LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Kegiatan » Produksi Pengetahuan, Migrasi, dan Memori; Dari Kolonialisme, Perang Dingin, sampai Masa Neoliberal Hari Ini

Produksi Pengetahuan, Migrasi, dan Memori; Dari Kolonialisme, Perang Dingin, sampai Masa Neoliberal Hari Ini

Daily Notes
2016 Inter-Asia Cultural Studies Global Network Winter Camp
National Chiao Tung University, Hsinchu, Taiwan
11-15 Januari 2016

Oleh:
Nasrullah Mappatang

11 Januari 2016
Opening Rountable:
Cold War and Democracy: Specters and Unfinished Project
(Perang Dingin dan Demokrasi: Momok dan Agenda yang Belum Selesai)

Pendiskusian mengenai Perang dingin dan Demokrasi ini memulai kegiatan Winter Camp yang di helat pada bulan Januari di Taiwan ini. Poin utama dari topik pertama sekaligus pembuka kegiatan ini adalah mengenai bagaimana nasib demokrasi di suasana perang dingin – juga perang panas (hot war) – yang terjadi di kawasan Asia, khususnya di Asia Timur. Selain itu, dampak pada produksi pengetahuan di masa yang dinamakan neoliberal ini yang hadir pasca perang dingin berakhir juga menjadi agenda penting dalam pembicaraan ketiga penyaji pertama yakni Prof. Joyce C.H. Liu, Prof. Kuan-hsing Chen, dan juga Prof. Amie Parry.

Joyce C H Liu (NCTU)

Profesor Joyce C.H. Liu sebagai Direktur International Institute for Cultural Studies memulai presentasinya bagaimana Kolonialisme, Perang Dingin, dan Neoliberalisme mempengaruhi tatanan Asia Timur, khususnya Taiwan. Pengaruh yang dimaksud membentang dari pengaruh diranah ekonomi politik sampai pada produksi pengetahuan. Kolonialisme Jepang, perebutan antara komunisme Tiongkok dan Liberalisme Amerika menandai perebutan pengaruh terjadi di Taiwan. Setelah apa yang dikatakan perang dingin berakhir, yang bisa dikatakan dengan kemenangan Amerika, proses meningkatnya modal (raise of capital) di Taiwan, Hongkong, dan Korea sebagai negara – negara yang berporos AS ini semakin tak terbendung. Neoliberalisme menjadi term yang digunakan oleh Joyce dalam mendefenisikan dan membangun narasinya tentang apa yang terjadi setelah perang dingin. Industralialisasi berkembang dengan Multi National Corporation yang merajalela menjadi pemandangan yang hadir di era baru pasca kolonialisme dan perang dingin ini. Pada akhirnya, kelas pekerja semakin terkonsentrasi di perkotaan dan lingkungan menjadi tercemar. Tidak hanya di Taiwan, tapi di negara – negara Asia Timur lain yang membangun poros dengan Amerika Serikat, pemandangan ini adalah hal yang tak terhindarkan. Olehnya itu, menurut Joyce produksi pengetahuan dan gerakan sosial dalam menghadapi kondisi masyarakat kontemporer – masa neoliberal pasca kolonial dan pasca perang dingin – menjadi hal perlu didiskusikan dan diagendakan lebih jauh ke depan. Tak terkecuali di acara Winter Camp IACS 2016 ini.

Kuan-hsing Chen (NCTU)

Kuan-hsing Chen melalui paparannya pada kesempatan ini melakukan penekanan terhadap imajinasi kita tentang penyatuan Asia. Asia as Method yang merupakan buah pemikirannya dalam menekankan produksi pengetahuan yang dimana Asia menjadi subjek dari pengetahuan tentang Asia itu sendiri. Titik tekan yang dimaksudkan adalah bagaimana hubungan setelah kolonialisme dan perang dingin dapat melampaui sekat antar negara. Setelah perang dingin pula, Kuan-hsing mempertanyakan bahwa apakah ada kemungkinan lain dalam membayangkan demokrasi hari ini? Pertanyaan yang dijawabnya sendiri ini dengan memberi contoh bagaimana hubungan para intelektual Inter-Asia dalam menjalin kerjasama dan bekerja bersama memproduksi pengetahuan. Produksi pengetahuan yang dimaksud adalah memikirkan kembali dan memaknai ulang (rethinking and decoding) produksi pengetahuan yang berada dibawah pengaruh kolonialisme dan perang dingin yang sebenarnya berwujud panas pada akhirnya di Asia. Kuan-hsing melihat ada banyak peluang untuk melakukan itu, terkhusus bagi para intelektual yang ada di Asia.

Amie Parry (NCU)

Disaat kedua pembicara di atas berbicara mengenai sejarah dan implikasi dari kolonialisme, perang dingin, dan neoliberalisme, Amie Parry melalui paper yang disajikannya mencoba menelaah secara teoritik bagaimana perang dingin dan demokrasi berjalinan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Melalui papernya yang berjudul Democracy and the Cold War, pengajar Sastra Inggris di NCU Taiwan ini memaparkan anailisanya yang dikutip dari karya Chantal Mouffe The Democratic Paradox, Lisa Lowe, the critique of liberalism in The Intimacies of Four Continents, dan Jodi Melamed, on U.S. Cold War Global racial liberalism, Represent and Destroy.
Amie dalam mengutip argumen Mouffe mengenai paradoks demokrasi dimana demokrasi modern menekankan dua hal yang bersamaan yakni tradisi liberal dan tradisi demokratik. Tradisi liberal lebih menekankan pada penegakan hukum (state), HAM, dan juga kebebasan individu.

Sedangkan tradisi demokratik menekankan titik penting pada kesetaraan, identitas antara pemerintah dan rakyat, dan juga kedaulatan popular. Tatanan demokrasi yang berkembang saat ini adalah kecenderungan menguatnya negara (state of law) dan kedaulatan popular yang terkandung dalam tradisi demokratik dianggap usang. Sementara itu, dalam pemikiran Lisa Lowe, Amie menekankan bagaimana neoliberalisme, kolonialisme, dan demokrasi tidak lepas dari agenda liberalisme Barat yang berakar pada filsafat politik Barat pula. Proses kolonialisasi dan rezim neoliberal yang mem-buruh-kan kehidupan sosial (laboring lives) dewasa ini adalah keberlanjutan dari ekspoloitasi umat manusia dari kolonialisme ke neoliberal. Demokrasi bisa dikatakan hanya jembatan yang tak berdaya dalam menghadang kebebasan yang dibingkai dalam ideologi liberal.

Sementara itu, dari pemikiran Jodi Melamed mengenai kapitalisme, liberalisme dan anti-rasisme, Amie menekankan bagaimana liberalisme anti-rasisme yang terjadi di AS di satu sisi memperjuangkan kesetaraan ras, namun di sisi lain tidak mampu menghadang pengembangan kapitalisme baru dari buah berakhirnya supremasi kulit putih terhadap kulit hitam. Paradox dari memungkinkannya kulit hitam tampil dalam demokrasi liberal ternyata tidak mampu menghadang penguatan kapitalisme itu sendiri. Dengan kata lain, persoalan identitas bisa selesai, akan tetapi persoalan ekonomi politik dimana kapitalisme di alam berpikir liberal tetap saja merajalela. Dan disini, demokrasi – bernafas liberal individualistik – yang oleh Mouffe di awal paper Amie ini berseberangan dengan demokrasi dengan tradisi demokratik – dengan nafas kesetaraan dan kedaulatan – ternyata hanya menghadirkan jalan baru bagi kapitalisme neoliberal setelah kolonialisme dan perang dingin berakhir.

Pemutaran dan diskusi Film Wansei Back Home

Wansei adalah Orang Jepang yang lahir di Taiwan. Karena adanya kolonialisasi dan perang dingin, proses migrasi orang kelahiran Taiwan ke Jepang yang pada akhirnya menjadi orang Jepang (Japanese) membuat identitas dan memori akibat migrasi di masa perang dingin ini menjadi hal yang penting bagi produksi pengetahuan dan kultural bagi para Wansei. Mengidentifikasi diri sebagai orang Jepang sekarang ini namun memiliki keluarga dan kerabat yang masih ada di Taiwan merupakan tema sentral yang diangkat oleh Produser film dokumenter Wansei Back Home ini. Kerinduan akan sanak keluarga dan memori yang masih melekat meskipun pahit karena dipaksa meninggalkan kampung halaman ke tanah seberang adalah adegan mengharukan sekaligus titik penting dari film ini.

Film Wansei Back Home ini dianggap sebagai sebuah upaya men-decoding produksi pengetahuan dan produksi kebudayaan Taiwan setelah perang dingin berakhir. Karena meskipun secara fisik perang dingin sudah dinyatakan selesai, akan tetapi dalam ranah memori dan prosuksi pengetahuan dan kebudayaan, kesadaran dan ketaksadaran akan perang dingin tersebut masih berakar kuat bersama implikasi yang ditimbulkannya. Singkatnya, pengaruh perang dingin masih terasa sampai sekarang. Masalah identitas sampai pada ekonomi politik masih sangat terasa di masyarakat Asia belahan Timur ini, tak terkecuali Taiwan yang dikolonialisasi oleh Jepang selama sekitar 40 tahun, kemudian diperebutkan oleh RRC dan AS di masa perang dingin.

12 Januari 2016
Colonial / Cold War Dis-Junctures: Migration and Memory
(Implikasi Kolonial/Perang Dingin : Migrasi dan Memori)

Sesi ini diisi oleh dua penyaji. Pertama adalah Ji-hsiung Liu sebagai seorang film director Taiwan yang membahas “Vietnam, Penghu, Taiwan” : Cold War Stories, kemudian yang kedua adalah Chih-ming Wang yang berbicara tentang “Refuges, Adoptees, and Communist Spies”. Kedua penyaji ini menggunakan film dan karya sastra sebagai penggambaran bagaimana perang dingin yang sebenarnya panas di Asia Timur melahirkan migrasi yang menghasilkan pula memori tentang itu. Film tentang pengungsi Vietnam di Taiwan dimasa perang dingin dipaparkan oleh Ji-hsiung Liu. Sementara karya Nam Le, “The Boat” dan “An ‘Orphan with Two Mothers” karya Jodi Kim dijadikan bahan oleh Chinh-ming Wang untuk menggambarkan bagaimana perang dingin yang berimplikasi pada migrasi dan memori bagi Taiwan dan negara di Asia yang dilanda perang dingin yang sesungguhnya perang yang panas di wilayah ini. Selain kedua karya di atas, sebuah artikel terbitan 1 Maret 1956 berjudul A Typical Case of Communist Espionage juga dijadikan bahan paparan oleh Liu dalam persentasinya. Titik tekan dari pemaparan Liu adalah perang dingin yang melibatkan spionase/mata – mata komunis di Taiwan. Sedangkan untuk dua karya sebelumnya yang dijadikan bahan presentasinya bercerita mengenai bagaimana arus pengungsi dan migrasi yang terjadi akibat serangan Amerika pada Perang Korea dan Perang Vietnam. Adopsi Transnasional dan Transrasial adalah salah satu tema kunci yang diangkat oleh Liu disini.

Cold War Knowledge Production (Produksi Pengetahuan dan Perang Dingin)

Sesi ini menampilkan dua penyaji. Penyaji pertama adalah Nai-fei Ding dengan sajian tentang “Feminism otherwise”, sedangkan penyaji kedua adalah Lin Chien-Ting dengan sajian tentang “Colonial/Cold War Medical Modernity”. Kedua penyaji ini banyak berbicara bagaimana kolonialisme dan perang dingin mempengaruhi kehidupan sosial budaya Taiwan dan Asia Timur secara umum. Implikasi sosial budaya terhadap kehidupan perempuan dan produksi pengetahuan yang mengikutinya menjadi tema pokok dari kedua penyaji. Nai-fei Ding menyajikan bagaimana feminisme menghadapi dan menyikapi women imigrant worker sebagai hasil dari sistem ekonomi buah perang dingin – dalam hal ini neoliberalisme. Sementara Lin Chien-Tin menyoroti Miyi – dukun dalam budaya medis Indonesia – yang tersingkir akibat modernisasi dunia kedokteran Taiwan setelah hadirnya gelombang kolonialisme dan perang dingin. Produksi pengetahuan menjadi rezim modernitas Barat di Taiwan yang menyingkirkan peran Miyi dalam praktik pengobatan Taiwan.

12509730_203822213298793_5899109873206789982_n

Sesi penutup 12 Januari 2016

13 Januari 2016
Democracy in Asian Contexts (Konteks Demokrasi di Asia)

Topik mengenai Konteks Demokrasi di Asia ini menghadirkan dua pembicara yakni Yun-hua Chen yang memaparkan “Umbrella Movement and rise of new generation of activists” dan Ya-chung Chuang yang memaparkan “Democracy under Siege: Xiangmin Politics in Sun Flower Movement”. Gerakan Payung di Hongkong dan Gerakan Bunga Matahari di Taiwan adalah dua tema yang dianggap mewakili gerakan demokrasi baru di Asia dewasa ini. Gerakan yang hadir untuk mendesak pemerintah dari luar gedung parlemen ini dianggap sebagai sebuah model baru dalam dunia demokrasi Asia.
Prof Chuang sebagai seorang aktivis sekaligus akademisi progresif Hongkong ini menjelaskan bahwa apa yang menjadi tuntutan para penggiat gerakan sosial di Hongkong dimana anak muda menjadi pionernya ini adalah problem yang disebutnya sebagai “loyal opposition” di parlemen Hongkong. Oposisi loyal yang dimaksud adalah para wakil rakyat dan pemerintah Hongkong yang sebenarnya beroposisi terhadap China mainland namun disisi lain begitu loyal dalam menyikapi kebijakan yang dialamatkan oleh pemerintah China (Tiongkok) kepada Hongkong. Begitupula dengan Taiwan, hubungan antara Taiwan dan China mainland (Tiongkok) yang sempat mengalami pasang surut akhir – akhir ini membuat masyarakat sipil Taiwan mengkritisi pemerintah mereka yang cenderung patuh pada pemerintah Tiongkok. Patuh dalam hal ini yaitu kecendrungan akan bergabungnya Taiwan di bawah one China policy yang dicanangkan oleh Beijing. Yang menarik dari kedua gerakan ini adalah bagaimana anak muda tampil untuk menyuarakan protes mereka terhadap sikap pemerintahan mereka. Dan oleh para pengkaji gerakan sosial dianggap sebagai munculnya kekuatan baru demokrasi dari para aktivis muda ini.

Democracy Projects (Agenda – agenda Demokrasi)

Agenda atau proyek demokrasi yang diangkat dalam sesi ini adalah demokrasi berbasis lokalitas dan tema mengenai demokratisasi di bidang pertanian Taiwan. Jui-hua Chen sebagai penyaji pertama mengangkat tema “Building New Society on the base of locality”, sementara Yen-ling Tsai sebagai penyaji kedua mengangkat tema tentang “Agricultural renaisance in Taiwan”. Penyaji pertama berangkat dari kedaulatan penduduk asli Taiwan yang ada di pedesaan. Hak atas tanah yang telah mulai dikikis oleh adanya penguasaan tanah oleh negara dan perusahaan menjadi penting untuk diperjuangkan oleh para indigenous. Begitupula pengetahuan dan budaya lokal yang mempunyai tatanan demokrasi pula sebelum hadirnya modernisasi di Taiwan juga dianggap penting untuk dipertahankan bahkan dapat menjadi pelajaran berharga untuk agenda demokratisasi di masa kini dan kedepannya. Sementara itu, penyaji kedua memaparkan bagaimana modernisasi telah menggerus praktik produksi dan budaya pertanian di Taiwan. Semboyan “Don’t Exchange your land for everything” menjadi gencar dikampanyekan kepada petani Taiwan di pedesaan dalam rangka membendung industrialisasi yang semakin merajalela di negeri ini. Praktik pertanian modern dan proses industrialisasi yang massif menjadikan budaya bertani leluhur orang Taiwan dan juga ketersediaan lahan bertani mereka menjadi semakin menyempit. Hal lain yang menjadi masalah juga adalah urbanisasi yang menyebabkan anak muda Taiwan enggan untuk bertani. Adapun mereka yang muda ketika bertani seolah sudah meninggalkan tradisi bertani dan ritual kebudayaan pertanian dari orang tuanya. Tsai tak lupa pula menampilkan berbagai gambar dan video mengenai sebuah upacara pesta panen dan juga kampanye kedaulatan pangan kepada petani Taiwan di pedesaan. Diakui bahwa modernisasi dan ekspansi industri/pabrik semakin mempersempit lahan dan juga menggerus budaya bertani orang Taiwan yang juga berimplikasi pada ketergantungan pada bahan kimia.

14 Januari 2016
Neoliberal Cultural Production : Labor and Economy
(Produksi Kebudayaan Neoliberal : Buruh dan Ekonomi)

Produksi kebudayaan neoliberal yang menjadi tema pada sesi ini menghadirkan penyaji mengenai budaya kelas pekerja/ buruh dan tema mengenai industri animasi. Gong Jow-Jiun mengangkat tema Strike Work, Living Labor : A Project Outside of Modernist Aesthetics, sedangkan Peng-yi Tai mengagkat tema “Post-fordism and the Animation Industry:Pixar”. Pembicara pertama mengelaborasi bagaimana budaya kelas pekerja dan kelas bawah menjadi agenda penting di masa neoliberal sekarang ini untuk tetap diproduksi dan dipertahankan produktivitasnya. Pemogokan adalah hal yang menjadi senjata bagi buruh, dan di dunia produksi seni, penggambaran mengenai pemogokan ini dapat diartikulasikan melalui sebuah karya atau pameran karya. Salah satunya adalah sebuah pameran dengan tema “Are We Working too Much?” dimana pameran seni tersebut dianggap oleh Gong memiliki muatan ekonomi politik yang sangat berarti dimana isu tentang “bekerja banyak” adalah hal yang sangat politis dalam hubungan pekerja dan majikan. Artikulasi melalui seni, isu dan atau wacana seperti ini bagi buruh oleh para volunteer atau pekerja seni menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi alat kritik maupun produksi pengetahuan yang bermuatan politis.

Untuk tema tentang industri animasi, titik tekan dari Peng-yi Tai sebagai penyaji disini adalah bagaimana moda konsumsi di era pos-fordisme dikelola melalui industri budaya. Produksi kebudayaan melalui film – film animasi menunjukkan muatan ideologi neoliberal dan konsumtivisme pada berbagai konten – konten yang ditampilkannya. Selain konten yang ditampilkan dikonstruksi untuk menggugah konsumtivisme audies, proses produksi industri budaya melalui animasi ini juga menandai hadirnya new technology dalam melahirkan new capitalism. Pertautan antara teknologi dan kapitalisme menjadi kata kunci dalam paparan penyaji kedua ini dengan menggunakan industri animasi sebagai contoh di era yang dikatakan post-fordisme sekarang ini.

Field Trip to Urban Farming Tianyuaqing Workshop

Kunjungan ke salah satu daerah pertanian di pinggiran kota Hsinchu, Taiwan ini memberikan pelajaran bagaimana pentingnya pangan bagi warga Taiwan. Pertanian di pinggiran kota ini bisa dimaknai sebagai hadirnya kultur desa di kota ataupun upaya membendung kota mengikis desa. Urban Farming ini merupakan wujud kepedulian sekelompok mahasiswa terhadap lahan hijau, pangan, air bersih, dan produksi makanan organik di tengan industrialisasi, betonisasi, dan juga modernisasi massif yang terjadi di Taiwan. Di tempat ini peserta Winter Camp mendapatkan penjelasan mengenai agenda politis dan ideologis dari aktivitas ini yakni bagaimana membendung pembangunan berbasis industri yang bisa menghabisi sumber makanan dan air bersih masyarakat Taiwan.

Secara teknis pengelolaan, di tempat ini seringkali menerima magang dari anak sekolah maupun Mahasiswa yang ingin belajar untuk bertani. Banyak hal yang dapat dilakukan disini selain bertani, yakni bagaimana menjadi fasilitator maupun membangun jaringan kampanye mengenai pentingnya tanah pertanian dan produksi makanan serta air bersih bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat Taiwan di masa yang akan datang. Peningkatan produktivitas dengan bertani organik pun mejadi agenda menghasilkan bahan makanan sehat tanpa bahan kimia. Menggunakan media internet untuk berkampanye dan mesosialisasikan program mereka adalah hal penting pula yang menjadi kegiatan rutin di komunitas ini.

15 Januari 2016
Review and Research sharing

Agenda ini adalah wadah bagi para peserta untuk memaparkan tema yang menarik bagi mereka selama Winter Camp. Di sesi ini pula bagaimana peserta diberikan kesempatan untuk mereview tema yang dianggapnya menarik, mengomentari, sekaligus membagikan pengalaman dari penelitian atau fokus studi yang selama ini dilakukan. Ataukah juga mencoba mengkontekskan apa yang ada di negara masing – masing. Para peserta yang sudah dibagi secara berkelompok ini bergantian melakukan presentasi kelompok masing – masing kemudian akan diberikan komentar, pertanyaan ataupun masukan dari kelompok lain maupun dosen dan seluruh peserta yang ada.

12400768_1145455778798377_6584077854253659312_n

LAW Unhas sedang dipresentasikan kepada peserta Inter Asia Cultural Studies

Adapun ketertarikan saya secara pribadi adalah tema mengenai (1) Knowledge Production in Inter-Asia Intellectuals network, (2) Colonialism/Cold War’s Migration and Memory, dan (3) Social Movement Studies for younger generation activists. Ketiga tema ini saya paparkan alasan mengapa saya tertarik dan mencoba mengkontekskannya untuk kasus Asia Tenggara, Indonesia, dan secara khusus Makassar dalam hal gerakan sosial yang diinisiasi oleh anak muda. LAW Unhas adalah contoh kasus yang saya jadikan bahan presentasi bagaimana praktik aktivisme, produksi pengetahuan dan praktik kebudayaan dilakukan dalam rangka membangun sebuah gerakan sosial.

Final Roundtable

Final rountable adalah refleksi dan rencana tindak lanjut serta komentar umum dari Prof Joyce C.H. Liu, Prof Kuan-hsing Chen, Ya-chung Chuang bersama rekan – rekan akademisinya di International Institute for Cultural Studies (IICS) dan juga semua peserta. Ada berbagai hasil refleksi dan komentar yang lahir di ujung Winter camp 2016 ini, akan tetapi poin pentingya adalah networking dan work together adalah agenda yang harus tetap dilakukan ke depannya. Penekanan untuk terus berkarya dan membangun aktivitas produksi pengetahuan, produksi kebudayaan, dan juga gerakan sosial sebagai bentuk komitmen intelektual di Inter-Asia Cultural Studies Society adalah hal yang tak luput pula diwacanakan di penghujung kegiatan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: