LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Opini Kritis » Esok Malam, Akankah Seindah Malam Yang Telah Berlalu?*

Esok Malam, Akankah Seindah Malam Yang Telah Berlalu?*

                     Ilustrasi Larangan Aktivitas Malam

Sebuah malam yang riuh ketika satpam kampus beserta TNI, Polisi dan wakil rektor III menyisir sekretariat lembaga kemahasiswaan (lema) di kampus Unhas Tamalanrea. Kala itu kami sedang berdiskusi di koridor manakala giliran kunjungan aparat keamanan tertuju kesitu setelah kericuhan antar fakultas terjadi sebelumnya.

“Pulang semua, bikin apa di kampus malam-malam begini”, kata salah seorang dari mereka sementara yang lainnya menggeledah barang-barang salah satu sekretariat lema fakultas Sastra.

Keesokan harinya sekelompok mahasiswa dari berbagai fakultas berkumpul di Rektorat Unhas kamelakukan aksi demonstrasi menolak pemberlakuan jam malam dan intervensi TNI-polisi terkait razia yang dilakukan semalam sebelumnya.

Wakil Rektor III yang turun menanggapi aksi tersebut mengatakan bahwa selain memungkinkan timbulnya kericuhan, jam malam juga membuat pembiayaan listrik membengkak. Sementara kedatangan TNI dan Polisi diperuntukkan dalam mengamankan aset negara yang berpotensi rusak akibat konflik antar fakultas.

Premis pertama, kericuhan. Kericuhan yang terjadi antar fakultas mesti dilihat sebagai kegagalan universitas dalam mendidik mahasiswanya atau melakukan proses penyelenggaraan pendidikan. Dosen yang sibuk dengan proyek, metode pembelajaran yang masih memakai cara-cara kuno, fasilitas yang buruk, konten mata kuliah yang tidak up to date, kontrak belajar yang tidak partisipatif dan demokratis hingga sederet intervensi terhadap lema ialah berbagai sebab yang boleh jadi mendorong terjadinya kericuhan.

Kericuhan, dengan demikian, bisa dipandang sebagai displacement atau pemindahtempatan rasa kekecewaan yang dirasakan oleh mahasiswa. Menganggap jam malam sebagai potensi yang melahirkan kericuhan hanya akan melahirkan fallacy of dramatic instance, atau kekeliruan berpikir yang mendramatisasi contoh-contoh kecil untuk digeneralisasi.

Tak jarang konflik antar fakultas justru merupakan hal yang by design. Diatur oleh sekelompok elit, barangkali dari birokrasi fakultas sendiri, untuk memenangkan segenap agenda politiknya. Agar memperoleh legitimasi pemberlakuan jam malam, misalnya, konflik antar fakultas harus dirancang.

Premis kedua, biaya listrik membengkak. Apakah transparansi anggaran pernah disodorkan kepada mahasiswa atau publik? Sulit mengatakan iya. Faktanya, pada setiap aksi demonstrasi menuntut transparansi anggaran, pihak birokrasi Unhas tak pernah memberikan rincian anggaran belanja tahunannya.

Jam malam disini diakibatkan oleh berubahnya status otonomi yang diperoleh Unhas beberapa waktu lalu. Otonomi kampus mengharuskan Unhas melakukan pembiayaanya secara mandiri. Hal ini berdampak pada “dijualnya” aset-aset Unhas dan membuat Unhas menjadi semakin pelit, hitung-hitungan dan efisien. Disaat yang bersamaan kita dapat melihat di sekitar kita betapa banyaknya bangunan baru yang berdiri di Unhas. Tapi begitu sedikitnya perubahan kualitas akademik yang dapat kita rasakan.

Nyaris seluruh kampus-kampus besar di dunia tidak memisahkan mahasiswa dengan kampusnya. Kampus ibarat rumah bagi mereka. Tidur di perpustakaan itu hal yang lumrah. Tapi Unhas memang bukan kampus besar. Unhas terlampau sibuk dengan urusan administratif dan normatif. Unhas terlalu malas mengurus ilmu pengetahuan. Unhas lebih sering menempatkan dirinya sebagai “polisi moral”. Sampai-sampai kebijakan yang ditelurkannya jarang beralaskan alasan akademis.

Unhas lebih senang menggunakan “pentungan” ketimbang dialog yang lebih akademis, terbuka dan transparan. Pakai polisi, tentara maupun satpam, bereslah segalanya. Maka tibalah kita ke premis ketiga, yakni TNI-Polisi yang dengan entengnya bergentayangan di kampus.

Dalam format kelembagaan otonom, aset berupa tanah merupakan milik negara yang dikelola oleh Unhas. Kehadiran TNI-Polisi di kampus bisa dilihat sebagai simbol bahwa pejabat Unhas lebih percaya pada cara-cara yang represif ketimbang edukatif dalam menangani konflik yang terjadi di dalamnya.

Kedua, TNI-Polisi masuk kampus sekaligus menjadi kekuatan panoptik untuk memberikan tekanan dalam menderadikalisasi mahasiswa. TNI-Polisi berdiri kukuh diantara dua kepentingan, mengamankan aset negara di satu sisi dan membangun suasana aman dalam memperlancar arus modal untuk kebutuhan pasar di lain sisi. Jangan lupa, investasi membutuhkan suasana yang kondusif untuk itu. Ingat, banyak perusahaan-perusahaan yang kini menjalar di ruang-ruang kampus.

Menghadapi situasi seperti itu, habitus seperti apakah yang mesti kita ciptakaan dalam kehidupan berorganisasi kita, khususnya pada jam malam, jam yang menurut kita sebagai orang berlembaga merupakan waktu-waktu produktif? Esok malam, jika aturan itu telah berlaku, akankah malam kita seindah malam-malam yang telah berlalu?

*Tulisan ini merupakan tulisan pengantar Diskusi Publik Larangan Aktivitas Malam, Tanggal 23 Desember 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: