LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Review Buku » BANDIT SOSIAL DI MAKASSAR; JEJAK PERLAWANAN I TOLOK DAENG MAGASSING

BANDIT SOSIAL DI MAKASSAR; JEJAK PERLAWANAN I TOLOK DAENG MAGASSING

terbitan-1

Judul buku  : Bandit Sosial di Makassar

Penulis         : M. Nafsar Palallo

Penerbit       : Rayhan Intermedia

Tahun Terbit : 2008

Halaman        : xi + 129 hlm

Gerakan sosial muncul akibat ketidakpuasan terhadap sistem politik,sosial, ekonomi, dan kultural yang terjadi. Setiap gerakan sosial akan muncul dengan bentuk gerakannya masing-masing dan tentunya akan memunculkan seorang tokoh dalam gerakan tersebut. Di Indonesia sendiri gerakan sosial pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 banyak bermunculan sebagai akibat kolonialisasi yang dilakukan oleh Belanda.

Pada masa kolonial kebijakan yang eksploitatif terhadap sektor pertanian dan perkebunan menyebabkan terjadinya protes yang dilakukan oleh para petani yang tidak hanya bersifat keagamaan tapi juga dalam bentuk kerusuhan. Di masa inilah muncul gerakan perbanditan sosial yang dalam prakteknya sering melakukan penyerangan dan perampokan dengan kekerasan.

Secara praktik mungkin saja gerakan perbanditan sosial mengundang antipati jika tidak menilik lebih jauh alasan munculnya gerakan tersebut. Di masa ini pula tidak ada lembaga yang menjadi saluran aspirasi untuk menunjukkan ketidakpuasan terhadap kebijakan yang diterapkan. Kondisi tersebut menyebabkan munculnya protes sosial yang dilakukan dalam bentuk apapun.

Tentang Bandit Sosial

Jikalau membahas mengenai bandit sosial maka kita akan teringat dengan tokoh dalam cerita rakyat inggris yaitu Robin Hood. Legenda yang telah diangkat ke layar lebar tersebut bercerita mengenai seorang pria yang sering melakukan perampokan terhadap orang-orang yang kaya dan tidak peka sosial. Namun, bentuk kepedulian sosial dari pria tersebut adalah membagikan hasil rampokannya kepada orang-orang miskin. Itulah yang kemudian membedakan bentuk gerakan sosial yang dilakukan oleh Robin Hood.

Secara umum bandit sosial dapat didefinisikan sebagai protes sosial yang dilakukan dalam bentuk perampokan yang terorganisir dengan menggunakan kekerasan. Gerakan tersebut semata-mata untuk menuntut keadilan dan persamaan sosial. Para bandit sosial dilihat sebagai penjahat oleh para pemerintah namun di sisi lain dilihat sebagai pahlawan oleh masyarakatnya karena dianggap sebagai pejuang keadilan dan penuntut balas atas tindakan semena-mena kepada mereka.

Memungut Kepingan Kisah I Tolok

Masa pemerintahan Hindia Belanda pulau sulawesi sempat diberi julukan sebagai pulau keonaran. Hal tersebut disebabkan oleh pemberontakan dan kerusuhan yang terus dibuat oleh masyarakat yang merasakan ketidakpuasan dan ketidakadilan. Salah satu gerakan masyarakat yang sempat menggemparkan Belanda adalah gerakan kelompok yang dipimpin oleh I Tolok Daeng Magassing.

Gerakan I Tolok Dg. Magassing dilakukan di Tana Makassar (Butta Mangkasara). Gerakan tersebut dapat digolongkan sebagai gerakan perbanditan sosial karena melakukan perampokan, pemerasan, dan penyerangan terhadap para musuh dan orang-orang yang dianggap sebagai kaki tangan penjajah. Pada masa I Tolok mulai terjadi pergeseran dalam gerakan masyarakat.

Jika dulu gerakan perlawanan dipimpin oleh raja dan para bangsawan, maka pada masa I Tolok gerakan perlawanan sudah mulai diinisiasi oleh masyarakat biasa. Namun, catatan sejarah perlawanan rakyat jelata di sulawesi selatan masih sulit kita temukan karena dianggap tidak ada artinya bagi peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah kolonialisme.

Prakondisi Sebagai Pemicu Gerakan

Kekalahan kerajaan Gowa melahirkan perjanjian Bungaya yang berisi pengambilalihan wilayah kerajaan Gowa oleh VOC (Verenigde oost Indisch Compagnie). Kekalahan kerajaan yang ditandai dengan perintah untuk membongkar semua benteng tidak hanya dimaknai secara kehancuran fisik tapi juga sebagai kehancuran simbol tradisional Makassar.

Tidak hanya menghancurkan struktur kerajaan Gowa, kekuasaan Belanda juga perlahan-lahan membuat masyarakat terkekang. Dalam kondisi tersebut masyarakat mencoba memulihkan pola kehidupan masyarakat sebagaimana mestinya. Mereka merindukan pola kehidupan yang tentram seperti dulu dan menuntut untuk mengembalikan adat seperti semula (lammotere ada’ kabiasanga).

Awalnya VOC mengambil alih peran sebagai perantara dan pelindung bagi kerajaan-kerajaan sekutu di Sulawesi Selatan, namun kemudian diambil alih oleh Pemerintah Belanda akibat banyaknya tindak korupsi dalam tubuh VOC. Peran pemerintah Belanda sebagai perantara kerap kali dianggap mengintervensi dan memaksakan kerajaan-kerajaan sekutu di Sulawesi Selatan untuk tunduk terhadap aturan yang dibuat oleh Belanda. Disamping itu, pemerintah Belanda juga melakukan perluasan kekuasaan kepada kerajaan-kerajaan yang masih berstatus merdeka.

Perluasan kekuasaan tersebut bertujuan untuk menjamin keberhasilan penanaman modal belanda dan modal asing lainnya di Indonesia, menguasai lahan-lahan potensial, dan mencegah masuknya politik bangsa asing lainnya di luar Jawa. Dalam perluasan kekuasaan tersebut semua kerajaan di Sulawesi Selatan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaannya kepada Hindia Belanda. Akhirnya tindakan militer pemerintah Hindia Belanda berhasil menundukkan kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan seperti Gowa, Bone, dan Luwu. kerajaan-kerajaan kecil pun dengan mudah tunduk kepada pemerintah Hindia Belanda.

Dengan begitu, pada tahun 1906 bisa dikatakan bahwa semua kerajaan di Sulawesi Selatan berhasil diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda dengan penandatanganan pernyataan pendek oleh para pemerintah Bumiputra.

Setelah melakukan perluasan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda kemudian menggabungkan wilayah sulawesi selatan dan tenggara kemudian membaginya dalam 7 wilayah pemerintahan (afdeeling), yaitu afdeeling Makassar, Bonthain, Bone, Pare-pare, Luwu, Mandar, dan Buton.

Beberapa Praktek Bandit Sosial

Sebelum memasuki abad ke-20 praktek perbanditan sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh masyarakat di Makassar. Bahkan di daerah Polongbangkeng terkadang seorang pemuda diuji ketangkasannya dalam merampok jika ingin melamar seorang gadis. Ketika wilayah Makassar diduduki oleh Pemerintah Hindi Belanda, praktek perbanditan kemudian ditujukan kepada mereka yang bekerja sama dengan Hindia Belanda. Hal tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap dominasi Pemerintahan Hindia Belanda di Butta Mangkasara. Karena praktek perbanditan sosial tersebut merupakan bentuk protes terhadap kondisi yang ada maka gerakan tersebut dapat dikatakan sebagai gerakan perbanditan sosial.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Pemerintah Hindia Belanda melakukan pengambilalihan tanah-tanah milik penguasa Bumiputra, memberlakukan penyetoran hasil panen kepada masyarakat, dan menangkap tokoh masyarakat yang dianggap berpengaruh. Disamping itu, Pemerintah Hindia Belanda juga menggunakan kekuatan militer untuk membendung perlawanan masyarakat.

Pemerintah Hindia Belanda mencurigai bahwa gejolak perlawanan yang terjadi adalah hasutan dari para bangsawan yang banyak dirugikan sejak masuknya Pemerintah Hindia Belanda. Oleh karena itu, Pemerintah Hindia Belanda banyak menyebar mata-mata kepada para Bangsawan. Namun, keadaan tersebut justru semakin memancing kerusuhan dimana-mana. Orang-orang yang dikatahui sebagai mata-mata akan menjadi terget penyerangan.

Awal perbanditan sosial I Tolok

Sejak tahun 1906 mulai banyak berkembang kelompok perampok yang berjumlah delapan sampai sepuluh orang. Pemerintah Hindia Belanda melihat hal tersebut bukan sebagai gerakan protes namun semata-mata hanya menyangkut urusan ekonomi pelakunya. Dari beberapa kelompok tersebut akhirnya terdengar kelompok yang dipimping oleh I Tolok Dg. Magassing. Kelompok I Tolok banyak melakukan kegaiatannya di sekitar Gunung Lompobattang karena mendapat dukungan dari masyarakat sekitar.

I Tolok melakukan perampokan dengan salah seorang bangsawan tinggi Gowa yaitu I Macang Daeng Barani. Namun, pada 19 oktober 1914 I Macang Dg. Barani dikepung oleh pasukan Hindia Belanda dan akhirnya mati tertembak. Kematian I Macang Dg. Barani membuat situasi makin mencekam. Terdengar desas-desus bahwa keluarganya akan menuntut balas atas kematian tersebut. Setelah meninggalnya I Macang Dg. Barani, perampokan semakin marak terjadi bahkan langsung menyerang pos-pos pajak pemerintah.

Orang-orang yang melakukan perampokan kepada para pengikut Belanda justru disambut baik oleh masyarakat. Banyaknya perampokan yang terjadi membuat pemerintah Hindia Belanda melakukan penyelidikan dan akhirnya menemukan bahwa perampokan tersebut tidak hanya bermotif ekonomi tapi juga politis. Masyarakat ingin mengusir pemerintah Hindia Belanda dan ingin mengembalikan pemerintahan kerajaan seperti semula.

Gerakan sosial I Tolok

Gencarnya perlawanan yang dilakukan terhadap pemerintah Hindia Belanda didorong oleh dua faktor, yaitu kematian I Macang Dg. Barani dan ditariknya sebagian pasukan Belanda ke Batavia. I Tolok Dg. Magassing muncul sebagai tokoh yang memimpin perampokan di wilayah perbatasan afdeeling makassar dan Bhontain.

Pada tahun 1913 kelompok I Tolok sempat diserang oleh pasukan Belanda tapi ia berhasil meloloskan diri. Sejak saat itu namanya tidak pernah lagi terdengar sampai meninggalnya I Macang Dg. Barani. Keluarga Dg. Barani merencanakan balas dendam terhadap pemerintah Belanda dan kemudian meminta bantuan I Tolok untuk membantu upaya balas dendam tersebut.

Selain itu, I Tolok juga ditunjuk oleh para bangsawan Gowa untuk memimpin serangan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Keberadaan Pemerintah Hindia Belanda di Butta Mangkasara dianggap telah menginjak-injak harkat dan martabat masyarakat makassar. I Tolok pun menyatakan kesediaannya. I Tolok mendapat bantuan senjata dari para bangsawan kerajaan Gowa dan keluarga besar I Macang Dg. Barani. Tidak hanya itu, sebagai pimpinan gerakan perlawanan, I Tolok juga diberikan sebuah senjata pusaka milik kerajaan Gowa sebagai tanda kehormatan.

Akhir gerakan perlawanan

Kabar mengenai upaya balas dendam yang akan dilakukan oleh keluarga I Macang Dg. Barani kemudian diketahui oleh pemerintah Belanda melalui para mata-matanya. Nama I Tolok juga sudah teridentifikasi oleh Belanda. Akhirnya pemerintah Hindia Belanda melakukan segala cara untuk menumpas gerakan tersebut. Usaha pertama yang dilakukan oleh Belanda adalah menyebarluaskan propaganda mengenai kelompok yang dipimpin I Tolok sebagai kelompok yang bejat yang telah melakukan perampokan selama ini. Selain itu, mereka juga berusaha bekerjasama dengan para keturunan bangsawan untuk mencari jejak I Tolok.

Akhirnya, gerakan I Tolok dapat dihentikan melalui anggota kelompoknya sendiri yang merupakan mata-mata Belanda. Tempat persembunyian I Tolok di Polongbangkeng berhasil dikepung oleh pasukan Belanda. I Tolok pun terbunuh dan mayatnya dipamerkan di depan umum untuk memutus asa perlawanan rakyat sekaligus menebar ketakutan bagi siapa saja yang mencoba melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Setelah meninggalnya I Tolok Daeng Magassing perlawanan terhadap Belanda sebenarnya tidak berhenti. Namun, pengaruh gerakan perlawanan I Tolok masih ditebar kepada generasi berikutnya. Sampai sekarang di wilayah Makassar seseorang yang menonjol dalam suatu kelompok mendapat julukan tolokna. Bahkan, ada yang menyamakan gerakan I Tolok Daeng Magassing ini dengan praktek perlawanan Anarkisme.

Cara yang paling halus dalam menuntut keadilan bisa saja dilakukan, akan tetapi jika sampai pada kadar tertentu dimana para penguasa tidak hanya menutup telinga tapi juga mengunci pintu dan membangun tembok tinggi bagi para penuntut keadilan maka disitu pula kita harus berteriak lebih keras, mendobrak pintu, dan merobohkan tembok-tembok tersebut.

Panjang umur perlawanan

Ibu pertiwi masih setia menanti keadilan

Oleh : Nur Harifah

Koordinator Divisi Kesekretariatan Dan Logistik Lingkar Advokasi Mahasiswa (LAW-UNHAS)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: