LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » Mengulik Niccolo Machiavelli

Mengulik Niccolo Machiavelli

Judul               : The Prince (Sang Penguasa)

Penulis             : Niccolo Machiavelli

Penerbit           : Byzantium Creative

Tahun              : 2015

Hay, pembaca~~

Kali ini kita akan membahas tentang sebuah buku yang tidak pernah diterbitkan oleh penulisnya. Karena ternyata buku itu diterbitkan lima tahun setelah penulisnya meninggal dunia, tepatnya pada tahun 1532. Buku itu ditulis oleh Niccolo Machiavelli dan diberi judul Il Principe, dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi The Prince, dan dalam bahasa Indonesia menjadi Sang Penguasa. Ada yang mengatakan bahwa buku ini adalah buku pedoman para diktator. Silakan sebutkan diktator yang kau ketahui. Dan karena itu juga, julukan Machiavellian- orang-orang yang pengikut/sepaham dengan Machiavelli, mendapakan konotasi negatif di masyarakat.

Mari sejenak berbicara tentang sejarah. Tentang sejarah hidupku lah! Masa tentang sejarah kejombloan-mu?! Jadi, aku pertama kali mendengar nama Niccolo Machiavelli ketika aku masih maba, mahasiswa baru. Kau tahu kan ketika aku masih maba? Pas aku masih polos, unyu-unyu, cabe-cabean, ongol-ongol dan memuakkan. Yang kutangkap pada masa itu adalah bahwa pernyataan “Moral tidak ada hubungannya dengan politik” dicetuskan oleh doi. Wah! Keren banget tuh orang. Aku setuju tuh pemikirannya. Menurut aku, sah-sah aje tuh pemikiran, tidak ekstrem-ekstrem amat. Begitulah kira-kira apa yang kupikirkan. Sebagai orang yang memang selalau ingin berpikir berbeda dengan pemikiran orang banyak, aku menampung pengetahuanku tentang Machiavelli dan segala apa yang dikatakan oleh orang-orang di luar sana tentang doi. Aku adalah orang yang percaya bahwa untuk memahami dengan baik sebuah tulisan, kita harus mengenal penulisnya, latar belakang dan kondisi sosial politik ketika tulisan itu dibuat. Seperti itu!

Akhirnya, aku membeli sebuah buku. Judulnya juga Il Principe. Tapi ditulis dan telah diinterpretasi oleh penulisnya, kalau tidak salah namanya Hendri Aprianto. Dari buku itu, pemikiran aku semakin terbuka tentang apa sebenarnya yang dipikirkan oleh Machiavelli. Maklum, aku pada saat itu belum pernah membaca Il Principe yang ditulis oleh Machiavelli. Jadi, Il Principe yang aku baca itu telah diinterpretasi. Dan syukurnya, karena ternyata Il Principe yang ditulis langsung oleh Machiavelli itu banyak yang tidak kupahami. Entah apakah itu adalah karena faktor penerjemahan, ataukah karena buku itu ditulis pada abad ke-16 sehingga kental dengan suasana pada masa itu, ataukah karena memang otakku agak lemot. Entahlah~ Tapi, pada akhirnya aku dapat mengatakan bahwa kemungkinan besar apa yang kupahami tentang buku Il Principe ini banyak dipengaruhi oleh interpretasi dari buku sebelumnya yang telah kubaca. Walaupun aku juga lupa-lupa ingat sih isinya. Maafkanlah~

Pembaca, menurutku, kita tidak berhak mengatakan seseorang itu baik atau jahat hanya karena sebuah pernyataan yang dia keluarkan. “Politik tidak ada hubungannya dengan moral”, pernyataan itu apakah langsung membuat orang yang mencetuskannya menjadi orang jahat? Padahal, kita bahkan belum tahu mengapa dan bagaiman sehingga dia bisa berpikiran seperti itu. Karena itu, kita harus mengenal seseorang dengan baik, tidak mudah berprasangka buruk, tidak ikuta-ikuatan dan kalau perlu, pedekate langsung dengan orangnya. Seperti itu. Haahaa…

Buku ini ditulis dengan latar keadaan sosial politik abad ke-16. Sudah lama sekali. Dan dalam kurun waktu dari masa itu hingga hari ini, dunia politik telah sangat jauh berubah. Kita tidak lagi sangat akrab dengan monarki, walaupun masih ada beberapa. Kita akrab dengan konsep negara modern, republik, konsep demokrasi dan lain sebagainya.

Katanya, buku yang ditulis oleh Machiavelli ini, rencananya akan diberikan kepada salah seorang anggota keluarga Medici, keluarga penguasa di Florence pada masa itu. Buku ini banyak menjelaskan tentang sejarah dan tokoh-tokoh yang hidup pada abad ke-16 ke belakang, sehingga jujur saja aku sulit untuk memahami banyak hal. Seolah Machiavelli beranggapan bahwa pembaca buku itu telah mengerti apa yang ia maksudkan dalam tulisannya. Maklum saja, kan memang tujuan penulisan buku itu untuk dihadiahkan kepada anggota keluarga Medici itu. Jadi, aku yang tidak banyak tahu sejarah Italia, Yunani, dan monarki Eropa lainnya bahkan pada masa sebelum Masehi, jadilah aku lemot dalam membaca buku ini. heheheh…

Tapi, tidak masalah. Kita harus tetap lanjut membaca. Semoga saja ada yang nyangkut, walaupun sedikit. Walaupun buku ini sudah lima abad, menurutku bisa dikatakan masih relevan. Buku ini berbicara tentang strategi mempertahankan kekuasaan, berbicara tentang penguasa dan sifat-sifatnya, bagaimana menaklukkan dan memerintah negara yang ditaklukkan dan juga tentang militer. Berkaitan dengan strategi dan taktik menaklukkan wilayah lain, menurut aku apa yang dikemukakan oleh Machiavelli sudah sangat kuno. Karena pasa masa kini, penaklukkan terjadi secara lebih halus. Walaupun demikian, masih penting untuk bebicara tentang militer, penguasa dan sifat-sifatnya.

Buku Om Nick ini terdiri dari 26 bab. Diawali bab pertama dan diakhiri bab ke-26. Hahah..Sebenarnya, pusing juga sih ketika aku membuat ulasan tentang buku ini. Aku jujur mengatakan bahwa banyak yang tidak kumengerti dalam buku ini. Aku tahu banyak pernyataan kontroversial Machiavelli di luar sana, dan aku berusaha memahami mengapa dan apa maksud dari pernyataan-pernyataan itu. Politik tidak ada hubungannya dengan moral, tujuan membenarkan cara, lebih aman ditakuti daripada dicintai. Itu beberapa pernyataan yang kuketahui. Jadi, aku bermaksud menuliskan apa yang kupahami tentang pernyataan tersebut dalam tulisanku yang panjang lebar dan tidak penting ini.

Aku tertarik bukan pada apa yang dikatakan oleh seseorang, tapi mengapa seseorang itu berkata demikian. Seperti itu~ Politik tidak ada hubungannya dengan moral. Dalam buku yang kubaca sebelumnya, memberikan interpretasi mengenai pernyataan tersebut. Politik tidak ada hubungannya dengan moral, karena moral berbicara tentang kemungkinan yang diharapkan, sedangkan politik berbicara tentang situasi yang sedang dihadapi. Pembaca~ perlu kutegaskan di sini bahwa buku ini berbicara tentang bagaimana mempertahankan kekuasaan selama mungkin. Jadi, aku harap wajar saja jika setiap penguasa melakukan hal-hal apapun untuk mempertahankan kekuasaannya. Mengenai moral, hak asasi manusia, kemanusiaan, dan lain-lain, itu adalah apa yang kita lihat dari sudut pandang yang berbeda. Ketika membaca buku ini, kita melihat dari sudut pandang penguasa. Penguasa mana yang rela kehilangan kekuasaannya begitu saja?

Selanjutnya, tujuan membenarkan cara. Aku rasa, tidak ada yang harus dijelaskan secara panjang lebar mengenai pernyataan ini. Tapi, jujur saja, aku kurang setuju. Aku percaya sesuatu yang baik harus dimulai dari kebaikan dan melalui proses yang baik pula. Aku percaya pada apa yang dikatakan Nietzsche, kebenaran tidak mungkin lahir dari kesalahan. Apa yang kukatakan di atas juga tergantung pada pandangan kau mengenai politik itu sendiri. Jika kau menganut paham bahwa politik bukan tentang benar atau salah, melainkan tentang tujuan, maka itu adalah apa yang kau percayai. Dan jika kau yakin bahwa tidak masalah melakukan kecurangan, tipu muslihat dan lain sebagainya, asalkan tujuanmu tercapai, maka kau membenarkan apa yang dikatakan oleh Machiavelli.

Lebih aman ditakuti daripada dicintai, adalah pernyataan Machiavelli yang populer selanjutnya. Ada yang mengatakan lebih baik ditakuti daripada dicintai, tapi aku ingin menegaskan bahwa sepertinya Machiavelli menggunakan kata “lebih aman”. Pernyataan ini membuat penguasa seolah harus tampak sangar, mengerikan, kejam dan kata lainnya yang sepadan. Yang aku ingin tahu dari pernyataan ini sebenarnya adalah, apa yang dipikirkan Machiavelli tentang cinta? Ternyata, Machiavelli melihat cinta sebagai ikatan yang mudah putus. Seseorang tidak akan merasa begitu takut untuk berbuat jahat terhadap orang yang membuat dirinya merasa dicintai daripada terhadap orang yang membuat dirinya dibenci. Agak memusingkan ya? Hahah.. Aku juga pusing. Menurut Machiavelli, orang akan dengan mudah memutuskan ikatan cinta jika itu menguntungkannya untuk mencapai tujuan ataupun sebaliknya. Sehingga, Machiavelli berpikir bahwa penguasa, jika ia tidak bisa dicintai, maka setidaknya ia tidak dibenci, melainkan ditakuti. Karena ketika rakyat takut, rakyat tidak akan macam-macam. Ingat ya! Ditakuti bukan dibenci.

Sebenarnya, ada banyak kalimat sebelum kita sampai pada kesimpulan lebih aman ditakuti daripada dicintai. Pembaca, harap Anda tidak berpikir bahwa adalah omong kosong untuk menjalin hubungan baik antara rakyat dengan penguasa. Jika Anda masih berpikir demikian, berarti Anda termakan oleh omongan orang diluar sana dan Anda tidak benar-benar membaca apa yang dituliskan oleh Machiavelli. Hanya ketika kita “harus memilih” antara ditakuti ataukah dicintai, maka pilihannya adalah ditakuti. Itu menurut Machiavelli. Tapi sebelum itu, Machiavelli juga menjelaskan apa yang para penguasa harus lakukan. Dengan sangat bangga aku mengatakan bahwa Machiavelli melihat bahwa penguasa harus mendapatkan cinta, rasa hormat dari rakyatnya. Mengapa? Karena rakyat bisa digunakan sebagai benteng untuk mempertahankan kekuasaan. Masih terkesan ngeri ya? Yaa maklumlah~ waktu Om Nick tulis ceritanya, kan di Italia lagi dalam keadaan yang hobi perang. Kau tahu lah~ kerajaan ada di mana-mana, bukan negara modern seperti sekarang ini. Satu lagi, buku ini berkisah tentang penguasa. Jadi, kita harus berpikir sebagai penguasa.

Sejauh ini, apakah Anda sudah merasa risih dengan makna Machiavellian yang beredar luas? Hahaha! Selanjutnya, sebagai mahasiswa dari jurusan yang paling kepo, aku bermaksud mengaitkan antara apa yang dituliskan Om Nick di masa yang sangat jauh itu dengan kenyataan sekarang. Kita akan berbicara tentang militer. Wow~ Dari zamannya Om Nick hingga zaman Mekay Lunikabezz Kripton, sepertinya faktor militer tidak pernah luput sebagai tolak ukur kekuatan nasional suatu negara. Om Nick mengatakan bahwa dalam masa damai sekalipun, pemimpin yang baik tidak boleh luput dari urusan militer. Bagaimanapun, kita tidak tahu kapan perang akan terjadi. Seperti sekarang, walaupun Perang Dunia II sudah berlalu dan menyisakan banyak kenagan, dan keadaan sekarang bisa dikatakan damai- terlepas dari konflik-konflik kecil ataupun regional yang terjadi, tapi toh setiap negara masih juga saling berlomba dalam meningkatkan kemampuan militer, baik alat maupun orang-orangnya. Iya kan? Saking pentingnya faktor militer ini, negara-negara bahkan mendirikan pangkalan militer yang jauh dari teritorialnya, atau bahkan di teritorial negara lain. Entahlah dengan tujuan apa. Hahah… banyak modusnya. Dan jangan lupa tentang nuklir. Entahlah apakah benar-benar ada, namun setidaknya mampu menjaga kedamaian selama masa perang dingin hingga sekarang. Ahhah..

Machiavelli melihat militer itu sebagai sesuatu yang vital. Seorang penguasa harus juga mampu mengendalikan pasukannya. Seorang penguasa harus dihormati oleh pasukannya dan tentu saja ia juga harus memiliki pemahaman militer yang baik. Saking pentingnya pasukan ini, sehingga Machiavelli mengatakan untuk jangan pernah menggunakan dan memercayai pasukan bayaran. Karena pasukan bayaran itu hanya tergiur kepada uang dan sejatinya mereka itu penakut. Mereka akan memihak kita di masa damai, tapi akan kabur ketika perang akhirnya tiba. Hahah… keren kan?

Machiavelli juga melihat bahwa seorang penguasa haruslah kuat seperti singa dan licik seperti rubah. Sekali lagi, aku menegaskan bahwa Machiavelli bercerita tentang bagaimana mempertahankan kekuasaan. Dan kau tidak tahu apa yang direncanakan oleh orang-orang di luar sana. Mungkin saja mereka ingin menyingkirkanmu sebagai penguasa. Dan apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Duduk tenang di singgasanamu? Bohong! Tentu saja kau berpikir untuk menjadi singa dan rubah. Hahah..

Semoga ini adalah yang terakhir. Aku ingin menegaskan bahwa Machiavelli tidak lupa untuk mengatakan bahwa seorang penguasa harus dihormati dan dicintai oleh rakyat dan pasukannya, karena itu penting dalam mempertahankan kekuasaan. Sekali lagi, kita berbicara tentang mempertahankan kekuasaan. Machiavelli melihat rakyat sebagai aset sekaligus ancaman. Aset ketika penguasa menjalin hubungan baik dengan rakyat, dan menjadi ancaman ketika penguasa ternyata dibenci rakyat. Ingat, bukan kisah yang baru jika rakyat memberontak terhadap penguasa yang tidak disukainya. Di samping itu, Machiavelli juga mengatakan bahwa penguasa juga perlu menunjukkan sedikit “kekerasan” jika itu adalah untuk mendapatkan kepatuhan rakyat. Ingat, hanya butuh untuk menimbulkan rasa takut, bukan kebencian.

Akhirnya, aku sampai pada kesimpulan untuk mengatakan bahwa aku suka Machiavelli, aku tidak menyetujui semua pemikirannya, tapi aku menerima logika berpikirnya tentang penguasa, militer dan lain sebagainya. Hal yang menurutku membuat nama Machiavelli dan Machiavellian terkesan buruk karena pemikirannya adalah, bahwa orang-orang diluar sana- yang mengejar kekuasaan, mereka cenderung langsung menggunakan pilihan-pilihan terakhir yang ditawarkan Machiavelli, dibandingkan menggunakan pilihan pertama yang ditawarkan. Orang-orang mungkin merasa sulit untuk mendapatkan cinta rakyat, sehingga lebih mudah untuk menimbulkan ketakutan atau bahkan kebencian. Orang-orang mungkin merasa sulit untuk menempuh jalan yang jujur sehingga lebih memilih menggunakan tipu muslihat sejak awal. Daripada berpura-pura baik, lebih baik kau tunjukkan dirimu yang sebenarnya. Machiavelli, menurutku, sangat berani untuk membahas secara gamblang tentang penguasa, baik ataupun buruknya. Begitulah kenyataannya. Tidak perlu berpura-pura. Toh, baik dan buruk adalah sifat manusia. Satu hal sederhana dari buku ini yang kupahami, Machiavelli berkisah tentang sifat manusia yang sebenarnya.

Oleh : Mekay Lunikabez

#Niccolo Machiavelli   #The Prince     #Il Principe     #Sang Penguasa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: