LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » Soal Advokasi adalah Soal Bagaimana Menjadi Pemenang, Bukan Bagaimana Lakon – lakon Akrobatik dan Jargon – Jargon Heroik Dipertontonkan

Soal Advokasi adalah Soal Bagaimana Menjadi Pemenang, Bukan Bagaimana Lakon – lakon Akrobatik dan Jargon – Jargon Heroik Dipertontonkan

Memilih bertarung dalam arena advokasi pihak yang tertindas, terpinggirkan, terdominasi, dan atau terhegemoni oleh penguasa dan perangkat kekuasaan dan kepenguasaannya bukanlah soal gagah – gagahan kata seorang kawan. Yah, benar juga ketika melihat lakon para pemuja jargon antipenindasan yang kadang menghiasi pemandangan jalanan dan demonstrasi di kantor – kantor penguasa di negeri ini. Rakyat kecil yang semakin dikecilkan tentunya tak ingin tahu terlebih jauh apa dan bagaimana style para intelektual yang berada di tengah – tengah mereka ketika perlawanan terhadap suatu kebijakan yang tidak dikehendaki dan merugikan orang banyak dilakukan. Kita sebagai pihak yang terpinggirkan dan tersingkir oleh kebijakan tidak berpihak penguasa tentunya ingin menang dan dituruti sebagai empunya pemerintahan negeri ini. Bukan hanya sekedar untuk di dengar, ditampung, dan kemudian ditindaklanjuti dengan sebuah berita acara penerimaan aspirasi yang nantinya akan dimasukkan ke dalam loker penguasa kalau tidak dijebloskan ke tempat sampah sebagai sesuatu yang tidak berarti.

Problem pertama seorang aktivis ataupun seorang intelektual adalah bagaimana bisa diterima oleh orang banyak yang akan menjadi objek sekaligus subjek dari advokasi. Sebagai seorang intelektual, kita tidak datang sebagai juru selamat akan tetapi sebagai bagian dari orang banyak yang disingkirkan oleh penguasa melalui kebijakan tidak populernya. Misi paling mendasar adalah menang. The will to win. Merefleksi nasehat para jenderal, professor dan nabi – nabi yang membawa dan mewariskan kemenangan bagi para pasukan, public, dan ummatnya membawa kita kepada kompleksitas the way to win tersebut. Keinginan untuk menang dan jalan menuju kemenangan adalah syarat utama yang peta dan perangkatnya harus tersedia dengan mapan. Peta dan amunisi (material serta imajiner) juga adalah hal yang tidak kalah pentingnya. Tekad dan penguasaan terhadap apa yang dibutuhkan dalam bertarung. Para Jenderal, Profesor organic, dan Nabi – nabi telah membuktikannya dalam membawa kemenangan dan keselamatan bersama orang – orang yang sebarisan dengannya.

Lakon para intelektual advokasi adalah lakon para jenderal, professor organic, dan nabi – nabi yang memiliki jiwa the will to win dan menguasai jurus – jurus the ways to win. Keinginan untuk menang dan mengetahui jalan – jalan menuju kemenangan. Memenangkan kasus yang diadvokasi serta bagaimana menata kemenangan untuk terus dipertahankan. Karena untuk apa bertarung kalau hanya untuk menambah daftar kekalahan dan penyesalan. Dan untuk apa juga menang jika setelah menang kita tidak tahu mau berbuat apa lagi dan kemenangan hanya dinikmati dalam catatan sejarah yang singkat. Tidak dinikmati sebagai buah dari perjuangan yang melelahkan dalam jangka waktu yang panjang. Laku yang perlu dihindari dan diminimalisir adalah menjadi bintang di antara redupan masam muka orang banyak di barisan perjuangan advokasi. Mencari ketenaran apalagi keuntungan personal dari para intelektual advokasi. Kita bukan cowboy, apalagi laki – laki/perempuan panggilan yang datang untuk memecahkan masalah atau juru selamat semata dalam sebuah kasus. Rakyat banyak yang mendapatkan perlakuan jahat dari penguasa harus memiliki kepenguasaan (powership) tentang bagaimana menang dan mempertahankan kemenangan. Soal bagaimana itu didapatkan, tugas para intelektual advokasi inilah yang mengintegrasikan diri untuk belajar dan berpraktek bersama bagaimana syarat – sayarat kemenangan dan perangkat menuju kemenangan itu diciptakan. Intervensi memang kadang diperlukan sebagai pihak yang bisa jadi punya kepenguasaan lebih dari rakyat banyak yang ada. Akan tetapi itu dalam rangka meluruskan jalan yang menyimpang di tengah – tengah gemuruh perlawanan yang kadang membutuhkan kendali dari orang yang berpengalaman. Yang tahu dan khatam soal the ways to will tentunya karena integritas dan pengalamannya yang sudah terasah secara praksis.

Kepenguasaan terhadap the ways to win adalah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi. Segala pengetahuan dan skill serta jejaring advokasi haruslah secara istiqomah disiapkan selalu dan diketahuai bagaimana itu dioperasikan. Mengoperasikan teknologi advokasi untuk memenangkan pertarungan terhadap penguasa. Kepenguasaan melawan kekuasaan (powership vis a vis power). Memenangkan adalah soal strategi yang mumpuni. Teknologi (baca; perangkat) yang ter-operasinalisasi secara tepat, dan serangan yang tepat sasaran tepat di jantung lawan (kekuasaan). Jika pertarungan berlangsung lama karena kekuatan dan strategi cenderung seimbang, ada baiknya mengingat kembali ajaran – ajaran Jenderal yang menyarankan untuk menyerang di titik dimana penguasa lemah dan mempertahankan di titik mana kita kuat. Karena menyerang dimana mereka kuat, hanya akan menghabiskan energy dan kemenangan jauh dari jangkauan dan bertahan dimana kita lemah hanya mempermudah penguasa menghabisi bangunan advokasi dan pengorganisasian jangka panjang yang kita lakukan dan siapkan. Tabiat heroik individu dan gagah – gagahan jorgonistik dari para partisipan barisan advokasi sebisa mungkin dihindari jika itu tidaklah dibutuhkan dari situasi yang tengah dihadapi.

Pada akhirnya para intelektual advokasi atau para organizer dengan hasil refleksi kritis dan evaluasi menyeluruh terhadap pergolakan – pergolakan selama ini mestilah kembali ke tujuan awal untuk menang dan mempertahankan kemenangan dengan berbagai jalan yang sudah dirumuskan bersama. Juga dari berbagai pelajaran dari catatan – catatan kegagalan yang pernah menimpa sebelumnya. Para jenderal, professor organic, dan nabi – nabi pun seringkali keliru melangkah. Akan tetapi menemukan kebenaran sejati untuk menang dari kekeliruan kemudian dipraksiskan adalah bukti bahwa tekad pembebasan orang banyak di atas segalanya daripada menyesali dan mencari biang kekeliruan. Juga menghindari pendramatisisran jargonistik sebagai kabut pengabur kekalahan yang menimpa.

The will to win and knowing the ways to win adalah keniscayaan untuk dikuasai oleh para penggiat advokasi dan organizer the oppressed”.

 

Arul Nash

LAKRA Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: