LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » GELIAT INTELEKTUAL DI PUSARAN KUASA

GELIAT INTELEKTUAL DI PUSARAN KUASA

Penekanan ungkapan Speaking truth to power dalam Representation of the intellectuals, karya Edward Said adalah entry poin untuk merefleksikan bagaimana peran intelektual dalam kisaran kekuasaan di negeri ini. Selain itu adalah Pierre Bourdieu dalam the role of intellectuals today yang juga ikut menarasikan bagaimana seharusnya kalangan intelektual memposisikan diri dalam percaturan kuasa antara representasi Negara dan rakyat. Selain itu yang tak kalah tegasnya adalah Antonio Gramsci seorang aktivis Partai Komunis Italia juga dengan seriusnya menggambarkan bagaimana peran seorang intelektual berposisi dan bertindak di tengah pusaran kuasa yang memang senantiasa menggetarkan mental para intelektual yang mempunyai perbedaan pandangan dengan narasi dominan penguasa yang hegemonic. Pemikiran Gramsci ini terlukis tegas dalam tulisannya The Intellectuals yang dibukukan dalam seri Selection Prison Notebooks. Catatan – catatan Gramsci dari Penjara yang ditulisnya ketika menjalani penahanan rezim Fasis Italia kala itu. Mungkin sangat berharga jika para intelektual di negeri ini menyempatkan diri sejenak untuk bercermin dari ketiga sosok di atas dalam melihat bagaimana mereka berperan atas tanggung jawab social terhadap pengetahuan, skill dan kemampuan lebih yang dimilikinya dalam menghadapi berbagai persoalan di negeri ini. Ketimbang menjadi pelayan rezim kuasa yang merajalela, terkhusus saat ini dimana Indonesia dilanda demam pesta demokrasi.

Image

Edward W Said

Said yang menemukan momentum Intelektualnya di Inggris, Bourdieu yang hidup di tengah hiruk pikuk kehidupan politik Prancis, serta Gramsci yang menyabung pertarungan politik dengan penguasa fasis Italia. Ketiganya pun mempraktekkan perannya sebagai intelektual di ranah yang berbeda. Namun yang menarik adalah selain pemosisian berlawanan terhadap rezim kuasa, ketiga pemikir sekaligus tokoh pemikiran kritis ini terjun dalam geliat perlawanannya terhadap praktik dominasi dan hegemoni rezim penguasa yang dianggapnya menindas, baik secara pemikiran maupun secara fisik.

Said yang berlatar belakang sebagai Kritikus Sastra menemukan bagaimana berkuasanya politik representasi Kebudayaan Istana Inggris melalui para Sastrawannya yang terkenal di saentero dunia. Salah satunya adalah Shakespeare. Said dengan tegas menyatakan bahwa narasi kebudayaan Inggris dalam kacamata Said lewat karya – karya Shakespare adalah narasi istana yang menghegemoni dan menyingkirkan narasi kebudayaan kelas bawah atau rakyat Inggris dan negeri – negeri jajahan Inggris. Penemuan fenomenal itulah yang dituangkan Said dalam Orientalisme sekaligus menandai dimulainya fokus kajian Poskolonial di Negara – Negara bekas jajahan Eropa di seluruh Dunia. Said membuktikan diri sebagai seorang pemikir dan pelawan kuasa yang berani berkata tidak terhadap dominasi kuasa.

Image

Pierre Bourdieu

Bourdieu menampilkan sosoknya yang berbeda sebagai seorang Sosiolog Prancis. Jenuh dengan aktivitas laboratorium yang dirasa memenjarakannya membuat Sosiolog handal di masanya ini terjun ke aktivitas politik massa yang pada saat itu menemukan momentumnya dalam melakukan protes anti perang. Bourdieu meninggalkan peran ilmuwan sosialnya di Universitas yang sudah mapan dan terjun di tengah massa melawan kebijakan anti demokratik pemerintah Prancis. Dan pergulatan politik Bourdieu itulah yang justru semakin mengukuhkannya sebagai seorang intelektual kritis. Salah satunya yang dia sarikan dalam The roles of Intellectual today. Bourdieu mempopulerkan istilah Inteketual Kolektif untuk bertarung menggugurkan mitos – mitos penguasa yang mencari pembenaran untuk melegitimasi kekuasaannya. Setelah itu kampanye dan aksi pendudukan di lapangan juga mesti dilakukan dalam rangka menyabung idealisme dan kebebasan intelektual terhadap tirani kuasa. Begitu pesan Bourdieu untuk para Intelektual.

 

Image

Antonio Gramsci

Lebih maju lagi, Gramsci yang menggabungkan diri di PCI (Party Communist of Italy) membilangkan peran sebagai Intelektual Organik yang berbeda posisi dengan intelektual mekanik. Keberpihakan kepada kelas pekerja adalah fokus Gramsci. Namun Gramsci menyebutnya sebagai peran yang berfungsi sebagai organizer Partai kelas pekerja yang mendedikasikan diri kepada kepentingan hak ekonomi politik kelas pekerja yang terepresi dan terhegemoni.. Dalam kondisi terkepung Gramsci menantang para Intelektual Organik ini untuk menjalankan sebuah strategi yang disebutnya sebagai War of Position yang nantinya bermuara kepada War of Frontal attack (movement) ketika situasi memungkinkan untuk bergerak. Gramsci pun harus merasakan kerasnya jeruji penjara akibat pemikiran dan geliatnya dalam menantang kuasa. Penjara adalah rahim dari karya besarnya, Di penjara pulalah akhir hidupnya dia jumpai.

Dari narasi kisah para intelektual di atas, sudikah para intelektual Indonesia mengambil pelajaran dari keberanian dan komitmen etik seorang intelektual. Talking truth to power yang bermuara pada kedaulatan hak rakyat banyak Indonesia?Ataukah mencoba menyelami apa yang dikatakan Tan Malaka bahwa Siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka dia harus sedia dan ikhlas untuk kehilangan kemerdekaan diri-nya. Pesan itulah yang menegaskan bahwa peran Intelektual adalah peran keberpihakan, keberpihakan mulia dalam geliat kuasa tirani menyabung kemerdekaan diri para Intelektual.

 

Nasrullah

Alumni Universitas Hasanuddin, Fakultas Sastra

Anggota Lingkar Advokasi Mahasiswa Unhas (LAW UNHAS)

Bidang Kajian dan Kebijakan Strategis Simpul Gerakan Anak Negeri (PKP PARI)  

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: