LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » PERJUANGAN BELUM SELESAI SAMPAI DISINI!

PERJUANGAN BELUM SELESAI SAMPAI DISINI!

Oleh: Harry Isra

 

Jpeg

Massa Aliansi Unhas Bersatu  melakukan long march menuju Gedung DPRD Provinsi Sul-Sel.

Mereka menempuh perjalanan dengan jarak sekitar 8,9Km. Dari kampus Unhas hingga ke gedung DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Mereka adalah massa aksi dari aliansi Unhas Bersatu yang turut tergabung dalam RADIKAL (Gerakan Pendidikan Anti Liberalisasi).

“Ini pengalaman jalan kaki terpanjang yang pernah saya lalui”, berkata seorang perempuan kepada kawannya di tengah letih yang menghampiri ia dan massa aksi lainnya dalam aksi yang bertepatan dengan hari pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei, hari kelahiran tokoh pendidikan Indonesia K.H. Dewantara.

Sontak pertanyaan segera muncul dalam benak. Mengapa seribu-an mahasiswa ini rela melakukan long march yang disertai guyuran air hujan? Yah, apalagi kalau bukan semangat yang telah dipupuk sebelumnya akibat keresahan melihat situasi kampus yang kini semakin timpang dan kian menjauh dari tujuan mulianya, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sebuah situasi yang dihasilkan berkat kesepakatan untuk mereformasi pendidikan lewat Undang-Undang Pendidikan Tinggi (UU-PT). Lelah beserta pakaian basah mereka pun seketika mampu dikonversi menjadi asupan tenaga demi apa yang disebut masa depan pendidikan kita. Untuk anak-cucu kita juga tentu saja.

Adakah jaminan kalau di masa depan akses terhadap pendidikan tinggi menjadi lebih terbuka mengingat sekarang biaya pendidikan meningkat perlahan-lahan? Sementara penghasilan bagi yang hanya lulusan SMA justru semakin rendah. Begitu kurang lebih salah satu tuntutan RADIKAL, sebagai konsekuensi pemberlakuan UKT (Uang Kuliah Tunggal), turunan dari UU-PT.

Selain itu, ditengah kondisi kampus yang mengekang kebebasan berekspersi, pihak birokrasi malah melakukan praktek pendisiplinan lewat kerjasama apik antara POLRI-TNI dan pendidikan tinggi. Posisi aparatus pengamanan ini sesungguhnya berada diantara relasi triple helix antara pemerintah sebagai fasilitator lewat pembentukan regulasi seperti UU-PT, dan kampus sebagai penyedia agen dan ilmu pengetahuan yang dimuarakan kepada pihak industri. Peran TNI-POLRI, pada gilirannya, menjadi pengaman untuk kelancaran arus modal dalam lingkaran tersebut.

Tiba di gedung DPRD Sul-Sel sekitar pukul 14.00 WITA, massa dari aliansi Unhas bersatu segera bertemu dengan organ lainnya yang tergabung dalam RADIKAL, diantaranya UMI (Universitas Muslim Indonesia),  PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia), UPRI (Universitas Perjuangan Republik Indonesia), Universitas Cokroaminoto, dan STIEM Pembangunan.

Butuh waktu sekitar tiga jam untuk menunggu respon anggota DPRD atas tuntutan massa aksi. Debat pendapat bersama mereka kemudian melahirkan kesepakatan bahwa tanggal 10 Mei, 2016 nanti pihak DPRD akan memfasilitasi pertemuan dengan rektor-rektor dari universitas yang tergabung dalam aliansi RADIKAL.

Aksi massa yang baru saja digelar, mungkin tidak berdampak langsung pada perubahan kebijakan. Akan tetapi, gerakan ini adalah fakta nyata bahwa masih ada yang salah pada pendidikan dan pelaksanaan pendidikan tinggi hari ini. Oleh karena itu, kita masih butuh amunisi berupa gagasan, data dan fakta untuk berperang dalam pertarungan yang sesungguhnya. Perjuangan belum selesai sampai disini!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: