LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Feature News » Catatan Ringan; Pemutaran Film ‘MENOLAK TERGUSUR’ [Solidaritas Anti Penggusuran]

Catatan Ringan; Pemutaran Film ‘MENOLAK TERGUSUR’ [Solidaritas Anti Penggusuran]

Hiruk pikuk lapangan olah raga di Fakultas Isipol UNHAS sedang pada titik klimaksnya. Hampir semua jenis olahraga mengiss penuh bidang-bidang lapangan yang ada. Dari kejauhan kelihatan sebuah spanduk berukuran sedang dengan nuansa merah, hitam, dan putih tergantung di bagian depan sepetak panggung yang lazim disebut Mimbar FISIP. Di atas panggung itu beberapa orang laki-laki dan perempuan kelihatan sedang berbenah, mempersiapkan alat-alat musik, lapakan zine dan handy craft, dan sebuah spanduk vinil putih bersih yang menurut tebakanku akan digunakan sebagai layar proyektor. Orang-orang lalu lalang dan datang dan pergi dari panggung itu, membawa barang-barang perlengkapan, akrab dan bekerja sama, nampaknya.

Senja mulai menjingga, hiruk-pikuk mulai menenang, manusia-manusia kembali kesarangnya. Berbeda dengan suasana panggung yang bertambah sibuk. Suara-suara dan seruan-seruan mulai terdengar berasal dari panggung itu, “Mari mendekat… dan memperjelas informasi” kata salah seorang yang nampak memegang microphone. Penasaran, saya mendekat, begitu pula beberapa orang lain yang tidak kukenal. “Pemutaran Film MENOLAK TERGUSUR; Sebuah Dokumentasi Tentang Perlawanan Masyarakat Kota Melawan Penggusuran”, tulisan yang tertera pada spanduk berukuran sederhana bernuansa merah, hitam, putih, yang tadi kulihat dari kejauhan. Di bagian paling atas spanduk itu juga tertera tulisan [SOLIDARITAS ANTI PENGGUSURAN], dan di bagian paling bawah tertera semacam jadwal pemutaran film yang sama, namun diadakan di kampus-kampus lain se-kota Makassar.

Aktivitas di panggung perlahan turun temponya, kesibukan beralih ke seorang laki-laki yang tadi memegang microphone. Berulang-kali ia menyerukan ajakan untuk bergabung kepada mahasiswa-mahasiswa yang dari jauh hanya melihat-lihat kebingungan, mengundang kepada siapa saja yang ingin mengisi panggung itu dengan pertunjukan-pertunjukan musik, puisi, ataupun yang lainnya. Lalu adzan magrib terdengar dari sumber yang tak jauh dari tempat itu. Kegiatan jeda sejenak. Saya tak menunaikan ibadah magrib. Jadi selagi jeda, kulihat orang-orang mulai berdatangan, mengisi tempat lesehan yang sudah diberi alas spanduk vinil putih bersih. Di sebelah sana dihampar jurnal-jurnal dan zine-zine yang berjudul kata-kata aneh yang tidak kumengerti; “Manufakturisasi Pendidikan, KONTINUM; Jurnal Anti-Otoritarian” atau yang lainnya. Saya lebih memilih mendekat ke lapak handy craft di sebelahnya, banyak yang bagus di sini.

10289164_666332710081167_1553365725_o

Cahaya mulai beranjak dari hamparan langit, suasana panggung berganti temaram oleh lampu sorot yang menyinari langit-langit panggung dari bawah. Seorang laki-laki yang lainnya mengambil posisi di bagian depan lalu menyanyikan sebuah lagu. Dilanjutkan dengan membaca puisi, dan berlanjut terus sampai akhirnya si pemegang microphone menginformasikan bahwa Film sebentar lagi akan dimulai. beberapa orang sigap menyiapkan proyektor dan sound, yang lainnya mengubah arah lampu sorot agar tak silau tampilan pada layar sederhana dari spanduk vinil. Sembari memutarkan trailer film, si pemegang microphone yang telah berubah fungsi menjadi MC menjelaskan bahwa film ini adalah kumpulan dokumentasi dan hasil wawancara langsung dengan korban-korban penggusuran di kota Makassar; di dalamnya menceritakan bagaimana Negara melalui pemerintah kota-nya, dengan bengis mengutus aparat militernya untuk mengusir paksa warga-warga dari tanahnya yang telah dihuni selama puluhan tahun; bagaimana berbagai lapisan masyarakat, LSM, dan Mahasiswa serta individu yang merasa terusik oleh tindakan pemerintah yang tak berperikemanusiaan ini, turut terlibat dalam membela warga-warga ‘awam’ yang menjadi korban penggusuran; bagaimana media turut berperan serta membuat kita berprasangka negatif kepada warga-warga yang menjadi korban. Ahh.. saya jadi penasaran. Film telah diputar. Sampai film itu selesai, tak sekalipun saya beranjak dari tempat yang kududuki sejak awal film berdurasi kurang lebih 40 menit itu diputar.

Ada sesuatu yang terusik di dalam kepala saat selesai menonton film itu. Ada hal yang tak kubayangkan bakalan terjadi, ternyata benar-benar terjadi. Sebelumnya saya tak pernah berfikir bahwa pemerintah akan melakukan hal-hal seperti ini kepada masyarakat, apa lagi masyarakat kecil. Sebelumnya setiap informasi yang kuterima, kuyakini, lalu turut kusebarkan bersumber dari berita-berita di televisi, di film ini kulihat benar bagaimana media menyampaikan informasi yang benar-benar berbeda dengan kenyataan. Banyak hal yang menjelma menjadi tanya di dalam kepala. Saya sedikit guncang.

Microphone kini diambil alih oleh seorang mahasiswi yang seingatku cukup tak asing. Ia menjelaskan bahwa beberapa pembicara untuk diskusi telah hadir di tengah-tengah kegiatan ini. lalu satu persatu diundangnya maju kedepan. Mahasiswi yang sepertinya berlaku sebagai moderator ini memperkenalkan satu persatu pembicara; Aswin, yang akan menjelaskan ‘skema globa’ soal mengapa penggusuran menjadi marak di kota Makassar; Adin selaku Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNHAS, akan berbicara bagaimana penggusuran dari perspektif mahasiswa; dan terakhir Elung sebagai partisipan Solidaritas Anti Penggusuran.

Panjang lebar pendiskusian yang dipandu oleh moderator tadi, dimulai oleh pembicara bernama Aswin yang menjelaskan tentang bagaimana agenda ‘neoliberalisasi’ yang sampai dan mewujud di Indonesia menjadi program-program seperti MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), yaitu sebuah program yang secara kasat mata merupakan program yang memang menjanjikan peningkatan ekonomi bagi masyarakat, melalui indikator pendapatan perkapita masyarakat yang katanya akan mencapai 14-15 ribu dolar pada tahun 2025. Dipikaranku saat mendengar penjelasan itu, rasanya sangat tidak masuk akal kalau kubandingkan dengan kondisi masyarakat yang kulihat setiap hari. Dan memang, menurut pembicara, para ekonom selalu merancang sebuah program berdasarkan data statistik yang menyeret masyarakat kelas bawah kedalam data ‘rata-rata’. Diperparah lagi oleh pembangunan-pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, pelabuhan, atau infrastruktur pendukung lainnya seperti hotel, mal, tempat hiburan, dan lain-lain yang mutlak mensyaratkan ruang atau tanah sebagai tempat membangunnya.

Kemudian pembicara kedua menambahkan bahwa, mahasiswa, sebagai lapisan masyarakat yang bersentuhan langsung dengan ilmu pengetahuan seharusnya tidak menanggalkan perannya sebagai korektor sosial, ditambah lagi status mahasiswa hanya kita sandang saat berada di lingkungan kampus, selebihnya kita juga merupakan bagian dari masyarakat, jadi sudah sepatutnya kita mengambil peran-peran langsung yang dapat meng-counter skenario besar yang juga di susun oleh segelintir orang yang juga lazim berada di dalam lingkungan ilmu pengetahuan, bahkan ahli dalam bidangnya, atau sekurang-kurangnya dapat menjadi solusi bermanfaat bagi mereka (baca:masyarakat) yang telah dibongkar rumahnya dan dirampas tanahnya.

Pembicara ketiga sebagai partisipan Solidaritas Anti Penggusuran [SAP] menambah padatnya wacana yang masuk kedalam memori otakku hari ini. Ia berbicara tentang bagaimana beberapa orang muda-mudi yang resah dan merasa tidak terima melihat fenomena penggusuran yang semakin marak di kota Makassar kemudian berkumpul dan menginisiasi sebuah kegiatan-kegiatan kecil. Setidaknya mereka masih bereaksi terhadap stimulus fenomena yang mereka terima. Di dalam SAP berbagai pemikiran saling bertukar kemudian menghasilkan gagasan baru untuk terus melakukan tindakan-tindakan kongkrit namun tetap strategis untuk melawan penggusuran. Kelompok yang tidak berbentuk struktur ini kemudian terus tumbuh dan mengepidemi di berbagai lapisan masyarakat; korban penggusuran, mahasiswa, pemuda-pemuda, bahkan mereka yang telah berprofesi sebagai buruh, mereka yang sudah menikah, nelayan, dan banyak lagi. Bahkan kata pembicara, “kalau kalian tidak setuju dengan penggusuran, menolak perampasan tanah masyarakat, maka kalian lah SAP”. lanjutnya lagi, meskipun wadah solidaritas ini masih laksana semut yang mencoba melawan babi hutan, ia tetap yakin bahwa selama penggusuran ada di mana-mana, maka perlawanan juga harus ada di mana-mana.

Mulai terasa wacana-wacana berbenturan di dalam kepala, banyak hal yang sama sekali sulit diterima oleh ‘anti virus keyakinan’ yang lebih dulu ‘terinstall’ di dalam kepalaku. Padahal sudah sejak lama wadah solidaritas seperti SAP ini hadir ditengah-tengah masyarakat yang kudiami. Namun baru kali ini, melalui media film dokumenter berdurasi singkat, wacana-wacana tentang penggusuran, MP3EI, Globalisasi benar-benar kurasa dekat dengan diri saya sendiri. Bahkan, pengalaman meninggalkan kampus pukul 10 malam kali ini tak terasa telat bagiku.  (eL.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: