LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Review Buku » Dostoveysky, Kejahatan Dan Hukuman

Dostoveysky, Kejahatan Dan Hukuman

Oleh Mekay Lunikabezz

Kejahatan dan hukuman-500x500

Judul                                     : Kejahatan dan Hukuman

Penulis                                 : Fyodor Dostoyevsky (Rusia)

Penerbit                              : Yayasan Obor Indonesia

Tahun terbit                       : 2001

Cetakan pertama             : Agustus 1949

Penerjemah                       : Ahmad Faisal Tarigan

 

Hai, pembaca

Lama tak bersua. Kali ini, mari sedikit berbincang tentang sebuah buku yang datang dari negeri yang jauh di utara sana. Sebuah negara yang sebelumnya bernama Uni Soviet, yang selalu mengingatkan kita akan dinginnya Perang Dingin, dan sekarang bernama Federasi Rusia dengan presidennya yang tampak dingin, Vladimir Putin.

Buku ini berjudul “Kejahatan dan Hukuman”. Ditulis oleh Fyodor Dostoyevsky, yang kabarnya merupakan salah seorang sastrawan besar Rusia. Pertama kali diterbitkan pada Agustus 1949. Aku selesai membacanya pada tahun 2016, namun sebelumnya juga telah membacanya pada 2015. Jadi, jika kau ingin mengatakan betapa tertinggalnya aku membaca buku ini, memang demikian adanya.

Buku ini menceritakan kehidupan beberapa tokoh dengan nama-nama yang membuat lidah kaku untuk menyebutnya. Biasa, nama-nama Rusia. Tokoh sentralnya adalah seorang pemuda, mantan mahasiswa, bernama Rodion Romanovitch Raskolnikov. Satu kalimat untuk buku ini, seorang mahasiswa miskin membunuh seorang perempuan rentenir tua.

Dengan pernyataan di atas, tentunya kau telah mampu menebak peristiwa apa sebenarnya yang diangkat dalam buku ini. Pembunuhan. Bukan pembunuhan sembarangan, tapi pembunuhan berencana. Bukan kepada orang besar pejabat pemerintahan, tapi hanya kepada seorang perempuan rentenir tua.

Yang banyak digambarkan dan dijelaskan dalam buku ini adalah
keadaan psikologis sang pembunuh, si Rodion itu. Mahasiswa yang pernah menerbitkan artikel di koran tentang teorinya yaitu “orang besar” dan “orang kecil”, bukanlah pembunuh sembarangan. Memang dia belum pernah membunuh sebelumnya, namun dia menilai bahwa kegagalan sebagian besar pembunuh adalah bahwa mereka, para pembunuh itu kurang antisipatif dan lupa menahan diri. Sementara sebuah pembunuhan seharusnya dilakukan dengan penuh ketenangan dan ketelitian. Itulah teori pembunuhan menurut Raskolnikov. Jadi, apakah teori ini mampu ia terapkan ketika ia melakukan pembunuhan pertamanya?

Keadaan psikologis banyak  digambarkan dalam buku ini. Ada banyak percakapan dengan diri sendiri, yang akhirnya membuatku pusing, apakah itu dialog dengan tokoh lain atau bukan. Akhirnya, aku harus membacanya dua kali. Yaa Maklumlah, namanya juga menggambarkan psikologis seorang pembunuh.

Baiklah, sepertinya aku tidak tertarik untuk menjelaskan bagaimana pembunuhan itu terjadi, tapi aku ingin menggambarkan pemikiran tokoh-tokoh yang terdapat dalam buku ini. Aku tidak tahu latar tahun berapakah yang digambarkan dalam buku ini. Namun, sejauh yang mampu kupahami, Kota St. Petersburg saat itu, sarat dengan kemiskinan. Ataukah hanya tokoh-tokohnya saja yang digambarkan miskin? Entahlah.

Seorang pria beristri hobi mabuk-mabukan, bukan karena ia kaya raya- faktanya ia bahkan meminta uang pada anaknya, tapi karena pria tersebut menghindari omelan-omelan istrinya yang sakit-sakitan jika ia berada di rumah. Ia menyayangi istrinya. Sangat. Dan hanya dengan mabuk, ia mampu merasakan penderitaan yang selama ini dialami istrinya, katanya. Pria itu bernama Marmeladov, dan anaknya yang memberikannya uang bernama Sonia, adalah seorang gadis yang bekerja sebagai pekerja seks komersial. Sebuah pekerjaan yang selalu membuat Marmeladov merasa sedih, sehingga ia bahkan tak sanggup menatap Sonia.

Seorang gadis yang tinggal berdua dengan ibunya, harus rela bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dihina oleh majikannya dan dituduh memiliki hubungan khusus dengan tuannya. Namanya dicemarkan. Ia bekerja banting tulang untuk membiayai ibunya dan kakaknya, harapan terbesar keluarga, yang sedang di perantauan. Ia bersedia untuk dinikahi oleh seorang pengusaha yang usianya cukup jauh dengan dirinya. Calon suaminya itu adalah seorang yang sengaja mencari istri dari kalangan miskin, agar istrinya kelak sepenuhnya bergantung kepada dirinya. Gadis itu menolak dikatakan melakukan “pengorbanan”  dengan bersedia menerima lamaran sang pengusaha walaupun tanpa sedikitpun rasa cinta. Ia mengatakan bahwa ia memiliki alasannya tersendiri untuk menerima lamaran tersebut. Tapi, benarkah ia tidak mengorbankan masa depannya melalui pernikahan itu? Dialah Dounia, adik Raskolnikov.

Seorang ibu dari tiga orang anak yang kurus kerempeng, dengan penampilan yang tak karuan,  terkungkung dalam kemiskinan, menderita penyakit TBC dan tak jarang memuntahkan darah, setiap hari mengomel, meratapi nasib, mengutuki suami yang kerjanya hanya mabuk-mabukan setiap hari. Memperoleh penghidupan hanya dari anak tirinya yang bekerja sebagai pekerja seks. Kurang melarat bagaimana lagi? Dia adalah Katerina, ibu tiri Sonia.

Seorang pemuda perantau, harus rela dikeluarkan dari kampusnya karena tak mampu lagi membayar biaya kuliah, terkadang mengirim tulisannya untuk dimuat di koran, pernah bekerja sebagai guru privat, penghasilannya tak menentu. Kini ia sepenuhnya bergantung pada uang kiriman dari ibunya. Penampilannya menyedihkan, makan pun sudah tak lagi teratur, pembayaran sewa kamarnya terus menunggak dan ia telah dilaporkan oleh induk semang alias ibu kosnya karena tak mampu membayar utang. Ia juga bahkan telah menggadaikan barang-barang peninggalan ayahnya kepada rentenir. Dia adalah Raskolnikov, tokoh sentral dalam buku ini.

Raskolnikov juga beranggapan bahwa sifat ketidakmampuan menahan diri menyerang manusia alias calon pembunuh itu seperti penyakit, berkembang dan tumbuh perlahan-lahan dan mencapai puncaknya sesaat sebelum kejahatan dilakukan, lalu berlanjut menjadi kekerasan dan  kekejaman pada saat kejahatan dilakukan, dan beberapa saat setelah itu menghilang begitu saja seperti kuman penyakit. Namun, Raskolnikov merasa tidak tahu apakah setiap kejahatan selalu disertai sesuatu yang serupa penyakit seperti itu.

Pertanyaan. Apakah teori ini tepat digunakan pada Raskolnikov? Adakah Raskolnikov mendapati sesuatu yang datang lalu menghilang bagai kuman itu? Apakah ia tidak mampu menahan diri? Dalam buku ini, dikisahkan bahwa Raskolnikov telah sakit, mungkin demam, beberapa hari sebelum ia melakukan pembunuhan. Pembunuhan ini sendiri telah ia rencanakan untuk beberapa waktu lamanya. Semuanya telah ia pikirkan matang-matang, termasuk kapan dan dengan apa ia akan menghabisi korbannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa sejauh ini Raskolnikov mampu menahan diri.

Selanjutnya, apa yang terjadi ketika kejahatan itu dilakukan? Kenyataan tidak sesuai dengan harapannya. Ia terpaksa harus menghabisi dua nyawa. Ia membunuh adik rentenir itu. Menurutku, pembunuhan itu dilakukan secara brutal. Mengayunkan kapak ke bagian kepala korban. Sepertinya, ketidakmampuan menahan diri benar-benar memuncak ketika kejahatan itu dilakukan. Hingga bagian ini, aku menilai Raskolnikov telah tidak mampu menahan diri.

Raskolnikov berhasil kabur dari lokasi kejahatan itu tanpa seorangpun yang melihatnya.  Namun, apakah sifat ketidakmampuan menahan diri itu akhirnya lenyap seperti penyakit? Apakah kemudian Raskolnikov mampu hidup seperti sebelumnya? Ini adalah bagian yang menantang untuk kuceritakan.  Raskolnikov kabur dengan membawa harta benda yang mampu ia temukan di rumah rentenir tua itu, lalu menyembunyikannya dibalik batu besar di sebuah tempat. Apakah Raskolnikov akhirnya hidup “normal”? Bagaimana jika kita menjawabnya di akhir tulisan? Bagaimana rasanya bercerita tentang seorang pembunuh jika kita tidak pernah membunuh sebelumnya? Bagaimana kita mengetahui apa sebenarnya yang ia pikirkan?

Raskolnikov masih sakit ketika ia melakukan kejahatannya. Dan setelah melakukannya pun, ia masih harus terbaring untuk beberapa hari. Hal ini membuat orang-orang percaya dan yakin bahwa Raskolnikov tidak terlibat dalam pembunuhan walaupun ia mengunjungi flat rentenir itu sehari sebelumnya untuk menggadaikan sesuatu.

Selama membaca buku ini, aku tak jarang menempatkan diriku sebagai Raskolnikov. Apa yang sebaiknya kukatakan ketika seseorang menanyaiku tentang ini? Tentang itu? Bagaimanakah respon yang seharusnya kutampakkan agar tak seorang pun mencurigaiku? Aku harus bertindak seolah aku tak mengetahui apa-apa. Begitulah kira-kira pemikiran yang juga hinggap di kepalaku. Jujur, aku jadi merasa seperti seorang pembunuh.

Kau telah melakukan kejahatan pembunuhan. Kau dalam keadaan sakit, tidur hingga berhari-hari, dan dalam tidurmu kau mengigau tentang kaus kaki, rantai, anting-anting (segala hal yang hanya kau seorang yang tahu bahwa semua itu terkait dengan pembunuhan yang telah kau lakukan). Namun, orang-orang yang mendengarmu mengigau  merasa bahwa hanya kau sendiri yang mengerti dengan apa yang igaukan itu. Mencurigakan, bukan? Bukan hanya itu, ketika kau tersadar, beberapa hari telah berlalu, dan orang-orang di sekitarmu ramai berbincang tentang pembunuhan itu dan mengatakan bahwa pembunuhnya belum diketahui.

Bagaiamana perasaanmu jika kau menjadi Raskolnikov pada saat itu? Bagaimana seharusnya kau bereaksi? Kau tentu harus tampak seperti tidak mengetahui apapun. Tapi, bagaimana caranya? Selama tidak ada bukti yang memberatkanmu, tentu kau harus tetap bertahan selama mungkin. Rasanya aku akan gila, pembaca.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, bahwa terdapat banyak dialog dengan diri sendiri dalam buku ini, terutama tentu saja dialog Raskolnikov. Pembaca, bayangkan saja bahwa dirimu adalah seorang pembunuh dengan kronologi dan hal-hal lainnya seperti yang telah kupaparkan di atas. Apakah kau akan menghindari tempat ramai? Apakah kau akan menghindari berbicara bahkan dengan ibu dan adik yang datang mengunjungimu? Apakah kau bahkan akan berencana bunuh diri?

Nyatanya, ketidakmampuan menahan diri, sesuatu yang dikatakan Raskolnikov sebagai kuman penyakit yang akan lenyap seketika setelah pembunuhan terjadi itu, tidak benar adanya. Aku melihat bahwa hidup Raskolnikov semakin tak karuan. Ia menghindari orang-orang, berbicara seperlunya, tapi pikirannya tak pernah berhenti untuk terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan selanjutnya. Apakah pembunuhan yang dilakukannya akan terbongkar atau tidak.

Pada suatu hari, sebuah surat panggilan dari kantor polisi menghampiri Raskolnikov. Apa yang akan kau lakukan jika kau sebagai Raskolnikov? Kau sedang dalam keadaan sakit, harus ke kantor polisi, harus mengantre pula, orang-orang yang kau temui tidak ramah, marah-marah, dan seseorang di dalam ruangan sedang berbicara tentang sebuah pembunuhan yang beberapa hari yang lalu terjadi. Apa yang akan kau lakukan? Tidakkah kau berpikir ini saat yang tepat untuk menyerahkan diri? Ataukah kau berpikir untuk bertindak tidak mencurigakan?

Raskolnikov pingsan. Orang-orang panik. Mereka bertanya-tanya mengapa Raskolnikov tampak gelisah ketika berlangsung pembicaraan mengenai pembunuhan itu. Apakah Raskolnikov pada akhirnya mengaku? Tidak semudah itu. Lantas, untuk apa ia dipanggil ke kantor polisi? Ternyata ia digugat oleh ibu kosnya karena terus-menerus menunggak sewa kamar. Begitulah ceritanya.

Rasanya, tak ada habisnya jika aku terus membahas Raskolnikov itu. Baiklah, mari kita membahas salah seorang tokoh penyeimbang dalam kasus ini. Dia adalah Porfiry Petrovitch, seorang polisi dan juga detektif. Pembunuhan yang terjadi ini begitu detail. Tidak meninggalkan satupun barang bukti. Panjang jika aku harus menceritakan bagaimana pertemuan antar-keduanya. Tapi, aku tertarik untuk menceritakan apa sebenarnya yang dua orang ini bicarakan jika mereka bertemu. Tentu saja, kau harus curiga apakah dia mencurigaimu sebagai seorang pembunuh atau tidak.

Apakah kau masih ingat tentang “orang besar” dan “orang kecil” yang kutuliskan di atas? Teori Raskolnikov itu? Nah, tulisan yang memuat tentang teori itu, pernah di muat di koran enam bulan sebelumnya. Dan ternyata, Porfiry, detektif kita itu tertarik untuk membahas mengenai hal itu langsung dengan penulisnya. Raskolnikov melihat bahwa manusia dapat dibagi ke dalam dua golongan, orang besar dan orang kecil. Menurut Raskolnikov, orang besar adalah mereka yang “diisyaratkan” seolah memiliki hak untuk melakukan atas kesadaran sendiri, hal-hal yang melewati norma-norma yang ada demi tercapainya cita-cita yang berguna bagi kepentingan umat manusia. Sedangkan orang kecil, menurut detektif Porfiry, dilihat sebagai orang yang hidup dalam kepatuhan, yang dikendalikan. Mengenai orang besar, Raskolnikov mencontohkan, bagaimana jika ternyata Newton harus mengorbankan selusin atau bahkan lebih orang agar penemuannya bisa tercapai? Raskolnikov menilai bahwa Newton patut menempuh jalan itu. Newton patut  mengorbankan orang-orang itu.

Alamlah yang membagi manusia ke dalam dua kelompok itu, Raskolnikov menilai bahwa apa yang dilakukan oleh orang besar itu, seperti misalnya  pertumpahan darah, harus dinilai secara relatif. Bagaimanapun, hal itu dilakukan demi masa depan yang lebih baik. Namun jangan khawatir, orang besar seperti ini biasanya akan dihukum oleh massa di sekitarnya. Dan di masa depan, massa juga lah yang akan membersihkan nama dan memuja “penjahat” tersebut. Orang kecil adalah manusia zaman kini, sedangkan orang besar adalah manusia masa depan. Yang pertama melestarikan dunia dan isinya, sedangkan yang kedua menggerakkan dunia dan memimpinnya ke negeri harapan. Kedua jenis manusia ini sama-sama memiliki hak untuk hidup. Begitulah kira-kira yang dikatakan oleh Raskolnikov. Lantas, bagaimana mengetahui apakah seseorang terlahir sebagai orang besar ataukah orang kecil?

Kita tahu bahwa Raskolnikov telah menghabisi nyawa seorang rentenir. Rentenir yang menjadi momok orang-orang. Apakah kemudian Raskolnikov layak dikatakan sebagai “orang besar” karena dengan demikian, berarti ia telah menyelamatkan kelangsungan hidup banyak orang? Aku tidak tahu jawabannya, karena Raskolnikov sendiripun bertanya pada dirinya.

Raskolnikov mengagumi dan menaruh kasihan pada Sonia, yang telah berjuang keras untuk menghidupi keluarganya walaupun dengan bekerja sebagai pekerja seks. Raskolnikov seolah merasakan semua beban penderitaan hidup yang dialami Sonia. Mungkin karena merasa senasib itu pula, sehingga kepada Sonia-lah Raskolnikov menceritakan tentang hidupnya, termasuk mengenai pembunuhan itu. Dalam buku ini, dikutip mengenai Lazarus, manusia yang dihidupkan kembali oleh Tuhan. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya. Berdasarkan kisah itu pula, sehingga Sonia meyakinkan Raskolnikov untuk menempuh jalan pengakuan.

Di sisi lain, ada dialog yang sangat menggelitik bagiku. Pada saat itu, Katerina, ibu tiri Sonia sedang sekarat. Sonia menawarkan diri untuk memanggil pastor agar ibunya bisa melakukan pengakuan dosa sebelum kematiannya. Namun, apa yang dikatakan ibunya kemudian?

“Aku panggilkan pastor?” tanya Sonia

“Apa? Pastor? Aku tidak butuh. Tuhan pasti telah mengampuniku, aku tidak butuh. Tuhan tahu bagaimana menderitanya aku selama ini. kalaupun Dia tidak mau mengampuniku, aku tidak peduli” jawab Katerina.

Aku tidak ingin berkomentar mengenai dialog di atas. Sudah cukup rasanya untuk menginterpretasikannya menurut pribadi masing-masing. Terakhir, aku ingin mengatakan bahwa aku menyukai kisah cinta yang digambarkan dalam buku ini. Mudah ditebak memang, tapi sederhana dan dalam.  Maafkan aku, pembaca. Aku ingin kau membaca buku ini, karena itu aku tak menceritakan padamu bagaimana akhirnya nasib Raskolnikov kita.

Maka berakhirlah  ulasan buku ini. Sekian.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: