LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Esai » MEMBINCANG KEKUASAAN

MEMBINCANG KEKUASAAN

*Edisi Kajian Kader Progresif

sumber: politik kompasiana

sumber: politik kompasiana

Kekuasaan, kata ini seringkali menghiasi diskusi maupun orasi para aktivis pergerakan maupun aktivis politik dalam berbagai kesempatan. Dalam kajian ilmu sosial humaniora, kekuasaan atau yang sering pula disebut dengan kuasa ini biasanya dibagi ke dalam dua ranah kajian. Pertama, kekuasaan dilihat secara terpusat dimana imperium (empire) dianggap sebagai pusatnya. Kedua, kekuasaan dilihat secara tersebar, dimana kepemilikan kapital (modal ekonomi, budaya, sosial, dan simbolik) adalah faktor penyebar kekuasaan tersebut. Defenisi kekuasaan yang pertama sering mengiblatkan diri kepada pemikir politik dan muslihat militer Nicolo Machiavelli, sementara yang kedua mengkiblatkan diri kepada pemikiran Michael Foucault. Keduanya berasal dari tradisi pemikiran Eropa. Machiavelli adalah penasehat Keluarga Medici yang berkuasa di Italia sekitar abad 14 di awal Renaisance, sementara Foucault adalah sarjana Prancis yang tumbuh di paruh kedua abad 20. Keduanya memiliki kesamaan dalam hal mengupas kejamnya kekuasaan, namun berbeda dalam memandang bagaimana kekuasaan tersebut bekerja dan melanggengkan diri.

Machiavelli hidup di sekitar istana. Karyanya dipengaruhi dari bagaimana dia menyaksikan timbul tumbuhnya dinasti di Italia pada masanya. Sementara Foucault hidup di masa perang Dunia II telah berakhir dan tradisi pemikiran poststrukturalisme sedang gandrung di Eropa khususnya Prancis kala itu. Machiavelli melihat kekuasaan terpusat sementara Foucault melihat kekuasaan tersebar. Machiavelli melihat bahwa Raja (Pangeran) di istana, dengan hakim, tentara serta politisi adalah instrumen – instrumen kekuasaan Raja. Sementara Foucault melihat penjara, klinik, seksualitas, bahkan pengetahuan adalah sumber kekuasaan. Menurut Machavelli, siapa yang mampu memainkan peran dan mengendalikan penopang – penopang kuasa berupa Tentara, hakim, dan juga politisi -politisi adalah penguasa yang sesungguhnya. Sementara Foucault melihat lain, pengetahuan adalah sumber kekuasaan bagi para konsumen pengetahuannya, klinik adalah sumber kekuasaan bagi para pasiennya, penjara adalah sumber kekuasaan bagi para tahanan yang dianggap bersalah, begitupula dengan seksualitas memiliki definisi kebenaran dominan yang meminggirkan yang subordinat.

sumber: home page agus prasetyo

sumber: home page agus prasetyo

Perbedaan mendasar dari keduanya adalah bagaimana kekuasaan itu bersumber dan bekerja. Meskipun demikian kesaamaan dari keduanya adalah segala tindakan yang dilakukan oleh pemegang kuasa baik yang terpusat maupun yang tersebar adalah sama – sama ingin melanggengkan keuasaannya. Dan mereka yang kalah dalam pertarungan memiliki dan menggunakan sumber daya kekuasaan tersebutlah yang akan tersingkir dari arena kuasa yang dalam pandangan keduanya adalah sama – sama kejam. Machiavelli misalnya, menyarankan kepada para Pangeran yang berkuasa agar mengesampingkan moralitas dalam berkuasa. Saling sikut dan menghancurkan lawan dengan cara apapun termasuk dengan kelicikan dan tangan besi adalah sah di hadapan politik kekuasaan. Konon, menurut para pengamat politik dan militer, Machiavelli inilah yang menjadi inspirator para fasis dalam menjalankan kekuasaannya. Meskipun sebenarnya, kita dapat melihat dalam karyanya Il Principe (Sang Pangeran) dan The Art of War bahwa kemungkinannya ada dua. Pertama, Machiavelli memang benar – benar menyarankan demikian, sementara yang kedua bahwa Machiavelli sekedar menggambarkan bagaimana situasi perebutan kekuasaan pada waktu itu yang penuh intrik, persekongkolan licik, dan penghalalan segala cara demi meraih tahta kekuasaan. Namun itulah Machiavelli sang manusia kontroversi setelah dia meninggal karena tulisan – tulisannya yang ditafsir berbeda. Namun, yang jauh lebih penting bagi kita bahwa prinsip – prinsip dan hukum kekuasaan yang diwariskannya tersebut setidaknya membantu kita melihat bagaimana laku penguasa bekerja dengan berbagai keliahaian, kelicikan, bahkan manuver merebut dan mempertahankan kekuasaannya. Sehingga, tipuan dari penguasa terhadap rakyat banyak dimana kita adalah bagiannya bisa dibaca dan dibendung. Itulah sebenar – benarnya kegunaan ilmu pengetahuan dalam mengupas keuasaan yang cenderung absolut dari kaca mata pemikiran Machiavelli.

Beralih ke Michael Foucault, pemikiran Foucault yang dituangkan ke dalam beberapa karyanya seperti Knowledge/Power, Arkeology of Knowledge, Knowledge and Method,Discipline and Punish serta the History of Sexuality juga tak kalah pentingnya dalam melihat kekuasaan. Perlu diperhatikan sejak awal bahwa Foucault mewarisi pandangan poststrukturalisme dalam melihat bekerjanya kekuasaan ini. Tradisi pemikiran ini diwarnai oleh teori dekonstruksi Derrida, dan arkeologi dan genealogi pengetahuan Foucault. Jadi titik tekan Foucault adalah mengenai pengetahuan. Juga mengenai bagaimana sesuatu yang mapan di pusat sana harus didekonstruksi (diruntuhkan) dengan melihat akar sejarah dan kedalaman diskursusnya sampai menjadi pemenang dan dimapankan agar kekuasaan juga semakin langgeng. Dah hal tersebut jelas menindas yang lain menurut Foucault. Orang dapat berkuasa jika menguasai legalitas kebenaran melalui diskursus yang dominan. Siapa yang berhak menjadi rujukan kebenaran adalah mereka yang telah memenangkan pertarungan diskursus tentang kebenaran. Bagaimana defenisi kebenaran dalam ilmu kedokteran menghasilkan defenisi tentang orang gila dan lahirlah klinik yang berhak menentukan bagaimana si gila diperlakukan. Bagaiamana defenisi tentang pengetahuan yang sah maka lahirlah positivisme dengan berbagai metodenya sehingga lahirlah rezim kebenaran pengetahuan yang rasional empirik dan menyingkirkan tradisi pengetahuan di luar dirinya. Begitupula defenisi kebenaran dominan tentang mereka yang dianggap bersalah karena dianggap asosial melahirkan penjara sebagai tindakan pendisiplinan tubuh si yang dipersalahkan oleh diskursus kebenaran. Jadi intinya adalah kebenaran dari diskursus dominan yang menegasikan yang di luar dirinya. Hal yang sama berlaku pula bagaimana rezim pengetahuan yang menentukan kebenaran mengenai seksualitas yang nantinya mendisiplinkan dan memberikan pengawasan bagi mereka yang telah dianggap menyimpang. Begitu kira – kira bagaimana Foucault memandang kekuasaan.

Gambar dari slideshere.net

Gambar dari slideshere.net

Kembali mendialogkan kedua pemikir kekuasaan di atas tersebut, maka hal penting yang dapat ditarik bahwa indikator – indikator dari bekerjanya mekanisme kekuasaan dari kekuasaan yang terpusat dan kekuasaan yang tersebar tersebut adalah pihak yang diuntungkan tetaplah mereka yang memegang kendali kekuasaan yang terpusat dan tersebar tersebut. Sipir penjara, dokter klinik, akademisi/intelektual yang dianggap capable, menurut Foucault adalah pemegang otoritas atas klaim kebenaran atas pengetahuan yang didefinisikannya dimana diskursus dominan atas definisinya tersebut telah diamini secara luas. Tentunya setelah mengalahkan hegemoni diskursus pengetahuan yang lain yang berlawanan dengannya. Arkeologi (pendalaman dan rekonstruksi diskursus) dan genealogi (penelusuran sejarah dari awal) adalah senjata Foucault dalam melacak akar kekuasaan tersebut. Sementara Machiavelli menelurkan mekanisme bekerjanya kekuasaan dengan berbagai prinsip dan hukum kekuasaan yang bertalian dengan kehidupan istana. Intrik, muslihat, kalau perlu dengan kelicikan dan tangan besi, dan rakyat bukanlah hal utama dalam kekuasaan adalah beberapa diktumnya. Rakyat dianggap pihak yang sangat mudah mengkhiananti penguasanya. Karena perutnya yang seringkali kelaparan, maka mereka bukanlah tipe yang setia terhadap raja. Maka tak perlu terlalu memperhatikannya dalam komponen penentu keuasaan. Adalah angkatan bersenjata dan para jenderal yang sangat penting untuk berada di bawah pengaruh sang Pangeran (Raja Penguasa) jika tahtanya ingin langgeng bahkan semakin berpengaruh secara luas.

Keduanya menjelaskan bagaimana kekuasaan itu bekerja dengan dua parasnya. Tugas kita adalah mengidentifikasi secara cermat dan menghalau niat – niat jahat dari keuasaan yang meminggirkan kelompok lemah tersebut. Kekuatan dan penguasaan ilmu pengetahuan adalah hal penting yang tak boleh diabaikan jika tak ingin terus dihegemoni dan didominasi oleh keuasaan yang sungguh kejam dari pemaparan dua pemikir di atas. Machiavelli dan Foucault telah dengan detail memaparkan bagaimana kekuasaan tersebut bekerja, berkuasa, dan bertahan. Prinsip, mekanisme kerja dan hukum – hukumnya telah dijelaskan. Tinggal generasi sekarang yang hidup di masa ketika keduanya telah tiada mendialogkan dan melihat relevansi serta strategi menghadapi kuasa yang masihlah hidup bahkan semakin langgeng sekarang ini. Yang berubah mungkin hanyalah aktor dan beberapa indikator yang digunakan. Namun, prinsip, watak, mekanisme, dan hukum – hukum alamiahnya masihlah terus dipraktekkan oleh mereka yang haus kekuasaan.

sumber gambar: tukpencarialhalq.com

sumber gambar: tukpencarialhalq.com

Jika dahulu kala Julius Cesar menyarankan Roti dan Sirkus untuk meninabobokkan Rakyat dari perhatian Istana,
Maka bisa jadi saat ini Jaminan sosial dan aneka sinetron serial di layar kaca kita adalah wujud terbarunya.

Arul Nash

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: