LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Feature News » KETIKA ILUSI KOTA DUNIA KEMBALI MEMBUAT WARGA MAKASSAR MENANGIS PEDIH KARENA DIGUSUR  

KETIKA ILUSI KOTA DUNIA KEMBALI MEMBUAT WARGA MAKASSAR MENANGIS PEDIH KARENA DIGUSUR  

DSC_8393

Dari tanah seberang kulihat lagi dari layar kaca laku aparat Negara menghujamkan peluru senjata dengan pakaian gagahnya kepada warga Pandang Raya Panakukang Kota Makassar. Seorang ibu menangis histeris melihat rumahnya beserta bangunan yang lain dirubuhkan di depan matanya. Warga yang lainpun terlihat menangis dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tanah yang selama ini didiami dan telah dianggapnya sebagai tumpuan hidupnya beserta keluarganya diambil alih oleh Negara untuk diberikan kepada pemodal/pengusaha, atas dasar keputusan pengadilan yang memenangkan penggugat tanahnya seluas kurang lebih empat ribu meter persegi itu. Sang ibu dengan tangisan histerisnya membuka baju di hadapan aparat dan petugas pengadilan yang mengeksekusi tanahnya. Aparat Brimob lengkap dengan tameng dan senjatanya yang dibeli dari uang rakyat itu tak bergeming dengan posisi siaganya untuk menjalankan perintah melihat aksi protes dari seorang ibu yang berlinang air mata dan menangis histeris tersebut.

Sejak tahun 2009 lalu, warga Pandang Raya mempertahankan tanahnya dari gugatan para mafia tanah, pemodal, dan juga pemerintah kota Makassar yang tidak pernah peduli dengan nasib rakyat yang dianggap kecil yang mendiami tanah tersebut. Beberapa kali tindakan penggusuran gagal dilakukan akibat massifnya perlawanan warga beserta beberapa elemen masyarakat yang bahu membahu membangun solidaritas. Upaya mempertahankan tanah sebagai tempat tinggal dan rumah warga, juga wadah mencari nafkah dan tempat yang paling bahagia bagi warga Pandang Raya dalam menjalani hidup bersama keluarga tercintanya.

Jumat, 12 September 2014 ini merupakan hari yang sangat menyedihkan bagi warga Pandang Raya dimana aparat Negara berupa Brimob beserta petugas pengadilan dan preman bayaran yang selama ini juga menjadi kekuatan pemukul kebahagiaan warga oleh persekongkolan para mafia tanah datang menggusur rumahnya. Mengambil alih dari pelukannya yang selama ini erat. Pemerintah kota pun demikian cueknya tak pernah mau tahu soal nasib warganya. Jangankan membela warga, malah membiarkan kejadian ini berlangsung di depan matanya, kalau tidak ingin mengatakan Pemkot juga turut andil di dalam mendalangi penggusuran warga Pandang raya ini. Walikota beserta wakilnya tak tersentuh sedikit pun melihat linangan air mata warga pandang raya. Apalagi sang ibu yang menangis histeris dan rela membuka bajunya saking histerisnya sebagai bentuk protes atas tindakan semena-mena dari aparat dan kekejaman pemerintah Kota Makassar itu yang membiarkan aparat Brimob dan petugas pengadilan menggusur tanahnya.

Selain Walikota, Para Wakil (atasnama) rakyat apalagi. Tak seorangpun yang menampakkan batang hidungnya. Juga tak seorangpun yang peduli terhadap tangisan sedih dan aksi histeris Ibu yang sangat merasakan kesedihan mendalam tersebut karena kehilangan tanah yang selama ini menjadi wadah berbahagia bersama anak dan keluarganya. Memang Ekspansi modal dan penguasa Kota merenggut kebahagiaannya yang tidaklah bermewah-mewah kalau tidak ingin mengatakan sungguh sangat sederhana tersebut, bahkan serba kekurangan. Memang, modal dan kekuasaan serakah adalah bencana besar bagi rakyat banyak di Makassar, terutama bagi kita yang dianggap rantasa’ (kumuh). Tak ada hati nurani apalagi keberpihakan bagi warga kota Makassar yang lemah dan miskin. Semua menghamba kepada modal dan kekuasaan penggusur. Daripada rantasa’, lebih baik digusur untuk bangun mall, hotel dan gedung mewah lain demi Kota Dunia idamannya.

Hari ini, Jumat 12 september 2014 adalah hari dimana Orang tua kami dan saudara kami di Pandang Raya menangis perih di hadapan ketidak-berperikemanusiaannya aparat penggusur rumah dan tanah yang mereka cintai dan pewadah kebahagiaan mereka. Bukan hanya materi yang direnggut, tapi juga kebahagiaan dan kenangan yang dalam juga direnggut habis oleh para mafia pemodal yang terlayani dengan terstruktur, sistematis dan massif oleh pengadilan, kepolisian, walikota beserta jajarannya dan juga para preman bayaran. Aktor-aktor perenggut kebahagiaan dan perusak jantung kehidupan warga Pandang Raya tersebut, bukan hanya tak punya hati nurani yang menunjukkan siri’nya sebagai seorang manusia, tapi juga tidak memiliki jiwa kemanusiaan terhadap sesama(pacce/pesse) dengan warga Pandang Raya yang digusur sebagai sesama warga Makassar, dan Sulawesi Selatan pada Umumnya.

Linangan air mata tak tertahankan. Seduhan tangis terus terjadi. Mau berharap kemana lagi selain kepada sesama yang memliki jiwa solidaritas dan juga perasaan pesse sebagai sesama warga Makassar yang sedikit demi sedikit disingkirkan oleh modal dan penguasa serakah (Walikota dan Wakil Walikota) yang katanya Ana’ Lorong Makassar tapi menggusur Lorong-lorong demi membangun bangunan-bangunan mewah demi menggapai ambisi penuh ilusi menjadikan Makassar sebagai Kota Dunia yang konon berlandaskan kearifan lokal. Bagaimana Bisa Kita sepakat membangun Kota Dunia kalau kerjanya menggusur kiri kanan?. Dan bagaimana juga mau berlandaskan kearifan lokal kalau tidak memiliki siri dalam mengelola pemerintahan. Tidak merasa malu (ma-siri) menjadi pemimpin penghamba modal. Juga tidak memiliki pacce kepada ibu-ibu yang menangis histeris di Pandang Raya dan saudara-saudara kami yang rumah dan arena membahagiakannya tergusur.

Mari menguatkan simpul untuk membuktikan solidaritas kita dalam melawan ekspansi kekuatan modal yang terus menggusur hari demi hari di tiap jengkal tanah warga Makassar.

Siri’ta rigusur mafia tanayya na pammarenta ta ri butta passolongan ceratta Mangkasara. Pacceta ri saribattangta nia rigusurukka balla’ na butta na. 

Kejadian memilukan hari ini selain menimbulkan kesedihan yang mendalam, juga mesti menjadi batu pijakan sejarah perlawanan rakyat miskin Makassar terutama di pandang raya dengan mengevaluasi apa yang telah dilakukan selama ini. Menutup celah yang berongga dan tidak mengulangi kelemahan yang menjadi titik dimana lawan-lawan penggusur itu bisa menembus blockade pertahanan warga yang dijaga selama kurang lebih lima tahun ini.

DSC_8472

Sedih dan pilu serta linangan air mata memang tak terelakkan. Tapi jalan kemenengan harus tetap terus dijajaki. Sumanga’ki amma’ sanggengta’ gappai butta na balla’ta ri mukoa.
Salama’ki, Maradeka.

 

 

Iklan

1 Komentar

  1. akmalashar berkata:

    Reblogged this on khaerul.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: