LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » MAY DAY : HARI KITA

MAY DAY : HARI KITA

Pagi-pagi buta di depan kompleks beberapa tukang becak sedang menanti penumpang dengan semangat yang terlintas di wajahnya. Pegi-pagi buta itu beberapa orang dengan pakaian yang sama bertuliskan nama sebuah perusahaan tengah membersihkan koridor-koridor kampus. Pagi-pagi buta beberapa pedagang kaki lima dengan senyuman menyapa orang-orang yang lewat. Pagi-pagi buta para petani mulai membungkus bekalnya dan berjalan ke sawahnya yang terasa semakin sempit. Pagi-pagi buta para anak kos yang mungkin sengaja lupa makan malam telah menyiapkan dirinya demi menempuh pendidikan yang cukup sulit diakses. Siang hingga sore para buruh, pedagang kaki lima, mahasiswa, tukang becak, dan petani dibawah terik matahari terus berjuang demi apa yang mereka cita-citakan. Sedangkan kita?….pagi-pagi buta kita masih terlelap karena pesta menikmati dunia sedang baik-baik saja. Pagi-pagi buta kita mungkin masih larut dalam lembutnya bantal guling yang merupakan hasil kerja keras dari para buruh yang dieksploitasi di pabrik. Siang hingga sore mungkin kita menikmati hipnotis pusat pembelanjaan dan alienasi terhadap kondisi sosial.

Malam harinya kita mungkin kembali dengan merayakan seolah-olah dunia sedang baik-baik saja. Malam hari mungkin kita sibuk dengan dunia artifisial dan mengutamakan dunia kedua dibandingkan bertatap muka secara langsung. Dan sebelum tertidur, mulut kita tidak dapat lagi mengunyah makanan karena perut ini telah buncit tanpa memerdulikan berjuta-juta perut yang belum terisi malam itu. Di malam yang sama, pedagang kaki lima semakin sulit menutup matanya karena mesti terbangun untuk memastikan bahwa tempat dagangannya tidak rata dengan tanah. Di malam yang sama petani harus berfikir keras agar esok hari saat memanen padi tidak salah langkah dan tertembak oleh tentara yang menjaga sawah milik korporasi. Malam itu para buruh mungkin tidur nyenyak dan berharap tidak terbangun karena kelelahan setelah lebih dari 12 jam bekerja dan tetap terlelap dalam indahnya mimpi. Mereka (pedagang kaki lima, buruh, tukang becak, petani) adalah penopang hidup masyarakat bahkan masyarakat dunia.

Hari ini 1 Mei, sebuah momentum mengingatkan kembali dan ‘stimulus’ untuk tetap berjuang. May Day lahir dari sejarah gerakan buruh Internasional di Eropa dan Amerika akhir 1800-an sebagai kekuatan penyeimbang keserakahan kaum kapitalis, sehingga lahirlah sistem jaminan sosial, upah minimum, pembatasan jam kerja, jaminan keselamatan kerja (Kompas: Rekson Silaban.hal.6). Perjuangan buruh sebenarnya tidak hanya untuk kesejahteraannya, tetapi agar masyarakat dapat menikmati hasil keringatnya dengan nyaman dan baik. Seharusnya kita memaknai May Day sebagai hari kita semua. Petani, Pedagang kaki lima, tukang becak juga merupakan pejuang penopang kehidupan layaknya buruh. Logikanya sederhana, selama ini kita hidup dengan menggunakan hasil keringat bahkan darah para Buruh. Pakaian, makanan, hingga alat komunikasi yang kita gunakan merupakan hasil keringat kerja para Buruh. Melihat buruh terpisah dari diri kita adalah suatu penyangkalan atas diri kita sendiri. Kita lebih mengenal brand produk pakaian dibandingkan berapa lama jam kerja para Buruh, berapa upahnya, bagaimana kesejahteraannya?. Ya..hidup memang begitu timpang.

Selama ini kita lebih mengagumi dan mengenal para pejabat pemerintahan yang sering alpa menjabat kebutuhan buruh. Selama ini pula lewat iklan dan media kita lebih mengenal dan mengapresiasi pengusaha yang tak pernah mengusahakan kebebasan para buruh. Oh ya jangan lupa pejabat pemerintahan 50 % nya dikuasai juga oleh para pengusaha. Hal ini jelas memberikan gambaran ketertindasan buruh, di satu sisi ada pengusaha yang menguasai hajat hidup buruh, disisi lain ada pemerintah yang mengatur regulasi agar buruh tetap berada paling bawah. Negara kita menjadi target empuk para investor, negara ini kaya dengan sumber daya alam dan buruh yang murah dan kualitas pendidikan yang rendah. Belum lagi tingkat pengangguran di Indonesia masih tinggi yang menurut data BPS tahun 2013 bulan agustus sebesar 7,39 Juta jiwa. Tingginya tingkat pengangguran menjadikan buruh lemah dalam bargaining position sehingga menerima saja keputusan pemerintah dan pengusaha. Pilihannya sederhana ‘harus mengikuti aturan perusahaan daripada kehilangan pekerjaan, apalagi pekerjaan di Indonesia sulit’. Hal ini menjadikan pengusaha (the have) semakin menjadi-jadi melupakan kesejahteraan buruh yang menopang hidupnya.

Pengusaha layaknya hero yang datang dan mengatakan ‘kami akan membuka lapangan pekerjaan dan membangun perekonomian negara’. mari melihatnya dengan logika sederhana. Tak ada pemodal yang berbisnis untuk menciptakan lapangan kerja. Mereka berbisnis untuk mendapatkan laba dan akumulasi modal. Itulah motif dan tujuannya. Menciptakan lapangan kerja hanyalah ‘akibat’ dari tujuan akumulasi modal (Herry B. Priyono). Jika tujuannya menciptakan lapangan pekerjaan pasti para pengusaha (pemodal) akan lebih memperhatikan kesejahteraan buruh, toh, kenyataannya tidak. Apalagi tahun depan Indonesia harus menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 ketika hampir semua sekat pasar dibuka. Besar kemungkinan investor asing semakin ‘menjamur’ dan sangat mungkin pekerja(buruh) dari Asia Tenggara juga. Bagaimana posisi buruh Indonesia? bersama tulisan ini kembali mengingatkan dan memompa semangat perjuangan kita dan lebih memaknai bahwa MAY DAY adalah hari kita. Selamat May Day sang penopang Hidup!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: