LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » MAL, SEGREGASI, DAN AKUMULASI PERAYAAN WAKTU LUANG

MAL, SEGREGASI, DAN AKUMULASI PERAYAAN WAKTU LUANG

“Hanya seseorang yang memiliki lebih banyak waktu luang-lah yang mampu menjadi seorang filsuf”.

Kalimat itu diucapkan oleh Plato, seorang filsuf idealis asal Yunani. Di masa itu, waktu luang lebih banyak dinikmati oleh kalangan aristokrat yang tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk bekerja. Olehnya itu, waktu luang banyak dihabiskan untuk berkontemplasi atau memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan manusia lazimnya. Bahkan, filsuf sebelum Plato masih sibuk memperdebatkan ihwal apa unsur terpenting di bumi: air, tanah, matahari ataukah udara. Sekolah di masa itu juga dianggap sebagai waktu luang.

Jauh ke depan, di era kolonialisasi Belanda di Indonesia tepatnya, makna waktu luang semakin digeser. Beredarnya Societ de Harmonie—yang biasa digunakan sebagai tempat berpesta orang Belanda—turut merubah habitus orang pribumi untuk ikut tenggelam ke dalam kolam gaya hidup a la Barat.

Dampak dari peniruan (mimicry) itu berlanjut hingga era sekarang. Waktu luang semakin beralih menjadi nilai-tukar yang semakin kehilangan gunanya. Karena waktu adalah uang, maka setiap detik, menit, dan jam dari hembusan nafas manusia harus bisa ditransformasikan menjadi uang.There is no such thing as free lunch.

Jika di negara besar seperti Amerika orang-orang telah jenuh dengan hiruk-pikuk, kerlap-kerlip kota dan memutuskan untuk menghabiskan waktunya ke wisata alam atau ke negara dunia ketiga, orang-orang di negara dunia ketiga seperti Indonesia justru sibuk berduyun-duyun berwisata ke kota.

Tak dapat dipungkiri, kota memiliki daya sihir dan ekstasi bagi para pemukimnya, khususnya para transmigran. Di kota kita bisa bertemu dengan berbagai macam hiburan seperti Bioskop, Ice Skating, dan lain-lain. Semua hiburan itu tersedia secara lengkap dan tidak gratis di pusat perbelanjaan bernama Mal. Hampir semua kebutuhan kita tersedia disana, dari yang primer sampai diatas tersier.

Mal ibarat regulasi yang harus ditaati oleh setiap kota. Baik kota besar maupun kecil. Tak ada mal, maka tak ada pajak pemasukan bagi negara. Tak ada pemasukan maka Gross Domestic Product(GDP) semakin rendah. Artinya, tingkat kesejahteraan negara itu rendah.

Di Makassar, Sulawesi Selatan misalnya, Mal benar-benar telah menjadi ekstasi. Menurut data yang dikeluarkan oleh PT.GMTD—yang dilansir dalam buku Sosiologi Waktu Senggang karya Muhammad Ridha—pengunjung Mal di Makassar mencapai tiga sampai empat kali lipat dari jumlah penduduk kota Makassar (sekitar 1,3 juta jiwa). Sebuah anomali agaknya.

Desain dan penempatan gerai perbelanjaan di Mal pada umumnya hampir seluruhnya sama. Bila ditinjau dari kaca mata semiotika sosial, ada pemisahan atau pengelompokan identitas suatu kelompok dalam satu ruang yang sama, dalam hal ini, tata letak gerai perbelanjaan di Mal, yang disebut oleh Theo Van Leeuwen sebagai ‘segregasi’.

Mari sedikit berimajinasi. Saya yakin hampir semua dari kita pernah berkunjung ke Mal yang ada di Makassar. Di sepanjang bagian pinggir lantai 1 Mal, umumnya diisi oleh gerai fast-food. Seperti, KFC, Mcdonald, J-co, Aw, Dunkin Donnuts, dan Starbucks. Lebih jauh lagi masuk ke dalam, kita akan menemukan penjual handphone, pakaian, sepatu, jam dan berbagai kebutuhan masyarakat modern lain.

Di lantai 2, ruang perbelanjaan hampir sepenuhnya dikuasai oleh gerai pakaian ternama. Semisal, Planet Surf, Point Break, Wrangler, dan masih banyak lagi. Naik lagi ke lantai 3, kita akan menemukan sekelompok anak muda, kadang juga orang tua, utamanya wanita, menghabiskan banyak waktunya untuk mempercantik diri di salon.

Selain itu, ada juga sekelompok anak muda yang mencibir dinginnya bongkahan es raksasa dalam permainan Ice Skating. Wahana bermain anak-anak atau Timezone juga terdapat disana. Tak jauh dari situ, bioskop turut hadir dengan tayangan film horror seksualnya. Terakhir, ada toko buku yang saban hari ramai dikunjungi remaja galau untuk mencari roman cinta, buku motivasi atau novel best-seller.

Setelah diperhatikan secara seksama dengan tempo yang sesingkat-singkatnya, semakin naik ke lantai atas Mal, menandai semakin banyak waktu luang yang dimiliki orang tersebut ketika berkunjung ke Mal. Menurut saya, penempatan ruang dalam Mal juga didasari oleh asas kebutuhan dan keinginan banyak orang umumnya.

Mengapa gerai perbelanjaan itu harus disegregasi sedemikian rupa? Apakah hanya untuk memisahkan identitas kelompok semata dalam satu ruang yang sama? Atau ada hal lainnya?

Coba bayangkan jika gerai fast-food diletakkan di tempat paling atas dan toko buku diletakkan di paling bawah. Seorang pekerja kantoran—pengunjung Mal pada umumnya yang telah memiliki gaji dan waktu luang sedikit—harus berjalan kaki lebih jauh naik turun eskalator demi memenuhi kebutuhan(?) dan memuaskan keinginannya. Sedangkan ABG jomblo galau tak perlu repot naik turun tangga demi memuaskan hasrat berbelanjanya. Olehnya itu, Timezone, toko buku dan salon harus diletakkan di lantai 3 karena ruang seperti itu diperuntukkan khusus bagi mereka yang memiliki banyak waktu luang.

Demikianlah ruang-ruang itu harus dirampatkan dan disegregasi. Dengan tujuan, mereduksi waktu berbelanja manusia untuk berbelanja ke titik lainnya. David Harvey menyebutnya sebagai penciptaan ekonomi ruang. Dimana setiap pertukaran barang, jasa maupun tenaga kerja, memiliki gerak spasialnya tersendiri danterkadang berinteraksi dalam satu ruang yang sama.

Dalil penciptaan ekonomi ruang yaitu waktu harus terus menerus dipadatkan (Turn-Over-Time). Jarak antara ruang satu dengan yang lain harus dipangkas. Semakin cepat waktu bergulir, semakin pendek friksi ruang maka semakin banyak pula keuntungan yang diraih. Maka dari itu, sebisa mungkin ruang harus dibuat lebih Flexibel, atau dalam bahasa Harvey disebut ‘Flexible Accumulation’.

Di ranah produksi(Mode Of Production), ‘Flexible Accumulation’ dapat dilihat dari pemanfaatan teknologi dengan mengurangi jumlah tenaga kerja. Sehingga sebuah perusahaan tak perlu lagi membayar mahal tenaga pekerja. Atau dengan konsep ‘pekerja tetap’ dan ‘pekerja marjinal’ yang memiliki keahlian tertentu dan bersifat ad-hoc.

Di ranah konsumsi(Mode Of Consumption), ‘Flexible Accumulation’ ditandai dengan hadirnya gerai-gerai eceran. Sebut saja seperti Drive-thru yang disediakan oleh makanan cepat saji. Juga tata letak ruang dalam Mal sebagaimana dijelaskan diatas. Lagi, semuanya demi kepentingan percepatan akumulasi kapital.

Pada akhirnya, manusia ditengah kerumanan sensasi, dan gengsi kehilangan kesadaran atas ruang, waktu dan materi. Kita tak lagi berkuasa atas ruang dan waktu yang kita miliki. Mengutip bahasa Alwy Rachman “Hadir secara fisik luput secara epistemologik”. Secara tidak sadar kita telah ter-segregasi dalam dunia yang kita jalani sehari-hari: ruang publik disediakan khusus sesuai dengan identitas kelompok dan siapa yang berkepentingan atasnya. Segregasi, memisahkan manusia yang satu dengan manusia lain.

“Hanya seseorang yang memiliki lebih banyak waktu luang-lah yang mampu menjadi seorang filsuf”. Plato was wrong.

Bacaan Pemerkaya

Baudrillard, Jean. 2013. Masyarakat Konsumsi. Kreasi Wacana. Jogjakarta.

Ridha, Muhammad. 2012. Sosiologi Waktu Senggang. Resist Book. Jogjakarta.

Van Leeuwen, Theo. 2005. Introducing Social Semiotics. Routledge Book. New York.

Ruang dan Waktu dalam pemikiran David Harvey. Oleh Virtuous Setyaka dalam www.Indoprogress.com

OLEH : HARRY ISRA M

*Tulisan ini merupakan tugas akhir mata kuliah Semiotika Sosial yang diampu oleh Alwy Rachman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: