LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Muhammad Amri Murad » MENGABDI SEMBARI MENGABAI

MENGABDI SEMBARI MENGABAI

Oleh : Muhammad Amri Murad

 “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut diseberang pulau tampak”

-Pepatah Lama

 

Pembaruan kembali laman Universitas Hasanuddin (Unhas) sudah mulai membawa angin segar bagi sivitas akademika. Laman tersebut sudah terisi dengan pelbagai informasi yang cukup menarik bagi saya. Mulai dari berita aktifitas rektor, mahasiswa, profil akademika kampus merah, hingga program pengabdian masyarakat seperti penyuluhan kesehatan lingkungan. Dari sini saya melihat Unhas mulai serius membangun citranya lewat media massa, tematik internet.

Salah satu berita yang dimuat dalam laman tersebut adalah penyuluhan kesehatan dengan judul “Cegah BDB Unhas Suluh Tingkatkan Kesehatan Lingkungan”[1]. Kegiatan tersebut dilakukan oleh mahasiswa dan dosen dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.

***

Pasca Earth Summit di Rio de Janeiro pada tahun 1992 diselenggarakan, telah banyak tulisan yang memuat tentang “sustainability” [2]. Sustainability merupakan ragam aktifitas manusia demi mendukung keberlanjutan kehidupannya. Salah satu aspek dalam sustainability adalah lingkungan hayati. Artinya untuk mendukung keberlanjutan hidup di masa depan, manusia perlu memperhatikan segala dampak aktifitas terhadap lingkungan.

Seorang profesor lingkungan dari Universitas Columbia, Manahan Stanley, pernah mengungkapkan bahwa “Air, udara, tanah, kehidupan dan teknologi (environmental sphere) memiliki interkoneksi yang kuat satu sama lain[i]”. Perubahan pada salah satu unsur environmental spheres diatas selanjutnya akan berakibat pada perubahan lingkungan. Sambung beliau, salah satu campur tangan manusia dalam mempengaruhi perubahan lingkungan berasal dari polusi yang tercipta dari ragam aktifitas manusia, baik industri, rumah tangga, sampai ranah penelitian dalam arti yang luas.

***

Mengabdi yang mengabai4

Unhas dalam berita di atas tentu saja memiliki kapasitas untuk melakukan penyuluhan. Bukan hanya ahli kesehatan manusia, para dosen ahli lingkungan di tingkat regional, nasional, bahkan internasional lahir dari rahim kampus merah ini. Bahkan dalam proyek reklamasi pesisir Makassar juga tak luput dari sumbangsih para ahli lingkungan Unhas dalam menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Jadi, segala tetek bengek mengenai lingkungan dan permasalahannya, bukanlah hal yang tabu bagi para mahasiswa terlebih dosen di Unhas.

Dari empat belas fakultas yang dimiliki oleh Unhas kini, terdapat 4 fakultas non eksakta, dan selebihnya tergolong eksakta [3]. Sebagian besar fakultas berstatus eksakta, memiliki kegiatan praktikum dengan menggunakan bahan-bahan berbahaya di fasilitas laboratorium yang dimilikinya. Tulisan ini akan mencoba melihat, bagaimana dampak aktifitas praktikum maupun penelitian terhadap lingkungan sekitar. Sebagai salah satu contoh, saya akan menjelaskan satu jurusan dengan aktifitas praktikum maupun penelitian yang cukup tinggi, yaitu jurusan kimia Unhas

Jurusan kimia yang digadang-gadang akan mendapatkan akreditasi internasional [4] memiliki lima praktikum wajib yang harus dilulusi seorang mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjananya. Dari kelima praktikum tersebut, hampir semua kegiatan di laboratorium menggunakan larutan H2SO4, CH3COOH, NaOH, CHCl3, dsb. Larutan tersebut tergolong dapat merusak lingkungan atau sering disebut dengan bahan kimia beracun dan berbahaya (Limbah B3) [5]. Informasi tersebut dapat kita baca pada Material Safety Data Sheet (MSDS) yang memuat Bahaya serta penanggulangan terhadap manusia, serta dampaknya terhadap lingkungan (Ecological Information).

Berdasarkan penelusuran penulis, penanganan limbah B3 ini sudah dicoba dilakukan dengan memisahkan larutan dalam wadah tertentu, menimbun limbah tertentu pada suatu galian, menyimpan sementara pada lemari asam (walaupun banyak lemari asam sudah lama rusak), serta beberapa penanganan lain. Namun yang menjadi sorotan penulis ialah limbah yang dibuang ke saluran pembuangan melalui wastafel atau sejenisnya. Penulis tidak mendapatkan sama sekali Instalasi Pengolahan Air Limbah yang dimiliki laboratorium. Padahal limbah B3 yang dibuang ke lingkungan seharusnya diberi perlakuan khusus terlebih dahulu.

Walaupun belum didapatkan data mengenai perubahan kondisi lingkungan di sekitar pembuangan limbah tersebut. Sebagai Informasi, dampak negatif dari pembuangan limbah tanpa perlakuan khusus, selain merusak instalasi saluran pembuangan biasa, seperti korosi yang diakibatkan oleh larutan asam, efek dari pembuangan tersebut juga dapat mengubah pH, bau, warna, rasa pada air normal serta dapat menimbulkan endapan atau koloid [6]. Perubahan rona lingkungan akan berdampak buruk pada kesehatan tumbuhan, hewan, bahkan manusia yang beraktifitas di sekitar area buangan limbah.

***

Pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud aktualisasi tri dharma pendidikan tinggi dilakukan oleh Unhas dengan melakukan penyuluhan lingkungan di beberapa daerah. Selain penyuluhan lingkungan yang sifatnya momentuman, dalam setiap gelombang Kuliah Kerja Nyata (KKN) juga seringkali dimasukkan program kerja penyuluhan, salah satunya terkait dengan kesehatan lingkungan. Namun penyuluhan kepada masyarakat tentunya menjadi salah satu beban moral bagi akademisi Unhas untuk memberikan teladan dengan terlebih dahulu memperbaiki kesehatan lingkungan kampus. Ibaratnya, memperbaiki gajah di pelupuk mata lalu semut diseberang pulau.

Alangkah bijak ketika para pemangku kebijakan tidak hanya sibuk memberikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan di berbagai ‘proyek’, memberikan penyuluhan diberbagai tempat, serta membangun gedung baru (yang kian hari menutupi lahan hijau).  Lingkungan di luar kampus boleh jadi menjadi sehat dengan ilmu yang ditransformasikan, lantas bagaimana dengan nasib lingkungan kampus kita? Sudah sehatkah?

 

Bacaan Pemerkaya

[1] http://unhas.ac.id/article/title/cegah-bdb-unhas-suluh-tingkatkan-kualitas-kesehatan-lingkungan (diakses pada tanggal 14 Maret 2016)

[2] Elhaggar, S., 2007, Sustainable industrial Design and Waste Management, Elsevier Science & Technology books, USA.

[3] Fakultas non eksakta yang dimaksud adalah Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ilmu Budaya, Hukum. Adapun Fakultas Eksakta yaitu Fakultas Teknik, MIPA, Kedokteran, Kedokteran Gigi, Kesehatan Masyarakat, Farmasi, Pertanian, Kehutanan, Peternakan, Ilmu Kelautan dan perikanan. Jumlahnya ada 14 diluar dari dua fakultas baru dibentuk yakni Teknik pertanian dan Ilmu keperawatan.

[4] Majalah identitas Edisi XXIX Tahun IX Mei-Juni 2015 halaman 7 paragraf 13.

[5] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 tahun 2014 tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun. Pada pasal 5 ayat (2) disebutkan karakteristik limbah B3 meliputi : mudah meledak; mudah menyala; reaktif; infeksius; korosif; dan/atau beracun.

[6] Turang, Y., Y., 2006, Pengelolaan Bahan Kimia Sisa Analisis Laboratorium (Studi Kasus di Laboratorium PT Pupuk Kaltim Bontang, Tesis, Program Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Diponegoro.

 

[i] Manahan, Stanley.E., 2000, Environmental Chemistry, Seventh Edition, CRC Press LLC, USA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: