LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » Memandang timur Indonesia : Sebuah refleksi “ketidakadilan” sosial ekonomi di Indonesia

Memandang timur Indonesia : Sebuah refleksi “ketidakadilan” sosial ekonomi di Indonesia

 

Oleh LAW Unhas

13920600_1286263198050967_6856538548214537569_n.jpg

Kamis, 11 Agustus 2016. Acara Simposium Regional Indonesia Timur dengan tema “ Mewujudkan Indonesia Sejahtera : Merefleksi Keadilan Sosial Ekonomi dan Kebangsaan di Indonesia Timur” bertempat di Auditorium Prof. Amiruddin FK – UH itu dimulai pada pukul 09.00 WITA. Acara ini dihadiri bukan hanya pihak mahasiswa saja, namun banyak juga yang berasal dari  kalangan aktivis, LSM, Ornop, dosen, penggiat komunitas, dll.  Diskusi dimulai oleh Dr. Andi Muh. Akhmar sebagai Moderator dengan Narasumber pertama dari Kementerian Lingkungan Hidup. Dr. Ilyas. Beliau membahas mengenai bagaimana perspektif Pemerintah Pusat mengenai keadilan sosial ekonomi di Indonesia Timur terkhusus pada kualitas Sumber Daya (Alam dan Manusia) serta pemanfaatannya. “Sumber Daya Alam di Indonesia Timur sangat melimpah namun keterbatasan Sumber Daya Manusia masih menjadi persoalan” Ujar beliau. Dalam konteks ini, pemerintah selalu berdalih bahwa rendahnya kualitas  Sumber Daya Manusia di timur Indonesia menjadi penghambat pertumbuhan di daerah tersebut. Faktanya, apabila ditelusuri lebih jauh lagi, persoalan ini merupakan hasil dari distribusi pendidikan yang tidak merata antar daerah.

Se33870.jpgmentara itu, Ketua Dewan Pengurus LP3ES, Prof. Dawam  kurang sependapat bila Sumber Daya Manusia menjadi penyebab lambatnya pertumbuhan ekonomi maupun percepatan pembangunan. Menurutnya, para aparatus negara dan para investor (kaum kapitalis) saling bekerja sama untuk mendapat keuntungan yang ujungnya malah merugikan masyarakat setempat bukan sebaliknya. “Dan itu telah lama terjadi di Indonesia Timur bahkan berlangsung hingga sekarang” tambahnya. Beliau juga menyatakan bahwa kebanyakan masyarakat selalu menjadikan pulau jawa sebagai parameter utama untuk mengukur kesejahteraan rakyat dan perkembangan perekonomian Indonesia tanpa  melihat fenomena yang terjadi di wilayah Indonesia Timur.

Narasumber ketiga adalah Aktivis Perempuan Papua, Imelda Baransano. Nona Imelda berbicara mengenai keadilan sosial dan ekonomi di tanah Papua. Beliau mengawalinya dengan pandangan sebagian besar masyarakat Indonesia kehidupan masyarakat Papua. Beliau melanjutkan bahwa kehidupan masyarakat Papua itu sangatlah memprihatinkan terutama di bidang pendidikan dan ekonomi. Beliau juga mengatakan bahwa apabila masalah di Papua ingin diselesaikan hanya dari segi pemerataan ekonomi saja, lantas bagaimana dengan pembangunan infrastruktur, perbaikan mutu pendidikan, dsb. “Jika Pemerintah ingin mengalokasikan 100 hingga 200 triliun untuk menyejahterakan masyarakat Papua, saya pikir itu hanya cukup untuk Pemerataan Ekonomi saja, belum cukup untuk hal – hal lain”.

Narasumber selanjutnya yaitu Drs. Alwy Rahman yang membahas mengenai keadilan sosial ekonomi masyarakat Indonesia Timur dari perspektif kebudayaan.  Beliau membuka perbincangan tentang bagaimana cara merefleksi kehidupan di indonesia Timur  dengan sudut pandang berbeda. Menurut beliau bahwa sebelum membahas lebih jauh mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara, kita harus memahami dulu makna sebenarnya Bangsa dan Nasionalisme. Beliau beranggapan  bahwa melihat persoalan aspek kehidupan khususnya sosial dan ekonomi, terlebih dahulu kita harus memahami pentingnya rasa Nasionalisme agar terhindar dari keretakan dan perpecahan. Karena menurut beliau, bangsa seperti Indonesia merupakan bangsa yang mudah retak dan pecah hanya dengan isu perbedaan suku, ras apalagi agama. Itu sering terjadi di Era Orde Baru sampai saat ini dan baru saja terjadi di Tanjung Balai. Sentimen terhadap perbedaan itu bertambah parah ketika misalnya, pertumbuhan ekonomi atau tingkat kesejahteraan suatu daerah jauh lebih baik dari daerah lain. Sangat tidak mengherankan apabila keadilan ekonomi tidak terjadi hingga saat ini karena memang di sila kelima Pancasila hanya berbunyi “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Setelah beliau mengakhiri pembahasannya, moderator langsung memberikan kesempatan kepada Narasumber selanjutnya yaitu Dr. Teddy, Pakar Ekonomi Universitas Pattimura, Maluku. Beliau merefleksi keadilan sosial ekonomi di Indonesia Timur khususnya di daerah Maluku menurut sudut pandang seorang Ekonomi. Teddy berpendapat bahwa Pemerintah Indonesia selalu saja berpatokan pada angka dan buta akan realitas di Lapangan karena memang kenyataannya, kita sehat di angka – angka tetapi sakit di realita !

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada dua orang yang cukup menyita perhatian forum ketika menyampaikan argumennya kepada Narasumber yaitu seorang Arkeolog bernama Iwan Sumantri dan seorang Aktivis bernama Zaenal. Iwan menanggapi pendapat dari Nona Imelda mengenai Papua. Beliau berasumsi, banyak daerah Sulawesi Selatan khususnya daerah Luwu yang sama atau mungkin lebih miris kondisi wilayah serta perekonomiannya ketimbang di Tanah Papua.. “Hanya masyarakat pra-historis saja yang masih mengeksploitasi Sumber Daya Alamnya, jadi sebenarnya Indonesia ini masih berada di kategori itu.”sambung beliau. Lain halnya dengan Zaenal -seorang aktivis dan penulis buku-, beliau lebih menyoroti peran Pemerintah dalam melihat keadilan sosial ekonomi di Indonesia Timur utamanya Makassar. Ia mengatakan bahwa ia mempunyai data yang riil untuk membuktikan bahwa pernyataan dari Dr. Ilyas itu keliru. “Sumber Daya Manusia Indonesia Timur sama sekali tidak rendah, sistem birokrasi yang menjepit rakyat sehingga sulit untuk keluar dari kemiskinan dan ketertinggalan” ungkap beliau.

Acara ditutup dengan pembacaan rumusan hasil simposium serta menyanyikan Lagu “Padamu Negeri”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: