LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » “Kampus yang salah, kok Kita yang dihukum?” Sebuah Reportase Singkat

“Kampus yang salah, kok Kita yang dihukum?” Sebuah Reportase Singkat

IMG_20151008_134232Kamis, 8 Oktober 2015, kurang lebih 100 mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam aliansi Unhas Bersatu melakukan Aksi demonstrasi. Aksi ini dilakukan di depan gedung rektorat Universitas Hasanuddin. Massa aksi menuntut Universitas Hasanuddin bertanggung jawab penuh dalam kasus Bidik Misi yang mengakibatkan sebanyak 29 Mahasiswa harus mengembalikan uang beasiswa Bidik Misinya.

Sekitar pukul 13:00 massa aksi mulai berdatangan di area MKU sebagai titik kumpul. Massa aksi membekali diri dengan topeng kardus yang bertuliskan bermacam uneg-uneg kekecewaan terhadap kampus. Tak lupa juga spanduk besar berisi tuntutan aksi. Dengan diawali sumpah mahasiswa, massa aksi mulai bergerak menuju gedung rektorat. Hingga membuat teras depan rektorat dipenuhi oleh massa aksi. Tampak pengamanan dari satpam juga telah siap di pintu masuk rektorat. Aksi ini juga bertepatan dengan adanya rapat Senat Universitas Hasanuddin di gedung yang sama. Orasi demi orasi dilakukan oleh perwakilan lembaga mahasiswa namun belum ada perwakilan rektorat yang turun menemui massa aksi. Salah satu korban yang harus mengembalikan uang beasiswa Bidik Misinya juga turut menyampaikan orasi. “Semester ini saya tidak bisa kuliah, portal akademik saya dikunci. Belum ada kejelasan dari pihak rektorat sampai sekarang ini”, ujarnya, yang membuat spirit massa aksi kian bersemangat. Faktanya, hal ini merupakan kesalahan pihak rektorat dalam proses penjaringan Bidik Misi. Minimnya transparansi serta ketiadaan Surat Keputusan resmi dalam pemanggilan korban dalam dialog dengan pihak rektorat, makin memperjelas ketidakjelasan kasus tersebut.

Kasus ini bermula dari temuan BPK (Badan Pemeriksaan Keuangan) terhadap sejumlah mahasiswa bidik misi Unhas yang datanya bermasalah. Padahal, kasus ini telah selesai secara hukum atau secara pertanggungjawaban di kejaksaan setelah Unhas membayar kerugiaan negara sebesar Rp 600 juta.
Namun, Unhas tetap meminta kepada 29 mahasiswa tersebut untuk menggantikan uang bidik misi yang pernah mereka terima. Jumlah uang yang harus dikembalikan berkisar Rp 5 juta – Rp 32 juta/mahasiswa. Bahkan uang yang diminta oleh pihak rektorat disetor kepada rekening biro kemahasiswaan, bukan rekening resmi Rektor, sebagaimana pembayaran resmi yang dilakukan Unhas.

Ketegangan antara mahasiswa dan bagian pengamanan kampus sempat terjadi dikarenakan tidak adanya kejelasan siapa perwakilan rektorat yang akan menemui mahasiswa. Baru pada pukul 15:14 Wakil Rektor 3 bidang Kemahasiswaan turun menemui massa aksi. Wakil Rektor 3 menjanjikan akan membuat pertemuan antara pihak Unhas, BPKP, Ikatan Mahasiswa Bidik Misi, aliansi Unhas bersatu dan ke 29 korban bidik misi pada hari Jumat bertempat di gedung rapat B.

Sebelum Wakil Rektor 3 meninggalkan lokasi, perwakilan aliansi menekankan tanggung jawab penuh Universitas Hasanuddin atas kasus ini dan mendudukkan 29 mahasiswa tersebut sebagai korban. Akhirnya massa aksi membubarkan diri dan berjanji akan kembali dengan massa yang lebih banyak jika pertemuan hari Jumat nanti tidak menghasilkan apa-apa. “Kampus yang salah, kok, kita yang dihukum?” Kata seorang massa aksi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: