LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Feature News » Sekali lagi Soal Jam Malam, Transparansi Dan Pungli

Sekali lagi Soal Jam Malam, Transparansi Dan Pungli

Selasa,19 Januari 2016, BEM FMIPA Unhas melakukan aksi demonstrasi di Universitas Hasanuddin. Titik kumpul massa aksi dilakukan di koridor KM FMIPA Unhas pada pukul 09.00 WITA. Kemudian pada pukul 10.00 WITA massa aksi dengan jumlah lebih dari 100 orang bergeser untuk melakukan demonstrasi di depan gedung rektorat Unhas. Aksi mahasiswa MIPA ini dilatar belakangi beberapa kasus yang meresahkan mahasiswa Unhas secara umum dan khususnya mahasiswa MIPA. Tuntutan massa aksi antara lain, penghapusan larangan aktifitas malam di kampus, pengaktifan wifi di malam hari, permintaan transparasi UKT, dan Penghentian Pungli yang dilakukan pihak birokrasi kampus.

Dalam salah satu orasinya, seorang wanita mahasiswa baru angkatan 2015 mengungkapkan. Bahwa hari ini, di kampus yang megah seperti Universitas Hasanuddin, keadilan sudah tidak ada lagi. Pelarangan aktifitas malam dengan dalih penghematan anggaran pengeluaran listrik dilakukan tapi penggunaan anggaran yang tidak terlalu penting seperti pembelian mobil dinas kerap kali dilakukan oleh pihak birokrasi. Tentu saja ini menjadi tanda Tanya besar. Mengapa kampus sebagai sarana penyelenggara kegiatan akademik, sangat membatasi kreatifitas mahasiswa dalam belajar dan berproses di kampus pada malam hari.

Sekitar pukul 10.30 WITA, Wakil rektor III Bidang kemahasiswaan menemui massa aksi. Beliau kemudian mendengarkan tuntutan massa aksi. Selanjutnya, Pak cido (sapaan akrabnya) menjawab tuntutan massa aksi. Mulai dari pelarangan aktifitas malam, beliau mengatakan bahwa “Tidak ada larP_20160119_101409.jpgangan pengosongan secretariat Lembaga kemahasiswaan, yang ada ialah penghentian aktifitas malam pada pukul 22.00-06.00 karena dianggap waktu tersebut adalah waktu untuk mahasiswa tidur”. Kemudian massa aksi mulai meneriaki beliau bahwa waktu tersebut seharusnya bukan untuk tidur tapi untuk berdiskusi, belajar dan berproses karena aktifitas akademik yang padat pada siang hari. Kemudian beliau menawarkan “Kalau mau berdiskusi nanti kami siapkan dua kamar di RAMSIS”, sontak mahasiswa berteriak dan menolak tawaran tersebut. Tuntutan ini kemudian tidak mengalami kesepakatan antar pihak mahasiswa sebagai penuntut dan WR III sebagai pemangku kebijakan.

Tuntutan lainnya yakni pengaktifan wifi pada malam hari berujung kepada keputusan “ kalau ada kegiatan, kami akan mengaktifkannya selama ada permohonan izin dari mahasiswa”. Namun sekali lagi, massa aksi tetap tidak puas karena hal tersebut masih sangat membatasi mahasiswa dalam mengakses berbagai pengetahuan yang bisa didapatkan di Internet.

Terkait masalah pungutan liar bidik misi yang dilakukan pihak Unhas, sebanyak 29 orang mahasiswa bidik misi angkatan 2012 yang diminta mengembalikan uang dengan jumlah yang sesuai dengan yang pernah mereka terima (bahkan ada yang mencapai 30 jutaan). Mahasiswa menuntut agar segera menghentikan kasus tersebut, karena mahasiswa menganggap kesalahan tersebut bersumber dari tim verifikasi pihak Universitas Hasanuddin yang kemudian mengambinghitamkan mahasiswa. Tuntutan ini direspon oleh pak cido seperti respon di aksi sebelumnya bahwa mereka tetap akan memproses masalah ini dan kalau masih ada yang keberatan silahkan menempuh jalur hukum, dsb. Selain itu mahasiswa menuntu pengaktifan kembali pembayaran spp 29 mahasiswa Karena mereka tidak mampu membayar diakibatkan pemblokiran akun pembayaran mahasiswa sebagai salah satu bentuk intervensi pihak kemahasiswaan agar mahasiswa mau membayar uang pengganti bidik misi mereka. Dari tuntutan ini, pak cido meminta waktu 2-3 jam untuk mengaktifkan akun pembayaran spp mahasiswa bersangkutan.

Transparansi UKT yang tak kunjung tiba, membuat mahasiswa menyuarakan kembali di demonstrasi kali ini. Permintaan data secara administratif dengan cara membuat permohonan ke pihak rektorat tak pernah direspon. Selaku WR III, pak cido mengatakan tidak mempunyai wewenang untuk membahas masalah tersebut.

Massa aksi membubarkan diri sekitar pukul 11.30 WITA dan beberapa perwakilan massa aksi melakukan dialog dengan WR III beserta stafnya di ruangan beliau. Dalam dialog tersebut, disepakati akun pembayaran 29 mahasiswa bidik misi akan diaktifkan apabila telah menandatangani form permohonan bantuan ke rektor Unhas. Namun, ternyata form tersebut tidak disediakan oleh pihak rektorat dan mahasiswa diminta untuk membuatnya sendiri. Namun pihak mahasiswa masih mempelajari tawaran tersebut.

Pihak mahasiswa juga menuntut mengenai SK Rektor terkait cara pemindah golongan UKT. Kemudian pak esan lamban mengarahkan ke pak yohanes di bagian anggaran. Namun ternyata, SK Rektor tersebut belum ada. Menurut pak yohanes selaku kabag anggaran masyarakat, belum ada mekanisme yang jelas mengenai cara pemindahan golongan dari rektor Unhas. Yang ada hanya penempatan golongan UKT. Beliau juga mengatakan, pihak Unhas belum pernah sama sekali duduk bersama membicarakan perihal pemindahaan golongan UKT. Padahal UKT sudah dilaksanakan mulai tahun 2013.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: