LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » Awal dan Akhir (The Beginning and The End / Bidaya wa Nihaya)

Awal dan Akhir (The Beginning and The End / Bidaya wa Nihaya)

Oleh Mekay lunikabezz

12715424_958581337528240_4306864712536349693_n.jpg

 

Judul                           : Awal dan Akhir (The Beginning and The End / Bidaya wa Nihaya)

Penulis                         : Naguib Mahfouz (Mesir)

Penerbit                       : Yayasan Obor Indonesia

Tahun Terbit                : Juli 2000

Cetakan Pertama         : 1949

Penerjemah                  : Anton Kurnia dan Anwar Holid

 

Hay, pembaca~

Butuh penantian selama empat tahun untuk dapat kembali menikmati 29 Februari. Bagaimana caranya menikmati hari ini? Entahlah! Kekosongan dan kebosanan melanda dengan dahsyatnya. Tapi, mari sejenak melupakan mereka berdua, yang belasan bulan belakangan ini seolah menjadi teman akrab dan semakin karib setiap harinya. Mari menulis. Walaupun hanya untuk membunuh kebosanan. Terkadang aku bertanya, bisakah bosan tidak membosankan?!

Buku ini setua buku Kejahatan dan Hukuman karya Dostoyevsky. Akan kujelaskan sedikit mengenai buku ini. Mengambil latar keadaan sosial politik Mesir pada tahun 1930-an, yang berarti- menurut mata kuliah Studi Kawasan Afrika, Mesir pada saat itu berada dibawah protektorat Inggris. Tidak banyak memang hal-hal yang berbau politik yang dibahas dalam buku ini. Hanya beberapa dialog yang menyelipkan-nya. Melainkan  keadaan sosial ekonomi-lah yang menjadi fokusnya. Tragis! Novel ini adalah sebuah tragedi.

Jika Anda adalah pecinta novel- yang harus berakhir bahagia, maka jangan membaca buku ini. Jika Anda adalah pecinta novel dengan romansa yang mengharu-biru, menghanyutkan, menenggelamkan, dan lain sebagainya, maka jangan membaca buku ini. Novel ini adalah sebuah tragedi.

Novel ini dibagi menjadi dua jilid. Aku menyelesaikan membaca jilid pertama pada Januari 2015. Saat itu, aku pesimis untuk membaca jilid keduanya, karena ia tak kunjung kutemukan. Butuh setahun untuk secara tak sengaja menemukannya pada rak buku-buku sastra, yang selalu jauh lebih menggairahkan dibandingkan rak di sebelahnya, rak buku-buku sosial politik. Alhasil, aku memutuskan untuk membaca kembali jilid pertama agar memudahkanku dalam membuat ulasannya.

Diawali dengan kematian dan diakhiri dengan kematian. Kukatakan padamu bahwa novel ini adalah sebuah tragedi. Masih ingin aku melanjutkan tulisanku? Baiklah! Seorang ayah dari empat orang anak, meninggal dunia akibat serangan jantung di rumahnya, di gang buntu jalan Nasr Allah yang tampak kumuh. Itu adalah adegan yang mengawali kisah yang panjang ini. Seorang gadis yang bekerja sebagai pelacur, melakukan bunuh diri dengan melompat dari sebuah jembatan di atas Sungai Nil atas perintah saudaranya sendiri. Itu adalah gambaran adegan terakhirnya. Masih ingin aku melanjutkan?

Di dunia yang rumit ini, kita tidak tahu siapa yang memengaruhi siapa, baik dalam pemikiran maupun hal lainnya. Kita terhubung satu sama lain, entah melalui rantai hubungan yang seberapa panjang dan membutuhkan waktu yang seberapa lama. Itu adalah kutipan dari pernyataan dosenku pada mata kuliah Globalisasi. Ah! Berhenti membahas mengenai mata kuliah. Yang ingin kukatakan adalah bahwa novel ini disajikan seperti Dostoyevsky menyajikan Kejahatan dan Hukuman kepada kita.

Seperti Dostoyevsky, novel ini disajikan melalui pendekatan psikologis pada setiap tokohnya. Namun, novel ini tampak jauh lebih dalam. Novel ini sarat dengan dialog intrapersonal yang membuat kita bisa dengan mudah memahami karakter setiap tokoh. Ada satu hal yang ingin kusampaikan. Entah karena faktor penerjemahan atau bukan, aku hanya merasa bahwa ada beberapa dialog yang kurang kupahami, dikarenakan dalam dialog tersebut tidak dengan jelas dituliskan tokoh mana yang berbicara. Itu saja. Lanjut~

Setiap tokoh mewakili satu karakter manusia, sebuah kisah dan pemikiran akan kehidupan. Termasuk cinta tentu saja. Jangan khawatir, pembaca. Yakinlah bahwa aku tidak akan lupa untuk melirik pada kisah cinta yang ada dalam setiap buku yang kubaca. Aku tidak tahu bagaimana pengelompokan  karya  sastra. Namun, novel ini menyuguhkan kisah secara nyata.

Haruskah kita mengutuk kemiskinan? Haruskah kita menyalahkan kematian? Perlukah kita memutus masa lalu? Bagaimana jika kita tidak akan pernah benar-benar terlepas dari masa lalu? Itu semua adalah pertanyaan yang muncul dan berkembang seiring dengan semakin banyaknya peristiwa yang terjadi dalam novel ini. Apakah cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada? Bagaimana mungkin seseorang dapat dengan mudahnya jatuh cinta? Itu adalah pertanyaan yang muncul dari diriku pribadi ketika membaca novel ini.  Maklum, jomblo~ Hahaahhaha

Novel ini berkisah tentang kemiskinan, pengorbanan, kasih sayang, ambisi, harga diri dan tentu saja, gelora cinta remaja. Aku ingin menyajikannya secara sederhana di hadapanmu, pembaca. Maka biarkanlah aku menggambarkan kisah setiap tokohnya.

Samira, istri dari seorang pegawai negeri di Departemen Pendidikan, Effendi Kamel ‘Ali. Effendi adalah istilah untuk menyebut “tuan”, pembaca. Biasanya digunakan untuk menyebut profesi pegawai, namun sekarang digunakan secara lebih umum. Samira adalah ibu dari empat orang anak, tiga orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Mereka hidup dalam kecukupan, jika tidak ingin dikatakan pas-pasan. Gaji suaminya setiap bulan hanya bisa mencukupi hidup selama sebulan itu. Sehingga, ia tidak memiliki tabungan untuk anak-anaknya. Alhasil, hidup keluarga mereka berubah drastis setelah kematian sang suami.

Hassan, seorang pemuda berusia 25 tahun. Anak sulung dalam keluarganya. Memutuskan berhenti bersekolah, dan sejak itu ayahnya berlaku sangat keras kepadanya. Ia jarang pulang ke rumah, dan menghidupi dirinya dengan segala hal yang mampu ia lakukan di jalanan dengan teman-temannya- berjudi, bernyanyi dan lain sebagainya. Ia tidak pernah memiliki pekerjaan tetap karena selalu dipecat akibat terlibat perkelahian. Ketika ayahnya meninggal pun, ia tetap tidak memiliki pekerjaan tetap, namun selalu berusaha untuk dapat menghidupi keluarganya. Bagaimanapun, besarnya sayangnya kepada keluarga- hasil dari didikan ibunya, tertanam begitu dalam pada dirinya.

Nefisa, seorang gadis berusia 23 tahun. Masih melajang dan tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia digambarkan sebagai gadis yang tidak memiliki paras yang cantik, namun memiliki kegemaran menjahit dan sering membantu menjahitkan pakaian para tetangganya tanpa dipungut biaya. Ia memegang erat perkataan ayahnya, bahwa perilaku manis lebih penting  daripada wajah yang cantik. Ia meyakini bahwa perkataan itu hanyalah untuk tetap membuatnya percaya diri.

Setelah ayahnya meninggal dunia, tak ada lagi yang akan membesarkan hatinya dengan perkataan seperti itu. Ia kemudian menjadi tulang punggung keluarga, tentu saja kakaknya, Hassan yang hidup di jalanan dan entah kapan pulangnya itu, tak masuk dalam hitungan. Bukan berarti ia tak menyayangi kakaknya, namun sebagian besar biaya hidup sehari-hari adalah dari hasil kerjanya sebagai penjahit.

Bekerja sebagai penjahit adalah guncangan yang hebat pada awalnya. Bagaimanapun, ia merasa memiliki harga diri dengan membantu tetangganya tanpa dipungut biaya. Namun kematian ayahnya mengubah banyak skenario kehidupan. Masa bodoh dengan harga diri. Bekerja dengan mengenakan biaya tidak akan membuatnya menjadi buruk. Ia hanya harus terbiasa untuk menerima bayarannya, agar keluarga dapat tetap hidup tentu saja.

Sebagai penjahit, ia banyak bertemu gadis-gadis yang meminta untuk dijahitkan gaun pengantin. Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya menjahitkan gaun pengantin bagi gadis lain sementara dirimu pun tak kunjung menikah? Kau bahkan tak tahu apakah akan datang satu kesempatan untuk menjahit gaun pengantin untuk dirimu sendiri. Hingga sebuah adegan memilukan harus terjadi. Nefisa diminta menjahitkan gaun pengantin bagi seorang gadis yang dijodohkan dan akan menikah dengan kekasih-nya. Calon suami gadis itu adalah pacar Nefisa. Tentu saja bukan pacar dalam wujud yang terang-terangan dikenal masyarakat sekarang. Mereka berpacaran secara diam-diam, tanpa diketahui siapapun. Hubungan Nefisa dan kekasihnya yang berakhir tragis ini mengubah jalan hidup Nefisa selamanya, hingga akhir cerita. Sudah kukatakan kepadamu bahwa novel ini adalah sebuah tragedi. Memang, sejauh ini yang kuceritakan adalah kisah yang mengharu-biru.

Hussein, anak ketiga dari empat bersaudara. Masih duduk di bangku sekolah menengah atas ketika ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian bekerja sebagai guru privat bagi anak Farid Effendi, keluarga yang juga tinggal di gedung yang sama dengan keluarganya. Ia menilai tawaran pekerjaan itu sebagai jalan agar dirinya dan Hassanein mendapatkan uang jajan, yang tak lagi mereka dapatkan sejak ayah mereka meninggal. Banyak hal yang menggugah dan menyentuh hati yang akan kita pelajari dari karakter Hussein.

Tamat SMA, Hussein memutuskan untuk bekerja saja dibandingkan dengan melanjutkan pendidikan. Bagaimanapun, mendapatkan uang adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh keluarganya saat itu. Dengan bantuan Bey (julukan serupa Effendi)- seorang yang memiliki kedudukan dalam pemerintahan dan juga teman mendiang ayahnya, Hussein akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai juru tulis di sebuah sekolah di Tanta. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tinggal jauh dari keluarganya yang bermukim di Kairo.

Kasih sayang kepada keluarga sangat kental tergambar dalam novel ini. Dan itu pulalah yang dilakukan Hussein. Setengah dari gaji yang diterimanya, ia kirimkan kepada ibunya di Kairo. Gaji itu yang juga digunakan untuk membiayai sekolah Hassanein yang masih di bangku SMA. Juga untuk menjahitkan jaket bagi Hassanein dan pakaian bagi ibunya agar tidak kedinginan di musim dingin.

Hassanein, si anak bungsu. Adalah anak yang sangat tampak tidak bijak dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Apakah karena ia adalah anak bungsu? Entahlah! Melalui karakter Hassanein, kita melihat gelora cinta, semangat dan ambisi untuk mendapatkan hidup dan status sosial yang lebih baik. Hassanein menyukai anak dari Farid Effendi, tetangga mereka seperti yang kusebutkan di atas. Yah~ bagaimanapun, tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Alhasil, kedua belah pihak keluarga memutuskan untuk mengikat Hassanein dan Bahia, nama gadis itu, dalam sebuah ikatan pertunangan. Mereka akan menikah jika saatnya tepat.

Sayangnya, pernikahan itu tak kunjung datang. Hassanein memutuskan ikatan pertunangan beberapa tahun kemudian. Mungkin setelah tiga tahun sejak mereka bertunangan. Apa alasannya? Hassanein menilai Bahia tidak cocok menjadi istrinya. Hassanein bahkan menolak mengakui Bahia sebagai tunangannya di hadapan teman-temannya. Padahal, Hassanein pernah dengan sangat penuh berahi memuja kecantikan dan kemolekan gadis itu.

Apa yang akan Anda lakukan jika menemukan sosok serupa Hassanein ini di kehidupan nyata? Melemparinya dengan sepatu? Memakinya? Ah sudahlah~ Ini hanya kisah yang ada dalam dunia fiksi. Akhirnya, Hassanein jatuh cinta kepada anak gadis keluarga Bey. Ia memutuskan untuk melamar gadis itu. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Jawaban atas lamaran itu tak kunjung datang. Tentu saja lamaran itu ditolak.

Setiap karakter membawa kita pada suatu sudut pandang. Sehancur-hancurnya kehidupan Hassan, ia masih berusaha untuk memberikan uang kepada Hussein sebagai biaya hidup selama sebulan di Tanta. Walaupun yang bisa ia berikan adalah perhiasan dari gadis yang tinggal sekamar dengannya. Iya! Hassan “kumpul kebo”. Apakah aku harus berkomentar tentang itu? Tidak perlu! Ia juga memberikan biaya seadanya kepada Hassanein ketika adiknya itu butuh biaya untuk memasuki Akademi Perang. Kalau dipikir-pikir, bagaimanapun, Hassan memang tak boleh kehilangan muka di hadapan saudara-saudaranya. Walaupun bantuan yang ia berikan juga seadanya.

Terkadang aku berpikir, bagaimana rasanya menjadi Hussein atau Hassanein. Baiklah, kau membutuhkan biaya. Dan satu-satunya harapan terakhirmu adalah kakak sulungmu, yang harus kau temui pada alamat yang ia berikan beberapa waktu yang lalu. Kau mencari alamat itu dan sampai pada gang yang pemandangannya amat menjijikan dengan aroma tak sedap di mana-mana. Sebuah tempat, yang dalam pikiranmu kau terus menolak bahwa alamat yang diberikan kakakmu adalah benar di sini lokasinya.

Kau mengetuk sebuah pintu dan, benar itu adalah alamat kakakmu. Kau memasuki ruangannya dan menyaksikan sebuah potret yang menampilkan kakakmu dengan seorang perempuan berkulit hitam yang menonjolkan kemolekan tubuhnya. Kau bertanya apakah kakakmu telah menikah, dan jawabannya adalah tidak. Kau melihat banyak bekas luka pada wajah dan bagian leher kakakmu. Kau bertanya, apa pekerjaannya. Lalu ia menjawab dengan sangat santai bahwa ia adalah pemain musik pada sebuah kedai dan sekaligus sebagai tukang pukul di kedai tersebut.

Bagaimana? Apakah kau telah dapat menghayati apa yang dipikirkan Hussein dan Hassanein terhadap abangnya? Apakah mungkin kau masih dapat menemukan jalan pulang setelah kembali menemui kakakmu dan mengetahui sisi lain dari dirinya yang tak pernah kau duga? Huft~ Mengerikan. Kau harus penasaran, pembaca. Karena itulah sebenarnya tujuanku menuliskan ulasan buku ini kepadamu.

Apa yang akan kau lakukan jika wajahmu tidak cantik dan bahkan tak ada pemuda yang pernah mendekatimu? Keluargamu miskin dan tentu saja kau tak berpikir untuk melakukan operasi plastik. Di mana kau akan melakukan operasi plastik pada tahun 1933 di sebuah negara terjajah bernama Mesir? Hahahah! Masihkah kau akan mengandalkan perangai manis seperti yang selalu dikatakan ayahmu? Lagipula, tentu saja tak ada gunanya mengutuk takdir mengapa kau terlahir tidak rupawan.

Akhirnya, seorang pemuda tampak tertarik kepadamu. Sayangnya, ia bahkan juga tidak rupawan dan jauh dari kriteriamu. Tapi toh, kau memutuskan untuk menerimanya dengan segenap jiwamu. Tentu saja karena kau takut tak mampu lagi mendapatkan cinta dari seorang pemuda pun. Sayangnya, pria yang kau cintai adalah seorang pengecut. Nyalinya menciut untuk mengatakan bahwa ia menolak perjodohan yang dilakukan ayahnya, dan bahwa dia telah memilih sendiri gadis pilihannya. Malangnya, kehormatanmu hilang bersama dengan laki-laki pengecut itu. Siapa yang memiliki kisah ini? Nefisa, tentu saja.

Menarik untuk mengetahui kisah Nefisa ini, pembaca. Hilangnya kehormatannya karena kekasihnya yang terdahulu, kemudian mengubah hidup Nefisa secara drastis. Kehidupannya sebagai tukang jahit memang pas-pasan. Namun, kau harus tahu, pembaca, bahwa ternyata Nefisa kemudian juga menjadi seorang pelacur. Aku harap, tidak terlalu kasar mengetik kata itu secara utuh. He-he-he~ Maksudku, alasan Nefisa menjadi pelacur, sejauh yang mampu kutangkap dalam buku ini, bukanlah semata-mata karena faktor ekonomi. Melainkan ada sebuah dorongan atau hasrat dalam diri Nefisa yang sulit ia kontrol. Nefisa mengalami hypersex, hasrat seksual yang tinggi. Apakah itu mengerikan? Aku tidak tahu.

Aku tahu apa yang dipikirkan ibuku. Walaupun telah mendapatkan pekerjaan tetap, namun aku tidak boleh buru-buru menikah. Kami harus menunggu hingga hidup kami mapan, atau setidaknya lebih baik. Mungkin hanya butuh beberapa tahun lagi. Berat memang hidup sendirian di kota yang asing. Jauh dari keluarga, dan tentu saja dari adik yang dengannya aku bermain, belajar dan berkelahi. Namun, ini hanya satu tahap kehidupan yang harus kami lalui.

Setiap orang memiliki perannya untuk keluarga. Setiap orang memiliki pengorbanannya masing-masing. Nefisa telah berjuang dengan menjahit. Dan aku harus rela untuk bekerja, bukannya melanjutkan pendidikan, agar anggota keluarga kami yang lainnya mampu untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Aku tak masalah dengan hal itu. Toh, semua yang dilakukannya nanti adalah untuk keluarga.

Adikku memutuskan pertunangannya. Tentu saja hal ini sangat tak patut untuk dilakukan. Apalagi keluarga sang gadis telah sangat berbaik hati kepada kami selama ini. Ayahnya adalah sahabat mendiang ayah, dan keluarganya juga adalah tetangga kami. Betapa bodohnya anak itu! Bagaimana cara kami menyampaikan permohonan maaf? Seseorang harus melakukannya. Tapi, siapa?

Aku berangkat menuju rumah keluarga itu. Semua rencana telah aku pikirkan matang-matang. Aku bertemu ayah Bahia. Aku menyampaikan permohonan maaf  keluargaku, dan sekaligus melamar Bahia untukku. Aku melamarnya bukan untuk menebus apa yang telah dilakukan adikku. Namun, aku melamarnya karena aku melihat Bahia adalah gadis yang sempurna untuk menjadi seorang istri. Bagaimana mungkin anak itu begitu buta untuk  melihat perempuan sesempurna ini?! Betapa bodohnya dia!

Yop! Itu adalah kisah Hussein. Hussein pada akhirnya memang melamar Bahia. Penasaran? Tidak percaya? Baca saja bukunya!

Aku tak harus menyampaikan kisahnya terlebih dahulu dan membiarkanmu menebak siapakah gerangan yang memiliki kisah itu. Sejauh ini, kau telah mampu menebak bahwa kisah yang kuceritakan ini adalah kisah milik Hassanein, si anak bungsu.

Aku akhirnya lulus sebagai perwira pada Akademi Perang. Aku telah bertunangan sejak ketika aku masih SMA. Tunanganku cantik, matanya biru, kulitnya putih dan tubuhnya pendek. Aku selalu menyampaikan rasa cintaku, namun ia bahkan tak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku. Beberapa kali aku ingin menciumnya, namun ia selalu menolakku. Lantas, hak istimewa apa yang kumiliki sejak aku mejadi tunangannya? Apakah aku tak memiliki hak apapun?

Dia selalu bersikap dingin terhadapku. Dan  mengatakan kepadaku bahwa kita hanya butuh mengobrol, tanpa melakukan kontak fisik apapun. Tak jarang aku berpikir bahwa gadis itu sebenarnya tidak mencintaiku. Tapi, matanya mengatakan bahwa ia mencintaiku. Ah, gadis itu!

Aku berharap, dengan membawanya ke bioskop, aku bisa memamerkan dia di hadapan kawan-kawanku. Tunanganku cantik dan molek. Namun, kawan-kawanku malah menertawaiku. Gadis seperti itu tak cocok untuk bersanding dengan seorang perwira. Gayanya terlalu kuno. Memang, Bahia dibesarkan oleh ibunya yang menurutku masih sangat kuno.

Aku jatuh hati pada anak gadis Bey. Dia cantik dan berasal dari keluarga terpandang dengan villa di kompleks perumahan mewah. Jika aku menikahinya, maka tentu saja aku juga akan memiliki villa yang serupa.

Dengan seragam perwiraku, aku mampu membuat ibuku bangga dan takjub. Sebagai seorang perwira, aku takut jikalau ada hal-hal yang menghadang perjalanan karirku ke depannya. Aku harus membuat keluargaku tampak terhormat. Kami harus pindah dari gang buntu ini. Kami harus mendapatkan flat yang lebih bagus dengan perabotan yang lebih baik pula. Seorang perwira harus tinggal di lingkungan yang baik dan nyaman. Kakakku, Nefisa, harus kembali pada posisinya sebagai gadis terhormat. Ia harus berhenti sebagai penjahit. Tak ada yang bermasalah dengan pekerjaan dan kehidupan Hussein. Tapi Hassan?

Hassan adalah sebuah masalah yang serius. Aku harap ia tak pernah muncul lagi di hadapan kami. Ia tinggal di lingkungan yang sangat dekat dengan kejahatan. Aku bahkan tak yakin dengan pekerjaannya yang sebenarnya. Ia berkelahi, ia preman, ia tukang pukul. Entahlah~ Suatu hari, sekelompok orang membopong sesosok  tubuh ke rumah kami yang baru. Apa yang sangat kutakutkan akhirnya terjadi juga. Sosok itu adalah Hassan dengan wajah yang sulit dikenali. Pada saat itu, aku berdoa semoga dia mati saja. Dengan itu, hubungan kami dengannya akan hilang. Tak ada lagi yang mampu menghalangi karir dan mempermalukanku di hadapan teman-temanku di masa depan. Namun, aku kasihan juga melihatnya. Bagaimanapun, dia adalah saudaraku. Semoga saja tak seorangpun mengetahui tentang hal ini.

Seorang polisi menemuiku dan memintaku untuk ikut bersamanya ke kantor polisi. Aneh. Aku tak terlibat kasus apapun. Ataukah ini karena Hassan? Apakah mereka tahu aku menyembunyikan Hassan? Tidak mungkin. Seorang gadis yang ditahan polisi, mengaku mengenalku. Gadis itu ditangkap di sebuah rumah yang disewa oleh orang asing untuk melakukan tindakan yang tidak senonoh. Polisi menyebutkan sebuah nama yang sangat kukenal dan memintaku menemui gadis itu.

Aku menemuinya. Dan benar saja! Apa yang harus kulakukan, Tuhan?!! Ini adalah aib. Ini adalah ancaman bagi masa depan dan karirku. Gadis itu tak mengatakan apapun. Gadis ini harus menghilang. Ia tak boleh ada dalam kehidupanku. Aku menyuruh gadis itu bunuh diri. Ia harus mengakhiri hidupnya. Ia harus hilang dari dunia ini.

Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, setiap tokoh  memiliki sebuah kisah dan menawarkan kita sudut pandang yang berbeda atas kehidupan. Hassan, ditengah keterbatasan ia tetap berniat membantu keluarganya. Nefisa, tak ada yang salah dengan menjadi tidak rupawan, namun tetap bisa membantu keluarganya. Hussein, mengajarkan kita bentuk pengorbanan lain. Seseorang di keluarga kita harus mendapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya. Selain itu, menurutku, Hassan mengajarkan kita untuk melihat cinta dari sudut pandang yang berbeda. Melihat Bahia dari sisi yang lain. Eaaa~

Dan Hassanein? Ada yang ingin berkomentar tentang Hassanein? Ia mengajarkan kita ambisi. Namun, mengerikan juga jika apa yang kita harapkan sangat jauh dari kenyataan. Dan tentu saja, tidak menyenangkan jika hidup hanya untuk mendengarkan apa kata orang. Pada akhirnya, sebuah pelajaran penting untuk mengatakan  bahwa masa lalu adalah apa yang telah membentuk kita hingga menjadi seperti sekarang ini. Mungkinkah kita melepaskan diri dari masa lalu? Entahlah~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: