LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » KAMPUS DIANTARA DUA ARUS

KAMPUS DIANTARA DUA ARUS

“Kita masih berada dalam situasi menggembirakan karena Universitas Hasanuddin baru saja diresmikan sebagai perguruan tinggi berstatus otonom atau berbadan hukum (PTNBH). Banyak kemajuan dan prestasi yang telah kita raih, salah satunya keberhasilan SCL (Student Center Learning) dalam meningkatkan kualitas pendidikan kita. Ini tercermin dari berkurangnya rata-rata penyelesaian masa studi mahasiswa Universitas Hasanuddin, dari 4,7 tahun menjadi 4,4 tahun.”

Begitu kurang lebih sekuel kata pengantar Rektor Universitas Hasanuddin yang ditulis dan disampaikan dalam peringatan Dies Natalis Unhas yang ke-59, 10 November 2015. Tampak ada logika berfikir yang cacat dari pernyataan tersebut. Bagaimana mungkin kualitas pendidikan diukur dari kecepatan mahasiswa menyelesaikan masa studi ? Siapa yang dapat menjamin ? Saya kira Ibu rektor kita mampu.

Buktinya? Tidak sedikit mahasiswa Unhas yang resah terhadap kualitas penyelenggaran pendidikan di universitas Hasanuddin. Menurut hasil riset Lingkar Advokasi Mahasiswa (LAW-Unhas)—dengan menggunakan skala Turston—isu tentang buruknya kualitas penyelenggara akademik berada pada tingkat teratas[i].

Hal ini bukan saja membuktikan kohesifitas logika rektor unhas untuk mengukur kualitas pendidikan, namun juga menjadi kacamata penjelas bahwa ia memang ahli dalam memahami dan mengindra masalah dengan jernih. WowLuar biasaAmazing…

Barangkali ada baiknya Ibu rektor turun dari menara gadingnya di lantai 8 rektorat untuk membuktikan hal ini, ketimbang mengadakan pesta meriah dengan serangkaian alat musik, kembang api, jamuan makan-makan dan lain-lain pada acara Dies Natalies.

Oh iya, acara ini terselenggara berkat kerjasama yang baik antar rektor kita dengan pihak militer (Kodam Wirabuana) dan Bank seperti BNI juga Mandiri. Itulah dua arus di permukaan yang sedang menggelombang, lalu hendak menggiring kampus ini ke arah militerisasi dan korporatisasi. Hingga mereduksi fungsi universitas dari agent of emansipatory knowledge’s production menjadi agent of market’s production.

Bukankah kita sering melihat fenomena lulusan sarjana yang bekerja di tempat yang bukan sama sekali berasal ilmu dan gelar yang mereka dapatkan di kampus?

Padahal, Dies Natalies Unhas bisa saja dilakukan dengan mengundang ilmuwan-ilmuwan berpengetahuan dan berbudi besar yang mampu menginspirasi mahasiwa untuk menjadi seorang ilmuwan emansipatoris yang berguna bagi masyarakat luas. Bukan begitu kah fungsi universitas seharusnya? Itu baru masalah yang terjadi di dalam kampus, belum lagi yang hampir sama kompleksnya diluar sana, seperti kemiskinan, penggusuran, perampasan lahan, kekeringan, dan lain sebagainya.

Sementara kembang api perhelatan Dies Natalies ditembakkan ke udara malam Jumat itu, sekelompok mahasiswa yang tergabung dari beberapa organisasi menyelenggarakan panggung donasi untuk warga Bulogading yang terancam digusur oleh pengusaha atawa konglomerat. Tak jauh dari tempat para tamu undangan Dies Natalis, yang salah satunya adalah pengusaha, menyantap hidangan lezatnya. Mungkin saja diantara mereka ada yang kenal atau akrab atau bersekongkol dengan orang yang hendak menyulap Bulogading seketika rata dengan tanah.

Demikianlah secuplik realitas di dunia ini, kawan. Ada yang menghambur-hamburkan uang, ada pula yang menguras tenaganya untuk mencari uang dan donasi agar rumahnya tidak digusur oleh orang-orang yang senang meraup keuntungan sebanyak mungkin dan menghambur-hamburkan uangnya sesuka keinginan. Anehnya, semua itu terjadi di panggung yang sama dengan dua arus kebudayaan yang bertolak belakang satu sama lain.

Kalau Dies Natalies terselenggara berkat kerja sama apik militer dan korporat, IPK atau Indeks Perlawanan Kreatif untuk donasi warga Bulogading, diselenggarakan bersama berbagai komunitas buku dan makanan. Jika Dies Natalies punya kembang api yang menghujani malam, IPK punya hujan musik dan puisi yang membakar semangat. Dan bila Dies Natalies mengeluarkan banyak dana, IPK mencari sebanyak mungkin donasi.

Acara yang dimulai selama dua hari ini, berlangsung tiap sore pukul 16:00-21:30 WITA. IPK turut pula diramaikan oleh mahasiswa dari universitas lain seperti UMI dan UNISMUH. IPK seolah menjadi ruang berbagi ekspresi. Ada perwakilan warga Bulogading yang menyampaikan sejarah tanah dan kondisi kasus di Bulogading, ada Aliansi Unhas Bersatu yang membacakan pernyataan sikap penolakannya atas PTNBH, dan ada pula penampilan dari band-band kampus dan lokal yang turut meramaikan acara ini.

[i] Hasil riset tersebut akan dipublikasikan dalam Benang Merah edisi III. Benang Merah merupakan terbitan berkala LAW-Unhas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: