LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » MARXISME POSKOLONIAL; Sebuah Manifesto Perjuangan Negeri – Negeri (Bekas) Terjajah  

MARXISME POSKOLONIAL; Sebuah Manifesto Perjuangan Negeri – Negeri (Bekas) Terjajah  

“Kaum Tertindas di Negeri – Negeri (Bekas) Terjajah, Bersatulah!”

Ingat, kita ini masih terjajah, daripada saling sikut lebih baik bersatu!

Marxisme Poskolonial merupakan manifestasi dari pendiskusian yang berkembang dari berbagai kajian yang menekankan bagaimana praksis dari teori – teori social kebudayaan masyarakat kontemporer. Sesuatu yang sebenarnya bisa dikatakan tidaklah baru, namun dapat dikatakan memiliki kebaruan dari segi cara pandang maupun praksis. Teori dan praktik. Kenyataan bahwa kapitalisme lanjut yang sampai pada monopoli capital keuangan global kepada segelintir korporasi global raksasa adalah benar. Bahwa Negara dan lembaga internasional turut mejadi kaki tangan kelompok korporasi kapitalisme global yang kita kenal dengan neoliberalisme  juga benar. Namun yang tidak dapat dilupakan pula adalah bahwa Negara – Negara bekas kolonial yang pernah dilanda revolusi nasional kemudian sebagian besar digulingkan dan mengarah kepada dictator militer juga benar. Dan otoritarianisme dibawah rezim militer bekingan kapitalisme global ini ikut memapankan penguasaan korporasi raksasa global milik kapitalis internasional juga benar. Bahkan lembaga internasional seperti PBB pun tidak mampu berbuat banyak jika tidak ingin mengatakan ikut menjadi alat pelegitimasi kekuasaan kapitalis global yang menindas warga dunia juga benar. Juga sulit memungkiri bahwa Negara – Negara maju seperti Amerika dan Uni Eropa serta Britania Raya dan negeri persemakmurannya pun juga berada di bawah ketiak kendalinya.

Lantas bagaimana dengan Negara – Negara yang sering dilabeli dunia ketiga di tengah – tengah kekuasaan kapitalisme global ini? Bahwa Marxisme dengan berbagai wujud praksisnya telah menghadang kapitalisme global ini secara praksis adalah benar juga. Meski tidak sepenuhnya dapat diklaim bahwa apa yang ada di Negara – Negara bekas jajahan kolonialisme Eropa dan Amerika yang terlambat menjadi colonial (neokolialis) yang melakukan perlawanan adalah buah dari Marxisme itu semata dalam ranah praksis. Dengan demikian, pengaruh dari teori marxisme itu sendiri juga tak dapat dipungkiri. Marxisme lah yang secara teori telah menghadang laju kapitalisme ini sebagai buah dari revolusi Industri Eropa yang diakselerasi oleh kolonialisme Eropa abad 17 sampai paruh kedua abad 20. Komunisme dan atau sosialisme adalah wujud ideology praksis dari Marxisme ini. Di Negara – Negara jajahan Eropa sekalipun panji – panji Marxisme menggema seiring dengan perjuangan nasionalisme yang menjadi bendera perjuangan melepaskan diri dari jajahan colonial.

Poskolonialisme sebenarnya secara praktik sudah ada sebelum menjadi sebuah paham atau cara pandang yang didengungkan secara akademis. Hasrat ingin lepas dari belenggu kolonialisme dan bekas colonial dari segi politik, budaya dan ekonomi spirit utamanya. Namun, lamanya colonialism Eropa menanamkan ajaran dan keuasaannya di Negara – Negara jajahan menjadikan poskolonialimse merupakan perjuangan panjang dan menguras pikiran tenaga bagi Negara – Negara bekas jajahan. Kedirian bekas jajahan adalah salah satu penguatnya. Nasionalisme yang juga merupakan produk barat telah diadopsi untuk melawan barat itu sendiri sebagai kolonialis. Nasionalisme dan Marxisme inilah yang dapat dikatakan sebuah pertautan mesra yang membuat beberapa Negara – Negara jajahan mampu memberikan pukulan jitu meski tidak sepenuhnya mematikan bagi para kolonialis atau penjajah di Negara – Negara yang dilabeli dunia ketiga oleh bangsa Eropa. Mayoritas berada di Asia Afrika dan Amerika Selatan. Spirit Islam dan Agama/kepercayaan lain juga tak dapat dipungkiri menjadi spirit dalam pembebasan nasional beberapa Negara jajahan untuk merdeka secara politik namun tidak sepenuhnya secara ekonomi dan budaya dari penjajahnya.

Marxisme harus diakui sebagai penghadang maupun lawan terbesar kapitalisme yang sama – sama datang dari Belahan dunia Eropa. Meski harus diakui bahwa Negara – Negara terjajah pun dari belahan Asia Afrika dan Amerika Latin ikut mengadopsinya karena kemampuan Marxisme secara teoritik dan tawaran praktik perjuangannya yang juga sudah teruji mampu melepaskan umat manusia dari penindasannya oleh kapitalisme itu sendiri. Sebut misalnya di Negara – Negara Amerika Selatan  sekarang ini. Identitas sebagai Orang Suku Maya (Indian) dan atau juga sebagai manusia Amerika Latin menjadi spirit persatuan. Dalam persatuan berdasarkan ras terjajah ini menggandeng ajaran Marxisme yang juga disokong oleh Teologi Pembebasan Gereja mejadikan gelombang revolusi di negeri – negeri selatan Benua Amerika ini melawan domonasi dan Hegemoni Korporasi – korporasi global milik  kelompok kapitalis ini di tanah – tanah leluhurnya.

Adanya politik identitas yang membonceng Marxisme dan Teologi pembebasan ini menjadi sebuah hubungan mesra nan membahagiakan dalam melawan dominasi dan hegemoni kapitalisme global dengan beberapa kekuatan penyokong dan pendukungnya ini. Isu tentang solidaritas identitas (ras dan agama) yang seringkali dinilai sebagai biang konflik social ternyata bisa juga menjadi pemersatu di Negara – Negara bekas jajahan. Ras/etnisitas yang sejak dulu menjadi alat pemecah belah ala colonial mampu disatukan dengan menggandeng Marxisme sebagai alat bedah dan alat pukul kepada kapitalisme di Negara – Negara bekas jajahan. Adalah naïf ketika hanya melekatkan Marxisme sebagai ajaran yang hanya anti agama (atheis) tanpa melihat potensi revolusionernya, dan juga sangat egois pula jika menegasikan kedirian ras/etnisitas serta agama/kepercayaan sebagai inspirasi persatuan dan perubahan social dalam melawan dominasi dan hegemoni kapitalisme global yang menindas selama berabad – abad umat manusia dewasa ini. Simponi dari harmoni yang indah yang bisa berujung kepada kebahagiaan umat manusia tertindas bukan tidak mungkin lahir dari kemampuan memadukan Marxisme dengan kedirian identitas bangsa – bangsa bekas jajahan yang secara ekonomi dan kebudayaan bahkan politik pun masih terbelenngu oleh dominasi dan hegemoni kapitalisme global. Daripada menjadi alat saling memukul sesama manusia menderita, alangkah baiknya jika saling merangkul dan membangun simpul kuat mengusir kapitalisme yang disadari bersama telah merusak kesejahteraan dan kebahagiaan yang selama ini diimpikan oleh semua umat manusia di semua belahan dunia ini. Perubahan yang lahir secara diskursus maupun secara struktur di ranah social. Semua berawal dari teori yang diikuti oleh praktik secara istiqomah (konsisten/setia), fidelity to the moment of the truth kata Alain Badiou.

Pada akhirnya di negeri – negeri bekas kolonialisme Eropa yang sebagian besar hari ini masih mengalami penderitaan akut akibat penjajahan kapitalisme global dapat menjadikan Marxisme Poskolonial sebagai Manifesto Perjuangan melawan penjajahan Ekonomi Politik dan Kebudayaan oleh Kapitalisme Global yang menjadikan Negara – Negara maju yang sebagian besar bekal kolonialis beserta Lembaga Internasional dan intelektual hasil didikannya sebagai penyokong dan kaki tangannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: