LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » KEKERASAN DI INSTITUSI PENDIDIKAN TINGGI

KEKERASAN DI INSTITUSI PENDIDIKAN TINGGI

poster-kekerasan-birokrasi-2

Kita tidak sedang berada di Universitas ternama dunia atau sekolah-sekolah demokratis yang menawarkan mata pelajaran berdasarkan potensi atau kebutuhan pembelajarnya. Kita sedang berada di Makassar. Tempat dimana anda bisa menemukan kebobrokan moral dan akademis para pengelolanya. Sebut saja kasus pemukulan terhadap mahasiswa yang melakukan aksi protes di Rektorat Unhas oleh satpam 2013 lalu. Kisah serupa juga menghampiri UNM (Universitas Negeri Makassar) dan UIN (Universitas Islam Negeri). Hanya karena mengenakan sandal, seorang mahasiswa ditampar oleh Dekan di salah satu fakultas di UNM.

Di UIN—23 Oktober lalu—mahasiswa yang sedang melakukan aksi protes terkait pelarangan prosesi pengaderan direpresi oleh aparat keamanan, dalam hal ini Satuan Pegamanan kampus yang menurut keterangan mahasiswa UIN adalah preman-preman yang bermukim di sekitaran wilayah kampus. Mereka dipukul sampai berdarah, diancam dengan pistol dan senjata tajam. sedikitnya 13 orang mengalami luka-luka. Lalu, apa yang terjadi terhadap para pelaku tindak kekerasan tersebut? Hukuman? Tak pernah sedikitpun mereka mendapatkan hukuman. Justru, terindikasi, tindakan represif itu adalah instruksi dari pimpinan universitas, berdasar pada fakta bahwa pada saat aksi pemukulan terjadi, para pimpinan universitas di UIN sedang berada di lokasi dan melihat langsung aksi pemukulan brutal oleh satpam kampus.

Pun begitu, dengan pemberitaan di media yang mengabarkan bahwa semua itu terjadi akibat ulah mahasiswa yang berkata kotor kepada satpam, sedang kenyataannya tak satupun mahasiswa yang berkata demikian. Inikah wajah pendidikan tinggi saat ini? Mempraktekkan tindakan kekerasan di ruang akademis? Uniknya, kalau mahasiswa yang melakukan kesalahan lantas disangsi skorsing atau DO, bila dosen atau satpam yang melakukan kesalahan tidak pernah ada langkah serius dari pihak universitas untuk menindaki si pelaku, malah berupaya melindunginya. Dari sini, asumsinya sangat jelas bahwa posisi universitas dalam menentukan keberpihakannya ketika menangani kasus internal mereka. Sangat diskriminatif dan tidak memperlihatkan sikap intelektuilnya sebagai akademisi. Benar saja jika pendidikan kita tidak beranjak dari posisi 109 dari 137 negara. Pasalnya, para pendidik tidak mendidik dengan cara ‘baik-baik’, kita dididik dengan cara barbar, dituntut patuh dan seragam. Sungguh kasihan! Kampus ibarat sebuah penjara yang didalamnya orang tak mampu melakukan apa-apa.

Olehnya itu, kami mengecam segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan di dalam kampus. Kami menuntut agar pelaku tindak kekerasan dihukum dan diadili sesuai prosedur hukum yang berlaku. Sebagai ruang ilmiah, kampus seharusnya menjadi tempat dimana perbedaan pendapat dan pertentangan argumen dapat dikelola secara ilmiah dan dengan cara-cara yang etis dan akademis, bukan dengan tindakan-tindakan barbarian, premanisme, intimidasi, dan kekerasan akademik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: