LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Esai » Tentang Posisi dan Gerak Langkah Organisasi

Tentang Posisi dan Gerak Langkah Organisasi

 

Ada yang menarik untuk ditarik ke ranah diskusi serius manakala tema tentang Quo vadis (hendak kemana) biduk organisasi digerakkan. Pendiskusian seperti ini tentunya bukan hanya menimpa sebuah organisasi atau komunitas, bahkan sepasang muda mudi yang baru jadian pun sudah pasti membicarakan hal ini. Apalagi pasangan yang baru saja mengucap sumpah setia di depan penghulu – dengan catatan kalau kedua bentuk pasangan ini visioner tentunya. Ibarat ikatan janji sebuah pasangan, baik pasangan muda mudi yang baru saja merasakan dunia ini ‘seolah’ hanya miliknya atau sepasang dua mempelai yang baru berikrar untuk sesimpuh setia, untaian langkah organisasi pun tak jauh dari itu. Jika ingin bertahan dan mewujudkan cita bersama yang telah diikrarkan, maka mengetahui posisi dan peluang gerak ke depan adalah niscaya adanya. Karena tak mungkin berjalan bersama tanpa tahu kita siapa dan sedang berada dimana sekarang. Apa yang akan saya lalui jika visi hendak saya wujudkan, serta yang jauh lebih penting adalah bagaimana mewujudkannya. Susunan taxonomi bertanya tersebut masih dapat dirunut sesuai kompleksitas dan ketahanan didihan kepala yang kita punyai untuk berpikir lebih lama lagi.

 

Di ranah pemikiran politik kontemporer, kita misalnya bisa mendapati ide Antonio Gramsci soal bagaimana sebuah kelompok – yang juga dianalogikan pada pasangan anak muda di atas – hendak menjalani gerak langkahnya. Gramsci menyebut dua tahapan untuk sebuah gerakan sosial – oleh Gramsci berbasis kelas di Italia pada waktu itu – untuk menjadi hitungan dalam mengambil tindakan bergerak. Pertama yang disebut sebagai gerak posisi dan yang kedua adalah gerak terbuka. Keduanya memiliki syarat – syarat dan hitungan material tersendiri kapan dan bagaimana pola pertama dan kedua harus ditempuh. Pengetahuan tentang apa syarat material dan bagaimana serta kapan kedua pola ini dijalankan adalah ilmu dan skill tersendiri yang mesti dimiliki oleh sepasang kekasih dan aktivis-aktivis organisasi tentunya. Itupun jika hendak menuai bahagia dan kemenangan di hari depan yang selalu dibayangkan akan indah pada waktunya – bagi yang istiqomah tapi.

Rona memang tak pernah ingkar untuk mengindah, – kata seorang pujangga – tapi ruang menghayati seringkali membuat sang ‘subjek’ seringkali harus melewatkan keindahan yang dipancarkan sang rona. Hanya karena syarat – syarat yang meski seringkali sudah ditahu, namun tak mampu digapai. Disitu kesedihan kadang tak mampu dihindari dan di posisi seperti itulah seharusnya seorang muda apalagi seorang aktivis menentukan pola geraknya- apakah mengambil gerak posisi ataukah gerak terbuka.

Rezim penghalang mengindahi sang rona harus dihadapi dengan rumusan jurus yang mumpuni. Tentunya dengan segala kekuatan yang dimiliki dan tantangan yang dihadapi harus diketahui secara detail dan pasti. Karena jika tidak, kecerobohan akan menuai kegagalan dan sudah pasti bahagia bersama sang rona dan kemenangan akan tertunda lagi – dan semoga tidak frustasi atau merayakan kekalahan dengan teriakan ‘panjang umur perjuangan’. Mengutip pesan Bung Karno “Tetaplah Bersemangat Elang Rajawali, Karena kita memang masih belum hidup di bawah sinar purnama. Kita masih hidup di masa pancaroba”.

Catatan awal tahun 2016

Arul nash

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: