LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » KEMERDEKAAN, KAMPUS DAN REPRODUKSI RELASI SOSIAL CAPITAL

KEMERDEKAAN, KAMPUS DAN REPRODUKSI RELASI SOSIAL CAPITAL

 

Oleh CN MINO

Perayaan HUT RI yang ke-71 sempat diwarnai banyak polemik. Diantaranya salah seorang Paskibraka yang dikabarkan akan mengibarkan sang saka merah putih dicekal karena status kewarganegaraan bukan Indonesia. Meskipun pada akhirnya diberi kesempatan menjadi pasukan penurun bendera pada sore harinya. Polemik lain datang dari wakil presiden JK, yang sempat tertangkap kamera tidak melakukan formasi format saat lagu Indonesia berkumandang diiringi dengan proses pengibaran bendera merah putih.

Ada banyak polemik yang mengundang perdebatan pada masyarakat. Tetapi, sepanjang perayaan kemerdekaan hampir tidak ada perdebatan yang terjadi di kalangan akademik maupun dunia kampus yang menggugat kemerdekaan yang terjadi pada internal kampus. Apa karena keterbatasan penulis mengetahui narasi yang ada, atau mungkin karena minimnya tulisan yang menggugat kemerdekaan di lingkungan kampus? Entahlah, tetapi sejauh ini narasi yang menceritakan tentang potret kemerdekaan di kampus Pasca Orde Baru sangat minim kita jumpai.

Sementara, jika dilihat dari struktural. Kampus menjadi dasar dari terbentuknya formasi sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setidaknya kemerdekaan dalam dunia kampus juga menjadi perdebatan yang harus dimunculkan paling tidak dikalangan akademisi. Mengingat peran yang sangat strategis yang ada pada kampus sebagai institusi pendidikan.

Tulisan ini, berangkat dengan sebuah thesis bahwa kemerdekaan di lingkup kampus sejauh ini masih penuh dengan polemik. Indikasinya bisa dilihat dari data yang telah dirilis oleh SAFEnet yang menunjukkan setidaknya ada 50 peristiwa pelanggaran atas hak berkumpul dan berpendapat di Indonesia sejak Januari 2015- Mei 2016, yang hampir secara keseluruhan berlangsung dalam lingkungan kampus.

Berangkat dari data ini, penulis ingin menelusuri penyebab mengapa kemerdekaan kampus masih menjadi polemik sementara kemerdekaan secara konstitusional telah sampai pada usia yang ke-71.

Faktor struktural menjadi faktor yang diindikasikan oleh penulis sebagai penyebab dari polemik kemerdekaan kampus. Faktor tersebut terbagi menjadi tiga point besar yaitu, kampus sebagai reproduksi relasi produksi di dalam formasi capital, kampus sebagai arena doktrinisasi dan kampus harus diposisikan sebagai institusi yang tidak bebas dari nilai.

Tulisan ini dibuat berseri (3 seri), pada seri pertama penulis akan menjelaskan kampus sebagai reproduksi relasi sosial produksi di dalam formasi capital, seri kedua kampus sebagai arena doktrinisasi, dan seri ketiga kampus harus dilihat sebagai institusi yang tidak bebas dari nilai beserta implikasi dari seri 1, 2 dan 3.

Kampus dan Reproduksi Relasi Produksi di dalam Formasi Sosial Capital

Althuser, salah satu tokoh yang pernah mempopulerkan istilah reproduksi relasi produksi di dalam formasi sistem capital pada lingkungan kampus. Argumen Althuser tersebut terdapat pada salah satu karyanya yang terkenal yaitu tentang ideologi yang terbit oleh Jalasutra pada tahun 2004 setelah diterjemahkan oleh Olsy Vinoli Arnof.

Reproduksi relasi produksi adalah satu rangkaian proses yang terjadi pada relasi capital. Tujuannya membentuk formasi sosial pada sistem capital. Formasi sosial disini dijelaskan sebagai struktur ataupun pola pada masyarakat yang mencerminkan proses pembentukannya berdasarkan relasi terbentuknya pada lingkup kampus. Pola tersebut terbentuk melalui relasi sosial dalam lingkungan kampus, dengan menggunakan institusi sebagai intervensi bias dalam membentuk struktur sosial.

Formasi sosial sendiri sebagai salah satu upaya yang dilakukan capital untuk mereproduksi faktor-faktor produksinya menjadi lebih kompetitif. Althuser secara garis membesar menjelaskan bahwa proses evolusi capital hanya terjadi pada faktor-faktor produksi dan relasi produksi. Pada faktor produksi yang berevolusi hanyalah penggunaan mesin ataupun penambahan teknologi sementara perubahan tersebut berdampak pada perubahan relasi capital. Tepat disinilah letak analisis Althuser memposisikan kampus sebagai ruang untuk mereproduksi relasi produksi (Manusia) ke dalam formasi capital.

Prosesnya berlangsung secara sistematik. Dimana kampus tidak berdiri sendiri sebagai institusi negara yang tunggal, tetapi dalam praktik reproduksi relasi capital, kampus berdampingan dengan institusi lain. Hanya saja, menurut Althuser kampus menjadi satu-satunya institusi yang paling bias perannya tetapi paling massif dalam membentuk formasi sistem capital.

Hal tersebut di diilustrasikan oleh Althuser dengan memberikan contoh, bahwa kampus menjadi institusi yang memiliki pengikut yang jelas. Yang tidak hanya di isi oleh tenaga muda produktif tetapi juga oleh mereka yang intelektual. Melalui institusi kampus, manusia akan di reproduksi menjadi bagian dari relasi system capital. Misalnya, seorang mahasiswa yang akan dibentuk dalam kampus yang kemudian dipersiapkan untuk melayani capital secara global dengan mengisi pos-pos capital.

Selanjutnya, formasi tersebut terus bertransformasi seiring dengan transformasi capital yang berlangsung secara global. Reproduksi relasi capital akan ditentukan oleh evolusi yang terjadi pada capital. Ini dilakukan untuk memastikan system capital terus bereproduksi.

Selain itu, reproduksi relasi produksi secara sosial akan mengubah karakter individu dari kehidupan yang lebih sosial menjadi sangat individual. Perubahan ini seiring dengan logika rasionalitas yang mendorong masing-masing individu bersaing memperebutkan pos dari formasi capital yang telah ada. Implikasinya kehidupan di lingkungan kampus akan terlihat lebih eksklusif dan seolah terlepas dari kondisi sosial yang ada di sekitarnya. Hal ini bisa dijumpai dari praktik pendidikan yang sangat minim menjadikan kondisi materialis di sekitarnya sebagai isu kajian kritis, misalnya bagaimana konflik penyerobotan lahan menjadi kajian akademik yang diperdebatkan di ruang kuliah ataupun seorang pengajar ikut memancing mahasiswa untuk memperdebatkan isu terkait dengan penggusuran atau tentang kemiskinan yang melanda masyarakat di pinggiran kampus.

Kesimpulan.

Kemerdekaan di kampus menjadi sangat bias maknanya, salah satunya karena kampus sebagai sarana reproduksi relasi sosial produksi di dalam system capital. Pada kondisi ini, peran kampus tidak lebih dari sebuah institusi pabrik yang akan mencetak dan membentuk manusia menjadi bagian dari formasi capital (Althuser : 2004).

*Bersambung…….  

*Althuser, Louis. 2004. Tentang Ideologi : Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies. Jalasutra. Yogyakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: