LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » Universitas Dan Moralitas

Universitas Dan Moralitas

Membicarakan moral, memang rada-rada kabur. Karena moral selalu berhubungan dengan mana yang baik, mana yang buruk. Bagi seseorang, atau bagi banyak orang. Sementara, apa yang baik dan yang buruk bagi setiap orang, sayangnya, seringkali berbeda-beda. Baik dan buruk dalam perihal ini, erat juga kaitannya dengan nilai. Nilai apa yang dijunjung tinggi, dan nilai yang seperti apa yang ditempatkan paling rendah.

Tindakan membunuh misalnya, bagi kita saat ini, mungkin adalah sebuah tindakan nomor satu yang dapat meruntuhkan nilai yang kita anut. Tapi siapa yang mengira, bagi sejumlah orang—yang berperan sebagai algojo dan ditugasi membunuhi pengikut PKI—pada peristiwa 65 lalu, membunuh adalah perbuatan yang paling heroik yang mereka banggakan hingga hari tua mereka saat ini. Begitu mungkin, salah satu contoh jika kita hendak membicarakan moral pada tingkatan yang lebih sederhana.

Belum apa-apa, perihal moral sudah mulai terasa kabur, lagi membosankan.

Dalam rentang waktu tiga tahun terakhir, UNHAS nampaknya sedang ramai oleh berbagai macam isu-isu yang cenderung moralistis. Lebih tepatnya lagi, hal moralistis yang cenderung hanya berada pada tingkatan banal. Memang, tidak ada alat ukur hal moralis remeh-temeh dan tidak remeh-temeh. Soal itu, saya serahkan saja kepada pembaca untuk menempatkan pada tingkatan apa hal-hal yang saya maksudkan, nanti.

Coba kita lihat kembali kasus sanksi skorsing 6 mahasiswa Fakultas Sastra 3 tahun lalu. Pangkal dari pencabutan hak belajar mahasiswa dengan sanksi skorsing pada saat itu adalah ucapan yang dilontarkan oleh salah seorang fungsionaris lembaga Keluarga Mahasiswa Fakultas Sastra yang—katanya—menyinggung para pejabat fakultas yang sedang menghadiri kegiatan ‘bina akrab’.

Kasus yang lain misalnya, 2014 lalu, mahasiswa Fakultas Kehutanan harus kehilangan kebebasannya bahkan untuk menentukan gaya rambut, gaya berpakaian serta jenis alas kaki yang mereka pakai. Pasalnya, aturan yang mengharuskan mahasiswa berambut pendek, mengenakan kemeja, dan tidak mengenakan sandal, telah disahkan. Banner yang berisi aturan itu, berdiri elegan di ruang depan kantor dekanat Fakultas Kehutanan. Lengkap dengan gambar ilustrasi model rambut ideal seorang mahasiswa. Mirip-miriplah dengan foto model rambut yang terpajang di salon-salon.

Sebenarnya masih banyak contoh lain, tetapi mari kita langsung saja melihat contoh kasus yang masih hangat; perihal pengaderan mahasiswa baru. Isu yang satu ini, bukan saja hangat, tetapi memang terus ada setiap tahunnya. Periode terakhir ini, mahasiswa baru kembali menjadi lahan rebutan antara kelembagaan mahasiswa dan kelembagaan kampus. Beberapa hari yang lalu saya mendapati tulisan yang menarik perihal ini. Singkat saja, tulisan itu bercerita tentang perdebatan yang terjadi antara mahasiswa Senior dan Dosen perihal siapa yang berhak dan bertanggung jawab mengajarkan moral dan membentuk karakter mahasiswa baru.

Perdebatan tersebut terjadi, tepat pada saat pengumpulan mahasiswa baru sedang berlangsung.  Dalam perdebatan itu, si Senior merasa perlu mengajarkan moral kepada mahasiswa baru—yang katanya mengalami krisis moral. Di sisi lain, si Dosen merasa lebih bertanggung jawab untuk ‘memperbaiki’ karakter dan moralitas mahasiswa baru. Malangnya, mahasiswa baru, yang jelas-jelas menjadi objek yang sedang dibahas, diposisikan layaknya serakan benda mati yang seolah-olah tidak memiliki sedikitpun moralitas yang sepanjang hidupnya—hingga kemarin sore, sebelum menginjakkan kakinya ke kampus, dan bahkan setiap harinya saat mereka berada di rumah—telah ditanamkan oleh keluarga maupun lingkungan tempat mereka tumbuh.

“Aduh!! siapa sih kalian semua ini?? Dengan ‘pede’nya saling mengklaim berhak mencampuri urusan moral kami??” Seru para mahasiswa baru dalam hati.

Itu segelintir contoh banalitas moral yang banyak mengisi ruang diskursus di kampus kebanggaan kita ini. Memang, moral adalah sesuatu yang dikonstruksi dan selalu bersifat kultural. Namun moral tidak akan serta merta dapat dikonstruksi melalui intervensi dalam bentuk regulasi. Kampus adalah rahim ilmu pengetahuan. Kampus bertugas untuk membangun menara ilmu pengetahuannya yang autentik di atas pondasi moral kolektif yang terpancang pada lingkungan masyarakat tempat suatu kampus berada. Tidak ada urusan dengan mengurusi moralitas mahasiswa. Sebab kampus sendiri masih perlu menapakkan pijakannya pada moral kolektif tertentu.

Sedangkan yang berperan sebagai pendidik dalam kehidupan kekampusan, dalam hal ini dosen, guru besar, atau profesor—atau apapun gelarnya, seharusnya, tugas mendidiknya bertolak dari ilmu pengetahuan yang memiliki pijakan yang jelas pada moral kolektif konteks masyarakat tempat ia berada. Ah.. tetapi, pembahasan yang sudah-sudah itu mungkin merupakan kontradiksi yang sedang dihadapi dan dipikirkan penyelesaiannya oleh kampus-kampus yang jauh lebih maju saja. Untuk kampus kita, kenali saja dulu masyarakat tempat kita berada, tingkatkan kualitas pendidikan, kualitas pendidik, kualitas fasilitas pendidikan, manajemen tata kelola, pembagian jadwal kelas, sistem KRS berbasis online, WC hingga hal remeh-temeh lain yang belum juga selesai di kampus kita. Selepas itu, baru kita berhak punya mimpi menjadi kampus kelas dunia.

***

Sepertinya memang ada yang bergeser pada esensi kampus hari ini, terutama di kampus kita tercinta ini. Suatu ketika saya membaca sebuah tulisan yang menggambarkan keharmonisan interaksi di antara para petinggi-petinggi kampus UNHAS ‘zaman dahulu kala’. Sebut saja, Prof. Dr. Ahmad Amiruddin, Prof. Abdul Razak Thaha, Prof. Mattulada, Rahman Arge, Anwar Ibrahim, Ishak Ngeljaratan dan sederetan nama besar lainnya. Meski juga tak lepas dari berbagai polemik pada masanya, saya menggaris bawahi satu hal dari generasi ini; sebagai kalangan intelektual, mereka adalah generasi yang dipersatukan oleh kesetiaan pada ilmu pengetahuan. Mereka memahami benar amanah ilmu pengetahuan yang mereka emban, dan mereka berbuat untuk itu. Mereka memahami benar apa itu ‘saling mengapresiasi’. Juga, mereka jelas meninggalkan legacy yang patut diapresiasi sebagai life-time dedication. Lantas bagaimana dengan generasi intelektual yang menggerakkan kampus kita hari ini? Ah, tapi, sebenarnya, pekarangan bertegel mewah, atau tugu nama fakultas yang mengkilap, mungkin bisa juga disebut sebagai legacy.

Begitulah, apa yang kita lihat saat ini, adalah fenomena yang telah diramalkan Nietzche sejak dua abad silam; Nihilisme atau kemerosotan nilai di segala bidang kehidupan manusia. Suatu keadaan di mana nilai yang semestinya luhur dan ditinggikan, kini tidak lagi menjadi utama. Sebaliknya hal yang remeh, tidak bermakna, kitch, menjadi sesuatu yang dipuja-puja. Fenomena yang terjadi di perguruan tinggi kita ini hanyalah miniatur dari gejala nihilisme yang jauh lebih besar. Kemerosotan moral tidak selesai hanya dengan serangkaian nasihat yang dipetik dari Rumi, atau Mario Teguh sekalipun. Tidak juga dengan sederetan aksi programatis jangka pendek yang menghabiskan setumpuk anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk pembaruan buku di perpustakaan atau akses jurnal ilmiah internasional, ya hitung-hitung manambah bargaining menuju WORLD CLASS UNIVERSITY(?).

Saya jadi teringat pada sebuah foto yang banyak beredar di sosial media beberapa hari terakhir. Sebuah foto pengumuman yang tertempel pada sebuah pintu kaca bertuliskan; ‘Mahasiswa berambut gondrong dilarang masuk di ruang perpustakaan ini’. Lucu saja ketika mengingat bahwa nama universitas yang kita bangga-banggakan ini diambil dari nama seorang pahlawan yang—ternyata—berambut gondrong.

Ah, semakin menggelikan saja tingkah kampus hari ini. “Ngelantur”, kata seorang teman.

Oleh : Khaerul Ikhsan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: