LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » 20 PARADIGMA PENDIDIKAN GAYA KOLONIAL

20 PARADIGMA PENDIDIKAN GAYA KOLONIAL

Berikut ini ialah 20 paradigma pendidikan bergaya kolonial yang terbatas hanya pada kepada kaum priyayi pribumi, atau yang lebih dikenal dengan “politik etis”. Bahasa gaulnya, “politik balas-budi”. Mari kita cermati seksama, apakah watak pendidikan tinggi kita hari ini tak jauh beda dengan yang terjadi puluhan tahun silam, ketika negeri ini masih berada dibawah kekuasaan kolonial Hindia Belanda? Atau jangan-jangan, kita benar-benar belum bisa move-on?

  1. Tujuan utama pendidikan kaum terpelajar ialah membentuk orang-orang yang terampil untuk pelaksanaan operasional seluruh mekanisme Hindia Belanda (atau pihak metropol) sebagai Pembantu.
  2. Kaum terpelajar harus dipisahkan secara halus dari rakyat. Salah satu sarananya ialah:
  3. Kemahiran berbahasa Belanda (atau asing) selaku salah satu syarat penilaian penerimaan pegawai, konduit dan sebagainya;
  4. Peniruan dan okulasi gaya hidup kultur Belanda/Metropol ke dalam diri siswa pribumi.
  5. Mata pelajaran dan sistem sasaran-sasaran pengajaran disesuaikan pada pedoman kebutuhan struktur-struktur industri dan bisnis besar Metropol:
  6. Hanya cabang-cabang ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan yang dibutuhkan Metropol atau industri-industri penunjangnya mendapat promosi pengembangan dan bantuan dana yang banyak.
  7. Karena siswa dan mahasiswa hanya dipersiapkan untuk menjadi pelaksana setia saja, maka jurusan-jurusan yang mendidik keahlian legislatif, artinya keahlian pemilihan alternatif-alternatif serta penahkodaan pengambilan keputusan masyarakat tidak akan dipromosikan. Dihindari pemberian dana-dana untuk pendidikan ahli yang pemikir, konseptor, untuk penelitian-penelitian dan penghantaran ilmu-ilmu kemasyarakatan dan manusia, politologi ataupun filsafat dan lain sebagainya.
  8. Ilmu-ilmu manusia dan sosial diajukan juga, tetapi terbatas pada fungsinya yang menata perilaku manusia atau social engineering yang menunjang paradigma dunia industri dan bisnis besar metropol, sehingga ketertiban dan keamanan yang dibutuhkan dunia industri dan bisnis (bukan ketertiban dan keamanan yang dibutuhkan masyarakat) mendapat garansi dari kaum sospol.
  9. Devide et impera dilakukan antara lapisan-lapisan berijazah yang diperketat oleh mekanisme pengganjaran dan penghukuman, penganak-emasan dan penganak-tirian jenis-jenis sarjana dan tenaga-tenaga ahli. Demikian juga sistem status kemasyarakatan diatur, agar para pemikir yang sejati diberi status yang kurang dari pada kaum terampil pelaksana setia.
  10. Sistem penerimaan murid secara formal harus terbuka bagi setiap calon yang memenuhi syarat, akan tetapi secara faktual diusahakan agar mendahulukan putera-puteri kaum elite.
  11. Sekolah-sekolah formal harus diberi status, prioritas dana serta perhatian melebihi pendidikan-pengajaran non-formal, karena sekolah-sekolah formal pada umumnya adalah tempat pendidikan anak-anak kaum elite, sedangkan pengajaran non-formal seumumnya menampung anak-anak lapisan rakyat.
  12. Hubungan antara guru dan murid harus dijaga, agar jangan menjurus ke arah dialog yang dapat menurunkan status hierarkis para guru selaku instruktor dan pihak pemberi kepandaian serta keterampilan yang sudah diseleksi.
  13. Dunia persekolahan dibuat dengan bermacam-macam mekanisme dan persyaratan, sehingga selalu merupakan dunia kaum elite:
  14. Sistem harus ditata secara tak kentara namun efektif, agar siswa dan mahasiswa selalu merasa diri di atas rakyat biasa dan mereka yang tidak terpelajar.
  15. Walaupun pergaulan dan dialog antara kaum terpelajar dan rakyat secara formal dimungkinkan bahkan dianjurkan, akan tetapi diusahakan agar praktis itu terhalang oleh pagar-pagar hierarkis, paling tidak pagar-pagar psikologis.
  16. Demikian juga sistem tingkat-tingkat guru rendah, menengah, mahaguru, dan lain-lain harus diatur secara hierarkis, bukan atas dasar kecakapan atau kreatifitas. Untuk itu kertas-kertas ijazah atau testimponia lain merupakan mekanisme efektif, agar rekomendasi-rekomendasi dan penilaian konduite selalu dilakukan dan dikontrol oleh kalangan elite itu sendiri.
  17. Kreatifitas dan inisiatif dianjurkan, tetapi hanya dalam bidang-bidang yang bersifat eksklusif pelaksanaan saja, dan hanya dalam kerangka paradigma yang sudah dibatasi secara selektif
  18. Kampus dibuat a-politis dengan pendasaran yang disebarluaskan bahwa dunia ilmu pengetahuan dan teknologi adalah netral dan objektif. A-politis artinya nisbi hanya terhadap unsur-unsur dan pandangan-pandangan yang berasal dari luar pihak penguasa. Terhadap penguasa, civitas akademika tetap politis selaku pelaksana setia dari politik pihak penguasa.
  19. Letak geografis dan susunan pergedungan kampus harus diusahakan agar mencerminkan kewibawaannya di atas seluruh masyarakat, sehingga lebih jelaslah kedudukannya yang elite. Di dalam tata organisasi, dunia kampus sendiri harus dilestarikan sebuah hierarki antar universitas itu sendiri, sedemikian rupa sehingga universitas negeri selalu mendapat status yang lebih tinggi daripada universitas swasta.
  20. Hal itu seumumnya berlaku juga untuk semua lembaga persekolahan dari bawah sampai ke atas, sehingga tertanam pemahaman, bahwa segala yang datang dari masyarakat atau rakyat selalu berkedudukan lebih rendah daripada yang berpredikat Negara.

Nb : 20 butir paradigma pendidikan kolonial di atas disadur dari tulisan Y.B. Mangunwijaya “Paradigma Baru Bagi Pendidikan Rakyat”, yang dimuat di majalah Prisma LP3ES edisi ke-7, Juli 1980, dengan tajuk “Mencari Kiblat Pendidikan”. Selengkapnya tentang paradigma pendidikan kolonial terdapat pada halaman 11-12.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: