LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Laporan Singkat Aksi Tolak Reklamasi

Laporan Singkat Aksi Tolak Reklamasi

IMG_8740

Pantai dan pesisirnya adalah karunia yang luar biasa bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya. Banyak hal yang dapat menjadi mata pencaharian dan sumber penghidupan masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir, mulai dari mencari kerang atau tude, ikan dan udang. Begitupun dengan masyarakat pesisir yang tinggal di sekitar pesisir pantai di sepanjang kota Makassar khususnya kelurahan Panambungang kecamatan Mariso. Banyak penduduk di sana yang menetap di sekitar pesisir dan memperoleh nafkah dari laut.

Namun, hal seperti itu tidak lagi bisa terlihat di kelurahan Panambungan. Rumah-rumah warga telah tergusur dan wilayah pantai yang biasa mereka jadikan tempat mengumpulkan tude dan yang menjadi satu-satunya jalur mereka untuk melaut telah tertimbun oleh tanah-tanah yang dikeruk dari gunung dan bukit hanya untuk pembangunan yang jelas tidak membawa manfaat bagi masyarakat di sekitar pesisir tersebut.

Reklamasi namanya, dan hal itulah yang membuat beberapa warga kelurahan Panambungan ramai mendatangi kantor DPRD kota Makassar siang hari tadi 23 Juni 2015. Warga yang mayoritas ibu-ibu ini bersepakat untuk mendatangi rumah kerja para wakil mereka untuk meminta keadilan yang sudah semakin sulit ditemukan di negeri ini. Keadilan yang dituntut oleh warga sangat jelas bahwa mereka yang selama ini menetap diwilayah pesisir tersebut kini telah terusir dan kehilangan tempat mencari nafkah karena aktifitas reklamasi yang nyatanya ilegal dan hal tersebut diamini oleh wakil rakyat yang menerima warga di kantor DPRD kota Makassar.

Reklamasi ilegal yang dilakukan di sepanjang pantai Makassar yang luasnya sekitar 4000an hektar, 126 juta kubik timbunan yang panjangnya mencapai 35 km, akan berdampak pada masyarakat di sekitar pesisir pantai Makassar tidak hanya warga panambungan. Selain itu, kerusakan pada ekosistem di sekitar pesisir bisa dipastikan terjadi. Tidak hanya masyarakatnya yang juga adalah ekosistem tapi kerang-kerangan yang hidup di sekitar pesisir akan habis dikarenakan habitatnya yang akan hilang. Padahal kerang-kerang dan tude adalah sumber penghidupan masyarakat selain ikan.

Kurang lebih satu jam lamanya, mulai dari pukul 13.00 hingga pukul 14.00 massa aksi yang juga diramaikan oleh beberapa organisasi masyarakat yang peduli terhadap lingkungan, bersama lembaga bantuan hukum dan mahasiswa dari berbagai kampus di Makassar yang peduli terhadap rencana reklamasi dan yang akan terancam oleh rencana tersebut, menyampaikan aspirasi dan kritik mereka terhadap pemerintah, terkhusus pada wakil rakyat di kota yang katanya adalah kota dunia.

IMG_8810

Setelah selesai di kantor DPRD kota, massa aksi bertolak ke rumah jabatan walikota Makassar, sang pencetus kota dunia, yang katanya anak lorong dan sangat peduli terhadap kondisi kebersihan dan selokan kota Makassar. Terik matahari yang luar biasa panasnya tidak menurunkan semangat para massa aksi yang sedang menjalankan ibadah puasa untuk menyuarakan dan memberi peringatan kepada para penguasa tentang keadilan yang terenggut.
Sekitar pukul 14.30 massa aksi tiba dan disambut dengan wajah yang tidak mengenakkan dari satuan pol-pp dan beberapa anggota polisi yang berjaga di sekitar rumah jabatan pak walikota yang katanya dunia ini. Wajah yang mungkin tidak mengharapkan datangnya para massa untuk menuntut di sana, wajah yang mungkin sedang istirahat di sekitar rumah mewah berwarna putih yang pekarangannya cukup rindang untuk sekedar bersantai jika tidak ada kerjaan.

Para penjaga yang jelasnya adalah pihak kepolisian dan satpol-pp di sekitar rumah jabatan asyik mengambil foto seolah fenomena tersebut adalah hal yang jarang terjadi di kota yang katanya kota dunia ini. padahal jeritan-jeritan dari suara-suara yang menuntut keadilan ini sudah lama menggaung, hanya saja para elit yang bebal dan tidak mau mendengarkan suara itu. Bahkan mereka malah asyik sibuk merencanakan pembangunan kota menuju kota dunia, kota dimana masyarakat yang miskin akan hilang dan terbuang, digantikan dengan gedung-gedung bertingkat. Sibuk menelurkan jargon-jargon kota dan sibuk dengan selokan-selokan yang kotor.

 

Kini, warga yang menjadi korban langsung atas reklamasi yang bahkan berstatus illegal itu, tidak tahu harus melakukan apa, dan hendak mengadu kemana. Mereka telah nyaris kehilangan hidup akibat ulah pejabat yang hanya mendatangi mereka pada saat-saat kampanye. Aksi ini bukanlah hal yang terakhir yang akan dilakukan oleh masyarakat pesisir. Mereka tidak akan berhenti sampai hidup mereka kembali seperti sedia kala.
Panjang umur dan bersatu perjuangan rakyat!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: