LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » MEREFLEKSI GERAKAN SOSIAL KITA

MEREFLEKSI GERAKAN SOSIAL KITA

Mereka Yang Berjuang adalah Mereka yang Setia pada Cinta dan Cita – citanya.

(Kutipan dari seorang Pujangga Progresif)

                Dalam dikotomi ilmu sosial kritis, gerakan sosial diidentikkan sebagai gerakan yang lahir dari elemen dari masyarakat sipil. Sementara gerakan politik yang seringkali diidentikkan kepada elit atau masyarakat politik adalah dikotomi lain yang dialamatkan untuk membedakannya dengan gerakan sosial. Gerakan sosial seringkali pula diidentikkan dengan tiga perspektif yang menjadi landasannya. Terutama dengan kemunculan gerakan sosial baru. Ketiganya adalah perspektif kelas, ras, dan gender. Dari ketiganya tersebut, seringkali juga dilirik oleh para ilmuwan sosial humaniora yakni gerakan mahasiswa (student movement). Gerakan mahasiswa sering pula dimasukkan ke dalam ranah gerakan sosial karena kehadiran dan dampak sosialnya yang kadang menentukan tumbang bangkitnya sebuah rezim, juga karena aktivitas politiknya yang cenderung menjadi bagian dari elemen gerakan masyarakat sosial ketimbang gerakan yang diprakarsai oleh masyarakat politik. Meskipun demikian gerakan mahasiswa tak jarang pula mendapatkan kritik bahkan nada kekecewaan dalam perjalanan sejarahnya. Gerakan mahasiswa yang seringkali bersifat elitis dengan menegasikan elemen gerakan lain yang tiga di atas tersebut yang sering menuai kritik. Apalagi jika gerakan mahasiswa tersebut adalah bagian dari gerakan politik elit yang bermanuver di halaman depan kekuasaan rezim yang sedang berkuasa. Disitulah gerakan mahasiswa tak luput dari kecaman keras dari elemen gerakan sosial yang seharusnya bertalian dengannya dalam memperjuangkan kepentingan rakyat banyak dalam agenda perubahan sosial yang berpihak kepada rakyat banyak pula.

Idealisasi gerakan sosial dimana Mahasiswa termasuk di dalamnya adalah bersatunya setiap elemen yang ada. Jadi tak ada eksklusivitas yang lahir dari pengidentifikasian diri superior terhadap elemen gerakan sosial yang lain. Target perubahan sosial yang diidamkan gerakan sosial adalah tujuan utamanya. Bukan klaim superioritas dan rasa bangga terhadap bendera kelompok yang ber-gersos. Dalam posisi demikian, hal yang dibutuhkan tentunya adalah adanya keterhubungan dan sikap saling menopang satu sama lain dengan kontradiksi pokok yang dihadapi elemen masing – masing. Dalam perspektif kelas, petani dan buruh tentunya memiliki kontradiksi dengan pemodal dan tuan tanah besar. Dalam perspektif ras/etnis, kelompok – kelompok minoritas dan terpinggirkan berkontradiksi dengan mereka yang mayoritas dan meminggirkan. Meski kita harus membedakan mana minoritas dominan, mana minoritas subordinat dengan kontradiksi yang dialaminya masing – masing. Hal tersebut tentunya harus memiliki analisa yang berbeda dalam mengidentifikasi keberpihakan nantinya. Sementara untuk persoalan gender, kontradiksi perempuan dan laki – laki di alam kapitalisme global hari ini juga memiliki kontradiksinya tersendiri. Terkhusus relasi perempuan dan laki – laki di negeri dunia ketiga yang kita diami ini. Begitupula dengan Mahasiswa itu sendiri, mengalami kontradiksi dengan rezim kekuasaan yang mendominasi kehidupan kampusnya masing – masing. Semuanya membutuhkan pemetaan dan analisa yang tak bisa dilihat dengan kelurusan cara pandang tanpa dialektika yang matang.

sumber: Dokumentasi LAW Unhas

sumber: Dokumentasi LAW Unhas

Meneropong Ranjau dan Virus Gersos

               Masuknya elemen mahasiswa dalam kategorisasi elemen gerakan sosial menjadikan gerakan Mahasiswa berada pada dua tugas pokok dalam menjalankan tugas sucinya dalam rangka mewujudkan perubahan sosial yang demokratis dan mensejahterakan. Di satu sisi kampus yang kian digerogoti virus privatisasi dan komersialisasi sampai melahirkan pengekangan dan penjinakan yang menjerumuskan mahasiswa ke dalam liang logika kapital yang menyilaukan. Di satu sisi kondisi sosial di luar kampus yang juga menjadi tanggung jawabnya dan akan dimasukinya kelak juga semakin carut marut. Dalam posisi dan kondisi demikianlah Mahasiswa berada pada posisi dan kondisi yang menuntutnya bekerja ekstra keras dan tak kenal lelah jika cita – cita perubahan yang lebih baik esok hari tetap ingin digapai. Tak ada pilihan lain selain mengeratkan ikat pinggang, menguatkan simpul kekuatan, lalu bekerja keras membangun, menata, dan merawat gerakan sosial di lingkup kampus dan di luar kampus tentunya. Keduanya mestilah berjalan bersama.

Kondisi hari ini dimana kampus terasa sudah sangat jinak dan tak lagi menggigit ketenangan kekuasaan menjadi pertanyaan besar bagi kalangan intelektual progresif yang menikmati fasilitas keilmuan di berbagai kampus di negeri kita ini. Apa yang terjadi dan sedang dilakukan oleh Mahasiswa hari ini? Apakah terepresi atau terjinakkan? Apakah larut dengan fasilitas dan kooptasi yang ada atau sedang dibisukan oleh budaya populer? Ataukah sudah menjadi robot siap pakai dengan dehumanisasi dan penonaktifan daya kritis melalui teknologi pendidikan yang sedang berlangsung secara terstruktur, sistematis dan massif dewasa ini? Sepertinya pertanyaan – pertanyaan reflektif seperti diatas cukup mewakili untuk membuat kita merefleksi diri secara kritis sebagai kaum yang sadar akan carut – marut kondisi sosial hari ini, baik di kampus maupun di luar kampus tentunya. Masyarakat kampus yang terkekang dan dijinakkan adalah salah satu problem utama, sementara di sisi lain masyarakat sipil di luar kampus juga terepresi hebat oleh kekuasaan sembari dininabobokkan oleh agen ideologis yang kadang mengenakkan bahkan menipu secara massal. Pedang, roti, dan sirkus mungkin bisa mewakili alat kekuasaan yang membuat gerakan sosial bisa dibilang mampu di atasi oleh penguasa hari ini.

Sumber: Dokumentasi Berdikari Online

Sumber: Dokumentasi Berdikari Online

Mereka yang Juga Resah

                Tentang bagaimana manusia digiring untuk menjadi satu dimensi, Mercuse dalam One Dimentional Man telah menjelaskannya. Bahwa manusia dalam alam kapitalisme yang menginginkan tidak adanya perlawanan dari mereka yang disingkirkan dan disubordinasi oleh sistem ini. Sebagai bagian dari Mazhab Frankfurt, Mercuse dengan beberapa rekannya juga melihat hal dehumanisasi dalam kerangka massifnya rasionalitas instrumental teknokratik pada manusia – manusia yang dibilangnya modern. Dengan diarahkannya manusia menjadi sekedar instrumental teknokratik, maka daya kritis untuk merefleksi dan mengkritisi perlakuannya oleh sistem hari ini tak bisa lahir. Isi kepala dicekoki dengan mitos – mitos kapitalisme yang mengarahkan manusia menjadi sukses dalam sistem yang mapan hari ini. Sistem dimana modal menjadi penentu. Mereka yang tak menghendaki berkuasanya modal akan tersingkir, baik dengan sendirinya maupun melalui mekanisme penyingkiran oleh kekuasaan yang dijalankan oleh agency-nya.

Ekonomi politik pendidikan kita hari ini dari regulasi sampai sistem yang bekerja secara terstruktur, sitematis dan massif didominasi oleh kepentingan modal. Sebut saja indikator yang paling menonjol adalah upaya penggiringan masyarakat kampus untuk masuk ke dalam industri yang dikuasai oleh kelompok korporasi. Ada pelatihan wirausaha, pemberian modal bagi mahasiswa, job street bagi fresh graduate, riset – riset yang diarahkan untuk menopang industri, sampai pada pelibatan korporasi dalam bekerjasama dengan kampus. Lantas dimana pengabdian kepada rakyat banyak? Situasi ekonomi yang liberal hari ini dengan diarahkannya kampus menjadi penopangnya adalah sebuah kecelakaan besar dan menyalahi cita – cita besar kampus sebagai pengabdi untuk kesejahteraan rakyat. Ketimbang mengabdi kepada pemodal melalui korporasi yang dimilikinya. Pilihan tersebutlah yang merujuk kita untuk melihat bagaimana gerakan sosial yang dapat menghalau hal tersebut menjadi penting untuk terus dibangun dan dirawat dalam memenangkan pertarungan menuju perubahan yang berpihak kepada rakyat banyak, bukan pada oligarki penguasa dan oligarki modal yang menyingkirkan mahasiswa dan rakyat banyak dari kedaulatan hak – hak utamanya.

Sumber : Dokumentasi Kabar Makassar

Sumber : Dokumentasi Kabar Makassar

Sebuah Interupsi

Dengan posisi Mahasiswa dan kondisi sosial seperti di atas, maka kembali ditegaskan bahwa sepertinya tak ada lagi pilihan lain selain mengevaluasi secara internal di elemen mahasiswa sendiri bagaimana mengatasi kontradiksi internal. Kemudian menatanya kembali, sembari meneropong dan bergerak dalam mengatasi bersama elemen lain persoalan di luar kampus yang tak bisa juga diabaikan. Keduanya sama – sama penting meski harus memilih proporsi yang baik sesuai dengan hasil analisa terhadap situasi yang dihadapi. Memperbanyak menghidupkan gerakan sosial di kampus namun tak melupakan yang di luar kampus. Memenangkan pertarungan wacana dan juga pertarungan politik dengan penguasa yang tentunya punya juga agency kuasanya di kalangan mahasiswa dan intelektual penopangnya di luar sana. Baik mereka yang berhubungan secara langsung maupun yang terbawa arus hegemoni dan dominasi penguasa dengan berbagai macam teknologi politiknya yang aktif.

Pendidikan kritis, propaganda wacana kritis dan gerakan progresif Mahasiswa di kampus haruslah tetap dibangun terus menerus. Media gerakan sosial Mahasiswa haruslah terus aktif dan bertarung dengan media mainstream penguasa di arena wacana yang punya peran hegemonik. Diskursus politik penguasa yang secara aktif dan soft tidak bisa dibiarkan menjangkiti masyarakat kampus. Begitupula di lapangan politik, Mahasiswa tidak bisa membiarkan teknologi kekuasaan dengan bermacam wajah agency – nya leluasa beroperasi tanpa perlawanan yang berarti. Semua sektor harus diaktifkan untuk bertahan dan bermanuver. Ibarat posisi yang terjepit oleh penguasa, perang gerilya pun tak masalah jika memang dibutuhkan, kata seorang Jenderal pejuang.

Sumber : Dokumentasi Tribun News

Sumber : Dokumentasi Tribun News

Jalan Gersos Kita?

               Ibarat pasukan yang terkepung, Mahasiswa progresif yang masih tetap bertahan di kampus – kampus hari ini tetaplah harus tak berkecil hati apalagi sampai patah arang. Strategi gerilya telah mengajarkan kita untuk melawan yang kuat dan berkuasa dengan berbagai mekanisme kerja dan prinsip – prinsipnya. Tak ada jalan menyerah karena jalan gerilya masih ada. Itupun jika hasil pembacaan menyimpulkan bahwa kita memang sudah benar – benar terkurung dan terdesak dengan kekuatan yang kecil. Jika tidak, berarti perang posisi dan gerakan manuver tentunya menjadi pilihan selanjutnya. Memberi nafas kepada penguasa apalagi larut dalam jebakannya adalah kesalahan hukum gerakan sosial. Hal yang penting untuk terus pula diingat adalah prinsip mengukur syarat – syarat material untuk menentukan langkah demi langkah.

Dengan kompleksitas masalah yang terumuskan secara rapi dan detail, maka menyusun strategi dalam mengambil langkah akan jauh lebih membantu ketimbang memuntahkan amunisi yang sudah terbatas pula di tengah kabut yang tak jelas menampakkan lawan. Dengan menjadikan ilmu sebagai senjata adalah hal yang utama dan menjadi syarat wajib. Karena tanpa kontinuitas asupan ilmu pengetahuan yang digunakan untuk berjuang, kita akan seperti mimpi yang diciptakan oleh lawan sendiri yang menuntun kita menuju jurang kesesatan yang mematikan. Dan itulah yang dikehendaki oleh tiap lawan gersos yang sedang bertarung. Tak terkecuali penguasa yang menghendaki elemen gerakan sosial yang berjuang untuk tak memenangkan cita – citanya. Kalau perlu penguasa yang licik bisa saja membimbing lawannya kepada jalan yang sesat meski harus mengeluarkan sebagian sumber daya-nya. “Berilah Roti dan Sirkus kepada Rakyat agar kita bisa tetap tenang di Istana”, kata Julius Cesar.

Penguatan simpul sembari bergerilya, memperbanyak kader progresif yang berkualitas mumpuni, mungkin bisa dijadikan salah satu hasil refleksi untuk ditindaklanjuti. Sembari membangun dan terus bertarung di berbagai arena yang ada. Dari wacana sampai aksi politik. Dari belajar sampai bertarung. Dari bertarung kemudian mengevaluasi kemudian bergerak lagi. Kontinuitas tersebut adalah syarat jika tak ingin menemui jalan buntu atau bahkan lebih parah lagi digiring lawan ke jalan yang sesat dan mematikan. Memperbaiki diri, memperkuat kekuatan, dan menyebarkan pengaruh dalam membangun gerakan sosial adalah jalan kemenangan, seperti kata pemimpin – pemimpin yang pernah merasakan manisnya kemenangan . Hukum Praksis demikian berlaku baik dalam gerakan mahasiswa itu sendiri maupun gerakan sosial secara luas di luar kampus dengan integrasi dan pembangunan simpul yang kuat dengan saling menopang satu sama lain. Kesemuanya adalah jalan menuju raihan cita – cita perubahan yang telah diidamkan bersama selama ini.

Teruslah Belajar, Teruslah Bergerak

                Bertarung dan Jatuh Cintalah

Jika Waktunya Memang Telah Tiba

🙂

Arul Nash

Deklarator dan Presidium Lingkar Advokasi Mahasiswa (LAW) Indonesia

Pernah Bergiat di LAW Unhas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: