LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » ANAK MUDA, MEDIA DAN MASA DEPAN INDONESIA

ANAK MUDA, MEDIA DAN MASA DEPAN INDONESIA

Di sebuah diskusi di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar beberapa waktu lalu, terlintas terdengar angka anak muda di negeri ini diprediksikan sepuluh tahun ke depan akan menembus angka enam puluh persen dari sekitar dua ratus lima puluh juta total penduduknya. Angka tersebut bisa dibilang tinggi jika dibandingkan dengan negara tetangga, dan juga dibilang sedikit jika dibandingkan dengan Cina, India, dan Amerika Serikat. Itulah realita Indonesia 2025-2050 kiranya menurut salah satu pembicara pada diskusi tersebut. Bukan cuma soal ketepatan angkanya menurutku yang penting, akan tetapi imajinasi ramalannya yang saat sekarang pun sudah sangat terasa. Kalau surplus demografi anak muda yang melimpah tersebut dapat dikelola dengan baik, maka akan menciptakan manfaat bagi negeri ini, akan tetapi jika salah urus, bukan tidak mungkin justru akan berbuah bencana. Benefit or disaster resources istilah yang diguakan untuk menandainya.

Di Indonesia, negeri kita ini, anak muda di hadapan media massa sering di tampilkan negatif atau kalau tidak dieksploitasi daya konsumsinya oleh kepentingan pasar yang termediasi melalui berbagai macam iklan. Pemosisian sebagai kelas menengah yang memiliki daya beli yang bisa mendongkrak arus konsumsi barang dan jasa menjadi primadona bagi pasar. Baik di bidang makanan, fashion, traveling/tourism, maupun penjualan barang elektronik. Bisa dibilang, pihak luar telah menangkapnya lebih duluan. Tidak hanya itu, sebagai tenaga kerja produktif yang bisa digaji murah merupakan hal yang menggiurkan bagi investor dan penyedia tenaga kerja di negeri ini. Fresh graduate for low wages kata seorang kawan pejuang advokasi. Nasib generasi muda kita dieksploitasi di dunia kerja dan juga menjadi target pasar yang senantiasa gaya hidup dan budaya konsumtifnya terus dieksploitasi.

Pekerja muda yang melimpah, dan terkhusus kaum perempuan dari lulusan SD sampai lulusan Perguruan Tinggi berbaris rapi mencari pekerjaan. Maka dibuatlah beberapa cluster bagi mereka para pekerja muda perempuan ini. Tubuh menjadi komoditas, paras dan kesiapan menjadi seperti di iklan juga seolah menjadi persyaratan tak tertulis. Menjadi front office, SPG (sales promotion girls) yang sudah pasti harus “cantik dan seksi”. Bukan hanya perempuan, laki – laki juga dituntut atletis seperti iklan salah satu produk susu khusus laki – laki yang muncul di berbagai media. “Rajinlah fitness, jika hanya kerempeng apa lagi buncit, maka bukan laki – laki idaman pasar abad ini”. Begitu kira – kira mitos yang dibangun untuk para anak muda kita oleh iklan di berbagai media hari ini. Maka ramailah industry kecantikan bagi perempuan dan kemachoan bagi laki- laki. Tubuh menjadi komoditas, sekaligus menjadi objek eksploitasi. Dieksploitasi oleh mitos – mitos modern yang diciptakan oleh media menurut Roland Barthes seorang pemikir kritis dan ahli semiotika asal Perancis ini.

Dalam ranah kerja maupun dalam ranah konsumen sebagai target pasar, anak muda Indonesia terkurung dalam sebuah lingkaran setan yang menurut Weber merupakan “Kerangkeng/Sangkar Besi Kapitalisme Global”. Begitulah kiranya salah satu proyeksi memperlakukan 60% (150 juta orang dari 250 juta) jumlah anak muda Indonesia sepuluh tahun kedepan yang hari ini pun sudah bisa dirasakan gelagatnya. Seperti juga kata Jean Baudrillard bahwa “masyararakat konsumen selalu disimulasikan oleh simulakrum – simulakrum borjuis sebagai produsen produk dan simbol – simbol penanda identitas kelas sosial”. Argumen Baudrillard tersebut merupakan penanda kapitalisme lanjut dalam teorinya tentang “Consumer Society“.

Melemahnya daya kritis ditambah semakin leluasanya media massa dalam mengiklankan produk – produk di berbagai media menjadikan budaya konsumtif menjalari anak muda dengan seolah tak terkendali. Berbeda halnya jika potensi tersebut dapat dikelola dengan baik serta disalurkan ke arah yang berorientasi positif – benefit resources – sumber daya yang dapat membawa kemaslahatan. Tentunya dibutuhkan pendidikan yang memadai yang menyiapkan kesadaran kritis dan pengetahuan memadai, skill, dan integritas tentunya. Arus yang datang dari Utara meminjam istilah Pramoedya haruslah dihadapi dengan kesiapan yang memadai supaya kita tidak hanyut dan tenggelam di bawah kendali kekuatan arus tersebut. Khususnya arus gaya hidup anak muda dan konsumtivisme yang dibangun melalui media massa hari ini.

Kita bisa belajar dari berbagai peradaban yang gemilang di tiap masanya, akan tetapi kita tidak harus berdiam diri dengan perasaan inferior di hadapan keagungan peradaban tersebut. Minimal agar potensi ratusan juta anak muda Indonesia kedepan tidak menjadi bencana di negerinya sendiri, juga tidak menjadi sasaran empuk yang memberikan keuntungan besar pihak luar yang hanya ingin ambil untung. Apalagi tahun 2015, Masyarakat Ekonomi ASEAN akan menerapkan perdagangan bebasnya. Diharapkan tentunya semua elemen terkhusus media massa di negeri ini bisa memainkan peran pentingnya dalam membangun anak muda Indonesia ke depan agar menjadi benefit resources dan menghindari kutukan disaster resources dari ramalan surplus demografi Indonesia tersebut.

 

Arul Nash

Crew of ISCS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: