LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » Perguruan Tinggi Kita; Diantara Karang Komersialisasi dan Tuntutan Pengabdian Suci?

Perguruan Tinggi Kita; Diantara Karang Komersialisasi dan Tuntutan Pengabdian Suci?

foto: dari dokumentasi mahasiswa unhas

foto: dari dokumentasi mahasiswa unhas

Mengayuh diantara dua karang. Ungkapan ini dulunya pernah populer ketika menilai kelihaian Presiden Soekarno dalam memainkan perang politik luar negeri Indonesia di tengah blok Barat dan blok Timur di masa perang dingin. Soekarno sebagai pemimpin negara – negara bekas jajahan Barat kala itu tampil berdiplomasi dengan lihai di hadapan Uni Sovyet dan Amerika Serikat yang menjadi dua aktor dominan perang dingin. Blok komunis dan blok kapitalis liberal. Sekarang, banyak kalangan menilai hal tersebut telah berlalu. Kemenangan kapitalisme dengan berbagai perubahan dan penyesuaian globalnya sampai hari ini tidak bisa dipungkiri masihlah tetap bertahan dominasinya. Sekarang orang tak lagi mampu berkata ada pemimpin mendayuh diantara dua karang. Karena pilihannya adalah ikut Barat atau urus diri sendiri dengan berbagai konsekuensinya yang tidaklah ringan. Pilihannya adalah menjadi objek diktean negara – negara maju dan Perusahaan Multi Nasional, atau bertahan dengan kemandirian. Jalan tengah mungkin dengan bernegosiasi, itupun kalau kita memiliki posisi tawar. Indonesia sendiri tak mampu lagi mendayuh diantara dua karang, ataukah mendayuh sendiri menjauhi karang dengan jalur pelayarannya sendiri. Bisa dikatakan penguasa Indonesia telah membawa kita untuk ikut dengan mercusuar Barat yang telah memenangi perang dingin sejak Soeharto Berkuasa.

Berkenaan dengan perihal di atas, negara kita tak lagi mampu menjaga kedaulatan penuhnya. Kedaulatan itu telah ditentukan oleh negara dan bangsa lain. Ataupun pihak yang jauh lebih kuat yang berkecimpun dalam Perusahaan Multi Nasional dan Lembaga Internasional. Karang tak lagi mampu dipilih untuk digayuhi antaranya. Yang ada adalah mengikuti dikte dari pemilik karang pemenang perang. Indonesia didikte oleh pihak luar. Dari sektor produksi industri strategis, perdagangan barang dan jasa, pengelolaan sumber daya strategis sampai pada sektor pelayanan publik sekalipun harus diprivatisasi (diberikan kepada swasta) dan dikomersialisasi. Negara dikebiri, wewenangnya dibatasi, lewat tipu muslihat regulasi yang dirasionalisasi serasional mungkin sampai orang banyak manggut dan tertipu. Padahal semua itu adalah bencana bermuka manis.

Salah satu sektor yang paling riskan adalah pendidikan. Pendidikan Tinggi lebih spesifiknya. Pendidikan pun lewat mekanisme regulasi dari hasil intervensi WTO tahun 1994 sampai UU no.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi mengatur bagaimana Pendidikan Tinggi harus dilepaskan tanggung jawab negara dan menyerahkannya ke swasta dengan berbagai dalih dan rasionalisasi semasuk akal mungkin oleh para pengkhotbah berdasinya. Para akademisi berjubah liberal yang berpikiran pro pasar sebagai tujuan ketimbang pengabdian kepada rakyat Indonesia sesuai amanat konstitusi. Bahkan tafsir atas konstitusi pun diakali sedemikian rupa dengan sokongan dana dan data pembenarnya sampai benar – benar berhasil mengibuli rakyat banyak Indonesia untuk membawa Perguruan Tinggi menuu jurang privatisasi dan komersialisasi. Hal yang membuat menuntut ilmu bagi rakyat Indonesia menjadi mahal dan tak bermuara pada kesejahteraan dan kedaulatannya melainkan mengabdi kepada penguasa pasar dan modal yang nantinya justru akan menyingkirkan rakyat banyak itu sendiri. Rakyat banyak harus membayar mahal untuk kuliah di kampus yang dulunya murah dan mendidik. Sekarang anak – anak wong cilik selain tak sulit untuk kuliah karena tak mampu membayar, mereka yang masuk pun dididik untuk menjadi mesin tak berperikemanusiaan di hadapan uang dan pasar yang tak melihatnya sebagai manusia seutuhnya sedikitpun. Kampus tak lagi ramah dan mendidik. Tak lagi mengayomi, tapi justru menyingkirkan. Nilai – nilai kemanusiaan berubah menjadi nilai – nilai keuangan dan kekayaan. Yang tak mampu jangan mendekat, yang tak sepakat pegilah jauh – jauh sebelum diusir.

Apa yang ada dari narasi di atas adalah posisi perguruan Tinggi diantara pengabdian atau penjualan diri ke korporasi. Pengabdian atau komersialisasi? Kalau mengabdikan diri berarti tak kaya, kalau komersil hati nurani terusik. Semoga saja terusik, karena kalau tidak sedikitpun, dimana lagi kita hendak meratapi kecarut marutan negeri ini jika sumber ilmu yang paling hakiki sekalipun sudah bicara untung dan rugi. Logika kemanusiaan dan nilai – nilai luhur ilmu pengetahuan berubah menjadi logika modal dan pasar yang sangat identik dengan main mau menang sendiri dan tak peduli dengan yang lain. Padahal kampus adalah milik orang banyak negeri ini yang dipercayakan kepada institusi bernama negara yang kita sepakati untuk mengelolanya demi orang banyak itu sendiri. Lantas mengapa negara memberikannya kepada orang serakah dan menyuruh orang banyaknya sang empunya Perguruan Tinggi untuk membayar mahal jika ingin menikmatinya? Bukankah ini logika sederhana yang orang tak perlu jadi doktor atau profesor untuk menjawab dan mengamalkannya? Jika demikian apa gunanya negara bagi orang banyak. Apa gunanya Perguruan Tinggi bagi orang banyak? Jika tak mampu lagi menjalankan amanahnya, kenapa masih tetap percaya diri memangku kepercayaan orang banyak itu untuk mengurusi negara dan Perguruan Tinggi milik orang banyak itu? Ataukah apakah orang – orang yang dipangkukan kekuasaan hari ini di negeri ini memang sudah semakin tidak rasional di tengah pendakuannya sebagai manusia yang paling rasional dari generasi yang pernah ada?

Perguruan Tinggi sebagai arena produksi Ilmu Pengetahuan dan sumber Kritik terhadap ketimpangan sosial yang melanda masyarakat. foto: dari dokumentasi mahasiswa unhas

Perguruan Tinggi sebagai arena produksi Ilmu Pengetahuan dan sumber Kritik terhadap ketimpangan sosial yang melanda masyarakat secara luas. foto: dari dokumentasi mahasiswa unhas

Jika demikian adanya, pemimpin negeri ini jangan – jangan bukannya tidak hanya tak mampu mendayuh diantara dua karang, tapi malah justru tunduk pada satu karang yang mendiktenya. Seperti paras dan laku Perguruan Tinggi kita hari ini, diantara pengabdian dan komersialisasi, dia tunduk di pendiktean jalan komersialisasi. Ilmu menjadi dagangan, ketulusan mengabdi menjadi pemanis saja. Struktur dan sistemnya sudah dibangun oleh ahlinya. Dan yang tidak sepakat bisa jadi terasing ataupun harus menepi. Yang sepakat silahkan menikmati. Anda bisa kaya, hidup mewah, bahagia ala motivator, dan tentunya kehilangan nurani dan nilai kemanusiaan anda yang paling hakiki. Karang tak lagi mendua tapi jadi tunggal untuk mendikte harus menempuh jalur mana para pelayar – pelayar yang melintasinya.

Jika demikian, tugas para intelektual yang masih tersadarkan secara kritis hari inilah yang mesti bergerak secara progresif dalam merubah diktean karang pemenang tersebut menjadi kemandirian negeri yang berdaulat penuh ke depannya. Terkhusus yang paling mendesak adalah menyelamatkan Perguruan Tinggi dari pemodal serakah, dan mengembalikan peran sucinya untuk mengabdi kepada rakyat banyak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan kemajuan negeri tercinta ini tentunya. Semoga

 

Arul Nash

Sophia Park Institute for Social, Cultural, and Political Studies

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: