LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Feature News » Festival Bulogading; Memupuk Solidaritas Lewat Seni dan Pertunjukan Rakyat.

Festival Bulogading; Memupuk Solidaritas Lewat Seni dan Pertunjukan Rakyat.

Siapa yang tidak mengenal pantai losari, sebuah ruang rekreasi yang paling banyak dikunjungi masyarakat Makassar menjelang akhir pekan. Arena bermain terbuka, spot foto yang bisa dimana saja, pemandangan laut, keindahan sunset, aneka dagangan mulai dari kuliner, pakaian hingga mainan anak-anak dan yang paling dibanggakan sebuah masjid terapung yang cukup megah berdiri di sana. Namun, akhir pekan kali ini langkahku tidak ingin menapak di pantai losari, bukan karena kebosanan yang mulai meradang menikmati kondisi yang monoton di pantai losari tetapi beberapa hari menjelang hari akhir pekan salah satu media sosialku menangkap sebuah poster yang dibagian atasnya bertuliskan “Undangan Terbuka, Festival Solidaritas, Kampanye Mendukung Perjuangan Warga Bulogading” aku berfikir mungkin ini judul acaranya, aku tertarik, kubaca lagi “Orasi politik, Panggung Seni, Lapak Donasi, Pameran Data Penggusuran, Testimoni Korban Penggusuran” itu adalah isi dari acaranya. Berhenti aku membacanya, segeralah aku mengerti dan paham tentang isi acara diatas. Beberapa pekan terakhir beberapa media lokal dan nasional cukup intens mengabarkan tentang kasus warga bulogading ini, jadi tidak sulit lagi bagiku untuk memahami maksud dari acara tersebut beserta lokasi acara yang sangat dekat dengan pantai losari, wisata kebanggan masyarakat makassar. Tak perlu aku meminta persetujuan anggota tubuhku lagi, karena sedari tadi mereka sudah bersahut-sahutan kepadaku untuk segera datang kesana pada hari sabtu yang tertanggal 29 agustus di tahun 2015.

1440841204416

Benar-benar terik matahari, debu-debu beterbangan, belum lagi hasil-hasil pembuangan kendaraan menambah pekat kondisi kota Makassar menjadi rintang yang mesti dihadapi ketika menyusuri jalan-jalan di Makassar hingga akhirnya aku tiba di Jalan Bulogading yang tepatnya berada di kawasan jalan Somba Opu. Ku layangkan tajam pandanganku kedalam lorong jalan tersebut, sepertinya belum dimulai acaranya, beberapa warga masih menata-nata lorong tersebut. Di kejauhan sana kulihat sebuah panggung yang sudah berdiri lengkap dengan hiasan bunga disekitaran tepi panggung dan beberapa sound system yang sudah terpasang yang sedang mengalunkan lagu-lagu yang sangat dekat dengan telingaku. Masih asyik aku memandang kedalam, tiba-tiba seorang pemuda menuju kearahku yang tepat berada di depan jalan tersebut, lalu aku menanyakan waktu dimulainya acara dan pemuda itu mengatakan acaranya dimulai menjelang magrib.

20150829_144541[1]

Sambil menanti acara dimulai, aku menikmati sore di pinggir pantai, kupesan segelas jus alpukat dari sebuah warung milik warga Bulogading. Kupandangi disebelah timur sebuah hotel megah berdiri diatas tepian pantai, diselatanku pun sebuah hotel yang juga megah berdiri seolah mereka beradu tanding kemegahan. Orang-orang berlalu-lalang, dari yang pendek hingga yang paling tinggi, yang kulitnya coklat dan yang putih hanya sesekali kulihat yang hitam. Dijalan raya ramai sekali kendaraan berseliweran satu arah. Duduk di sini di pinggir pantai ini, rasa-rasanya dunia baik-baik saja, semua berjalan begitu normal yang kaya dan banyak uang menikmati pantai dari dalam kamar-kamar hotel, yang tidak punya cukup uang bisa bergabung bersamaku dan yang tidak punya uang menjadikannya lahan untuk mencari uang. Orang kelas menengah seperti saya menganggap hal itu normal-normal saja.

Senja mulai habis artinya ini sudah menjelang magrib dan jus alpukatku sebenarnya sudah tandas sedari tadi. Segera aku berpindah ketempat tujuan semula. Sudah dimulai rupanya, kini diatas panggung seseorang mulai berbicara, menyambut para pengunjung yang datang dan menjelaskan tentang isi acara dan apa-apa saja yang bisa dilakukan dan ditemukan di acara ini. sepertinya laki-laki itu adalah sang pembawa acara. Aku masuk, ku tebarkan pandanganku dan kudapati di sebelah kananku beberapa orang sedang memulai menggambar pada tembok berwarna putih, sepertinya mereka sedang Mural, sebuah aktifitas seni menggambar atau melukis pada bidang tembok biasanya menggunakan cat tembok dan cat semprot pilox. Kutinggalkan mural tersebut beberapa langkah berikutnya kutemukan dua buah data yang dikemas dalam bentuk infografis tentang penggusuran di dua kampung yaitu Buloa dan Bulogading, disebelah infografis ku lihat banyak sekali foto-foto yang bercerita tentang perjalanan perlawanan masyarakat miskin kota Makassar dalam mempertahankan tanah mereka dari ancaman penggusuran.

Ramai sekali, kecuali para warga, banyak kulihat pengunjung yang kebanyakan adalah pemuda yang mungkin saja mahasiswa dan mungkin juga bukan, adajuga kudapati beberapa wartawan yang ikut meliput kegiatan ini, mudah-mudahan saja beritanya dimuat besar-besar biar seluruh masyarakat mengetahui masalah yang sedang dihadapi warga Bulogading.

Semakin mendekati panggung yang masih menampilkan sang pembawa acara, kudapati sebuah meja yang menyediakan jajanan, ada goreng-gorengan dari kentang yang ditusuk seperti sate, ada kue-kue yang dibungkus plastik, ada nasi kuning dan ada juga yang menjual stiker. Semua jajanan tersebut adalah upaya untuk mengumpulkan donasi untuk warga Bulogading,salah satu penjaja ku Tanya soal kemana donasi tersebut diperuntukkan, lalu dengan fasih sang ibu berambut pendek itu menjelaskan bahwa uang dari donasi akan dikumpulkan dan digunakan untuk keperluan gugatan balik kepada penggugat sebelumnya, ia menambahkan bahwa jumlahnya cukup besar lalu sambil mengembailkan uang kembalianku ia mengatakan “keadilan sangat mahal dinegeri ini nak”, lalu aku senyum dan mengambil uang kembalianku. Satu bungkus kue dan dua tusuk sate kentang kubeli, lalu aku duduk pada sebuah terpal yang telah disediakan sambil menikmati sang pembawa acara yang terus-menerus memperkenalkan kegiatan ini kepada para pengunjung.

Magrib telah usai, sang pembawa acara mulai memanggil pengisi acara. Satu persatu mereka naik, awalnya dimulai dengan penampilan anak-anak kecil yang berpakaian beragam sambil menyanyikan lagu Indonesia raya dan lagu Merdeka, entah apakah disengaja atau tidak rasa-rasanya menyindir saja bahwa mereka yang sebenarnya sedang tidak merdeka menyanyikan lirik-lirik kemerdekaan dengan senyum bahagia khas anak-anak. Setelah itu, seorang pemuda berkacamata dengan topi membacakan dua buah puisi tentang masyarakat rimba sambil bermain harmonika, puisi yang cukup panjang ia tuntaskan dengan pesan-pesan didalamnya. Setelah puisi kini kembali warga menampilkan tari-tarian modern dan sebuah drama singkat oleh anak-anak Bulogading tentang penggusuran, sangat satiris.

CNkykR4U8AA21AO

Semakin malam, semakin ramai saja disekitaran dekat panggung. Aku masih ditempatku, tidak ingin beranjak dan sedang menikmati alunan-alunan puisi dari seseorang yang sangat lantang, seolah-olah sangat tegas lewat suara dan isi puisinya bahwa segala macam penindasan harus dilawan, aku dan beberapa pengunjung tak sungkan untuk tepuk tangan, sungguh aku menemukan sesuatu yang berbeda di sini. Aku berdiri, kucari seseorang yang mungkin saja bisamenjelaskan banyak tentangku soal acara ini, lalu aku menemukan seorang pemuda yang sedang diwawancari oleh seorang wartawan. Aku berfikir lebih baik aku mendengarkan saja isi wawancaranya siapa tau saja aku mendapatkan informasi yang lengkap. Sambil mendengarkan alunan lagu-lagu yang dibawakan oleh yang mengatasnamakan para juru parker yang bermusik, aku menangkap bahwa acara ini selain menjadi media untuk berdonasi juga sebagai alat kampanye,menyebarluaskan informasi dan kegelisahan warga Bulogading kepada seluruh masyarakat kota Makassar yang di inisiasi oleh warga dan pendamping warga dari beberapa organisasi dimakassar. Menarik!

Alunan nada dan distorsi berhenti, sang pembawa acara mengambil alih panggung, mulai memanggil beberapa warga dari kampung lain, kudengar nama Pandang Raya, kampung Buloa, kampung Berua dan tanjung merdeka disebutkan dan kulihat beberapa warga dari kampung tersebut diatas panggung dan berbagi kisah dengan para pengunjung dan warga Bulogading sendiri sembari juga memberi semangat dan mendukung upaya perlawanan. Tiba-tiba suasana menjadi riuh, sesame warga saling sahut-sahutan menolak penggusuran,malam yang dingin kini panas dengan semangat perlawanan yang menggebu-gebu.

CNksxvOUwAA6EGD

Mulai kurasakan tenggorokanku mengering, ku beli segelas minuman dingin lalu kembali aku duduk dan menyimak beberapa partisipan orgnasisasi mulai naik kepanggung memberikan orasi politik dan pernyataan sikap atas perintah dari sang pembawa acara, yang kulihat mulai terlihat peluh dan tetes-tetes keringat memantulkan cahaya dari lampu sorot. Segera aku kembali ke tempat dudukku, satupersatu perwakilan organisasi naik menyampaikan argumen tentang penggusuran, penindasan dan menyatakan sebuah sikap untuk terus bersama warga Bulogading menolak penggusuran. Cukup penuh kepalaku pengetahuan tentang penggusuran dikota Makassar dan aku mulai menimbang-nimbang soal keadilan dan pembangunan yang saling bertabrakan.

Anak-anak kecil yang dari tadi berkeliaran didepan panggung, kini berserakan, berlari-lari disekitaran, pengunjung duduk-duduk sambil bercerita, bersenda gurau, orang-orang yang duduk diterpal mulai mengangkat tubuhnya meninggalkan terpal pindah ke kursi-kursi yang mulai kosong. Aku memandang panggung, sang pembawa acara sepertinya akan menutup acara, aku beranjak dari terpalku membelakangi panggung dan sang pembawa acara, masih kudenga ia mengucapkan terima kasih, aku terus berjalan foto-foto dan data-data masih ditempatnya, orang-orang yang hendak pulang singgah sebentar, memandangi mural yang sepertinya telah selesai. Aku ikut memandangi hasil karya anak-anak muda itu, sebuah tulisan besar bertuliskan “save bulogading” dengan beberapa gambar karikatur manusia dan hewan dengan beragam ekspresi wajah. Kucoba-coba menangkap maksud dari mural tersebut dan memuaskan diri dengan karya seni lalu aku beranjak keluar. Sebelum keluar, aku berbalik, memandang keseluruhan isi Bulogading, ada kesan bahwa disini sesuatu yang berbeda kudapatkan. Aku mulai setuju denga perkataan dosenku, bahwa disini dikampung-kampung, dilorong-lorong kecil yang padat kita benar-benar merasakan Indonesia, bukan diluar sana, dijalan-jalan yang ramai akan kendaraan dan bangunan-bangunan besar, lalu yang benar-benar Indonesia ini akan digusur diganti dengan bangunan tinggi, pusat perbelanjaan, tempat hiburan yang semakin bukan Indonesia dan yang terpenting menghilangkan hak mereka para warga Bulogading.

20150829_225540[1]

Sungguh kali ini aku merasakan akhir pekan yang sungguh lain, bukan aku pulang merasa bahagia saja, tapi ada perasaan yang sama yang aku rasakan dengan warga bulogading, perasaan dalam keadaan bahaya di tengah-tengah rimba kota, dampak industrialisasi dan rencana hebat pemerintah kota.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: