LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » POLITIK BUDAYA MEDIA DAN GERAKAN SOSIAL

POLITIK BUDAYA MEDIA DAN GERAKAN SOSIAL

Oleh Nasrullah Mappatang

chomsky.jpeg

Tahun 1997, Noam Chomsky menulis sebuah buku kecil dan tipis tentang peran politik media massa kontemporer. Judul bukunya Media Control : The Spectacular Achievements of Propaganda.  Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pertama kali tahun 2006 dengan judul Politik Kuasa Media. Buku ini secara umum merupakan pandangan kritis dari Noam Chomsky tentang bagaimana media berperan sebagai penyokong kekuasaan – Amerika. Propaganda media merupakan bahasan yang paling mencolok mendapat sorotan. Selain itu tema tentang industry humas, rekayasa opini, representasi, diskriminasi persepsi, stereotype, red scare, dan tentunya hegemoni kuasa media tak lepas dari ulasan Noam Chomsky sebagai ahli linguistik sekaligus analis media paling tersohor abad ini, di bukunya ini. Kritiknya tajam, keras, dan sangat kritis. Chomsky seolah menjadi pengingat dan penantang keras kebijakan luar negeri tempat dia tinggal sampai hari ini. Tempat persis jantung kapitalisme global bersemayam, Amerika Serikat.

Karya Chomsky ini bisa jadi oleh banyak kalangan, terutama bagi para akademisi dan intelektual progresif tak setenar Manufacturing Consent yang ia tulis bersama Edward S. Herman. Akan tetapi, membaca buku yang sederhana ini, kita bisa dengan sedikit mudah memahami inti dari project intelektual Chomsky dewasa ini. Kritik terhadap kebijakan politik Amerika, khususnya politik luar negeri Amerika ternyata bukan hanya dijalankan oleh kabinet suatu pemerintahan saja bersama koalisinya. Ada media massa yang berperan penting disana. Terutama dan paling utama bagaimana media massa “mempengaruhi” opini publik masyarakat Amerika dan dunia untuk mendukung setiap kebijakan yang ada. Meskipun kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika tidaklah menguntungkan rakyat Amerika sendiri. Kebijakan invasi militer misalnya, membuat banyak ibu di Amerika kehilangan putra kesayangan mereka. Pemotongan anggaran untuk kepentingan publik juga tak jarang menuai protes, namun seiring berjalannya waktu perlahan dapat diredam. Tak hanya mampu diredam, malah publik tak jarang ikut mendukung kebijakan yang yang merugikan tersebut.

media control chomsky.jpg

 

Apa yang menjadikan kondisi bisa menjadi terbalik demikian? Disinilah relevansi kajian Chomsky yang ditelurkan dalam buku ini. Chomsky menyebutnya sebagai “keberhasilan spektakuler dari propaganda”. Siapa yang men-setting dan menjalankan dengan lihai dan lincah praktik propaganda ini? Chomsky menyoroti peran dari industry humas (public relation industry). Peran humas ini dikatakan industri karena menelan biaya yang besar. Selain itu, apa senjata utama dari propaganda media massa yang digerakkan oleh humas ini? Chomsky lalu menegaskan peran dari “rekayasa opini”. Jadi pertautan setia antara propaganda media massa yang digerakkan dan dikelola oleh industri humas ini dalam merekayasa opini menjadikan pandangan dan sikap public dapat berubah dari mengecam kebijakan pemerintah menjadi mendukung pemerintah. Dari protes kepada Amerika menjadi membenci negara – negara komunis – red scare. Malah, kata Chomsky, anti-komunisme secara hegemonic telah menjadi agama (tak resmi) negara Amerika di masa perang dingin. Setelah perang dingin terorisme bisa jadi adalah musuh ciptaan yang terus dipropagandakan.

Dalam pandangan Chomsky di atas, bukan hanya peran “hegemoni” yang berhasil dijalankan oleh Media Massa Amerika, rupanya. Akan tetapi lebih dari itu, peran “memobilisasi” opini dan gerakan mendukung negara serta membenci mush Amerika berhasil secara spektakuler. Chomsky rupanya kagum sekaligus miris mendapati pembohongan dan pembodohan massal ini di negerinya sendiri.220px-Chomsky.jpg

Diceritakan pula, bahwa Amerika pra perang Dunia adalah negeri yang tak jarang terjadi protes, partai kelas pekerja pernah menguasai parlemen. Para pebisnis dan politisi kelas atas Amerika lalu merancang bagaimana kemenangan in bisa digulingkan. Lahirlah peran utama dari industri humas via media massa untuk membelokkan opini bagaimana protes bisa di “branding” dari tindakan heroik dan dilakukan untuk kepentingan publik menjadi tindakan yang dianggap buruk dan mengganggu kepentingan publik. Persis nasib yang dialami berbagai gerakan sosial dan aksi protes yang berlangsung sampai hari ini. Perasaan publik digiring dan dirayu untuk mengecam dan membenci para pem-protes. Itu untuk mengamankan posisi dan gelagat penguasa di internal negeri sendiri dari para (yang dijuluki) “pengacau”.

Untuk urusan luar negeri (eksternal), musuh diciptakan dan dikonstruksi sejahat dan sengeri mungkin. Komunisme dan terorisme internasional adalah contoh yang paling benderang. Rakyat banyak – publik – (Amerika) dibuat histeris dan haus darah untuk berperang demi negara untuk melawan musuh – yang dimonsterkan – oleh media massa demi menyelamatkan negerinya dan juga Dunia. Jadilah Amerika menjadi polisi dunia. Bahkan alien dan makhluk luar angkasa pun siap dihadapi oleh Amerika, salah satunya oleh Captain Amerika. Itu setelah Rambo berhasil melawan komunisme di Vietnam dalam dunia imajiner yang penuh mitos modern ciptaan Hollywood.

Sebagai bahan refleksi, kecanggihan “teknologi politik” suatu rezim berkuasa ternyata dikelola sedemikian rupa secara serius, terencana, tersistematis dan massif. Tak hanya kelihaian politik, kemampuan dalam seni mempengaruhi yang menggunakan senjata budaya media juga terlibat aktif dan massif di dalamnya. Publik dikondisikan tak punya pilihan lain selain terpengaruh dan bersikap histeris. Rekayasa opini oleh media massa, penciptaan stereotip dan branding jahat bagi musuh, kerja industry humas yang menjadi “think tank” – tangki pemikir – sekaligus pekerja di balik layar penguasa juga menjadi peran yang penting.

Artinya, sebuah gerakan sosial pun, sudah seharusnya mengantisipasi hal demikian. Menjadikan fokus counter terhadap media massa, menyusun “humas dan opinion maker” tandingan adalah hal sangat penting, ternyata. Dimana pertarungan bukan hanya di ranah hard movement, tapi juga di ranah “soft movement” – tempat arena kontestasi hegemonik ada disana. Humas gersos dan juga biro media gersos adalah wujud nyata. Hanya saja, mungkin kemampuan berkontestasi dan skill berakrobat mesti ditingkatkan. Jika memang gerakan sosial hari ini masih percaya bahwa kontestasi berlangsung di segala lini, maka kemampuan skuad juga harus dioptimalkan di segala lini pula. Berikut perangkat dan resources yang dibutuhkan untuk menyiapkan kontestasi dari musim ke musim. Itu baru spektakuler, kata Chomsky.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: