LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » Anak Muda Dan Krisis Waktu Publik

Anak Muda Dan Krisis Waktu Publik

Jika masa depan suatu negeri dapat diprediksi dari kualitas anak muda hari ini, ayo kita mulai tulisan berikut dengan beberapa pertanyaan spekulatif: Apa yang sekarang sedang dipikirkan oleh anak muda? Dimana dan untuk kepentingan apa mereka menghabiskan waktu luang yang dimilikinya? Untuk menerawang perta­nyaan berikut, mari kita menengok institusi pendidikan tinggi sebagai tempat yang dipenuhi oleh anak-anak muda.

­­Institusi pendidikan, sekolah negeri khususnya, merupakan institusi milik publik yang disubsidi langsung oleh negara. Pembiayaan sekolah negeri ini, dikumpulkan dari pajak yang ditarik dari masyarakat. Maka secara tidak langsung, terjadi kontrak sosial antara publik dan institusi pendidikan negeri.

Pernahkah kita bertanya, kira-kira berapa banyak dana yang dihabiskan oleh negara untuk mensubsidi biaya pendidikan dari sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi negeri untuk seorang sarjanawan? Contoh kecil, misalnya, biaya kuliah tunggal di beberapa universitas negeri di Makassar berkisar antara 5 juta sampai 12 juta Rupiah. Kalau uang kuliah yang kita bayar adalah anggap saja 1 juta per semesternya, berarti sisanya ditanggung oleh negara.

Dari sini, mari kita kembali mengajukan pertanyaan reflektif: Apakah di ruang-ruang kuliah para pengajar kita pernah menghubungkan masalah publik maupun urusan kemanusiaan dengan mata kuliah yang ia ajarkan? Apakah mereka pernah mengajarkan bahwa pengetahuan, apapun itu, selalu berkaitan dengan kepentingan tertentu? Apakah mereka pernah menganjurkan kita untuk menghabiskan waktu luang dengan bacaan-bacaan kritis?

Bila jawabannya adalah tidak, ditambah minimnya inisiatif untuk mencari tahu sendiri dan mengorganisasikan diri, maka kita ialah bagian dari apa yang diartikan Henry Giroux sebagai anak muda yang tengah terprivatisasi dan mengalami krisis sosial. Penyebabnya? Tidak lain adalah korporatisasi perguruan tinggi.

Ada dua jenis waktu yang membentuk tipikal anak muda, tulis Giroux dalam esainya Youth, Higher Education, And The Crisis of Public Time. Jenis pertama disebut sebagai waktu publik (public time), sementara jenis lainnya adalah waktu korporat (corporate time). Keduanya bertarung di ranah yang sama: universitas.

Perbedaan keduanya dapat kita amati dengan mudah dari apa yang digelisahkan oleh anak muda. Jika seorang anak muda menggelisahkan isu-isu seperti keadilan sosial, akses yang tidak setara terhadap barang publik (public goods), ataupun tentang kemanusiaan, lalu mengerahkan pengetahuan, skill dan waktunya untuk melakukan resistensi sebisa mungkin, ia adalah jenis yang pertama.

Jenis ini dibentuk dalam habitus yang tidak mengenal istilah seperti time is money. Waktu bagi mereka bukanlah untuk dikonversi menjadi uang, melainkan berkontemplasi, berpikir kritis, mengorganisasikan diri, dan melakukan aksi-aksi politik baik secara diskursif maupun praktik. Anak muda yang seperti ini, masih menurut Giroux, adalah investasi masa depan untuk kehidupan yang lebih demokratis, substansial, dan berkualitas.

Namun, lanjut Giroux, ketika para korporat mulai menyerang universitas, waktu publik akan terdiskualifikasi oleh waktu korporat. Disini, anak muda diracuni dengan kosakata seperti kompetisi, enterpreneurship, dan pemujaan individualisme (excessive individualism). Proses belajar-mengajar tereduksi. Dari tempat memproduksi pengetahuan baru, menjadi arena memperoleh piala baru.

“Universitas tidak lebih dari sekedar advertising billboard atau papan pengumuman iklan. Ruang-ruang kampus dipenuhi oleh merek dan nama korporasi yang dengan sengaja didesain untuk menarik waktu para pelajar agar terus menerus mengkonsumsi”. Begitu ejekan Giroux atas corporate time. Ketika dikomodifikasi, waktu menjadi musuh bagi pikiran-pikiran yang mendalam dan kritis.

Akibat dari corporate time itu, masalah menjadi kian rumit. Isu publik malah dilihat sebagai masalah pribadi, sebaliknya urusan pribadi justru dipandang sebagai masalah publik. Kemiskinan, buta huruf, dan terbatasnya akses terhadap pendidikan tinggi, disebabkan karena kebodohan individu itu sendiri. Sementara masalah percintaan antar “aku” dan “kamu”, menjadi kegelisahan bersama. Suka atau tidak, kita terjebak oleh masalah yang sifatnya privat itu.

Celakanya lagi, kita tengah berada di universitas negeri dan disubsidi dari uang milik publik. Bukankah sebuah paradoks kalau setelah lulus kuliah nanti, pengetahuan yang kita miliki tidak diabdikan untuk meningkatkan kualitas publik? Quo vadis kontrak sosial antara publik dan pendidikan tinggi?

Soal waktu adalah soal konstruksi. Jika universitas—khususnya para pengajar sebagai pemilik otoritas—gagal menjadi benteng pertahanan untuk melindungi public time, bersiaplah kehilangan anak muda masa depan yang lebih kritis dan demokratis.

Bila hal itu benar terjadi, “universitas hanya akan sibuk membangun penjara ketimbang mengedukasi” sebagaimana olok-olok Henry Giroux. Atau, kampus hanya mampu memproduksi mahasiswa cinta bersih ketimbang mahasiswa yang mencintai ilmu pengetahuan.

Harry Isra M

*Terbit sebelumnya di Rubrik Literasi KTM 20/05/2015. Dimuat kembali disini demi tujuan edukatif.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: