LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » 2015 » April

Monthly Archives: April 2015

MALAPETAKA DI INDONESIA: SEBUAH REFLEKSI ATAS PENGALAMAN SEJARAH GERAKAN KIRI

malapetaka-coverJudul buku: Malapetaka di Indonesia

Penulis: Max Lane

Penerbit: Djaman Baroe

Tahun Terbit: 2012

Halaman: 114 halaman

Barangkali diantara kalian pernah membaca atau menyaksikan film The Giver? Film dengan lanskap masyarakat totaliter yang “setara”, dan sama rata sama rasa. Jika kalian lahir dan tinggal di tempat itu, bersiaplah untuk kehilangan kenangan. Sebab di tempat itu, masyarakat hidup tanpa masa lalu. Begitulah yang hendak dilakukan rezim Orde Baru pimpinan Soeharto selama kurang lebih 33 tahun.

Jika masyarakat dalam The Giver dilarang mengenal “cinta”, maka masyarakat Indonesia dilarang mengenal “komunisme”. Seluruh memori tentang gerakan perlawanan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan gerakan kiri lain atas penjajahan Belanda maupun Amerika untuk mengeruk kekayaan alam negeri kita mesti dihapuskan, kalau perlu dibuang jauh-jauh kedalam tong sampah. Juga, harus terlihat sebagai momok yang menakutkan, kejam dan keji.

Tentu kalian ingat buku pelajaran sejarah yang kita konsumsi di sekolah-sekolah, bukan? Atau film yang saban akhir September diputar di layar kaca kita? Keduanya memuat pesan yang sama: bahwa komunisme, dalam hal ini, Partai Komunis Indonesia adalah dalang dari pembantaian para Jenderal Angakatan Darat? Itu sebab, di buku sejarah kita persitiwa tersebut bernama G30S/PKI, bahkan ditetapkan dalam TAP/MPR/1966 kalau komunisme, Marixisme dan Leninisme terlarang di Indonesia.

Dalam tulisan ini, kami bukan ingin membahas panjang lebar tentang rentetan kronologis peristiwa G30S, meski nantinya akan dibahas beberapa bagian. Tulisan singkat ini merupakan hasil review dari buku, atau lebih tepatnya kumpulan esai, tentang pengalaman sejarah gerakan kiri. Sebuah buku berjudul Malapetaka Di Indonesia yang ditulis oleh sejarawan asal Australia, Max Lane. Buku ini ialah hasil refleksi sekaligus analisis kritis atas kontradiksi-kontradiksi gerakan kiri Indonesia yang dimotori oleh aliansi Soekarno dan Partai Komunis Indonesia dan perkembangan gerakan kiri baru.

Akan tetapi, dalam tulisan ini penulis hanya membatasi refleksi dan kritik Max Lane atas gerakan kiri di era Soekarno dan PKI. Sebab Lane sendiri kurang menganalisis kontradiksi-kontradiksi gerakan kiri baru di Indonesia. Lalu kontradiksi macam apakah yang terdapat dalam gerakan Soekarno-Aidit, dkk?

(lebih…)

Iklan

MEMBINCANG KEKUASAAN

*Edisi Kajian Kader Progresif

sumber: politik kompasiana

sumber: politik kompasiana

Kekuasaan, kata ini seringkali menghiasi diskusi maupun orasi para aktivis pergerakan maupun aktivis politik dalam berbagai kesempatan. Dalam kajian ilmu sosial humaniora, kekuasaan atau yang sering pula disebut dengan kuasa ini biasanya dibagi ke dalam dua ranah kajian. Pertama, kekuasaan dilihat secara terpusat dimana imperium (empire) dianggap sebagai pusatnya. Kedua, kekuasaan dilihat secara tersebar, dimana kepemilikan kapital (modal ekonomi, budaya, sosial, dan simbolik) adalah faktor penyebar kekuasaan tersebut. Defenisi kekuasaan yang pertama sering mengiblatkan diri kepada pemikir politik dan muslihat militer Nicolo Machiavelli, sementara yang kedua mengkiblatkan diri kepada pemikiran Michael Foucault. Keduanya berasal dari tradisi pemikiran Eropa. Machiavelli adalah penasehat Keluarga Medici yang berkuasa di Italia sekitar abad 14 di awal Renaisance, sementara Foucault adalah sarjana Prancis yang tumbuh di paruh kedua abad 20. Keduanya memiliki kesamaan dalam hal mengupas kejamnya kekuasaan, namun berbeda dalam memandang bagaimana kekuasaan tersebut bekerja dan melanggengkan diri. (lebih…)

MEREFLEKSI GERAKAN SOSIAL KITA

Mereka Yang Berjuang adalah Mereka yang Setia pada Cinta dan Cita – citanya.

(Kutipan dari seorang Pujangga Progresif)

                Dalam dikotomi ilmu sosial kritis, gerakan sosial diidentikkan sebagai gerakan yang lahir dari elemen dari masyarakat sipil. Sementara gerakan politik yang seringkali diidentikkan kepada elit atau masyarakat politik adalah dikotomi lain yang dialamatkan untuk membedakannya dengan gerakan sosial. Gerakan sosial seringkali pula diidentikkan dengan tiga perspektif yang menjadi landasannya. Terutama dengan kemunculan gerakan sosial baru. Ketiganya adalah perspektif kelas, ras, dan gender. Dari ketiganya tersebut, seringkali juga dilirik oleh para ilmuwan sosial humaniora yakni gerakan mahasiswa (student movement). Gerakan mahasiswa sering pula dimasukkan ke dalam ranah gerakan sosial karena kehadiran dan dampak sosialnya yang kadang menentukan tumbang bangkitnya sebuah rezim, juga karena aktivitas politiknya yang cenderung menjadi bagian dari elemen gerakan masyarakat sosial ketimbang gerakan yang diprakarsai oleh masyarakat politik. Meskipun demikian gerakan mahasiswa tak jarang pula mendapatkan kritik bahkan nada kekecewaan dalam perjalanan sejarahnya. Gerakan mahasiswa yang seringkali bersifat elitis dengan menegasikan elemen gerakan lain yang tiga di atas tersebut yang sering menuai kritik. Apalagi jika gerakan mahasiswa tersebut adalah bagian dari gerakan politik elit yang bermanuver di halaman depan kekuasaan rezim yang sedang berkuasa. Disitulah gerakan mahasiswa tak luput dari kecaman keras dari elemen gerakan sosial yang seharusnya bertalian dengannya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat banyak dalam agenda perubahan sosial yang berpihak kepada rakyat banyak pula.

Idealisasi gerakan sosial dimana Mahasiswa termasuk di dalamnya adalah bersatunya setiap elemen yang ada. Jadi tak ada eksklusivitas yang lahir dari pengidentifikasian diri superior terhadap elemen gerakan sosial yang lain. Target perubahan sosial yang diidamkan gerakan sosial adalah tujuan utamanya. Bukan klaim superioritas dan rasa bangga terhadap bendera kelompok yang ber-gersos. Dalam posisi demikian, hal yang dibutuhkan tentunya adalah adanya keterhubungan dan sikap saling menopang satu sama lain dengan kontradiksi pokok yang dihadapi elemen masing – masing. Dalam perspektif kelas, petani dan buruh tentunya memiliki kontradiksi dengan pemodal dan tuan tanah besar. Dalam perspektif ras/etnis, kelompok – kelompok minoritas dan terpinggirkan berkontradiksi dengan mereka yang mayoritas dan meminggirkan. Meski kita harus membedakan mana minoritas dominan, mana minoritas subordinat dengan kontradiksi yang dialaminya masing – masing. Hal tersebut tentunya harus memiliki analisa yang berbeda dalam mengidentifikasi keberpihakan nantinya. Sementara untuk persoalan gender, kontradiksi perempuan dan laki – laki di alam kapitalisme global hari ini juga memiliki kontradiksinya tersendiri. Terkhusus relasi perempuan dan laki – laki di negeri dunia ketiga yang kita diami ini. Begitupula dengan Mahasiswa itu sendiri, mengalami kontradiksi dengan rezim kekuasaan yang mendominasi kehidupan kampusnya masing – masing. Semuanya membutuhkan pemetaan dan analisa yang tak bisa dilihat dengan kelurusan cara pandang tanpa dialektika yang matang. (lebih…)

%d blogger menyukai ini: