LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Kegiatan » MEMPERSOALKAN KUALITAS PENYELENGGARAAN AKADEMIK DI KAMPUS MERAH

MEMPERSOALKAN KUALITAS PENYELENGGARAAN AKADEMIK DI KAMPUS MERAH

seminar riset

Suasana saat seminar berlangsung

“Hari-hari ini, universitas Hasanuddin tengah berada dalam situasi anarki”, begitulah sepenggal kalimat dari Alwy Rachman dalam seminar bertajuk “membincangkan kualitas penyelenggaraan akademik di world class university, Kamis, 10 Maret 2016, yang bertempat di Aula Prof. Mattualada.

Anarki yang dimaksud ialah proses penyelenggaraan akademik berjalan seolah tanpa tatanan, seperti nyaris tidak ada aturan. Mengapa demikian? Karena terjadi surplus otoritas yang sebenarnya berada diluar urusan mereka (fakultas dan dosen) malah disibuki, sementara tugas yang semestinya dijalankan tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Hal tersebutlah dapat terlihat dari hasil riset yang kami jalankan selama tahun 2015. Riset ini diharapkan dapat memberikan kritik dan evaluasi terhadap proses penyelenggaraan akademik yang menuai banyak masalah.

Beberapa variabel memperoleh persentasi yang cukup besar menjadi bukti kalau masih terdapat praktik yang timpang dan pada gilirannya menghambat kemajuan ilmu pengetahuan di kampus merah.

Variabel yang menjadi keprihatinan besar mahasiswa Unhas itu antara lain. Pertama, proses administrasi akademik seperti pengurusan KRS online kerapkali bermasalah dan prosedur peminjaman fasilitas non akademik terbilang rumit, masalah tersebut pada gilirannya menyita waktu mahasiswa. Kedua, sebagian besar staf akademik belum menjalankan tugasnya secara professional, sehingga seringkali menimbulkan masalah seperti kesalahan penginputan nilai yang merugikan mahasiswa.

Ketiga, otoritas (tugas, pokok dan fungsi) fakultas belum berjalan secara maksimal dikarenakan minimnya sosialisasi SOP (Standard Operational Procedure) kepada mahasiswa, jikalau SOP itu benar-benar jelas adanya atau boleh jadi sebagian besar fakultas di Unhas belum memiliki SOP yang jelas. Selain itu, peremajaan buku di fakultas-fakultas juga sangat minim, ini ditandai dengan nyaris 90 persen responden menyatakan setuju.

Keempat, masalah juga banyak ditemui dari variabel otoritas akademik dosen. Dosen yang lebih mementingkan proyeknya diluar kampus, nepotisme dan pemberian nilai yang tidak objektif, dan kontrak kuliah yang tidak partisipatif memperoleh persentasi besar. Sementara itu, rencana pembatasan kuliah lima tahun juga menuai banyak protes dari mahasiswa karena dianggap memberikan beban psikologis dan cenderung menghasilkan sarjana prematur.

Terakhir, kekerasan akademik di Unhas seperti intimidasi bagi mereka yang berlembaga kemahasiswaan, intimidasi bagi mereka yang berpenampilan berantakan (rambut gondrong, celana robek-robek) kerapkali tidak diizinkan untuk memasuki ruang kelas hingga ancaman nilai “E” bagi mereka yang mengikuti proses kaderisasi di lembaga kemahasiswaan masih biasa terjadi di Unhas.

Pemaparan hasil riset dari kami segera ditanggapi oleh narasumber dan para penanggap. Muh. Ridha (dosen UIN Alauiddin) sebagai narasumber menilai kalau proyek berlabel world class university kerapkali bersifat artifisial. Dalam artian, kampus-kampus hanya mencontoh model “bangunan” yang megah dari world class university, bukan dari bagaimana misalnya produksi pengetahuan di kampus itu berjalan.

“Yang dimaksud world class university itu, ketika Unhas mampu menguasai seluruh pengetahuan-pengetahuan lokal dari kawasan Indonesia Timur, yang ironisnya sekarang banyak dikuasai oleh Amerika. Ketika Unhas mampu menjadi pusat pengetahuan untuk kawasan Indonesia Timur, dan dirujuk oleh kampus-kampus dari luar itu baru world class university”, Kata Alwy Rachman yang mengeksplorasi pernyataan Prof. W.I.M. Poli dalam forum diskusi grup di Rektorat beberapa hari lalu.

Sementara penanggap kedua, Prof. Alfian (dosen FMIPA Unhas), memberikan beberapa tanggapannya seputar manajemen dan kepemimpinan akademik. Menurutnya, “kesadaran internal para pengendali Unhas ini masih lemah. Selain itu, self-corrective mechanism juga tidak berjalan”. Birokrasi Unhas, dalam hal ini, masih belum membiarkan kritik terhadap dirinya tumbuh subur, yang pada gilirannya akan memperkaya masukan bagi Unhas sendiri. Ini terbukti dari wakil Rektor I dan wakil-wakil dekan I se-Unhas yang sama sekali absen menghadiri undangan seminar tersebut.

Dua penanggap terakhir, Endang Sari (Dosen FISIPOL Unhas) dan Muh. Altakhrik (ketua BEM FKM Unhas) melihat bahwa mahasiswa semestinya diberikan kebebasan, baik dari segi akademis maupun ekspresif, agar mereka menjadi semakin kreatif dan inovatif. Kedua hal ini tentu mensyaratkan intervensi yang berlebihan dari birokrasi kepada pihak mahasiswa.

Setelah tiga jam berselang, seminar ini pun diakhiri dengan beberapa rekomendasi lanjutan dari beberapa peserta seminar, seperti riset seputar kurikulum di Unhas. Unhas juga mesti memenuhi takdirnya sebagai kampus jangkar di kawasan Indonesia Timur, dimana lapis kaum terdidiknya masih sangat tipis dan tingkat ketimpangannya yang terpaut cukup jauh dari Indonesia bagian Barat.

 

Iklan

2 Komentar

  1. Indra berkata:

    Saya sepakat utamanya pada poin mengenai Dosen, termasuk pimpinan jurusan, fakultas dan universitas, lebih banyak mengurusi proyek diluar kampus. Padahal banyak proyek-proyek internal yang berhubungan dengan mahasiswa dan kualitas akademik kampus yang bepotensi besar untuk memajukan kampus, bisa dibuat dan dikerjakan. Memang susah juga karena kebanyakan dosen sangat money oriented, jadi lebih suka kerja diluar yang menghasilkan lebih banyak uang.

    Saya juga ingin mempertanyakan kinerja para dosen yang telah bergelar professor. Sekarang sejauh mana peran mereka dalam memajukan kualitas akademik kampus Unhas yang sekarang semakin merosot. Seberapa banyak publikasi yang telah mereka buat terkait dengan posisi kampus yang merupakan jangkar pengetahuan kawasan timur Indonesia?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: