LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Galeri & Kampanye » DISKUSI PUBLIK

DISKUSI PUBLIK

1450785131189

“LARANGAN AKTIVITAS MALAM: REGULASI ATAU INSTRUKSI ?”

Dasar Pemikiran

Lembaga kemahasiswaan Universitas Hasanuddin kembali dibuat gaduh oleh aturan yang dikeluarkan oleh rektorat Universitas Hasanuddin. Belum reda rasa geli dikarenakan aturan “dilarang gondrong” beberapa bulan lalu, tertanggal 7 Desember lalu, kampus kembali mengeluarkan aturan pelarangan aktivitas malam di kampus. Di dalam surat edarannya, tertera, bentrokan yang terjadi antara mahasiswa Fakultas MIPA dan mahasiswa Fakultas Teknik minggu malam lalu adalah salah satu alasan utamanya. Bentrokan mahasiswa, lebih lanjut dituliskan, juga berpotensi menyebabkan kerusakan fasilitas-fasilitas kampus. Di samping itu, alasan lain yang menjadi dasar dikeluarkannya surat edaran ini adalah membengkaknya biaya listrik yang harus dibayarkan oleh kampus.

Tidak butuh waktu lama setelah surat edaran (dadakan) itu dikeluarkan, pada malam tanggal 7 Desember, kampus segera melancarkan agresi pertamanya. Pihak kampus, diwakili oleh WR III, yang dikawal oleh berlapis lapis pengamanan di belakangnya, membubarkan aktivitas-aktivitas lembaga kemahasiswaan. Namun yang mengejutkan bagi para fungsionaris lembaga kemahasiswaan adalah, terlibatnya aparat Kepolisian beserta TNI dalam agenda pembubaran—untuk tidak menyebutnya pengusiran—mahasiswa pada malam yang menyedihkan itu. Alih-alih datang dengan komunikasi yang baik, pihak kampus beserta lapisan-lapisan pengamanaannya, dengan kasar membubarkan, bahkan masuk mengobrak abrik sekretariat lembaga kemahasiswaan. Begitulah isu pelarangan aktivitas malam ini bergulir dengan cepat di kampus merah Universitas Hasanuddin.

Setiap kebijakan, lazimnya memang akan menuai berbagai respon dari publik, dalam hal ini mahasiswa untuk konteks di dalam kampus. Namun, sebagai masyarakat intelektual, penetuan ‘standing position’ atau keberpihakan terhadap suatu isu, tentu tidak patut jika diambil dengan cara reaksioner. Kita dituntut untuk menelaah lebih dalam suatu permasalahan sebelum mengeluarkan argumen tertentu sebagai respon atasnya.

Dalam kaitannya dengan deskripsi singkat di atas, ada beberapa isu yang mengemuka, yang perlu untuk ditelaah lebih jauh sebelum menentukan sikap atau keberpihakan. Yang pertama adalah pelarang aktivitas malam itu sendiri. Perlu diingat, ‘kebijakan’ ini bukanlah pertama kali diambil oleh pihak kampus. Di beberapa periode sebelumnya, aturan yang serupa sudah kerap dikeluarkan oleh kampus. Alasannya pun bisa dibilang tidak berbeda dengan surat edaran yang dikeluarkan baru-baru ini. Asumsi pihak kampus yang serta-merta mengasosiasikan aktivitas malam mahasiswa di kampus dengan potensi bentrokan mahasiswa, rasanya terlalu cepat. Karena jika kita melihat kembali secara historis, bentrokan mahasiswa yang terjadi pada malam hari sangatlah jarang terjadi. Menjadi sangat dipertanyakan jika kampus sama sekali tidak mempertimbangkan aktifitas malam sebagai penunjang berbagai prestasi kelembagaan yang pernah diraih oleh banyak lembaga kemahasiswaan di unhas. Yang, tentunya, sangat berkontribusi besar dalam mengharumkan nama baik UNHAS, bahkan, di mata dunia. Lihat saja, beberapa UKM-UKM besar  di UNHAS yang telah malang melintang menjuarai berbagai event skala apapun di luar kampus, mereka menghabiskan banyak waktu latihan dan persiapannya di malam hari. Hal itu logis, karena kita semua adalah mahasiswa, yang pada pagi hingga sore hari menghabiskan waktu untuk duduk di ruang-ruang kelas mendengarkan kuliah.

Selain hal yang disebutkan sebelumnya, isu lain yang mengemuka, dan cukup penting untuk diutarakan adalah, keterlibatan aparat keamanan Negara—Kepolisisan dan TNI—dalam aksi pembubaran beberapa waktu lalu. Hal ini, berpotensi menimbulkan berbagai macam dampak dalam berbagai aspek. Tidak tertutup kemungkinan, para fungsionaris lembaga mengalami demoralisasi dalam proses kegiatan kreatifnya di lembaga kemahasiswaan. Lagi pula, untuk hal, keterlibatan TNI dalam aksi pembubaran tersebut, rasanya langkah yang terlalu jauh di ambil oleh kampus. Ini bisa saja menimbulkan asumsi sederhana bahwa sistem satuan pengamanan kampus memang belum maksimal dalam mengatasi permasalahan-permasalahan di dalam kampus.

Tentu, pintu kemungkinan masih terbuka lebar bagi berbagai isu lain menyangkut peristiwa ini. Oleh karenanya, untuk menyikapinya secara lebih komprehensif, Lingkar Advokasi Mahasiswa UNHAS mengadakan diskusi publik sebagai wadah dialogis untuk menyikapi peristiwa yang telah dipaparkan dengan singkat sebelumnya.

Tujuan:

Adapun tujuan diadakannya diskusi publik ini adalah sebagai berikut :

  • Untuk memberikan pemahaman yang jelas kepada mahasiswa tentang Surat Edaran Ketertiban dan Keamanan Kampus.
  • Sebagai wadah komunikasi atas isu-isu yang dianggap kontroversial dan perlu terkait Surat Edaran Ketertiban dan Keamanan Kampus.
  • Untuk membangun kesepahaman terkait kontroversi Surat Edaran Ketertiban dan Keamanan Kampus.

NAMA KEGIATAN, TEMPAT, DAN WAKTU PELAKSANAAN

Nama Kegiatan  : Diskusi Publik “Larangan Aktivitas Malam; Regulasi atau Instruksi?”

Tempat                 : Pelataran Baruga A. P. Pettarani Universitas Hasanuddin

Waktu                   : Rabu, 23 Desember 2015

Narasumber :

  1. Endang Sari, S.Ip., M.Si (Dosen Ilmu Politik).
  2. Saleh Hariwibowo (Ketua BEM SOSPOL UH)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: