LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Hari Ini tertanggal 24 September!

Hari Ini tertanggal 24 September!

22-TanahiniKamiPunya-2011

Kepada siapapun yang membaca surat ini,

utamanya diri si penulis surat ini.

Apa kabarmu? Tidak, aku tak mencoba berbasa basi. Aku benar-benar ingin mengetahui kabarmu. Ya..jika engkau tetap mengunci mulutmu, tak apalah..kuharap engkau tetap menguncinya dalam keadaan melengkung (senyum). Oh ya, jika berkenan mari duduk santai sejenak sembari membaca surat yang kutujukan padamu dan diri sendiri. Perkenankan saya menceritakan tentang hariku, boleh?. Ini bukan surat tentang aku, aku, dan aku. Surat ini tentang seorang, beberapa orang, tentang ide-ide, atau katakanlah tentang indahnya hidup. aku hanya menyajikan ‘hariku’ sebagai pembanding saja. Bukan untuk mencari mana yang lebih baik atau canggih layaknya produk sering dibandingkan dengan yang lain untuk mencari pembeli. Perbandingan disini untuk mengingatkanku mungkin juga engkau, menghargai hari.

Pagi-pagi muda, aku telah bersiap menghadapi hari. Mulai hari ini aku berjanji akan bengun lebih pagi, alasannya sederhana, pagi sangat singkat, sungguh!. Entah mungkin karena pohon-pohon yang menyambut pagi dengan embunnya semakin ‘diasingkan’, juga jumlah kendaraan motor berkaki dua atau empat yang ‘beranak-pinak’. Jadi, sebelum pagiku dirampas, aku bersikeras bangun pagi untuk menikmatinya. Tak jauh dari kota, mereka telah bangun lebih pagi, menyiapkan bekal untuk seharian di sawah. Seorang kawan pernah bercerita kira-kira seperti ini “pantas saja ketika kecil dan tidak menghabiskan makanan (nasi), orangtua kita kemudian memarahi, bahkan mencubit, ternyata setelah saya mencoba menanam padi sungguh jauh berbeda dari bekerja dibelakang meja. Menanam padi jauh lebih sulit karena kita harus membungkuk seharian. Anehnya, mereka para petani tak pernah mengeluh, dan kita yang bekerja diruang berAC dan hanya duduk manis sering mengeluh.” Jadi mengenai pagiku dan paginya?, simpulkanlah.

Oh ya, aku tinggal di Makassar sebuah kota besar di Indonesia yang sangat bersemangat menjadi kota dunia. Hari ini seperti hari-hari sebelumnya cuacanya begitu panas, jangan berharap nyaman, dan tenang, engkau pasti akan gelisah dan menjadikan ruang berAC sebagai primadonna. Bagiku, mandi adalah jalan segar menghadapi panasnya cuaca, namun hari ini air tak kunjung mengalir sedari malam tepatnya. Entahlah, mungkin karena ‘korupsi air’ oleh sang pejabat yang ingin dihormati. Ahhhh!!! Teriakku dalam hati dan mengumpat sedalam mungkin. Jika tak ada air, aku tak akan mandi, tak segar, tak bisa berdandan bak bintang film, dan tentunya bau. Di sisi lain, ketika tak ada air mengalir untuk sawahnya, mereka akan pusing tujuh keliling, ah mungkin delapan keliling. Bagaimana tidak pusing, jika air tak ada, mereka akan memberi ‘minum’ apa untuk tanaman-tanamannya yang sedang tumbuh. Jika tanamannya tak tumbuh, maka mereka akan makan apa? Tidak hanya itu, seisi desa dan kota akan makan apa?. Ya…tanaman seperti sayuran, padi, dan lainnya tumbuhnya di desa, jika ke kota (seperti di sini) engkau akan mendapatkan beton yang tertumpuk tertanam. Anehnya di negara ini, meski mereka mati-matian menyediakan pangan, negeri ini bergantung pada 100 persen impor gandum, 78 persen kedelai, 72 persen susu, 54 persen gula, 18 persen daging sapi, dan 95 persen bawang putih (Kompas, Khudori). Jadi, mengenai soal air tak ada, kisah mana yang lebih keren?.

Ketika hendak meninggalkan rumah menuju suatu tempat, aku kembali dibuat kesal dengan jalan dikompleks yang semakin menyempit, dan kemacetan berkepanjangan di jalan raya. Ruang lebih seperti pelebaran jalan atau menggusur tempat sang tak berpunya menjadi ‘solusi cetek’ para pemangku kekuasaan. Ruang lebih dibutuhkan untuk membangun pabrik atau gedung besar, membangun rumah lebih besar dan parkiran untuk 2 atau 3 mobil tiap rumah, juga untuk wadah bagi kendaraan bermotor yang menjamur di jalan raya. Di belahan tempat dan waktu lain, mereka tak pernah menuntut pelebaran lahan (ruang), mereka hanya menuntut tanahnya (mother of life) tidak dirampas. Mereka tak egois sepertiku, tanah mereka tidak hanya dari ibu ke anak cucunya, tetapi tanahnya jauh lebih bermanfaat bagi seisi desa, kota, bahkan dunia. seorang kawan, Ellung yang juga Direktur LAW, bercerita tentang mereka yang dirampas tanahnya tepatnya di Takalar. Kurang lebih seperti ini: “ketika tanah mereka dirampas oleh sebuah perusahaan, seorang ibu harus memutar otaknya agar dapat memberi makan anaknya. Tapi makanan dari mana? Lahannya sudah dirampas. Ketika anaknya meminta makan, sang ibu berpura-pura memasak dengan merebus kerikil sehingga sang anak mengiyakan ibunya sedang memasak. Sembari menanti, sang anak akhirnya ketiduran dan melupakan perutnya yang kosong. Begitulah cara sang ibu menenangkan anaknya. Kisah yang lain, sepasang suami istri harus berjalan kaki sangat jauh dari Takalar ke sungai je’ne berang, Gowa demi bekerja karena lahannya telah dirampas. Kerjaannya adalah mengambil pasir, jadi sang suami menyelam dan akhirnya tuli karena terlalu sering kemasukan air, sedangkan kaki sang istri hancur, kini sepasang pejuang itu telah tiada.”. faktanya, akuisisi lahan pertanian di negara berkembang sejak 2006 mencapai 15 hingga 20 juta hektar atau seluas setengah Eropa yang tujuannya bukan untuk akses pangan rakyat setempat, tetapi untuk kepentingan investor asing (Food Policy Research:2009). Anehnya, meski lahan ku tak dirampas, saya dan mungkin engkau malah menjelma menjadi perampas tanah. Jadi, kisah mana yang lebih, hmmm…buatlah pendapatmu.

Kuharap surat ini dapat menyentuh sanubariku dan sanubarimu, jika belum, bacalah lebih dari sekali, jika masih juga belum tersentuh, tataplah makananmu hari ini, dan bertanyalah darimana asalnya? Siapakah yang menanamnya?. Oh ya, sebelum berlalu, aku ingin menyatakan bahwa hari ini sungguh special, sangat special. Meski tak dirayakan bak pentas musik di acara TV. Hari ini special karena menjadi pengingat dan sumbu utama dalam membagi kebahagiaan dan perjuangan menghapuskan kelaparan, ketimpangan, dan hal lain yang membuat sombong. Hari ini, 24 September 2014 ku ucapkan padamu sang pejuang dan penyelamat, para petani..terima kasih dan bahagialah selalu…

Selamat Hari Tani Nasional

Makassar, 24 September 2014

Abdullah FIkri Ashri (Koord.Riset & Strategis LAW UNHAS)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: