LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » Alusi Moral dan Disonansi Politik

Alusi Moral dan Disonansi Politik

Oleh Wiwiniarmy Andi Lolo

Kampung ibarat hulu dan kota sebagai hilir. Semakin ke hulu, air semakin bening. Semakin ke hilir, air semakin buram.”

Seorang ahli bahasa, sejatinya adalah orang yang mampu mempelajari kedalaman jiwa, yang diekspresikan manusia lewat tindak tutur yang diucapkan. Ilokusi di atas diungkapkan oleh seorang guru besar Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, Prof. Mattulada. Pengungkapan tersebut bukan hanya dimaksudkan untuk memberikan makna literal, akan tetapi memuat suatu hal substansial yang ingin disampaikan kepada pendengar. Singkatnya, ada “sesuatu” di balik ungkapan  tersebut  yang  berlaku  secara kontekstual.  Kata  “kontekstual”  memungkinkan  kita untuk menerapkannya pada konteks yang sesuai, salah satunya kondisi politik lokal Indonesia pada umumnya dan Sulawesi Selatan secara khusus. Disonansi kata bening dan buram dengan analisis situasional politik lokal ternyata menuntut kita untuk memandang dengan perspektif yang berbeda.

Undang-undang serta berbagai ketetapan telah diatur sedemikian rupa demi terpenuhinya demokrasi di seluruh penjuru negeri. Sebagai contoh, Pembukaan dan Pasal-pasal UUD Tahun 1945 memuat tujuan, dasar, cita hukum, dan norma dasar Negara Indonesia yang harus menjadi tujuan dan pijakan dari politik hukum di Indonesia ( Bahder Johan Nasution, 2012:89 ). Dengan demikian, setiap penyelenggaraan politik semestinya mengacu pada UUD Tahun 1945. Harapan yang ingin diraih tentunya adalah terwujudnya Indonesia yang memiliki atmosfer demokrasi ideal. Akan tetapi, saat mengamati lebih jauh praktik demokrasi, terdapat begitu banyak batu sandungan dalam mencapai kata “ideal”. Salah satu yang paling banyak melibatkan unsur negara yaitu pesta politik. Seperti apa demokrasi terlaksana pada penyelenggaraan partai politik? Apakah setiap orang telah berpolitik secara cerdas? Apakah para kandidat masih memegang teguh integritas?

Undang-undang No. 8 Tahun 2012 bagian pertimbangan mewajibkan pemilihan umum untuk dijalankan dengan memenuhi asas “luber” dan “jurdil”. Isyarat ini merupakan salah satu indikator agar tercipta masyarakat yang cerdas berpolitik serta pemimpin yang berintegritas. Pada saat esai ini ditulis, waktu untuk pelaksanaan pemilihan umum masih jauh. Akan tetapi, seperti yang diungkapkan oleh grup band Coklat, “Lima menit kita memilih, lima tahun akan kita  jalani…”,  dampak  dari  jejak  pemilihan  umum  beberapa  tahun  lalu  masih  dirasakan. Berbagai  kebijakan  serta   langkah-langkah  politik  hari  ini  adalah buntut  panjang dari  hasil pemilihan umum. Tak jarang masyarakat kecewa dengan hasilnya. Janji yang diumbar tentu saja lebih banyak berlalu bersama gaung kampanye partai politik. Ekspektasi yang dirawat baik- baik dengan pupuk harapan akan peningkatan keadaan, pupus oleh realitas yang terpampang bak layar tancap. Dalam hal ini, konsepsi Plato untuk memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya, bagai debu yang diterbangkan angin.

Apabila ditelisik ke belakang, hal ini bukan tidak beralasan. Saat partai politik menawarkan berbagai “keuntungan masa depan” bagi masyarakat, tawaran tersebut tak jarang mengalir bersama rupiah. Sekali masyarakat tergoda, kecerdasan berpolitik serta masa dan pemerintahan dipertaruhkan. Sebagai contoh, beberapa minggu yang lalu penulis berkesempatan untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Di sela-sela pelaksanaan program kerja, pihak kelurahan meminta pengosongan jadwal pada hari yang telah ditentukan. Ketika alasannya dipertanyakan, jawaban yang diberikan sungguh mencengangkan.  Kelurahan  harus  mengikuti  ramah  tamah  yang  diadakan  oleh  salah  satu kandidat calon kepala daerah dan mengisyaratkan untuk membawa 15 orang wakil dari masing- masing desa dan kelurahan. Walaupun akhirnya penulis dan peserta lainnya menolak, para wakil dari kelurahan tersebut tetap diberangkatkan dengan alasan “dapat membawa pulang hasil”. Hal ini merupakan salah satu contoh kasus yang sangat disayangkan dan membuktikan bahwa kesadaran masyarakat untuk menjadi pelaku politik yang cerdas, masih sangat minim. Demikian pula dari sisi kandidat calon yang bersangkutan, integritas kepemimpinannya di kemudian hari patut dipersoalkan.

Konsep buram-bening yang diungkapkan Prof. Mattulada berlaku dalam kasus ini, meskipun dengan perspektif yang berkebalikan dengan premis ungkapan itu sendiri. Kampung sebagai hulu yang pada pemahaman umum lebih memegang teguh nilai-nilai moral dan semestinya beralusi dengan kata “bening”, justru menunjukkan sisi lain. Alusi bening yang tampak justru adalah sikap terang-terangan dalam menunjukkan tindakan curang. Sebaliknya, di hilir  atau kota, tindakan curang justru buram  oleh disonansi  dengan  istilah  “ramah-tamah”. Sebagai dampak, masyarakat desa terkesan jauh dari kata “cerdas berpolitik”. Sementara itu, calon pemimpin  yang bersembunyi di balik keindahan kata dan menyuplai dukungan lewat materi, seolah-olah memburamkan pula persepsi masyarakat atas tindakan curang yang dilakukannya. Dengan demikian, masyarakat tidak cerdas, calon pemimpinnya pun tidak beda jalur.

Mengacu pada buku Filsafat Ilmu karangan Stefanus Supriyanto, saat masyarakat ikut dalam praktik pengabadian tindakan curang menjelang pemilihan umum, maka ada beberapa hal yang harus dikaji. Dari perspektif substansi etika, secara ontologi, aspek etika sebagai predikat, tidak terpenuhi karena masyarakat belum memahami dengan baik bahwa perbuatan tersebut tidak patut dilakukan. Secara epistemologi, pengambilan keputusan yang didasarkan pada prinsip  “take  and  give”  mengindikasikan  bahwa  keterlibatan  masyarakat  dalam  kecurangan politik pada contoh kasus di atas tidak didasarkan semata-mata atas partisipasi, namun tuntutan hidup ikut menjadi bahan pertimbangan. Pada tingkat aksiologi, tindakan partisipan tersebut tidak memiliki landasan moral yang kuat.

Persoalan selanjutnya adalah langkah nyata yang harus ditempuh untuk menyadarkan masyarakat bahwa menjalankan politik secara cerdas merupakan hal krusial. Saat ini, pendidikan kewarganegaraan telah digalakkan di bangku sekolah bahkan sejak dini. Akan tetapi, langkah ini belum efektif karena dampaknya baru akan dirasakan pada kurun waktu  yang masih  lama,  saat  para pelajar mulai  terlibat  sebagai  partisipan  politik.  Dengan demikian,  perlu  sebuah  langkah  lain  yang  dapat  mencakup  golongan  tua  yang  tidak  lagi mengecap pendidikan kewarganegaraan, sebab golongan inilah yang paling rawan menjadi sasaran kecurangan. Selain itu diperlukan pula peningkatan pengawasan dari pihak terkait agar tindakan  curang  dapat  diminimalisir.  Hal  lain  yang  patut  dipertimbangkan adalah  keberpihakan,  kepala  daerah  yang  dapat  saja  turut  andil  dalam  melakukan  tindakan curang. Dalam hal ini, pengawasan yang lebih ketat perlu digalakkan semaksimal mungkin oleh pihak terkait..

Pada akhirnya,  pilihan akan  kembali  lagi  kepada para pelaku-pelaku  politik,  apakah mereka akan menjadi pelaku-pelaku politik yang cerdas atau tetap menjadi hamba-hamba kemiskinan moral. Akan tetapi, bukan tidak mungkin bahwa usaha maksimal dari berbagai pihak dapat menekan alusi politik dalam masyarakat. Demikian pula dengan pelaksanaan demokrasi, tidak hanya akan menjadi mimpi yang disiratkan undang-undang, namun akan dapat terealisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat harus terus didukung dalam membangun politik cerdas berintegritas dan mewujudkan konsep “hulu yang bening”, baik di kampung maupun di kota. Jadi, apakah kita tetap akan menjadi korban alusi moral dan disonansi politik?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: