolonialisasi Belanda terhadap Indonesia tahun 1920-an. Pendidikan yang dibangun oleh Tan Malaka ini diperuntukkan kepada Anak – anak anggota SI Semarang. Dalam beberapa bun saja Model Pendidikan Serikat Islam ini berkembang di beberapa daerah dan Tan malaka dipercayakan untuk mengelolanya. Baik secara kurikulum maupun secara administrasi dan pelatihan tenaga pengajar sampai manajemen infrastrukturnya. Selain itu terdapat juga Pendidikan Taman Siswa Ki Hajar Dewantara yang fokusnya untuk pendidikan Budi Pekerti dan penguatan karakter Kebangsaan di masa Kolonial belanda juga.

Di India, Pendidikan untuk Subaltern oleh gayatri Spivak melalui program awal pemberantasan Buta huruf bagi kaum perempuan dan petani desa di India. Spivak memberikan perhatian khusus kepada kelompok petani dan Buruh tani pedesaan India terutama kaum Perempuan yang mengalami penindasan ganda. India yang masih menjadi Negara semi-jajahan Inggris (baca:Pengaruh Poskolonial Inggris), menjadikan warganegaranya terutama kelas bawah mengalami penindasan oleh: (1)Kapitalis Global (terutama Inggris), (2) Kapitalis Birokrat rezim Berkuasa di India, dan (3) Kaum Feodal di Pedesaan, dan bagi kaum perempuan menurut Spivak masih bertambah penderitaannya dengan penidasan oleh (4) laki-laki dengan masih kuatnya system sosial-kultural yang “patriarkial” di India.

Praksis pembebasan lain dalam bidang pendidikan yang berorientasi untuk pembebasan kelompok tertindas juga dilakukan di Sekolah Antirasisme oleh Myles Horton untuk Kaum Afro-America di Amerika Tengah yang terus didiskriminasi oleh Kulit Putih Amerika Serikat. Horton yang dikenal dekat dengan Martin Luther King ini turut ambil bagian dalam pembangunan Gerakan Perjuangan Hak – hak Sipil Di Amerika Serikat terutama di sektor Pendidikan untuk Kulit Hitam Amerika yang terus dirundung isu Rasisme yang berimplikasi pada kesetaraan hak sebagai Warga negara di Amerika.

Untuk konteks Indonesia hari ini, Pendidikan Popular Roem Topatimasang-Mansour Fakih dengan wadah Insist-nya di Indonesia juga salah satu bentuk gerakan pendidikan kritis-partispatoris yang tujuannya juga dalam rangka menghasilkan produksi pengetahuan yang membebaskan masyarakat sipil Indonesia dari jeratan sestem produksi pengetahuan yang meminggirkan masyarakat kelas bawah. Mungkin bisa juga dikatakan sebagai benteng masyarakat sipil untuk membendung arus ekspansi pengetahuan dan modal sistem neoliberalisme modal yang sedang kuat – kuatnya mencengkram negeri ini. Yang tentunya ikut meminggirkan posisi masyarakat kelas bawah, baik yang berada di perkotaan maupun yang ada di pelosok desa di semua propinsi di Indonesia.

Selain itu beberapa literature akhir – akhir ini mencoba mengangkat upaya pembebasan kaum mustadaffin (kaum: kaum tertindas Arab) yang dilakukan oleh Muhammad  juga merupakan salah satu contoh yang tidak bisa dinafikkan tentang bagaimana perjuangan untuk melepaskan umat manusia terutama di jazirah Mekah pada waktu itu dari jeratan penindasan dan penghisapan oleh kaum mustakbirin (baca: kafir Quraisy dalam literature Islam) di masa yang disebut Jahiliah pada waktu itu. Dimana instrument Ekonomi Politik dan pengetahuan dominan juga sangat menyengsarakan kaum mustadaffin pada masa itu. Yang menarik adalah salah satu instrument yang dijalankan Muhammad pada waktu itu adalah penyebaran ajaran Teologis yang menekankan pada pembebasan budak, pemuliaan terhadap perempuan dan anak – anak . Selain itu dibidang sosial Ekonomi, ajarannya menganjurkan untuk meninggalkan system riba (baca:bunga utang) yang menjerat kaum tertindas oleh para rentenir Arab pada masa itu.

Mungkin hal itu juga yang mengilhami beberapa pemikir progresif dari kalangan kelompok Islam untuk terus berusaha memberikan sumbangsih pemikiran pembebasan Umat manusia saat ini dari belenggu penjajahan. Baik dari segi dominasi Ekonomi Politik, Militer, maupun dari hegemoni pemikiran dan ilmu pengetahuan yang semakin tidak manusiawi dan bertentangan dengan perwujudan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Sebut saja konsep pemikiran Kiri Islam dari Hasan Hanafi di Mesir, pemikiran Asghar Al Engineer di India, Ali Syariati di Iran, dan  Pemikiran Tauhid Sosial Amin Rais di Indonesia. Sedikit banyaknya dari segi Ilmu Pengetahuan dan pemikirannya telah memberikan gambaran warna tentang bagaimana gejolak yang terus berkembang dibidang Ilmu Pengetahuan dan dunia pendidikan hari ini. Setidaknya bisa memberi manfaat dari segi pengayaan ide dan pemikiran bagi kita yang mungkin bisa mengambil beberapa pelajaran berharga dari buah pemikiran para pemikir di atas melalui berbagai literature yang memuat tentang berbagai pemikiran dan praksisnya di lapangan. Baik di Tingkatan Global maupun di negeri tercinta ini.

 

Sebuah Refleksi untuk para Intelektual Anak Negeri dan Penghuni Ibu Pertiwi yang masih terus Menjerit…

Itulah sekedar berbagai gambaran peran beberapa Tokoh yang mempertegas posisinya dalam menjalankan panggilan hidup untuk mengabdi ke sesama umat manusia yang masih merasakan penindasannya. Meskipun masih banyak lagi tokoh dan berbagai peranan pemikiran serta praksisnya yang belum sempat disampaikan melalui tulisan ini. Dengan penggambaran terbatas tersebut, semoga bisa sedikit memberi penggambaran dan tambahan pengetahuan tentang tema yang diangkat pada tulisan ini. Semoga ke depan pendiskusian terhadap Dinamika Ilmu Pengetahuan, pendidikan, dan bagaimana peranannya terhadap kehidupan Umat Manusia di Bumi yang kita sama pijaki ini dapat terus dilakukan, dijaga dan tentunya dipraksiskan. Terlebih lagi bagaimana berbagai pemikiran tentang dinamika ilmu pengetahuan dan pendidikan serta bagaimana keduanya berperan dalam kehidupan masyarakat dunia dan Negeri tercinta ini dapat terus diperkaya dan seakin mendorong kita untuk senantiasa meng-upgrade diri baik secara kapasitas, kapabilitas maupun dari segi penguatan komitmen etis dan politis (meminjam prinsip spivak untuk dedikasinya kepada kaum Subaltern India sebagai Objek penindasan pasca Kolonial dan Imperialisme Kapitalisme Global hari ini yang menggunakan kaki tangan kelompok Feodal dan Kapitalis Birokrat India hari ini).

Di negeri tercinta ini juga penguasaan kelas dan kelompok dominan tersebut tidaklah jauh beda dengan India dan negeri Bekas Kolonial lain. Ini Terutama jika dilihat dari segi penguasaan ilmu pengetahuan dan akses terhadap pendidikan dan implikasinya terhadap akses Penguasaan Ekonomi Politik dan Sosio-Kultural. Dan disinilah arena kaum tertindas negeri tercinta ini harus bertarung untuk mendapatkan hak Asasinya, ditambah lagi dengan komitmen etis-politis kemanusiaan-pembebasan para intelektual anak negeri untuk mencurahkan jiwa, raga, pikiran , dan tenaganya dalam sebuah pengabdian untuk mewujudkan pembebasan kaum tertindas di negeri ini. Dengan tentunya tetap berpegang teguh pada nilai – nilai “Kemanusiaan dan Keadilan Sosial” yang terus dicita – citakan . Karena sepertinya Raksasa serakah dan para Pengabdi Setianya masih belum tega melepaskan Cengkraman kuatnya yang begitu menyakitkan, sampai darah dan air mata tak pernah berhenti bercucuran. Cengkeraman kuat itu harus dilepaskan jika kita sebagai Anak Negeri titisan Ibu Pertiwi tercinta ini tidak ingin derita itu terus melanda dan Air mata, darah harus berhenti mengalir dalam kesedihan – kesedihan yang terus diratapi. Cita itu dapat tercapai  jika Intelektual Anak Negeri ini bersama Rakyat penghuni Ibu Pertiwi tercinta ini terus berusaha dengan gigih dan bahu membahu untuk mewujudkannya dalam Nyata.

 

Wassalam…..

Untuk Anak Negeri yang Ber-Sepakat Jalan Bersama…

 

Bacaan Pengaya.

Kemiskinan Filsafat, Manuskript Ekonimi Filsafat_Karl Marx

Prison Notebooks_Gramscy

Dari teologi menuju aksi _Abad Badruzaman

Intelektual Kolektif Pierre Bourdieu_Arizal Mutahir

Jalan Lain Manifesto Intelektual Organik _Mansour Fakih

Pedagogy of the oppressed _Paulo Freire

Politik pendidikan_Paulo Freire

Paulo Freire, Kehidupan, karya dan Pemikirannya_Denis Collins

We make the Road by Walking, a Synopsis_Paulo Freire dan Myles Horton

Gayatri Spivak, Etika Subaltern dan Kritik Penalaran Poskolonial_Stephen Morton

Sekolah SI Semarang dan Onderwijs_Tan Malaka

Madilog_Tan Malaka

Tan Malaka, Merajut Masyarakat dan Pendidikan Indonesia yang Sosialistis_ Syaifudin

Orientalisme_ Edward Said

Mafia Berkeley _Revrisond Baswir

Arkeologi Pengetahuan _ Michael Foucault

Power/knowledge _Michael Foucault

Teori Sosial Kritis_Ben Agger

Sejarah Mazhab Frankfurt_Martin Jay

Politik Kuasa Media _ Noam Chomscy

Pendidikan Popular_Roem Topatimasang

Epistemologi Kiri_Kumpulan Tulisan Mahasiswa PascaSarjana Filsafat UGM

Ekonomi Politik Media_ Filosa (Mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya&Media UGM)

 

(Oleh: Nasrullah, mahasiswa pascasarjana UGM)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: